Renungan Harian 88 (Sabtu, 24 November 2018)

Penggenapan Janji Allah

Devotion from:

1 Raja-raja 8:1-21

Sekarang Tuhan mengizinkan Salomo menahbiskan Bait Suci. Proses penahbisan dimulai dengan membawa Tabut Perjanjian. Masih ingatkah Saudara ketika Daud ingin membawa Tabut Perjanjian (2Sam. 6:1-3)? Dikisahkan bahwa Daud dihukum karena salah ketika membawa tabut (2Sam. 6:7-9). Salomo telah belajar dari kesalahan Daud dan karena itu dia melakukan apa yang juga dilakukan Daud ketika membawa tabut itu kedua kalinya (2Sam. 6:12-13). Orang-orang Lewilah yang harus mengangkat tabut itu dengan cara yang telah diperintahkan oleh Tuhan. Ketika mereka telah tiba di Bait Suci, meletakkan Tabut Perjanjian di tempat maha kudus, di bawah patung kerub yang menudungi tempat tabut dengan sayap mereka (1Raj. 8:6). Setelah itu asap keluar dari tempat itu dan memenuhi seluruh rumah Tuhan. Ini adalah pernyataan Tuhan yang tetap menyembunyikan diri-Nya dari bangsa Israel. Sama seperti Dia menyatakan diri di gunung Sinai (Kel. 19:18), demikian juga Dia menyatakan diri kepada Israel di dalam Bait Suci-Nya. Salomo memahami hal ini dengan perkataannya dalam ayat 12. Allah menyatakan diri, tetapi tetap menyisakan misteri yang sangat besar tentang siapa diri-Nya. Allah menyembunyikan diri-Nya di dalam awan dan asap yang pekat. Sebelum Kristus datang, kita hanya dapat mengenal bayang-bayang dari Allah dan rencana keselamatan-Nya. Tetapi setelah Kristus datang, kita mengenal Dia dengan lebih sempurna. Bait Allah adalah simbol kedatangan Kristus. Itulah sebabnya kehadiran Allah ditandai dengan asap yang sangat pekat.

Asap, atau awan yang menutupi Bait Suci juga menjadi lambang penghakiman Tuhan. Wahyu 1:7 mengatakan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali di dalam awan. Ini merupakan tanda penghakiman. Dengan demikian ketika Allah menyatakan diri pada waktu penahbisan Bait Suci, Dia menyatakan diri sebagai Allah yang akan menghakimi umat-Nya. Dialah Sang Raja sejati. Takhta-Nya tidak direbut oleh Daud dan keturunannya, tetapi diizinkan-Nya untuk diwakili oleh Daud dan keturunannya. Ketika Bait Suci ditahbiskan, Sang Raja sejati menunjukkan bahwa Dialah pemilik takhta Israel. Bukan Daud, dan bukan Salomo, tetapi Allah.

Bagian ini menjelaskan bahwa kehadiran Allah di dalam Bait Suci secara fisik belumlah merupakan pernyataan-Nya yang puncak. Allah akan menggenapi pernyataan kehadiran-Nya hanya di dalam kedatangan Kristus. Bukan orang lain. Bukan juga melalui suatu bangunan. Bukan melalui Salomo. Bukan juga melalui Bait Suci Salomo. Jika demikian, apakah peran Salomo dan Bait Suci buatannya? Salomo dan Bait Suci menjadi tanda kesetiaan Tuhan kepada janji-Nya. Karena janji Tuhan memiliki penggenapan ganda, maka ketika salah satu pemenuhan janji itu terjadi, maka kepastian untuk penggenapan puncaknya menjadi terjamin. Jika penggenapan langsung dari janji Tuhan kepada Daud adalah Salomo dan Bait Sucinya, dan janji itu terlaksana dengan sempurna, maka setiap orang yang berharap pada penggenapan puncaknya memperoleh kekuatan dari penggenapan langsung yang telah terjadi. Karena Tuhan memegang janji-Nya hingga Salomo, maka Tuhan pasti memegang janji-Nya hingga penggenapan puncak di dalam Anak Daud yang akan datang nanti.

Tuhan telah memilih di manakah Israel harus membawa korban persembahan mereka. Tuhan juga telah memilih untuk berdiam bersama dengan umat-Nya. Inilah penggenapan janji yang Tuhan berikan kepada Daud. Apakah yang membedakan Israel dengan bangsa-bangsa lain (Kel. 33:16)? Penyertaan Tuhan atas mereka. Itulah yang membedakan. Maka Tuhan telah memberikan peringatan di dalam 1 Raja-raja 6:12-13. Jika Salomo hidup setia maka Tuhan akan menyertai. Perhatikan bahwa Tuhan menuntut kesetiaan dari sang raja, bukan seluruh Israel. Israel akan diberkati kalau Israel taat, inilah perjanjian antara Tuhan dengan umat Israel (Ul. 11:26-27). Tetapi Israel akan diberkati kalau raja Israel taat, inilah perjanjian dengan dinasti Daud. Salomo akan menyebabkan seluruh Israel mendapatkan berkat dan penyertaan Tuhan jika dia setia. Salomo akan menyebabkan seluruh Israel mendapatkan murka dan hukuman jika dia tidak setia. Inilah konsep perwakilan dari Daud dan keturunannya. Konsep perwakilan ini melambangkan Yesus Kristus. Yesus Kristus mewakili kita di dalam doa, permohonan, penebusan, dan ketaatan, serta kemenangan. Ketaatan Kristus membuat kita semua diterima menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus, Sang Anak Allah. Demikian juga dalam bayang-bayang Kristus, yaitu Salomo. Dia dituntut untuk setia kepada Tuhan supaya seluruh bangsanya mendapatkan berkat.

