Renungan Harian 239 (Kamis, 25 April 2019)

Angkatan yang Jahat dan Saudara Yesus

Devotion from Matius 12:43-50

Dua narasi ini akan kita gabungkan di dalam pembahasan hari ini. Bagian pertama adalah tentang roh jahat yang kembali menguasai manusia dan membuat keadaannya makin parah. Ini adalah perumpamaan tentang Israel yang kosong. Mereka telah dibebaskan dari pembuangan, mereka telah membakar semua patung berhala mereka, mereka tidak lagi menyembah berhala, tidak ada satu pun kuil berhala dan praktik penyembahan berhala di daerah Yudea, Galilea, dan daerah Yahudi lainnya. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan bahwa mereka seperti orang yang baru sembuh dari kerasukan, dan yang membiarkan rohaninya kosong. Setan itu akhirnya kembali merasuki orang itu, bahkan membawa tujuh setan lain yang lebih jahat untuk membuat keadaan orang itu semakin parah. Israel menolak berhala, tetapi mereka tidak juga setia mengikut Tuhan. Pemimpin agama mereka tetap menolak Anak Allah. Mereka menolak setan tetapi juga tidak kembali kepada Tuhan. Keadaan mereka ini akan membuat mereka segera jatuh dan mendapatkan keadaan yang makin parah lagi.

Lalu bagaimana agar orang yang telah dirasuk dapat terus menang atas kuasa jahat? Caranya hanya satu, yaitu menaati Bapa di surga. Kita dibebaskan bukan untuk hidup bagi diri sendiri. Jika kita tetap memutuskan untuk hidup bagi diri sendiri, ini sama dengan menyediakan ruang bagi setan yang sudah pernah diusir. Hidup bagi diri sendirilah pengertian dari ruangan kosong yang tertata rapi dan bersih. Walaupun tertata rapi dan bersih, tetapi kosong. Tidak ada tuan rumah yang menjaga rumah ini. Rumah ini akan segera didatangi oleh pencuri yang akan membongkar dan mencuri isi rumah yang berharga. Tetapi jika seseorang melakukan kehendak Bapa, maka dia akan menjadi bagian dari pekerjaan Tuhan yang agung di mana keberadaan kita akan jauh lebih kuat. Orang yang hidup dengan tujuan yang benar bagi Allah tidak akan mudah diombang-ambingkan ke mana-mana.

Mari kita belajar mengingat ini. Kita tidak dipanggil Tuhan untuk meninggalkan dosa saja. Meninggalkan dosa barulah separuh dari apa yang Tuhan tuntut kita kerjakan di dalam hidup kita. Kita harus menaati Tuhan dengan aktif. Kita harus menyerahkan hidup bagi Tuhan. Jika dosa membuat kita menguasai hidup kita sendiri bagi kepentingan diri, maka pertobatan adalah menyerahkan seluruh hidup bagi kepentingan Tuhan dan untuk menjalankan kehendak Tuhan. Itulah sebabnya tanpa menjalankan kehendak Tuhan, seseorang tidak akan pernah lepas dari kejahatan. Setan akan kembali menggoda dan menghantam kita hingga kita jatuh kembali. Sekali lagi, meninggalkan dosa saja tidak cukup. Setelah meninggalkan dosa, kita harus hidup bagi Tuhan!

Bagian selanjutnya, ayat 46-50 Yesus mengajarkan bahwa orang-orang yang melakukan kehendak Bapa akan dianggap sebagai keluarga Yesus. Siapakah ibu-Nya? Siapakah adik-Nya laki-laki dan adik-Nya perempuan? Mereka yang melakukan kehendak Bapa, inilah yang akan menjadi keluarga dekat Yesus Kristus. Siapa yang menyerahkan diri untuk Tuhan, mengikuti Tuhan dengan setia, akhirnya mendapatkan penyertaan dan pimpinan untuk melayani Tuhan. Inilah kepenuhan hidup yang harus dialami oleh semua orang. Yesus menganggap semua orang ini sebagai saudara-Nya sendiri karena ketulusan, kasih, dan perhatian serta ketaatan mereka kepada Allah Bapa sangat menggambarkan ketaatan, ketulusan, kasih, dan perhatian dari Yesus Kristus sendiri. Biarlah kita pun belajar untuk menjalani hidup yang bukan hanya berisi pertobatan saja, tetapi perubahan total yang terus menyala-nyala, serta bergairah bagi Tuhan.

