Renungan Harian 89 (Minggu, 25 November 2018)

Doa Salomo

Devotion from:

1 Raja-raja 8:22-53

Pada bagian ini Salomo berdoa dengan kalimat-kalimat yang begitu indah. Dia merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dengan mengatakan bahwa langit yang mengatasi langit pun tidak sanggup memuat Tuhan, apalagi rumah yang dia dirikan di bumi ini. Salomo menyadari bahwa bait ini adalah simbol kehadiran Allah, bukan rumah yang akan menampung Allah dan menggantikan takhta Allah di surga. Dalam doa ini Salomo bertindak sebagai pengantara antara Israel dengan Allah. Dia memohon kepada Tuhan untuk mengingat Bait Suci ini dan mengampuni Israel karena Bait Suci ini ada di tengah-tengah Israel. Ada enam hal yang Salomo panjatkan, dan enam hal ini menjadi tanda pertobatan sejati Israel (dan juga gereja).

Mari kita pelajari satu per satu:

  1. Dalam ayat 29 Salomo menyadari bahwa Tuhan tinggal di tempat yang mahatinggi, tetapi mata-Nya selalu memandang bait yang ada di tengah-tengah Israel ini. Salomo tahu kalau Allah akan mendengarkan doa dan berkenan mengampuni. Salomo mengenal Allah sebagai Allah yang tinggi dan berdaulat, tetapi juga rela memberikan pengampunan karena bait-Nya yang didirikan di tengah-tengah umat-Nya.

    Untuk direnungkan:

    Pertobatan sejati terjadi ketika umat Tuhan menyadari bahwa Allah adalah yang Mahatinggi, tetapi rela mengampuni. Jika umat Tuhan hanya mengenal Allah sebagai Yang Mahatinggi, tetapi Dia tidak punya kerelaan untuk mengasihani dan mengampuni, maka umat Tuhan tidak akan punya harapan untuk mendapat pertobatan. Jika kita gagal mengenal bahwa Allah rela mengasihani dan mengampuni orang yang sungguh-sungguh bertobat, maka kita akan menjadi orang yang hidup tanpa harapan pengampunan. Tetapi sebaliknya, jika kita hanya mengenal Allah sebagai Allah yang penuh belas kasihan dan mau mengampuni, maka kita akan menjadi orang-orang yang kurang ajar kepada Dia dan menganggap enteng pengampunan-Nya yang akan dengan murahan terus diberikan kepada kita bila kita meminta kepada-Nya. Tetapi doa Salomo inilah yang benar. Tuhan Yang Mahatinggi tidak boleh dipermainkan. Tetapi Tuhan Yang Mahatinggi ini juga rela mengamati, memelihara, dan mengampuni umat-Nya yang mau bertobat sungguh-sungguh dan kembali kepada Dia.

  2. Ayat 31-32: Kesungguhan di dalam mengikat janji kepada Tuhan. Dalam ayat ini Salomo memohon agar Tuhan rela mendengar setiap orang yang membawa perkaranya ke hadapan Tuhan melalui Bait Suci, dan Tuhan rela membenarkan yang benar, dan menyatakan bersalah orang yang salah.

    Untuk direnungkan:

    Pertobatan yang sejati selalu mempertimbangkan konsep keadilan sejati. Tidak ada orang adil yang meminta Tuhan berlaku tidak adil. Orang adil tidak akan meminta perlakuan khusus baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Orang yang benar tidak akan keberatan bila dia dihukum karena kesalahannya. Demikian juga orang benar tidak akan senang kalau orang jahat tidak dihukum. Pertobatan yang sejati harus mencakup kerelaan untuk tidak dimaafkan. Inilah pengertian keadilan sejati. Inilah pertobatan orang benar. Dia akan memohon pengampunan, tetapi dia tidak akan menghindar jika hukuman tetap harus diberikan. Barang siapa datang kepada Tuhan, dia harus tahu kalau Tuhan mempunyai keadilan yang sempurna. Bisakah kita menuntut Dia memutarbalikkan perkara? Bisakah Dia berlaku tidak adil? Tidak bisa. Itu sebabnya ketika umat Tuhan ingin memohon pengampunan Tuhan, kerelaan untuk tidak diampuni justru menjadi tanda pertobatan yang sejati.

  3. Ayat 33-34: Pertobatan di dalam penghukuman. Salomo berdoa supaya Tuhan rela mengampuni orang Israel di dalam pembuangan. Bila mereka bersalah dan Tuhan membuang mereka, lalu mereka menangis di tempat pembuangan dan memohon belas kasihan Tuhan, kiranya Tuhan rela mengembalikan mereka ke tanah perjanjian ini.

