Renungan Harian 73 (Jumat, 9 November 2018)

Hutang Darah Saul

Devotion from:

2 Samuel 21:1-14

Pasal 21 sangat mudah disalah mengerti. Orang dapat jatuh ke dalam penafsiran yang salah dengan mengatakan bahwa pasal ini berbicara tentang Daud yang sedang menghabiskan seluruh keturunan Saul yang masih sisa dengan berpura-pura menghukum mereka oleh karena kesalahan Saul kepada Allah. Tetapi tafsiran ini adalah tafsiran yang penuh dengan kecurigaan. Dan tafsiran yang dilakukan dengan penuh kecurigaan hampir pasti menuju kepada kesimpulan yang salah. Bukankah dengan sangat jelas ayat 1 menjelaskan apa yang terjadi? Akankah kita membaca Alkitab dengan curiga kepada Allah? Jika kita curiga kepada Allah, yang adalah kebenaran dan tidak ada bayang-bayang pertukaran (Yak. 1:17), bagaimana mungkin kita mempercayai apa pun di dunia ini? Jika Allah pun tidak lagi jujur, siapakah lagi yang perkataannya mau kita percayai? Allah adalah kebenaran. Karena itu marilah kita melihat dengan lebih teliti. Ayat 1 mengatakan bahwa Allah sendirilah yang berfirman bahwa ada dosa di keluarga Saul. Kita akan melihat bagian per bagian dari pasal ini agar kita dapat mengerti apa yang sedang terjadi.

  1. Janji dengan orang Gibeon.

    Di dalam Yosua 9:3-15, dikisahkan bahwa orang-orang Gibeon menipu Yosua dan membuat Yosua bersumpah tidak akan membunuh mereka. Orang-orang Gibeon itu berpura-pura berasal dari bangsa yang jauh sehingga orang Israel tidak dilarang untuk mengikat perjanjian dengan mereka. Yosua bersumpah dan sejak itu orang Gibeon tinggal di tengah-tengah Israel tanpa diganggu. Memang benar janji itu diikat oleh tipu daya orang Gibeon. Jika mereka mengaku bahwa mereka berasal dari tanah Kanaan, maka pasti Yosua tidak akan mengikat perjanjian dengan mereka. Itulah sebabnya mereka mengaku berasal dari bangsa yang jauh. Ternyata janji ini Tuhan izinkan terjadi demi melindungi orang-orang Gibeon. Walaupun orang-orang Gibeon itu berasal dari Kanaan, tetapi Tuhan memberikan anugerah kepada mereka melalui janji yang diikat oleh orang Israel, sehingga mereka tidak harus mati. Tetapi di dalam perjalanannya, ternyata Saul yang terlalu bersemangat ingin membasmi mereka dan melanggar perjanjian yang telah diikat oleh Yosua.

  2. Tuhan memandang perjanjian ini sebagai ikatan yang suci dan tidak boleh dilanggar.

    Karena Saul melanggar perjanjian ini, maka Tuhan memberikan hukuman bagi Israel dengan memberikan wabah kelaparan hingga selama tiga tahun. Mengapa Tuhan baru memberikan hukuman pada zaman Daud? Bukankah Saul yang melanggar janji itu sejak sebelum Daud naik takhta? Kita tidak tahu mengapa, tetapi Tuhan di dalam kedaulatan-Nya memilih untuk menyatakan hutang darah ini kepada Daud. Kapankah bagian ini terjadi di dalam kehidupan Daud sebagai raja? Kita juga tidak tahu secara persis. Mungkin ini terjadi setelah pemberontakan Seba bin Bikri. Tuhan memberikan kelaparan di Israel untuk mencegah pemberontakan Israel yang bertengkar dengan orang Yehuda. Jika ada kesulitan bersama, maka perbedaan-perbedaan yang tadinya begitu dipermasalahkan sekarang lebih ditoleransi. Kemudian tindakan Daud menghukum anak-anak Saul juga dapat menjadi semacam peringatan (walaupun tidak ada dalam maksud Daud) sehingga pemberontakan dapat dicegah. Inilah cara Tuhan mengokohkan kerajaan Israel sekaligus membebaskan Israel dari hutang darah.

