Renungan Harian 236 (Senin, 22 April 2019)

Belas Kasihan Yesus

Devotion from Matius 12:9-21

Setelah konflik mengenai Sabat dengan orang Farisi, pertentangan antara Yesus dengan orang Farisi makin besar. Dengan tuduhan yang sama, yaitu bahwa Yesus berusaha merombak tradisi Taurat, mereka berusaha menjerat Yesus. Bacaan hari ini menjelaskan bahwa ada orang yang lumpuh sebelah tangannya di dalam rumah ibadat. Orang Farisi segera mencobai Dia dengan pertanyaan jebakan. Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat? Bukankah menyembuhkan termasuk di dalam kategori bekerja? Jika menyembuhkan masuk kategori bekerja, maka Tuhan Yesus sedang dengan sengaja menentang otoritas orang-orang Farisi di dalam menentukan kategori mengenai hukum Sabat jika berani menyembuhkan orang sakit ini. Karena itulah mereka mengajukan pertanyaan jebakan untuk dapat mempersalahkan Yesus.

Betapa jahatnya hati para pemimpin agama ini. Mereka tidak lagi peduli mana benar mana salah. Mereka hanya mau diri mereka yang menang. Inilah hal yang sampai sekarang terjadi juga di dalam gereja. Kita tidak peduli mana yang benar. Kita hanya mau dianggap benar apa pun alasannya. Kita tidak peduli pendapat orang lain, kita hanya ingin memenangkan perdebatan. Kita tidak peduli kebenaran. Kita hanya tahu: “pendapatku!”

Tuhan Yesus sangat marah kepada orang-orang munafik ini. Pura-pura bertanya padahal ingin menjebak. Tetapi meskipun Dia marah, Dia tetap memberikan penjelasan agar orang-orang Farisi ini tidak makin tenggelam di dalam kesesatan dan kepicikan mereka sendiri. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa belas kasihan adalah inti dari perintah Tuhan bagi umat-Nya. Mengasihi Tuhan harus selalu berdampak di dalam hati yang memiliki belas kasihan. Tuhan memberikan hukum-Nya agar manusia mengasihi Allah dan setia kepada kebenaran dan kekudusan Allah. Kebenaran dan kekudusan Allah berarti bertindak sesuai dengan apa yang menjadi rencana Allah. Orang yang mengampuni di saat Allah mau dia menghukum adalah pendosa yang besar (1Sam. 15:1-11). Tetapi orang yang menghukum saat Allah mau mengampuni adalah pendosa yang sama besarnya! Allah berbelaskasihan kepada siapa Dia mau, dan Allah menghukum siapa yang Dia mau. Tugas kita bukan untuk mempertanyakan kedaulatan Allah yang melampaui bijaksana dan pengertian kita, tetapi dengan peka memberikan belas kasihan kepada siapa yang Allah berikan belas kasihan, dan keras kepada siapa yang Allah sedang berikan hukuman. Allah mengasihani orang-orang lemah di Israel. Allah mengasihani pelacur, penipu, pemungut cukai, orang kusta, dan semua orang-orang hina lainnya yang sudah terlalu lama dicibir oleh orang-orang Farisi. Tetapi orang-orang ini dengan kaku melihat peraturan, dan gagal melihat Allah yang menetapkan peraturan itu.

Maka Tuhan Yesus menyindir mereka dengan mengatakan bahwa kalau binatang mereka celaka, mereka tidak pikir itu Sabat atau tidak. Mereka akan segera menolong. Mereka lebih memikirkan binatang mereka yang bernilai mahal dan mengabaikan manusia yang tidak ada harganya bagi mereka. Tuhan mengasihi manusia, bukan lembu. Tuhan memberikan binatang bagi manusia karena manusialah yang Tuhan kasihi. Jika ada lembu mereka yang terperosok, orang Farisi akan segera menolong. Jika ada orang yang mati sebelah tangannya, orang Farisi akan mengusir mereka dan menyuruh mereka datang kembali ketika hari bukan hari Sabat. Ini kejam dan sangat tidak benar. Setelah menegur mereka Yesus segera menyembuhkan tangan orang itu. Yesus menyembuhkan orang itu dengan risiko makin dibenci oleh orang Farisi. Yesus menyembuhkan mereka dengan risiko keselamatan-Nya sendiri di tengah-tengah arus kebencian yang makin besar dari orang-orang Farisi. Yesus berbelas kasihan dan perasaan belas kasihan-Nya itu mendorong Dia untuk berkorban bagi orang yang diberi belas kasihan itu. Inilah kasih Allah yang begitu besar. Kasih yang mendorong Dia untuk mengutamakan yang dikasihi. Kasih yang rela mengorbankan diri. Inilah kasih Allah yang juga ada pada Yesus dan pada semua orang yang mengasihi Dia dan tunduk kepada Dia. Inilah kasih yang tidak pernah dimengerti oleh orang Farisi.

