Renungan Harian 53 (Sabtu, 20 Oktober 2018)

Dinasti Sang Mesias

Devotion from:

2 Samuel 7:1-17

Bagian ini adalah inti yang sangat penting dari Kitab 2 Samuel. Dua bagian lain yang juga sangat penting adalah kelahiran Salomo (yang merupakan bagian dari narasi kejatuhan Daud dalam dosa dengan Batsyeba), dan penunjukan lokasi Bait Suci di bagian akhir Kitab ini. Semuanya menjalin menjadi satu tulang punggung yang kokoh untuk Kitab ini. Tuhan berjanji akan memberikan keturunan bagi Daud yang akan membangun bait bagi Tuhan. Tuhan memberikan keturunan itu, yaitu Salomo, yang adalah gambaran dari Kristus, Anak Daud yang sejati. Terakhir adalah Tuhan memberikan lokasi bait, di mana Bait Suci itu sendiri akan digenapi di dalam pemanggilan gereja yang adalah tubuh Kristus, Bait Allah yang sejati.

Ayat 2 menyatakan keinginan Daud untuk memberikan tempat yang megah bagi Tabut Perjanjian. Daud mempunyai rumah yang bagus tetapi tabut hanya berdiam di dalam kemah. Jawaban Tuhan mengoreksi konsep Daud sekaligus menubuatkan hal yang akan Tuhan kerjakan. Ayat 5-10 menyatakan bahwa Allah adalah transenden. Dia melampaui segala ciptaan. Dia lebih agung dan lebih besar dari seluruh ciptaan. Apakah mungkin ada rumah yang dapat menampung Dia? Tetapi dalam bagian ini juga Allah menyatakan bahwa Dia adalah imanen. Dia rela menyatakan kehadiran-Nya bersama-sama dengan bangsa Israel. Walaupun Dia Mahahadir, tetapi kehadiran-Nya secara intim dinyatakan di tengah-tengah Israel. Maka, pada waktu Israel berdiam di dalam kemah, simbol kehadiran Allah, yaitu tabut, juga ditempatkan di dalam kemah. Allah menyertai bangsa Israel dengan rela berdiam bersama-sama dengan mereka.

Ayat 11-16 menyatakan tentang janji Tuhan kepada Daud. Daud ingin membangun rumah bagi Tuhan untuk menampung Tabut Perjanjian, lambang kehadiran Tuhan. Tetapi Tuhan mengatakan bahwa Dialah yang akan membangun keturunan bagi Daud. Kata “rumah” dalam bahasa Ibrani, “bayit”, bisa berarti rumah atau keluarga. Dengan pengertian ini seolah-olah Tuhan mengatakan kepada Daud, bukan Daud yang akan menegakkan rumah bagi Tuhan, tetapi Tuhanlah yang akan menegakkan rumah/keluarga Daud. Dan dari keluarga Daud itulah Tuhan akan memberikan keturunan yang akan membangun bait bagi Allah. Ini adalah janji yang sangat luas. Janji bagi Israel, janji bagi Daud, janji bagi takhta kerajaan Allah di dunia ini, dan janji bagi seluruh umat Tuhan sepanjang masa. Tuhan berjanji bahwa Dialah yang akan menegakkan tempat bagi umat-Nya untuk berdiam dengan tentram dan tidak diganggu musuh-musuhnya (ay. 10). Dia jugalah yang akan menentukan keturunan Daud akan terus bertakhta hingga Anak Daud (yang digenapi di dalam Kristus) datang dan mengklaim takhta Daud. Takhta inilah yang akan Tuhan pelihara bagi Daud supaya akan ada bait bagi Allah sekaligus takhta kerajaan bagi Allah. Bait bagi Allah akan didirikan oleh keturunan Daud. Takhta kerajaan bagi Allah juga akan didirikan melalui keturunan Daud. Jadi, baik adanya bait, maupun adanya raja bagi umat Tuhan, semua bergantung pada kesetiaan Allah menepati janji-Nya kepada Daud. Jika Allah gagal menepati janji-Nya kepada Daud, maka umat Allah tidak akan mempunyai tempat pusat peribadatan dan mereka juga tidak akan mempunyai raja yang bertakhta menggembalakan mereka.

