Renungan Harian 72 (Kamis, 8 November 2018)

Daud Kembali Bertakhta

Devotion from:

2 Samuel 19:40-20:26

Bagian hari ini mengisahkan kembalinya Daud ke atas takhta Israel. Tetapi kembalinya Daud ini ternyata diwarnai oleh beberapa konflik yang menyatakan bahwa masih ada hal-hal yang harus dia alami karena kejatuhannya ke dalam dosa. Setiap orang yang telah ditebus dosa-dosanya tidak akan mengalami hukuman kekal. Tetapi setiap orang yang telah jatuh ke dalam dosa akan hidup dengan konsekuensi-konsekuensi sementara dari dosa-dosanya. Daud sendiri pernah berdosa begitu besar, tetapi dia tidak dimatikan oleh Tuhan. Walaupun begitu konsekuensi penghukuman Tuhan atas para pendosa tetap ada. Akibat kekal telah Tuhan singkirkan, tetapi akibat sementara harus tetap ditanggung. Inilah yang sedang Tuhan lakukan kepada Daud. Tuhan memberikan hukuman kepada Daud sebagai konsekuensi dari dosa-dosanya, tetapi Dia juga memulihkan kerajaan Daud. Apa sajakah hukuman sekaligus sarana pemulihan kerajaannya itu?

  1. Perpecahan antara Israel dengan Yehuda.

    Konflik antara orang Israel menjadi makin besar karena pertengkaran kaum Yehuda dengan segenap suku Israel yang lain. Konflik ini bermula dari usaha Daud untuk memenangkan kembali Yehuda. Kemungkinan besar banyak orang Yehuda yang memihak Absalom. Salah satu bukti adalah Absalom mengangkat Amasa menjadi panglima tentaranya dan, sebagaimana dicatat dalam 2 Samuel 19:13, Amasa adalah orang yang sangat berpengaruh bagi Yehuda sehingga Daud merasa perlu membuat Amasa memihak dia. Dan karena Amasa telah dijadikan panglima perang Absalom, maka tentulah pengaruh orang ini sangat besar atas Yehuda dan sekitarnya. Itulah mengapa Daud merasa harus mendorong orang Yehuda untuk menerima kembali dirinya sebagai raja. Sebab bila Yehuda tetap mau menerima Daud setelah pemberontakan Absalom, maka bisa dipastikan kalau pertikaian ini berakhir. Tetapi ternyata penerimaan Yehuda terjadi dengan berlebihan. 2 Samuel 19:43 bahkan mengatakan bahwa mereka lebih kejam dalam berkata-kata daripada orang Israel. Perpecahan ini ternyata berdampak sangat buruk. Seorang keturunan Benyamin, seorang yang jahat, bernama Seba anak Bikri, berusaha untuk memecah belah Israel demi keuntungan pribadi. Dia menyatakan kalimat yang juga dinyatakan oleh Yerobeam ketika akan memecahkan diri dari Rehabeam, anak Salomo (1Raj. 12:16). Rupanya inilah strategi memecah belah dari Seba. Dia berusaha menanamkan dalam pikiran orang Israel bahwa Daud hanyalah raja atas Yehuda, sukunya sendiri. Buktinya adalah raja lebih memilih orang Yehuda daripada seluruh Israel. Tuduhan yang kejam ini tidak sesuai dengan kenyataan. Daud begitu mengasihi Israel. Dia menempatkan keutuhan kerajaan Israel lebih daripada kedudukan dirinya sendiri. Tetapi pernyataan suku Yehuda yang menolak hak suku lain atas raja Daud membuat suku-suku lain meninggalkan Daud. Ini adalah keadaan yang sangat sulit bagi Daud. Tetapi kesulitan ini tidak membuat takhta Daud goyah karena ternyata Tuhan kembali memberikan kemenangan kepada Daud melalui belas kasihan-Nya. Secara mujizat tidak ada orang yang mengikuti Seba bin Bikri. Walaupun seluruh Israel meninggalkan Yehuda dan Daud, tetapi mereka menolak Seba bin Bikri juga. 2 Samuel 20:14 seharusnya diterjemahkan, “semua daerah Israel telah dilalui Seba dan semua suku tersebut memperlakukannya dengan perasaan tidak senang, dan juga orang Bikri telah berkumpul untuk mengejar dia (Word Biblical Commentary 2 Samuel hlm. 241).” Tuhan memulihkan kembali takhta kerajaan Daud. Setelah kematian Seba, Israel tidak lagi berada dalam pemberontakan kepada Daud. Semua perselisihan antara Yehuda dan Israel sepertinya tidak berlanjut saat ini. Seluruh Israel tetap kembali kepada Daud. Perpecahan di Israel baru terjadi pada zaman cucu Daud, yaitu Rehabeam.

