Renungan Harian 101 (Jumat, 7 Desember 2018)

Yerusalem sebagai Pusat Pemerintahan TUHAN

Devotion from:

2 Samuel 6:1-15

Setelah menaklukkan orang Filistin dan membuat mereka menjadi bangsa jajahan kedua (setelah orang Yebus) Israel di bawah kerajaannya, Daud ingin mengingatkan dirinya bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas Israel. Dia adalah raja karena dia mewakili Tuhan untuk menggembalakan umat Tuhan (2Sam. 5:2). Umat ini adalah milik Tuhan, bukan miliknya sendiri. Itulah sebabnya Daud ingin membawa Tabut Perjanjian – yang melambangkan kehadiran Allah – ke Yerusalem tempat dia bertakhta. Dengan motivasi yang tulus dan dengan kerinduan untuk memberikan yang terbaik kepada Allah, Daud mengumpulkan 30.000 tentara Israel dan bersiap untuk mengangkut tabut itu dari rumah Abinadab. Ayat 5 mengatakan bahwa Daud dan seluruh Israel menari-nari dengan diiringi musik yang megah. Tetapi ayat 6-7 mengatakan bahwa Tuhan tidak berkenan dengan cara mereka membawa tabut tersebut. Dikisahkan bahwa salah satu lembu yang menarik kereta tergelincir dan Uza memegang tabut Allah itu dengan maksud menjaganya supaya tidak jatuh. Tetapi Tuhan murka dan membunuh dia dengan hebatnya (ay. 8). Mengapa Tuhan murka? Mengapa Dia membunuh Uza? Ayat 6 adalah penyebabnya. Tuhan ingin menegur Daud dengan membuat perjalanan mengangkut tabut itu terhenti. Dia membuat lembu-lembu tergelincir sehingga tabut tersebut terjatuh. Mengapa Tuhan ingin menghentikan proses pengangkutan tabut itu? Mari kita lihat bersama-sama dalam 1 Samuel 6:7. Cara mengangkut tabut dengan memuatnya pada sebuah kereta yang baru adalah cara orang Filistin mengangkut dewa-dewa mereka. Tuhan mempunyai cara yang berbeda untuk mengangkut tabut yang menjadi simbol kehadiran TUHAN semesta alam. Dalam Ulangan 10:8 dan Ulangan 31:9 dikatakan bahwa orang Lewi lah yang harus mengangkut Tabut Perjanjian Tuhan. Lalu di dalam Keluaran 25:10-14 dikatakan bahwa tabut tersebut harus dibawa dengan diusung oleh para imam. Karena cara membawa tabut yang sama dengan cara orang kafir mengangkut dewa-dewa mereka, maka Tuhan menggagalkan dengan membuat tergelincir lembu-lembu tersebut. Tetapi Uza mengulurkan tangan untuk mencegah tabut tersebut jatuh. Dengan menyentuh tabut itu Uza telah bersalah karena menghalangi Tuhan yang memang berencana menghentikan kegiatan pengangkutan tabut itu. Dia juga bertindak tanpa menyadari ketidaklayakannya untuk menyentuh Tabut Perjanjian itu. Daud juga bersalah karena dia mengangkut tabut tersebut tanpa menanyakan kepada Tuhan apakah dia boleh mengangkut tabut tersebut ke Yerusalem, dan kalau ternyata boleh, dia tetap harus bertanya bagaimana cara membawa Tabut Perjanjian itu.

Mengapa Tuhan bertindak demikian keras? Karena Tuhan tidak ingin kemuliaan-Nya diperlakukan dengan sembarangan. Dia tidak ingin kemuliaan-Nya disamakan dengan dewa-dewa palsu. Dia tidak ingin Israel jatuh kepada penyembahan berhala karena menganggap bahwa baik Tuhan yang mereka sembah, maupun dewa-dewa lain, tidak berbeda. Tidak mungkin Tuhan bertindak keras untuk sesuatu yang tidak penting. Penyembahan berhala adalah bahaya yang sangat besar bagi Israel. Bayangkan, suatu bangsa hanya menyembah satu Allah yang esa. Tidak ada satu pun bangsa lain di dunia yang melakukannya! Itu sebabnya segala kemiripan memperlakukan simbol kehadiran Tuhan dengan memperlakukan berhala kafir adalah hal yang sangat berbahaya.

Ayat 10 mengatakan bahwa sesudah kematian Uza, Daud segera menyimpan Tabut Perjanjian itu di rumah Obed-Edom, orang Gat. Kemungkinan Obed-Edom ini berbeda dengan nama dalam 1 Tawarikh 26:8 yang mengatakan bahwa Obed-Edom ini adalah keturunan Lewi. Kemungkinan Obed-Edom ini adalah orang Filistin yang tinggal di daerah Gat. Daud sadar kalau Tuhan sedang murka dan dia tidak ingin terjadi tulah dan hukuman Tuhan di tengah-tengah Yerusalem. Itu sebabnya Daud menyimpang ke rumah Obed-Edom dan menitipkan tabut di sana. Mengapa memilih rumah Obed-Edom? Alkitab tidak memberi jawabannya. Tetapi kemungkinan adalah untuk melihat apakah Tuhan akan menimpakan tulah lagi seperti yang terjadi dalam 1 Samuel 5? Jika di tengah-tengah rumah orang Filistin pun Allah tidak lagi menghukum, maka itu berarti murka-Nya telah reda dan perjalanan mengangkut tabut akan dapat dilanjutkan dengan cara yang benar. Alkitab menyatakan bahwa selama tiga bulan keluarga Obed-Edom mendapatkan berkat besar dari Tuhan. Ini adalah tanda bahwa Tuhan sudah tidak murka lagi. Setelah itu dikatakan juga bahwa Daud telah memahami bagaimana caranya membawa tabut Allah itu, yaitu dengan dipikul oleh beberapa orang Lewi dengan menggunakan tongkat yang memang dikhususkan untuk memindahkan tabut itu (1Taw. 15:2).