Tetapi Allah juga menyatakan beberapa hal mengenai bait bagi Allah ini. Yang pertama adalah bahwa yang membangun Bait Allah adalah anak Daud, bukan Daud sendiri. Yang kedua adalah bait itu dibangun setelah tercipta masa damai bagi umat Tuhan. Yang ketiga adalah bait itu menjadi tanda penyertaan Tuhan selama-lamanya bagi umat-Nya. Semua ini mengalami penggenapan ganda. Yang pertama adalah di dalam zaman Salomo, anak Daud. Dan kedua adalah di dalam penggenapannya yang sempurna, yaitu di dalam Yesus Kristus, Anak Daud. Mari kita perhatikan hal-hal yang menjadi janji Tuhan bagi Daud, di mana penggenapannya ada dalam Salomo dan, terutama, dalam Kristus.

Ayat 9. Tuhan menyatakan alasan mengapa janji-Nya bagi Daud dan Israel pasti ditepati. Sebab Tuhan senantiasa menyertai Daud. Penyertaan inilah berkat paling besar bagi umat Tuhan. Tanpa penyertaan Tuhan apa gunanya Daud memiliki kekuasaan sebagai raja. Tanpa penyertaan Tuhan tidak mungkin dia mengalami segala pimpinan Tuhan yang meluputkan dia dari bahaya. Takhta Daud dan dinasti Daud menjadi begitu kuat dan dapat terus terpelihara karena Tuhan menyertai. Penyertaan ini akan Tuhan lanjutkan kepada keturunan Daud hingga pada Sang Mesias yang akan datang. Kepada Dialah kasih setia Tuhan dengan sempurna dicurahkan. Melalui Dialah kasih setia Tuhan disalurkan kepada seluruh umat Tuhan.

Ayat 10. Tuhan mengatakan bahwa Dia akan memberikan tempat bagi umat-Nya, yaitu Israel. Dia akan memberikan keamanan dan juga jaminan keadaan damai sejahtera. Ini hal pertama yang Tuhan janjikan melalui kerajaan Daud. Keadaan damai sejahtera ini akan dirasakan Israel mulai zaman Daud. Tuhan menyertai Daud sehingga musuh-musuh Israel, terutama Filistin, ditaklukkan dan tunduk kepada Israel. Setelah Daud memimpin di dalam banyak kemenangan fenomenal, maka Salomo memimpin Israel di dalam keadaan yang damai dan tidak mengalami peperangan lagi. Keadaan ini mencerminkan keadaan ketika Sang Anak Daud benar-benar telah menempati takhta-Nya. Kedamaian bagi seluruh umat manusia karena Sang Raja telah memimpin ini adalah pengharapan yang hingga kini belum terjadi. Tetapi janji Tuhan adalah sesuatu yang pasti. Itulah sebabnya semua gambaran tentang takhta Kristus yang akan datang kedua kali nanti berkali-kali dinyatakan melalui kisah-kisah Kitab Perjanjian Lama, sehingga kita semua dapat terus dikuatkan dengan pengharapan yang pasti akan kedatangan kembali Kristus Yesus.

Ayat 11. Tuhan berjanji memberikan keturunan kepada Daud. Ini janji yang berbeda dengan janji Tuhan kepada Abraham. Tuhan menjanjikan anak kepada Abraham, tetapi Tuhan menjanjikan pewaris takhta kepada Daud. Anak Daud bukan saja seorang yang dilahirkan oleh istri Daud, tetapi juga merupakan satu-satunya yang akan dipilih oleh Tuhan untuk meneruskan takhta raja Daud. Karena di dalam ayat 11 ini nuansa janji Allah adalah masa depan, berarti kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan berencana memberikan takhta tersebut kepada keturunan Daud yang belum lahir. Bahkan dalam ayat 12 dikatakan bahwa penggenapan dari seluruh janji Allah ini akan terjadi setelah Daud mati. Ini bukan janji kepada individu, tetapi kepada seluruh kaum keluarga Daud di tengah-tengah dunia ini. Dinasti Daud akan dipelihara oleh Tuhan. Tetapi Daud sendiri tidak mungkin hidup selamanya di dunia ini. Tetapi karena janji melampaui kehidupan satu orang saja, dan janji ini diucapkan oleh Allah Semesta Alam, sebenarnya kita tidak mempunyai alasan untuk tidak dikuatkan oleh janji sedemikian. Tuhan tidak memberikan perhatian-Nya kepada Daud, melainkan Dia mengarahkan perhatian-Nya kepada Gereja, yang adalah tubuh Kristus, bangunan Bait Allah yang sejati. Untuk kitalah diucapkan segala janji Tuhan di dalam Perjanjian Lama, termasuk janji Tuhan kepada Daud.