  3. Keadilan Tuhan yang Sulit Dipahami.

    Ayat 6 mengatakan bahwa orang Gibeon ingin adanya pembalasan atas rencana pembunuhan mereka. Mereka ingin ada tujuh orang anak Saul yang digantung hingga mati untuk membalas tindakan Saul yang ingin menghabisi mereka. Tetapi bukankah ini tidak adil? Jika Saul yang ingin membunuh orang-orang Gibeon itu, mengapa anak-anaknya yang harus digantung? Alkitab tidak memberitahukan jawabannya kepada kita. Tetapi, sekali lagi, kita tidak bisa membaca Alkitab dengan sikap curiga kepada Allah. Allah pasti adil. Dan keadilan Allah dinyatakan pada bagian ini untuk mengajarkan kepada kita semua bahwa Allah memandang serius setiap perjanjian. Perjanjian yang diikat di hadapan Allah adalah perjanjian yang mempunyai konsekuensi kematian jika dilanggar. Siapa pun yang memakai nama Allah untuk menguatkan suatu perjanjian akan menghina Allah dengan sangat jika dia melanggar perjanjian itu. Begitu pentingnya perjanjian sehingga ikatan perjanjian selalu mengikat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Itulah sebabnya ikatan perjanjian yang dilakukan Yosua dengan orang Gibeon mengikat hingga Saul dan juga anak-anaknya. Tetapi, seperti pertanyaan di atas tadi, mengapa anak-anak Saul harus menanggung hukumannya? Jawaban yang paling memungkinkan adalah bahwa karena keadilan Allah mengizinkan kematian anak-anak Saul ini sebagai cara agar hukuman Tuhan berakhir, maka kemungkinan ketujuh anak Saul ini terlibat di dalam pembunuhan orang-orang Gibeon itu. Tetapi tidak ada satu ayat pun yang menyatakan keterlibatan mereka. Apalagi dikatakan oleh orang Gibeon bahwa nyawa ketujuh anak Saul ini adalah sebagai penebus. Kesulitan yang sangat untuk memahami mengapa harus tujuh orang anak Saul yang digantung akhirnya memberikan kepada kita satu kesimpulan, yaitu bahwa kematian ketujuh orang ini adalah gambaran tentang penebusan yang akan dilakukan oleh Kristus. Tujuh anak Saul ini digantung di hadapan Tuhan di bukit Tuhan (ay. 6). Kristus juga digantung di kayu salib di hadapan Bapa di bukit Golgota. Setelah tujuh anak Saul mati dan diberikan pemakaman yang layak, barulah doa bagi Israel didengar Tuhan.

  4. Berakhirnya kelaparan.

    Ayat 10 menyatakan gambaran yang sangat menyedihkan. Seorang ibu melihat anak-anaknya digantung dan sekarang dia menjaga tubuh tak bernyawa dari anaknya dari hewan-hewan pemakan bangkai. Daud, setelah mendengar kabar ini, segera digerakkan oleh belas kasihan. Dia memerintahkan agar tulang belulang Saul, Yonatan, dan anak-anaknya yang digantung segera disatukan dan dikuburkan dengan layak. Setelah itu barulah Allah kembali mendengarkan doa yang dipanjatkan oleh orang Israel. Betapa menyedihkan keadaan manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Betapa menakutkan kalau kita pun telah menjadi orang-orang yang selalu mengabaikan perjanjian dengan Tuhan padahal penghukuman Tuhan atas pelanggaran seperti itu sangat mengerikan. Tetapi kematian orang-orang yang tidak bersalah itu mengakhiri kelaparan di Israel. Pengorbanan mereka dinikmati oleh seluruh bangsa. Ini pun adalah gambaran yang indah tentang Sang Juruselamat.

Mari kita pikirkan sejenak. Bacaan kita hari ini mengajarkan tentang konsep perjanjian yang dilanggar. Lalu bagian ini juga menyatakan tentang perlunya orang-orang yang menjadi korban dan mati digantung. Setelah itu barulah ada doa bagi umat Tuhan dan kelaparan itu berhenti. Demikian juga di dalam Perjanjian Baru. Kita semua adalah pelanggar-pelanggar perjanjian. Kita harus dihukum mati. Kitalah alasan mengapa kutuk Allah mengenai bumi. Tetapi Kristus datang menjadi korban dan mati digantung di kayu salib. Setelah itu barulah kita mendoakan supaya lebih banyak lagi orang-orang yang akan terbebas dari dosa melalui penebusan Kristus adalah penebusan yang sempurna dan sekali untuk selama-lamanya.

Biarlah setelah merenungkan bagian hari ini, ada baiknya kalau kita kembali gentar di hadapan Tuhan kita. Biarlah kita sama-sama menyadari pentingnya perjanjian. Tuhan mengikat perjanjian dengan kita agar kita menjadi umat-Nya dan Dia menjadi Allah kita. Bolehkah hal ini dianggap sepi? Tentu tidak boleh! Bolehkah hati kita diberikan untuk yang lain dan bukan Allah? Tidak boleh. Tetapi bukankah kita semua adalah pelanggar-pelanggar perjanjian? Ya, kita semua adalah pelanggar-pelanggar perjanjian. Tetapi puji Tuhan karena Kristus datang untuk memberikan firman dan sekaligus menyerahkan diri-Nya menjadi korban di kayu salib. Kematian Kristus di kayu salib menghentikan kutuk Allah bagi kita semua, para pendosa yang hina ini. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada kita semua untuk tidak lagi menjadi pelanggar perjanjian. (JP)

sumber: https://pemuda.stemi.id/