Avada Wordpress theme nulled

Renungan Harian 44 (Kamis, 11 Oktober 2018)

Home/Santapan Rohani/Renungan Harian 44 (Kamis, 11 Oktober 2018)

Renungan Harian 44 (Kamis, 11 Oktober 2018)

Daud menjadi Raja Yehuda

Devotion from 2 Samuel 2:1-11

Pasal 2 dimulai dengan doa Daud kepada Allah. Daud bertanya mengenai waktunya dia boleh kembali ke daerahnya sendiri. Perhatikan pertanyaan Daud. Daud tidak tanya kapan waktunya dia boleh menjadi raja. Dia hanya bertanya, apakah dia boleh pulang atau tidak. Apakah masa hidupnya sebagai pelarian sudah selesai atau belum. Tuhan memerintahkan Daud untuk pergi ke Hebron dan di sana ternyata orang-orang Yehuda mengurapi Daud menjadi raja atas kaum Yehuda. Tentu ini adalah sesuatu yang lebih kecil dari rencana Tuhan atas Daud. Tuhan hendak menjadikan Daud raja atas seluruh Israel, bukan hanya Yehuda. Tetapi ternyata setelah Saul mati pun Tuhan tidak langsung melapangkan jalan bagi Daud untuk menjadi raja. Segera setelah Daud diangkat menjadi raja Yehuda, dia mengusahakan perdamaian dengan seluruh Israel. Dia memberi selamat kepada orang-orang Yabesh-Gilead karena mereka menguburkan raja Saul dan karena mereka menunjukkan hormat mereka kepada raja Saul. Daud juga memberikan dorongan kepada mereka untuk terus kuat walaupun Daud sendiri telah menjadi raja atas Yehuda. Daud melakukan ini sebagai tanda bahwa dia tidak ingin mengambil kedudukan raja Israel. Dia secara pasif menerima jabatan raja Yehuda dari orang-orang Yehuda dan tidak berencana untuk memperbesar kekuasaannya hingga seluruh Israel. Dia menyerahkan kepada Tuhan untuk menjalankan apa yang menjadi kehendak-Nya pada waktu-Nya.

Tetapi ayat 8 menyatakan bahwa Abner, panglima tentara Saul, melantik anak Saul, yaitu Isyboset, menjadi raja. Demikian tidak pekanya Abner terhadap jalan Tuhan sehingga dia tidak datang kepada Daud dan merekonsiliasi Yehuda dengan seluruh Israel dan menjadikan Daud raja atas seluruh Israel. Dia setia kepada keluarga Saul secara buta. 2 Samuel 3:8-9 menceritakan bahwa kesetiaan Abner akhirnya berubah hanya karena sakit hati kepada Isyboset. Bahkan di ayat 9 dikatakan bahwa Abner sendiri tahu kalau Tuhan sudah berjanji akan menjadikan Daud raja. Kalau dia sudah tahu Daud telah dipilih Tuhan untuk menjadi raja, mengapa dia sekarang malah mengangkat Isyboset? Abner bukanlah orang yang mengikuti hati Tuhan. Dia hanyalah seorang tentara dengan komitmen yang lemah dan kemampuan yang dipertanyakan. Mengapa dipertanyakan? Sebab faktanya dia gagal melindungi raja Saul dan anak-anak raja. Saul dan Yonatan mati di medan pertempuran sedangkan Abner sendiri hidup. Apakah dia lari dari pertempuran? Ataukah dia tidak tahu kalau di dalam pertempuran orang-orang Filistin mendesak ke arah Saul sehingga berhasil melukai dia dan membunuh anak-anaknya? Kita tidak tahu. Tetapi sekarang setelah Saul dan anak-anaknya yang perkasa mati, tinggallah Abner dengan pengaruh paling kuat di seluruh Israel. Anak Saul yang dilantik Abner menjadi raja juga tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Bahkan arti nama Isyboset sendiri adalah “manusia hina/memalukan”. Sangat jelas bahwa Isyboset bukan siapa-siapa. Dia tidak punya kemampuan mengatur apa pun karena Abner yang menjadi kepala yang sejati (lihat 2Sam. 3:11). Maka pengangkatan Isyboset hanyalah menjadikan dia berfungsi seperti boneka, sedangkan kekuasaan sejati ada di tangan Abner. Tetapi di tengah-tengah segala keadaan ini ternyata Abner bukanlah orang yang gila kekuasaan. Ini terlihat dalam 2 Samuel 3:9-10 di mana Abner yang marah kepada Isyboset berniat menyerahkan seluruh Israel kepada takhta Daud. Dia sendiri tidak menggulingkan Isyboset dan merebut sendiri takhta kerajaan. Dia menjadikan Isyboset raja demi mempertahankan Dinasti Saul, bukan untuk menjadikan dirinya penguasa.