Kiranya Tuhan memberikan kepada kita hati yang bisa berbelaskasihan. Semakin keras hati kita melihat penderitaan orang lain semakin jauh kita dari sifat Tuhan. Semakin keras hati kita di dalam kenyamanan kita sendiri, semakin jauh kita dari kenyamanan berada di dalam Tuhan. Semakin kita kejam dan keras terhadap orang lain, semakin kita tidak mengerti sifat pengampunan Allah. Semakin kita menutup diri terhadap dunia yang makin sengsara ini, semakin hidup kita tidak dikehendaki Allah. Banyak sekali orang-orang yang menyadari kerusakan dunia berusaha memelihara hidup yang steril dari dunia. Mereka lupa bahwa yang perlu disterilkan bukan saja dunia, tetapi hati mereka sendiri. Orang-orang yang curiga kepada sekolah, masyarakat, dan lembaga-lembaga di sekitar, mereka lupa bahwa hati mereka mengandung kotoran dan kecemaran yang tidak kalah banyaknya. Hati yang penuh belas kasihan, di manakah akan didapat? Ketika kita mencari di tempat yang paling bersih, ternyata di situ tidak didapat. Di manakah bisa didapat? Belas kasihan itu didapat di tempat yang paling celaka, paling terkutuk, yaitu di bukit tengkorak di atas sebuah salib. Tempat di mana burung bangkai terbang berkeliling. Tempat di mana bau mayat, darah dan daging busuk manusia tercium. Tempat di mana kengerian kutukan Allah terasa paling nyata, di tempat itu ada belas kasihan dari Yesus, Hamba Allah, yang menyerahkan diri-Nya untuk kita yang begitu kotor dan hina.

Saya harap kesombongan hati kita semua hancur dan lenyap ketika kita semua merenungkan tentang Yesus. Inilah yang dilakukan oleh Matius. Matius tahu bahwa orang-orang Farisi yang sangat mengerti kitab nubuat para nabi tidak akan sanggup memahami apa yang tertulis di dalam Yesaya 42:1-4. Yesus adalah hamba Allah yang mencari tempat yang paling rendah untuk mengangkat kita di tempat itu dan memberikan kita tempat-Nya yang mulia. Yesus adalah hamba Allah yang menyerukan kebenaran firman Allah, tetapi tidak pernah menyerukan apa pun untuk membesarkan diri-Nya. Yesus adalah hamba Allah yang berbelaskasihan kepada orang-orang yang patah dan hancur. Orang-orang yang dianggap sampah masyarakat oleh dunia ini. Dia tidak menghakimi mereka. Dia membalut mereka. Dia tidak menghukum mereka. Dia menerima hukuman salib bagi mereka. Dari Kristuslah semua bangsa dapat berharap. Yang berharap pengampunan, yang hancur hatinya karena kebobrokan dan kejahatan hatinya, yang memohon pengampunan, datanglah ke kaki salib dan datanglah kepada Yesus. Dia tidak akan membuang kita. Dia akan mengangkat kita ke dalam kemuliaan-Nya.

Tetapi setelah kita diangkat-Nya, jangan lupa untuk mengangkat orang lain. Jangan lupa kepada buluh-buluh terkulai yang hampir patah di sekeliling kita. Mereka juga perlu pengharapan. Mereka perlu Yesus Kristus. Mereka tidak perlu kesombongan kita yang mau mengucilkan mereka jauh dari diri kita dan keluarga kita. Mereka perlu Yesus sama seperti kita juga perlu Yesus. Biarlah belas kasihan Yesus tercermin dengan sempurna di dalam hidup kita.

Untuk diingat:

  1. Yesus berbelaskasihan kepada dunia yang rusak, tetapi orang Farisi menghakimi dunia yang rusak ini. Kita pengikut Yesus, bukan murid orang Farisi. Mari belajar memiliki hati yang penuh belas kasihan!
  2. Yesus berbelaskasihan dengan membayar harga dan memberikan dampak. Belas kasihan bukanlah suatu perasaan hati tanpa pengorbanan dan tanpa dampak. Belas kasihan yang hanya perasaan hati tidak ada gunanya. Siapa rela berkorban? Siapa bisa memberikan perubahan sejati? Gereja Tuhan seharusnya bisa, karena gereja Tuhan adalah tubuh Kristus yang sudah berkorban dan sudah memberikan perubahan sejati melalui kesetiaan-Nya.

Doa:
Tuhan, ambil hati kami yang cemar dan hidupkan kami dengan belas kasihan-Mu yang besar. Tolong kami keluar dari kesombongan rohani kami. Tolong kami untuk sadar kecemaran kami. Berikan kami hati yang mampu berbelaskasihan dan rela berkorban demi kemuliaan nama Tuhan dan demi umat Tuhan diberkati. (JP)