Bukan hanya Daud menaati apa yang menjadi ketentuan Tuhan dalam mengangkut tabut, dia juga memohonkan belas kasihan Tuhan dengan mengorbankan lembu sebagai korban setelah para imam melangkah enam langkah. Daud benar-benar sadar bahwa hanya karena belas kasihan Tuhanlah maka tabut itu boleh berada di Yerusalem. Kehadiran tabut di Yerusalem bukanlah untuk membuat keluarga Daud diberkati Tuhan. Kehadiran tabut di Yerusalem adalah tanda pengakuan Daud bahwa takhta sejati Israel adalah milik Tuhan, bukan milik Daud.

  1. Kaitan bagian ini dengan seluruh Kitab 2 Samuel

    Pada bagian ini Yerusalem semakin kokoh menjadi pusat pemerintahan dan pusat peribadatan. Meskipun belum ada Bait Suci, tetapi keberadaan Tabut Perjanjian menjadikan langkah menuju pembangunan Bait Suci semakin dekat. Yerusalem menjadi simbol kehadiran Tuhan yang memerintah. Dia hadir dengan disimbolkan oleh tabut, dan Dia memerintah, dengan disimbolkan oleh kerajaan Daud. Kitab 2 Samuel sendiri berhenti sebelum adanya catatan mengenai pembangunan Bait Suci. Tetapi Kitab ini memberikan hal-hal yang diperlukan sebelum akhirnya Bait Suci dibangun, yaitu adanya tempat utama yang menjadi simbol kehadiran Tuhan di Israel, yaitu Yerusalem. Daudlah orang yang dipakai Tuhan untuk merebut Yerusalem dan menjadikan Yerusalem pusat pemerintahan dan simbol kehadiran Allah.

  2. Apakah yang dapat kita pelajari dari bagian ini?

    Setidaknya dua hal dapat kita renungkan bersama-sama. Yang pertama: perhatikanlah betapa ketatnya Tuhan menuntut penghormatan dan penyembahan untuk diberikan kepada Dia. Daud gagal melakukan ini meskipun motivasinya baik dan tujuannya benar. Tuhan tidak berkenan walaupun tujuan benar dan motivasi benar. Kalau cara salah, maka Tuhan akan koreksi. Cara Tuhan koreksi bisa sangat berat dan menyakitkan, tetapi sangat perlu untuk melatih kita memberikan penghormatan yang sepatutnya kepada Allah kita. Mari koreksi cara kita beribadah kepada Dia, bersikap kepada Dia, dan juga menyembah Dia. Biarlah dengan akurat kita menjalankan apa yang Tuhan perintahkan di dalam Alkitab. Hal kedua: belajar dari sifat Daud yang rela dikoreksi. Ayat 14 mengatakan Daud tetap menari-nari dengan penuh girang dan sukacita walaupun baru saja pada ayat-ayat sebelumnya dia ditegur dengan keras oleh Tuhan melalui peristiwa Uza. Bahkan Daud sempat marah kepada Tuhan (ay. 8). Tetapi dia segera bertobat dan kembali memohon belas kasihan Tuhan (ay. 13). Lalu dia kembali mempunyai sukacita karena sadar bahwa Tuhan tengah memberikan pelajaran kepada dia untuk membuat dia makin peka dan hormat kepada Allahnya.

  3. Bayang-bayang Kristus

    Alkitab menyatakan bahwa Kristus adalah Imam (Ibr. 5:5-6). Bayang-bayang Kristus sebagai Imam dinyatakan oleh para imam yang mengangkut tabut masuk ke Yerusalem. Karya penebusan dari Sang Imam, yaitu Kristus, adalah yang membuat kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya memberikan kedamaian bagi umat-Nya. Seandainya tidak ada pendamaian, maka kehadiran Allah akan menjadi api yang menghanguskan. Itulah sebabnya tabut perlu diangkut oleh para imam sehingga lambang Kristus sebagai Sang Imam menjadi jelas melalui peristiwa ini. Tanpa adanya imam yang mengusung tabut, maka Tuhan akan menyatakan kehadiran-Nya dengan penghakiman dan Dia akan menghantam setiap orang yang bersalah. Tetapi dengan adanya imam – yang melambangkan karya penebusan Kristus – maka tabut menjadi pernyataan kehadiran Allah yang penuh kasih dan kemurahan. (JP)