Ayat 12 mengatakan bahwa Abner membawa pasukan Israel pergi dari Mahanaim ke Gibeon. Ini adalah gerakan ofensif. Setelah melantik Isyboset menjadi raja atas Israel di Mahanaim, dia membawa tentaranya bergerak ke Selatan ke daerah perbatasan Benyamin dan Yehuda. Ayat 13 menyatakan bahwa Yoab juga membawa tentara Yehuda ke Gibeon. Tetapi pergerakan Yoab adalah pergerakan membela diri. Jarak tempuh Hebron ke Gibeon sangat dekat, dan itu berarti Yoab baru bergerak maju setelah Abner bergerak begitu jauh dari Mahanaim. Abnerlah yang berinisiatif menyerang Yehuda karena Yehuda mengangkat raja sendiri, yaitu Daud. Daud, yang dengan pasif menerima takhta dari suku Yehuda, sekarang diserang oleh Abner yang dengan aktif mau menundukkan seluruh daerah Israel kepada takhta Isyboset.

  1. Kaitan bagian ini dengan seluruh Kitab 2 Samuel

    Pengangkatan Daud sebagai raja Yehuda menjadi langkah maju menuju takhta Israel. Bagian bacaan hari ini dengan jelas menceritakan bahwa Tuhanlah yang memerintahkan Daud untuk kembali ke daerah Yehuda, yaitu di Hebron. Ayat 4 menggambarkan tangan Tuhan jugalah yang menggerakkan orang-orang Yehuda untuk mengangkat Daud sebagai raja, dan bukan karena kehendak Daud atau salah satu tentaranya. Bagian ini juga menggenapi nubuat Yakub bahwa daerah Yehuda adalah daerah dinasti raja (Kej. 49:10). Raja-raja secara turun temurun akan muncul dari Yehuda. Maka pengangkatan Daud menjadi raja di Hebron, Yehuda, sangat menekankan penggenapan nubuat ini. Jalan berliku yang dialami Daud (sangat jauh lebih berliku jika dibandingkan dengan proses Saul menjadi raja) adalah untuk menyatakan bahwa ada banyak nubuatan mengenai kerajaan yang digenapi oleh Daud. Bagian ini juga menunjukkan hati Daud adalah untuk orang Israel, bukan hanya untuk Yehuda. Itulah sebabnya dia memberikan kalimat-kalimat penghiburan bagi orang Yabesh-Gilead. Itulah sebabnya juga Daud tidak pernah mengadakan gerakan ofensif apa pun untuk menyerang orang Israel. Bahkan ketika Abner maju menyerang dia, Daud menyerahkan kepada Yoab untuk melakukan pembelaan. Dia tidak mau ikut peperangan melawan Israel.

