Renungan Harian 240 (Jumat, 26 April 2019)

Perumpamaan tentang Penabur (1)

Devotion from Matius 13:1-29 dan 13:18-23

Hari ini dan enam hari ke depan kita tiba pada kumpulan perumpamaan Tuhan Yesus. Matius mengatakan bahwa Yesus memberikan perumpamaan-Nya sebagai pengajaran yang sangat limpah bagi mereka yang diberikan anugerah memahami artinya (ay. 11-12). Perumpamaan Yesus berbicara tentang hal sehari-hari yang diketahui orang Yahudi pada zaman itu. Setiap orang yang mendengar tahu apa yang Yesus sedang bicarakan. Tetapi apa yang Dia bicarakan itu ternyata berkait dengan pengertian tentang Kerajaan Allah. Mereka yang melihat kelimpahan pengajaran tentang Kerajaan Allah di dalam contoh sehari-hari inilah orang-orang yang berbahagia karena diberikan kelimpahan. Bacaan hari ini mencatat perumpamaan tentang penabur yang menaburkan benih. Benih yang ditabur biasanya diletakkan di dalam sebuah kantong, dan si penabur akan mengambil segenggam sambil berjalan melintasi ladangnya, dan melemparkannya begitu saja ke sisi kiri dan sisi kanannya. Benih yang dilempar itu bisa jatuh ke tempat yang subur, atau jatuh ke tempat yang ditumbuhi oleh lalang, atau jatuh ke tanah berbatu, atau mungkin dilempar terlalu jauh sehingga mendarat di pinggir jalan. Inilah yang Tuhan Yesus pakai untuk menggambarkan orang-orang yang akan berbagian di dalam Kerajaan Allah, yaitu mereka yang mendengar firman dan berbuah bagi Tuhan.

Perumpamaan pertama adalah tentang benih yang jatuh di pinggir jalan. Dalam ayat 19 Tuhan Yesus menjelaskan bahwa ini adalah gambaran bagi orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Allah, tetapi tidak mengerti. Mendengar tetapi tidak bersedia mengubah konsep berpikir yang lama. Mendengar tetapi tidak tahu apa yang dimaksudkan. Cara berpikir manusia yang sudah dikuasai oleh dosa membuat apa pun yang diberitakan ditolak, atau diterima untuk mengonfirmasi apa yang sudah dipercaya. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah bertobat. Orang-orang seperti ini selalu merasa diri baik dan orang lain salah. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah suka dikoreksi dan tidak akan pernah mau dikoreksi. Itulah sebabnya ketika firman yang keras diberitakan, mereka tidak paham bahwa merekalah yang dimaksudkan di dalam teguran yang keras itu. Mereka mendengar tetapi tidak mengerti. Orang yang mendengar tetapi tidak mengerti juga termasuk orang-orang yang mengeraskan hati. Yesaya 6:9-10 mengatakan bahwa hati bangsa Israel telah keras sehingga teguran yang mereka dengar dan hukuman yang mereka lihat tetap tidak membuat mereka menanggapi dengan pertobatan sejati. Siapa yang mendengar firman tetapi tidak bertobat, dialah “pinggir jalan” yang dimaksud perumpamaan ini. Benih firman yang jatuh ke dalam hatinya hilang begitu saja karena tidak pernah menembus masuk ke jiwanya. Bahkan lebih parah lagi, Yesus mengatakan bahwa Iblis datang dan mengambil firman itu. Dia segera lupa, mengeraskan hati, atau menuduh orang lain setelah mendengar firman.

Ketika kita mendengar firman, apakah yang menjadi reaksi kita? Apakah pikiran yang segera muncul di dalam diri kita? Ketika teguran dari firman Tuhan dinyatakan dengan sangat jelas, apakah yang menjadi reaksi kita? Jika kita tidak pernah menguji diri kita sendiri, menilai kembali hati dan kehidupan kita, maka kita termasuk orang-orang yang mempunyai hati “pinggir jalan”. Firman Tuhan lewat begitu saja tanpa ada hati yang merasa tertusuk karena firman itu. Atau jika reaksi kita ialah menghakimi orang lain, maka berarti firman itu hanya lewat begitu saja, tidak menembus jiwa kita, sehingga kita tidak bertumbuh sedikit pun setelah mendengar firman. Sebaliknya, hati kita menjadi penuh dengan kesombongan dan mulai menghakimi orang lain. Jika setelah mendengar firman kita segera menuduh orang lain dan tidak pernah mengoreksi diri, maka Iblis akan datang, memutarbalikkan firman itu untuk mendorong kita terus berdosa karena mengabaikan firman dan menghakimi orang lain.