  2. Kekejaman Yoab.

    Hal kedua yang terus menjadi pergumulan Daud adalah kekejaman panglimanya, Yoab. Ketika Daud berencana menangkap Seba bin Bikri, Daud memerintahkan Amasa untuk mengumpulkan orang-orang Yehuda supaya mereka bisa segera mengejar Daud. Tetapi ternyata Yoab membunuh Amasa. Yoab dengan tipu daya menikam perut Amasa hingga dia terbunuh mati dan mayatnya menjadi tontonan orang di jalan. Yoab akan menyingkirkan siapa pun yang dianggapnya sebagai ancaman bagi takhta Daud. Demikian juga saat ini Amasa, yang pernah berpihak kepada Absalom, dianggap sebagai ancaman oleh Yoab. Mungkin karena Amasa menunda-nunda tugas yang diberikan kepada Daud (2Sam. 20:5), sehingga Yoab menganggap bahwa Amasa sudah tidak lagi mempunyai kesetiaan kepada Daud. Tetapi kekejaman Yoab selalu disertai dengan kesetiaannya kepada Daud dan ketekunannya untuk membunuh musuh-musuh Daud. Yoab begitu banyak memainkan peran di dalam kematian musuh-musuh Daud, tetapi kekejamannya dalam membunuh orang pada waktu sedang tidak perang itulah yang akan terus mengikuti dia hingga dia harus dihukum mati pada zaman raja Salomo. Yoab menjadi bagian yang keras dari kerajaan Daud. Pembunuhan terhadap Abner, dan juga kematian Amasa, menjadi suatu dosa besar yang akhirnya membawa Yoab ke dalam penghukuman. Yoab tetaplah menjadi bagian penting dari pasukan perang Daud. Ketika pengejaran terhadap Seba bin Bikri dilakukan, Yoablah yang berperan untuk mengepung Abel-Bet-Maakha. Dia berbicara dengan seorang perempuan bijak di sana dan tanpa menunda-nunda, perempuan itu membujuk seluruh warga kota untuk membunuh Seba. Akhirnya mereka memotong kepala Seba dan melemparkannya kepada Yoab. Setelah persitiwa ini seluruh Israel menghentikan pengejaran mereka. Yoab menjadi alat untuk memusnahkan musuh-musuh umat Tuhan. Tetapi dia sendiri mendatangkan dukacita yang besar untuk keluarga Daud. Dia membunuh beberapa orang penting yang disukai Daud. Dia juga membunuh Absalom. Pembunuhan terhadap Absalom membuat raja menangis sangat keras. Inilah hal yang bisa kita percaya, yaitu bahwa hukuman kepada keluarga Daud tetap Tuhan nyatakan. Pedang tidak akan menyingkir dari keluargamu (2Sam. 12:10), demikian firman Tuhan. Perpecahan, pedang, dan segala kesulitan lain tetap dijalani Daud. Tetapi janji Tuhan kepada Daud tidak pernah berubah. Keturunan Daud tetap akan menduduki takhta kerajaan Israel. Meskipun Tuhan memberikan hukuman yang berat kepada Daud, tetapi Dia tidak pernah mengabaikan janji-Nya sendiri. Maka Tuhan memberikan keadaan-keadaan sulit, tetapi Dia tetap menyertai untuk menyiapkan jalan bagi keturunan Daud untuk naik takhta menggantikan Daud. Lalu di dalam ayat 23-25 tercatat bahwa Tuhan terus memberikan penyertaan bagi Daud dengan memberikan dan memelihara adanya pemimpin-pemimpin untuk mengatur rakyat Israel. Tuhan memelihara kesetiaan mereka kepada Daud dalam segala situasi.

Marilah kita semua mengarahkan hati kita untuk belajar memahami Allah dan mengenal karya-Nya. Tuhan memelihara takhta Israel kepada Daud sesuai dengan janji-Nya. Takhta itu juga akan diberikan kepada keturunan Daud sesuai janji-Nya. Takhta itu jugalah yang akan Tuhan terus pelihara hingga kesudahan. Dapatkah dosa Daud menggagalkan rencana Tuhan? Tidak. Meskipun Daud telah berdosa, rencana Tuhan tetap jadi. Takhta Israel bagi Daud dan keturunannya tetap kokoh. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak memberikan tindakan disiplin apa pun bagi Daud. Efek dari kekacauan akibat dosa Daud adalah sangat besar. Walaupun demikian, tidak ada satu pun hal yang akan menggagalkan rencana Tuhan. Daud tersingkir dari takhtanya oleh karena Absalom, tetapi lihatlah, Tuhan mengembalikannya. Seba bin Bikri menghasut orang Israel untuk melawan Daud, tetapi lihat, Tuhan menjaga seluruh Israel sehingga mereka tetap tunduk kepada Daud. Demikian juga kita. Dapatkah dosa dan kelemahan kita menggagalkan rencana Allah? Tidak. Tetapi ini tidak berarti kita dapat lolos dari konsekuensi dosa kita. Kita harus menjalani konsekuensi dosa itu tetapi Tuhan tetap menjanjikan pemulihan yang sejati jika kita sungguh-sungguh meninggalkan dosa-dosa kita dan kembali kepada Dia. Pemulihan yang harus dilalui dengan sangat berat dan sulit, tetapi yang pada akhirnya mengembalikan hidup kita ke dalam ketaatan kepada Allah. (JP)

sumber: https://pemuda.stemi.id/