Setelah penahbisan Bait Suci, Salomo memberkati rakyat dengan mengatakan puji-pujian bagi Allah. Hanya Allah yang layak dipuji karena seluruh karya membangun bait adalah berasal dari kemurahan-Nya belaka. Dialah yang memberikan pimpinan dan penyertaan menghadapi apa pun. Karena Allah setia, maka Bait Suci dapat berdiri dan janji-Nya menjadi tergenapi.

Untuk direnungkan:
Allah memiliki hikmat untuk memberikan janji, memelihara janji, dan menepati janji. Apa yang Allah janjikan adalah sesuatu yang berkait dengan rencana keselamatan dan kedatangan kerajaan-Nya. Bagaimana Allah memelihara janji adalah dengan kuasa firman-Nya dan kedaulatan-Nya atas sejarah. Kapan Allah menepati janji-Nya ada di dalam waktu yang telah ditetapkan berdasarkan kedaulatan-Nya. Oleh karena itu mari kita renungkan dua hal ini:

  1. Apakah ada janji Allah yang kita bisa ingat? Tanpa mengingat bahwa Allah adalah Allah yang berjanji, maka kita tidak akan memiliki pengharapan apa pun kepada Allah. Ekstrim yang satu adalah orang-orang yang terus mengklaim janji Allah. Mereka hidup di dalam perasaan yang menggebu-gebu, tetapi salah di dalam memahami apa yang Allah janjikan. Ekstrim lain lagi adalah orang-orang yang tidak tahu kalau Allah telah berjanji. Ini adalah kelompok orang-orang yang tidak peduli Allah dalam kehidupan mereka. Tetapi yang benar adalah Allah sungguh-sungguh berjanji. Allah berjanji akan memelihara anak-anak-Nya (tetapi bukan memberikan kelimpahan harta kekayaan), Allah juga berjanji akan membentuk anak-anak-Nya (dan bukan memberikan kemudahan dan kelonggaran hidup), dan Allah juga berjanji bahwa rencana keselamatan-Nya dan sejarah kedatangan kerajaan-Nya akan terus terpelihara dan menjadi genap pada waktunya (janji yang berpusat pada kerajaan Allah, bukan pada individu-individu). Mari mengingat bahwa Allah adalah Allah yang berjanji, tetapi biarlah kita juga ingat kalau Dia adalah Allah yang berdaulat menentukan apa yang mau Dia janjikan dan bagaimana Dia menggenapi apa yang Dia janjikan.

  2. Marilah kita melatih diri untuk melihat janji Allah di dalam Alkitab secara keseluruhan. Apa yang Allah nyatakan atau kerjakan di dalam Alkitab? Dan apa yang paling mendominasi bagian Alkitab? Bukankah Alkitab banyak diwarnai oleh sejarah keselamatan yang Allah kerjakan mulai dari memanggil Adam, Israel, dan orang-orang percaya? Bukankah sejarah keselamatan berfokus kepada satu Pribadi bernama Yesus Kristus? Bukankah menyatakan kemuliaan Anak Tunggal Allah adalah dorongan yang paling besar di dalam diri Allah? Jika hal-hal tadi telah kita sepakati, maka marilah kita mengaitkan hidup kita dengan seluruh rencana kekal Allah. Totalitas rencana keselamatan menjadi wadah untuk kita memahami apa yang Tuhan janjikan bagi saya. Biarlah kita tidak menjadi orang-orang yang berpusat pada diri sendiri. Hanya tahu diri sendiri, pergumulan diri sendiri, kesulitan diri sendiri, tetapi tidak pernah belajar mengaitkan apa pun dengan rencana kekal Allah yang telah Allah nyatakan di dalam Alkitab. Baik kehidupan kita, pekerjaan, pengetahuan, relasi, keluarga, uang, pergaulan sosial, semua harus berkait dengan rencana Tuhan untuk menyatakan Anak Tunggal Allah sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Mari kita berjanji untuk melihat seluruh rencana besar Allah di dalam Alkitab agar kita dapat mempunyai pengertian total atas seluruh sejarah. Dari situlah baru kita dapat mulai melihat bagaimana hidup kita dapat dikaitkan dengan sejarah keselamatan Allah. (JP)