Contoh kedua yang dipakai Tuhan Yesus adalah tanah yang berbatu-batu. Penjelasan di dalam ayat 20 dan 21 mengatakan bahwa tanah yang berbatu-batu ini adalah orang-orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Allah, menerimanya, tetapi tidak bertahan di dalam penganiayaan. Orang-orang yang mengaku menjadi murid Kristus tetapi ternyata lebih mementingkan kenyamanan hidup dan penerimaan orang lain daripada mengikuti Kristus dan diperkenan oleh Dia. Orang-orang ini adalah orang-orang yang akan berbalik dan meninggalkan imannya ketika datang kesulitan. Ada yang meninggalkan imannya karena penganiayaan, ada yang meninggalkannya karena lebih mementingkan penerimaan manusia daripada penerimaan Tuhan. Iman yang diperolehnya setelah mendengar firman adalah iman yang tidak berakar. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya ditawarkan oleh firman Tuhan tentang Kerajaan Allah. Yesus Kristus pun datang ke dalam dunia untuk masuk ke dalam penderitaan-Nya sebelum menerima Kerajaan-Nya. Setiap seruan tentang Kerajaan Allah yang dimengerti sebagai dominasi politik bagi Israel, atau kekayaan dan kemakmuran bagi diri adalah seruan yang dipahami dengan cara yang salah. Pengharapan yang palsu akhirnya membuat orang begitu kecewa ketika mendengar kalimat Tuhan Yesus yang mengatakan sangkal diri dan pikul salib (Mat. 16:24).

Golongan lain yang termasuk orang-orang berhati seperti tanah berbatu adalah golongan yang mendengar firman dan memiliki semangat begitu besar, tetapi semangat yang belum teruji. Seperti Petrus kita berseru rela mati bagi Tuhan (Mat. 26:35), tetapi seperti Petrus juga kita gemetar menghadapi seorang hamba perempuan yang menanyakan tentang pendirian iman kita (Mat. 26:74-75). Menerima firman dengan senang hati, bahkan membuat komitmen dengan yakin, adalah baik, tetapi belum teruji. Siapa yang mempertahankan iman di saat sulit, inilah orang-orang yang memahami firman tentang Kerajaan Allah dengan cara yang sudah teruji. Di saat tantangan dari tempat kerja, atau masyarakat sekitar, atau keluarga, semua datang dan mendesak kita untuk meninggalkan kepercayaan kepada Tuhan Yesus, saat itulah ujian sedang diberikan. Apakah kita akan menjadi seperti tanah yang berbatu? Ketika lingkungan sekitar kita mengucilkan kita atau menghina kita, bukankah ini pun semacam penganiayaan? Ketika keluarga kita mengancam kita, ini juga bentuk penganiayaan. Ketika masyarakat menghakimi dan ingin mematikan iman Kristen dari tengah-tengah mereka, ini pun penganiayaan. Siapakah yang bisa bertahan? Kita harus memohon supaya Tuhan menopang kita ketika penganiayaan terjadi. Di tengah-tengah kesulitan seperti inilah kekristenan bertumbuh. Kekristenan bertumbuh di tengah-tengah medan pertempuran di mana kita adalah kelompok yang kecil dan terdesak. Kekristenan bertumbuh di dalam keadaan seperti domba di tengah-tengah serigala. Kekristenan bertumbuh di tengah-tengah arus penderitaan yang besar. Maka Tuhan Yesus telah mengingatkan, siapa yang gugur imannya di tengah-tengah penganiayaan, dia seperti tanah berbatu. Benih yang jatuh di atasnya tidak pernah sungguh-sungguh berakar, sehingga hanya tumbuh sebentar lalu mati. Orang Kristen yang meninggalkan imannya di tengah-tengah penganiayaan bukanlah orang Kristen yang sejati. Kiranya Tuhan menguatkan kita sehingga ujian apa pun yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita, boleh kita lewati dengan penuh kemenangan karena kekuatan dari Tuhan, bukan dari diri.

Untuk diingat:

  1. Kiranya kita mempunyai hati yang lembut, bukan yang seperti jalan yang keras. Biarlah kita sungguh-sungguh bertobat jikalau setiap kali firman Tuhan dibaca atau dikhotbahkan, firman itu masuk ke telinga kita sebagai seruan yang kosong dan hampa. Biarlah kita belajar menjadi orang-orang yang mudah dibentuk oleh firman Tuhan, bukan menjadi sombong dan menghakimi orang lain dengan semangat seperti orang-orang Farisi (Mat. 23:24).
  2. Kiranya kita juga memberikan hidup yang tertuju sepenuhnya kepada Kristus. Sepenuhnya! Biarlah kita juga mengatakan seperti Paulus, “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalamku”. Inilah Kerajaan Surga itu. Kita telah mati, dan sekarang Kristus yang hidup di dalam diri kita. Kita tidak menjadi Kristen supaya mendapatkan kelancaran dan kesehatan. Kita menjadi Kristen karena kita mau meneladani Yesus Kristus yang menyangkal diri, pikul salib, dan mati bagi umat-Nya.

Doa:
Tuhan, tolonglah kami supaya apa yang kami dengar hanyalah hal-hal yang benar dan tulus. Biarlah kami menerima kebenaran firman-Mu meskipun ternyata banyak orang yang sudah menyelewengkannya. Biarlah kami dilatih oleh keadaan sulit, namun kiranya tangan Tuhan berkenan untuk menyertai kami dan menopang kami senantiasa. (JP)