    Untuk direnungkan:

    Pertobatan yang sejati dapat muncul ketika umat Tuhan berada dalam pembuangan. Demikian juga kita menyadari keberdosaan kita, justru setelah kita menerima akibat karena dosa-dosa kita. Pada saat itulah pertobatan sejati dapat terjadi, yaitu pada saat seseorang tahu betapa berat dosanya ketika dia sudah menanggung hukuman yang berat atas dosanya. Salomo berdoa supaya orang-orang seperti ini boleh mendapatkan belas kasihan Tuhan. Jika kita berdosa, lalu kita menghadapi hukuman yang kita pikul dengan amat sulit, biarlah kita tidak menghina Tuhan dengan kata-kata yang membenarkan diri, tetapi biarlah Saudara tetap mengharapkan belas kasihan Tuhan supaya Tuhan mengampuni dan tidak lagi menghukum. Biarlah permohonan kita dipanjatkan dengan hati yang hancur dan permohonan pengampunan yang dipanjatkan dengan hormat kepada Tuhan. Biarlah kita tekun memohon kepada Tuhan sambil berkata, “Jika Tuhan tidak mau cabut penghukuman ini, saya akan rela jalankan; tetapi saya mohon Tuhan berkenan untuk mencabut hukuman ini,” dan kiranya Tuhan berbelas kasihan setelah mendengar doa-doa yang kita panjatkan.

  4. Ayat 37-40: Salomo memanjatkan permohonan agar Tuhan rela mendengar doa orang-orang yang sedang mengalami wabah dan bencana. Jika wabah dan bencana itu karena dosa satu orang atau seluruh Israel, biarlah Tuhan rela mengampuni dan menyatakan keadilan kepada setiap orang yang bersalah. Jika seluruh bangsa, atau bahkan walaupun hanya satu saja yang memohon, Salomo berdoa supaya Tuhan rela mendengarkan dan mengampuni, supaya umat Tuhan tetap takut akan Tuhan.

    Untuk direnungkan:

    Pertobatan yang sejati adalah menerima pengampunan Tuhan lalu bereaksi dengan takut akan Tuhan. Ada pengampunan pada Tuhan supaya orang-orang takut akan Tuhan (Mzm. 130:4). Pertobatan palsu akan menghina dan meremehkan pengampunan Tuhan, tetapi pertobatan yang sejati justru akan makin membuat seseorang takut akan Tuhan.

  5. Ayat 41-43: Salomo juga berdoa supaya Bait Suci menjadi berkat bagi orang asing sekalipun. Bila mereka berseru kepada Tuhan karena sudah mendengar tentang nama Tuhan, Bait Suci menjadi tempat yang akan memediasi dia dengan Tuhan. Salomo tidak ingin bait ini hanya menjadi tempat bagi Israel. Salomo ingin memperbesar terus pengaruh Israel hingga ke seluruh dunia.

    Untuk direnungkan:

    Biarlah pertobatan sejati terjadi juga atas orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Pertobatan karena berita Injil telah sampai kepada mereka. Pertobatan yang hanya mungkin terjadi bila orang-orang Kristen mempunyai visi untuk terus memberitakan Injil. Ayat 43 mengatakan bahwa nama Tuhan disebut di atas rumah ini, demikian juga nama Kristus disebut atas kita, gereja-Nya. Biarlah hidup kita menyebarkan kesaksian yang baik akan nama Tuhan Yesus dan perkataan mulut kita tidak pernah berhenti memperkenalkan Kristus.

  6. Ayat 50-53: Salomo memohon supaya Tuhan sendiri yang akan memulihkan umat-Nya. Umat Tuhan, jika terus menerus memberontak kepada Tuhan, akan Tuhan singkirkan dari tanah Israel. Tetapi Salomo memohon supaya Tuhan rela mengampuni dan membuat mereka menjadi kesayangan di tempat ke mana mereka dibuang. Mengapa mereka bisa menjadi kesayangan? Karena pertobatan sejati mencakup perubahan hidup yang diperkenan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain.

    Untuk direnungkan:

    Pertobatan sejati harus menjadi pertobatan yang terlihat. Diperkenan oleh Tuhan, tetapi juga dirasakan berkatnya oleh orang lain. Inilah bagian penting dari pertobatan sejati, yaitu bukan hanya Tuhan yang mengonfirmasi pertobatan itu, tetapi juga orang-orang sekitar mereka. Mari kita berbalik dari dosa-dosa kita dan seluruh aspek hidup kita dipersembahkan kepada Tuhan. Kiranya Tuhan rela memakai kita menjadi saluran berkat-Nya bagi orang-orang di sekeliling kita. (JP)