Mengapa Tuhan menyatakan janji-Nya terlebih dahulu? Supaya kita yang hidup pada zaman sekarang tahu bahwa Tuhanlah yang mengatur segala sesuatu yang terjadi di dalam sejarah. Sejarah bukanlah suatu kronologi waktu yang berjalan tanpa sebab. Sejarah bukanlah serangkaian kejadian yang tanpa makna. Sejarah sebenarnya sedang menyatakan rencana Allah untuk meninggikan Anak-Nya bagi umat-Nya. Sejarah adalah perjalanan umat Tuhan menuju pada saat di mana Tuhan akan memberikan seluruh bumi ini kepada Sang Anak. Dialah yang akan memerintah sampai selama-lamanya dan kitalah umat-Nya yang dikasihi-Nya. Umat yang dibeli dengan darah-Nya.

  1. Kaitan bagian ini dengan seluruh Kitab 2 Samuel

    Bagian ini memberikan perhatiannya kepada janji Tuhan kepada Daud. Janji yang merangkum nubuat tentang anak Daud dan juga tentang bait yang akan dibangun oleh anak Daud. Penggenapan janji ini baru terjadi secara lengkap pada Kitab 1 Raja-raja. Maka dapat dikatakan bahwa bagian ini menjelaskan keutuhan dari kitab sejarah Israel sebagai satu kesatuan. Apa yang dinubuatkan Tuhan dan dicatat di dalam Kitab Samuel digenapi di dalam Kitab Raja-raja. Dari sini kita dapat melihat bahwa seluruh Kitab Suci sedang menyatakan sesuatu yang sama. Ada satu rancangan yang mengikat semua buku dalam Alkitab, yaitu rancangan keselamatan yang digenapi di dalam Kristus. Dengan cara inilah baru kita dapat menafsirkan Alkitab dengan utuh dan tidak asal comot ayat.

  2. Apa yang dapat kita pelajari dari bagian ini

    Bagian ini menekankan kembali kesetiaan Allah kepada Daud dan, akhirnya, kepada orang-orang pilihan-Nya. Allah yang setia menyatakan bahwa Dialah yang mengerjakan semua yang telah Dia rencanakan. Daud tidak bisa berbagian di dalam membangun Bait Allah. Ada waktu Tuhan, cara Tuhan, dan tujuan Tuhan yang begitu besar dan tidak mungkin sanggup dipahami dengan total oleh Daud. Demikian juga di dalam hidup kita sekarang. Ketika kita rindu melayani Tuhan, mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, Tuhan akan kembali mengingatkan kita bahwa bukan kita yang sedang melakukan sesuatu untuk Tuhan, melainkan Tuhanlah yang sedang melakukan sesuatu bagi umat-Nya. Kita boleh tergerak untuk berbagian di dalam melayani Tuhan, tetapi Tuhan akan terus ingatkan bahwa Dia mengerjakan terlalu banyak hal dalam hidup sehingga kita tidak akan pernah merasa telah melakukan sesuatu yang layak bagi Dia. Bayangkan betapa terkagum-kagumnya hati Daud. Ketika dia menawarkan akan membangun bait, Allah menjawab bahwa Dia telah merencanakan takhta Daud tetap untuk seterusnya, dan bahwa Anak Daud akan mendirikan bait bagi Allah. Apa yang kita rencanakan terlalu sempit dan hanya berespons kepada situasi yang sementara dan lingkup yang begitu kecil. Tetapi jikalau kita dengan tulus dan sesuai cara Tuhan rela mempersembahkannya untuk menyenangkan hati Tuhan, maka Tuhanlah yang akan mengaitkan apa yang kita telah lakukan itu ke dalam rencana-Nya yang total dan utuh. Entah itu puji-pujian yang kita nyanyikan, perkabaran Injil, berbagian dalam pelayanan yang dilakukan oleh gereja, atau apa pun juga, biarlah kita lakukan dengan hati yang tulus dan mau dikoreksi oleh Tuhan. Kiranya Tuhan berkenan memakainya menjadi bagian dari seluruh rencana Allah. Rencana yang akan mencapai puncak penggenapannya pada kedatangan Yesus Kristus, Anak Daud. Dialah sang Anak Daud yang akan mendirikan Bait Allah yang sejati, yaitu tubuh-Nya sendiri, dan jemaat yang adalah anggota tubuh-Nya. (JP)