Renungan Harian 235 (Minggu, 21 April 2019)

Tuhan atas Sabat

Devotion from Matius 12:1-8

Orang-orang Farisi mengikuti terus rombongan Tuhan Yesus. Apakah karena mereka mau mendengar firman? Atau mungkin mereka ingin menjadi murid Tuhan Yesus juga? Tidak. Mereka mengikuti kelompok ini karena mau mencari kesalahan kelompok ini. Jika mereka bisa menemukan kesalahan mereka, maka mereka akan menghantam kelompok ini habis-habisan. Mereka begitu penuh dengan iri hati dan dengki. Mereka begitu benci Yesus dan pengikut-Nya, tetapi tidak sanggup melawan mereka. Jika dosa mereka bisa dibuktikan, barulah ada kekuatan bagi orang Farisi untuk menghancurkan kelompok ini.

Tetapi ternyata kehidupan Yesus dan para murid begitu baik sehingga mereka tidak sanggup menemukan hal-hal yang dapat membuat mereka dibenci oleh orang banyak. Ayat 1-2 mengatakan bahwa hal yang mereka dapat temukan hanyalah para murid memakan bulir gandum di hari Sabat. Orang-orang Farisi itu menganggap para murid telah melanggar hukum Sabat. Orang Yahudi tidak boleh bekerja di ladang pada waktu hari Sabat, dan murid-murid memetik bulir gandum pada hari Sabat. Memetik bulir gandum ternyata mereka anggap sama dengan bekerja di ladang.

Lihat betapa piciknya orang-orang Farisi itu. Hal yang dicari-cari seperti ini pun mereka anggap cukup kuat untuk menjatuhkan nama Yesus. Orang-orang yang cuma tahu peraturan tetapi tidak pernah memahami esensi dari peraturan itu akhirnya menjadi orang-orang yang kaku dan sangat mudah menghakimi orang lain. Peraturan Sabat dibuat agar manusia mengkhususkan satu hari bagi Tuhan sebagai bentuk ibadah kepada Dia. Itu sebabnya Tuhan melarang siapa pun melakukan pekerjaan pada hari itu karena itu adalah hari di mana orang Israel menghadap Tuhan. Umat Tuhan perlu satu hari yang dikhususkan bagi Tuhan. Siapa yang memandang serius hal ini pasti disertai Tuhan. Jika kita mengutamakan ibadah dalam hari itu dan menyerahkan kepada Tuhan untuk pemeliharaan kita, maka kita sedang menjalankan hukum Sabat. Tetapi orang-orang Farisi, terutama dari golongan Shammai, begitu kaku dan mendetail untuk hal-hal yang tidak penting sambil mengabaikan hal-hal yang jauh lebih esensial. Menjalankan Taurat tanpa hati yang dikuasai oleh kebenaran dan kasih adalah omong kosong. Mereka hanya pandai menghakimi orang lain tanpa tahu apa yang menjadi dasar kebenaran yang seharusnya dilakukan oleh umat Tuhan.

Maka Tuhan Yesus menjawab mereka dengan memakai dua contoh. Yang pertama adalah dari 1 Samuel 21:5-6: Pada waktu itu Daud sedang melarikan diri dari Saul dan berada dalam keadaan lapar. Imam Ahimelekh memberikan kepadanya roti sajian untuk mezbah Tuhan meskipun seharusnya roti itu disajikan di depan mezbah Tuhan. Imam itu memutuskan untuk mengutamakan belas kasihan bagi Daud yang dalam keadaan lapar daripada peraturan mengenai larangan makan roti. Imam itu berhak melakukan demikian karena belas kasihan kepada orang yang memerlukan jauh lebih utama dari segala seremoni ibadah (Hos. 6:6). Contoh kedua yang Tuhan Yesus berikan adalah Bilangan 28:9-10 di mana para imam tetap melakukan pekerjaan mereka di dalam Bait Allah di hari Sabat. Bait Allah memiliki “otoritas” mengizinkan pekerjaan yang dilakukan di dalamnya di hari Sabat.

Tuhan Yesus membongkar kepicikan orang Farisi dengan membandingkan mereka dengan Imam Ahimelekh dan para imam yang melayani dalam tempat suci. Mereka memiliki keketatan yang salah, kaku, dan dingin. Inilah yang menjadi penyakit mereka, dan juga banyak orang Kristen legalis sekarang. Mementingkan seremoni di atas belas kasihan. Mementingkan metode di atas inti berita Injil. Mementingkan kekudusan hanya dari apa yang tampak. Hati yang kotor dan rusak tidak masalah, asal tidak terlihat di depan orang lain. Betapa memuakkan orang-orang yang mengajarkan tingkah laku suci tetapi memiliki hati yang kotor. Kapan kita mau belajar membersihkan hati dulu sebelum mengkritik tingkah laku orang lain? Hai kita sekalian yang sangat berjiwa Farisi, mengapa kita melihat noda di dalam tingkah laku orang lain, tetapi gagal melihat noda kesombongan di dalam hati kita sendiri?