  2. Apakah yang dapat kita pelajari?

    Bagian ini menunjukkan hati Daud yang tidak ambisius sama sekali. Dia dengan pasif dilantik tanpa ada keinginan untuk menjadi pemimpin mereka. Dia tidak ingin nama besar karena kepulangannya ke Yehuda pun hanyalah kepulangan seorang buangan dari tempat buangannya. Daud tidak tahu bahwa kembalinya ke Yehuda sebenarnya mencerminkan sang raja Israel datang untuk mengklaim takhtanya. Bolehkah seorang Kristen menjadi ambisius? Tidak pernah boleh. Dia tidak boleh menjadi orang yang serakah untuk kepentingan diri. Dia tidak boleh mencari nama besar bagi dirinya sendiri. Dia tidak boleh ingin menjadi yang terkuat atau yang terkaya. Dia harus tetap memiliki kerendahan hati dan perasaan tidak layak dalam segala sesuatu. Tetapi dia harus memiliki gairah yang besar untuk memuliakan nama Allahnya! Daud bersemangat tinggi untuk mengalahkan Goliat. Daud berjuang dengan tidak henti-hentinya untuk menaklukkan musuh-musuh Israel. Tetapi Daud tidak pernah berstrategi atau berperang atau bahkan hanya berniat untuk menjadikan dirinya besar. Dia merasa tidak layak untuk jadi menantu raja (1Sam. 18:18, 23) dan dia tidak punya ambisi untuk menjadi raja Israel. Kasihan sekali orang-orang Kristen yang merasa dirinya besar. Pengakuan kebesaran seseorang itu datang dari Tuhan, bukan diri sendiri. Semua orang yang dianggap penting oleh Tuhan dan dijadikan besar oleh Tuhan selalu merasa diri tidak layak dan selalu tidak ingin memperbesar diri. Ini prinsip yang sangat sulit dipelajari oleh orang-orang Kristen. Martin Luther menekankan theologia salib yang menekankan kehinaan dan kerendahan, tetapi orang-orang Kristen sekarang bahkan memakai salib untuk berlomba-lomba menyatakan mana yang lebih berkorban. Orang-orang Kristen memamerkan kerelaannya berkorban bagi Allah. Alangkah memuakkannya mendengar koar-koar pengorbanan dari orang yang bahkan belum pernah mencicipi penderitaan atas nama Kristus sedangkan begitu banyak orang Kristen yang dianiaya demi nama Kristus tidak suka buka mulut memamerkan pengorbanan mereka. Bahkan Kristus tidak pernah memamerkan penderitaan salib-Nya. Allah Bapa yang melakukan itu. Roh Kudus yang meninggikan itu. Maka biarlah kita mematikan ambisi untuk menjadi yang paling besar, paling penting, paling berjasa, paling rela berkorban. Tuhan yang melihat apa yang tersembunyi akan membalasnya dari tempat yang tersembunyi juga (Mat. 6:4, 6). Di dalam hidup kita sebagai orang Kristen, tiga hal yang tidak pernah boleh kita lupakan. Yang pertama adalah bahwa kita hanyalah orang berdosa yang seharusnya dibinasakan. Di manakah tempat kesombongan di dalam hal ini? Tidak mungkin orang Kristen sejati masih merasa sombong dan ambisius untuk kemegahan diri sendiri. Yang kedua adalah bahwa segala yang kita dapatkan hanyalah karena anugerah. Jika semua hanyalah karena pemberian Tuhan, maka yang dapat kita banggakan adalah Tuhan, dan bukan kita. Semua merupakan karya Tuhan di dalam diri kita. Semua merupakan pemberian Tuhan, bukan kekuatan kita memperolehnya. Yang ketiga adalah segala yang Tuhan mau kerjakan, sedang kerjakan, atau sudah kerjakan melalui kita adalah hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Kiranya kita ingat untuk tidak ikut-ikutan menerima pujian dan penghargaan untuk hal yang ditujukan bagi kemuliaan nama Tuhan.

  3. Bayang-bayang Kristus

    Pdt. Stephen Tong mengkhotbahkan hal yang sangat indah di dalam khotbah kenaikan Kristus. Dia mengatakan bahwa Kristus secara aktif merendahkan diri dan secara pasif ditinggikan. Dia dengan aktif melayani, merendahkan diri dengan datang ke dunia menjadi manusia, merelakan diri menjadi korban, bahkan aktif menyerahkan diri-Nya untuk mati di kayu salib. Tetapi Dia secara pasif ditinggikan. Bapa memberikan kepada Dia tempat di sebelah kanan-Nya. Lebih tinggi dari apa pun. Lebih mulia dari siapa pun. Inilah kemuliaan Kristus. Kemuliaan yang didapat dari Allah Bapa. Daud menggambarkan hal ini melalui kerelaannya untuk taat kepada Allah. Dia menanti Allah saja yang bekerja untuk menjadikan dia raja. Daud tidak pernah menunjukkan ambisi menjadi penguasa atau menjadi orang besar di sepanjang hidupnya. Dalam hal ini dia menjadi bayangan kemuliaan Kristus yang merelakan diri-Nya direndahkan dan secara pasif menanti saat di mana Sang Bapa memulihkan segala sesuatu dan menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus (1Kor. 15:25-27). Maka di dalam Alkitab kita melihat bahwa Kristus merendahkan diri dengan aktif dalam menaati perintah Bapa. Dia rela datang ke dalam dunia karena Bapa memerintahkan demikian. Dia rela menjalani hidup yang penuh penderitaan karena Bapa memerintahkan demikian. Dia rela dihina dan disiksa karena Bapa menginginkan demikian. Dia rela mati di kayu salib karena inilah rancangan keselamatan yang Bapa telah tetapkan. Perhatikan Filipi 2:7-10! Ayat 7 dan 8 mencatat bahwa Yesus Kristuslah yang aktif merendahkan diri. Tetapi masuk ke ayat 9 Allahlah yang aktif meninggikan Kristus. (JP)

By |October 10th, 2018|Santapan Rohani|Comments Off on Renungan Harian 44 (Kamis, 11 Oktober 2018)

About the Author:

Sekolah Kristen Ketapang "Setiap anak berharga di mata Tuhan"