Bagian ini adalah bagian yang mengejutkan. Dia membiarkan keluarga-Nya sendiri menanti di luar dan tidak memberikan akses khusus kepada mereka. Keluarga Yesus sama pentingnya dengan orang-orang lain yang mau mengikut Yesus. Bahkan jika keluarga Yesus belum mengerti apa yang sedang Yesus kerjakan, maka Dia akan membiarkan mereka dan tidak menganggap mereka penting. Meskipun pada akhirnya ibu dan saudara-saudara-Nya mengikuti Dia sebagai Sang Mesias, tetapi di awal-awal pelayanan-Nya keluarga-Nya sempat menganggap Dia orang gila (Mrk. 3:21).

Bagian ini juga menjelaskan suatu pengertian yang sangat indah dari Kristus, yaitu bahwa Dia benar-benar mengutamakan Allah dan orang-orang yang mengasihi Allah. Siapa yang menjalankan kehendak Allah, Dialah saudara Yesus. Dia tidak melihat diri-Nya, kerabat-Nya, orang-orang di sekitar keluarga-Nya sebagai orang-orang yang harus menjadi besar. Tidak! Ini sangat berbeda dengan semangat zaman ini. Seorang pemimpin akan mengangkat keluarganya sendiri untuk menjadi orang-orang penting. Tuhan Yesus mengatakan bahwa hanya orang-orang yang bersedia menjalankan kehendak Bapa yang akan diakui-Nya sebagai saudara-Nya. Jika tidak, maka relasi apa pun yang dimiliki dengan Yesus sebagai manusia tidak akan dianggap penting oleh-Nya.

Untuk diingat:

  1. Pertobatan sejati mencakup ketaatan total kepada Tuhan. Biarlah bacaan hari ini menguatkan kita untuk mengambil komitmen untuk melayani Tuhan dengan segenap hati. Kita tidak boleh menjadi orang yang tidak mengerjakan apa-apa bagi Tuhan. Banyak orang yang tidak mempunyai hati bagi umat Tuhan  dan merasa sudah cukup jika mereka sendiri mendapatkan apa yang mereka perlukan, dan menolak untuk terlibat apa pun di dalam pekerjaan Tuhan. Inilah cara hidup yang kosong. Akankah cara hidup seperti ini menguduskan hidup kita dengan konsisten? Tidak. Jika kita tidak menyerahkan hidup kepada Allah, maka kerusakan kita akan muncul kembali. Tetapi jika segalanya menjadi milik Allah dan apa pun yang kita kerjakan sepenuhnya dipersembahkan bagi kemuliaan Allah, maka kita akan memperoleh kekuatan untuk berjuang menyatakan kebenaran, kasih, dan kekudusan-Nya.
  2. Orang-orang yang mau melakukan kehendak Allah dengan mempersembahkan hidupnya secara total bagi Allah adalah orang-orang yang justru dipakai Tuhan untuk menunjukkan bagaimana Allah sangat menghargai mereka. Bagaimanakah cara Allah menghargai mereka? Dengan menjadikan Kristus saudara mereka. Kristus mengatakan bahwa yang akan dianggap-Nya sebagai ibu-Nya dan saudara-Nya laki-laki dan perempuan, semua merupakan orang-orang yang mau menjalankan kehendak Bapa di surga di atas kehendak dan rencana sendiri. Maukah kita mendapatkan penghormatan setinggi ini? Hanya satu cara: Layanilah Kristus dan taati Allah dengan menjalankan kehendak-Nya.
  3. Siapakah yang mendapatkan rasa hormat dan rasa kagum kita? Keluarga sendiri? Siapakah yang kita anggap penting? Istri sendiri? Suami sendiri? Anak sendiri? Kadang-kadang orang tua mendewakan anak hingga level yang sangat merusak. Anak sendiri paling penting. Anak sendiri paling berharga. Tetapi tidak demikian sifat Yesus. Dia menganggap orang-orang yang menganggap pekerjaan Allah Bapa penting sebagai orang penting. Siapa pun kita, jika kita mengasihi Allah dan mengutamakan pekerjaan-Nya, maka Yesus Kristus akan menganggap kita penting. Jika tidak, sedekat apa pun kita dengan Dia, Dia akan membiarkan kita menunggu di luar dan mengabaikan kita.

Doa:
Ya Tuhan, berikan kami hati yang sungguh-sungguh mau datang kepada Tuhan di dalam ketaatan. Kami tidak mau bersih dari dosa tetapi kosong di dalam ketaatan untuk berjalan bersama dengan Tuhan. Kami mau dibimbing oleh-Mu langkah demi langkah dan kami akan memberikan ketaatan total kami hanya kepada-Mu, ya Tuhan. Hanya Engkau sajalah yang layak mendapatkan seluruh diri kami. Pimpin dan bentuk kami, ya Tuhan, karena kami adalah milik-Mu. (JP)