Hal kedua yang menjadi kesalahan orang-orang Farisi ini, selain hati picik mereka, adalah mereka gagal mengenal Allah melalui mengenal sifat-sifat Yesus. Yesus memiliki sifat-sifat Allah yang sempurna. Jika orang-orang Farisi itu dekat dengan Allah, maka tentulah mereka akan mengenali sifat-sifat Allah di dalam diri Yesus Kristus. Tetapi apakah mereka melihatnya? Tidak. Mengapa tidak? Karena sebenarnya mereka tidak mengenal siapa Allah itu. Jika kita ingin menjadi orang Kristen sejati, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah menjalani hidup kita dengan memancarkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Kristus. Kristus mementingkan belas kasihan di atas segala seremoni yang kaku. Kristus melihat manusia dengan cara yang sama Bapa di surga melihat mereka. Kristus memberi belas kasihan kepada mereka yang lemah dan kecil, tetapi Dia menegur dan dengan keras menghantam kesombongan orang Farisi. Bapa mengasihi orang berdosa tetapi membenci orang yang merasa benar. Demikian juga kita seharusnya membenci kebenaran yang dinyatakan melalui tindakan-tindakan kosong tanpa arti karena dilakukan dengan hati yang jauh berbeda dengan hati Allah. Allah mengasihi mereka yang lapar lebih daripada menginginkan roti sajian yang utuh di meja mezbah-Nya. Allah mengasihi mereka yang hidup di dunia ini lebih daripada peraturan untuk hidup itu sendiri. Justru Taurat dan hukum-hukumnya diberikan agar mereka yang hidup dapat menjalani hidup yang diperkenan Allah.

Hal ketiga yang menjadi kesalahan mereka adalah mereka gagal melihat otoritas Kristus sebagai otoritas ilahi. Jika Yesus hanyalah seorang nabi biasa, mengapa Dia berani memberikan penafsiran terhadap Taurat yang begitu radikal dan berani? Orang Farisi tetap merasa Yesus harus tunduk kepada Taurat. Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia bertugas untuk menggenapi Taurat, tetapi Dia tidak pernah menyatakan otoritas yang Dia miliki lebih rendah daripada Taurat. Dia adalah Allah yang menyatakan Taurat! Dia berhak mengklaim otoritas lebih dari nabi mana pun atas penafsiran-Nya terhadap Taurat. Maka Tuhan Yesus menutup jawaban-Nya dengan kalimat yang akan membuat orang-orang Farisi makin membenci-Nya. Dia mengatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dia bukan hanya berotoritas menafsirkan pengertian Sabat, tetapi Dialah yang memberikan hukum Sabat sedari mulanya.

Di dalam jawaban-Nya terhadap orang Farisi ini Tuhan Yesus sedang memberikan pengertian yang benar tenang Sabat, yaitu Sabat diberikan untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat. Manusia memerlukan hari di mana dia beristirahat dari pekerjaannya dan datang menyembah Allah. Sabat diberikan agar manusia belajar menghormati Allah dan belajar menyadari bahwa dia tidak bergantung pada pekerjaannya, melainkan kepada Allah. Manusia perlu menyembah Allah. Karena manusia lebih penting dari Sabat, maka Tuhan menetapkan peraturan mengenai Sabat agar manusia dapat menjadi manusia yang utuh yang menyembah Allahnya dengan benar dan sepenuh hati.

Untuk diingat:

  1. Jagalah cara kita memandang orang lain! Jangan dengan perasaan superior! Jangan dengan meremehkan! Injil ditulis dengan salah satu pesan yang menyatakan bahwa Allah mengasihi orang-orang remeh. Berbahagialah mereka yang miskin dalam roh, yaitu mereka yang merasa orang lain lebih utama dan lebih baik daripada diri sendiri.
  2. Mari ingat bahwa belas kasihan lebih penting daripada seremoni-seremoni apa pun. Melayani Tuhan berarti melayani sesama manusia. Manusia lebih penting daripada semua tata cara ibadah dan peraturan. Peraturan dan tata cara ibadah dibuat bagi manusia dengan tujuan agar manusia mampu menjalankan tujuan penciptaannya.
  3. Tuhan Yesus tidak pernah membatalkan peraturan mengenai Sabat. Dia menjelaskan esensi dari Sabat. Sabat adalah hari di mana manusia menikmati istirahat di dalam Allah. Mari kita juga ingat untuk menganggap hari ibadah kita bukan sebagai peraturan mengikat yang terpaksa kita jalankan, tetapi sebagai hari di mana kita beristirahat di dalam Tuhan kita.

Doa:
Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, sebab kami boleh menerima belas kasihan dari-Mu terus menerus. Kami mohon Tuhan bimbing kami untuk menghargai manusia, menghormati orang lain, dan memelihara kehangatan kasih dan ketaatan kami kepada Allah Bapa kami dengan memberikan hati bagi orang lain agar mereka hidup bagi Allah, sama seperti kami juga hidup bagi Allah kami. (JP)