Renungan Harian 90 (Senin, 26 November 2018)

Berkat dan Korban

Devotion from:

1 Raja-raja 8:54-66

Bagian ini menutup prosesi penahbisan Bait Suci. Salomo berlutut dan memohon belas kasihan Tuhan, dan setelah itu dia memberkati umat Israel. Salomo memuji Tuhan karena tidak ada satu pun janji Tuhan kepada Musa yang tidak ditepati. Sekarang Israel telah memiliki tempat sendiri, kedamaian, kemenangan atas musuh-musuhnya, dan telah memiliki Bait Allah. Ini semua adalah penggenapan janji-janji yang Tuhan sudah janjikan kepada Musa. Tuhan menjanjikan kepada Musa bahwa Dia akan membebaskan Israel keluar dari Mesir dan memberikan tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya (Kel. 3:8). Janji ini memerlukan waktu lebih dari 400 tahun untuk digenapi, yaitu ketika Daud menjadi raja dan menghancurkan musuh-musuh Israel, terutama Filistin. Dari Zaman Daudlah Israel benar-benar mewarisi negeri itu tanpa ada ancaman apa pun dari penduduk asli Kanaan. Bahkan hingga Israel pecah dan terbuang, Israel tidak lagi ditaklukkan oleh orang-orang Kanaan. Kemudian Tuhan juga berjanji akan menunjuk tempat untuk Israel boleh beribadah (Ul. 12:5-7), dan itu pun digenapi pada Zaman Salomo, lebih dari 400 tahun sejak mereka keluar dari Mesir (1Raj. 6:1). Tidak ada janji Tuhan yang tidak digenapi. Janji kemenangan perang, janji kedamaian, janji adanya Bait Suci, semua tergenapi. Inilah alasan Salomo mengucapkan syukurnya. Walaupun memerlukan proses yang sangat berat dalam sejarah Israel, pada akhirnya Tuhan benar-benar memberikan kedamaian dan tempat ibadah kepada mereka di tanah yang dipilih oleh Tuhan. Maka Salomo pun melakukan dua hal:

  1. Ucapan berkat bagi Israel. Salomo berharap agar Tuhan tidak membuang Israel. Dia berharap Tuhan menjauhkan mereka dari dosa dengan mencondongkan hati mereka kepada Tuhan saja. Ini adalah permohonan dari seseorang yang tahu bahwa kedaulatan dan kuasa sejati ada di tangan Tuhan, bukan pada raja. Tuhanlah yang sanggup memelihara hati umat-Nya untuk tetap berpaut kepada Dia sesuai dengan perintah Musa (Ul. 13:4).

    Selanjutnya Salomo meminta supaya Tuhan tidak hanya memberikan hati yang condong kepada Tuhan senantiasa, tetapi juga supaya Tuhan memberikan keadilan senantiasa (ay. 59) sesuai dengan yang diperlukan setiap hari. Salomo mengerti bahwa anugerah Tuhan diperlukan hari demi hari. Anugerah yang akan memberikan keadilan kepada bangsa-Nya, yaitu Israel. Salomo memakai kata “keadilan” untuk memohonkan belas kasihan Tuhan. Ini dapat kita lihat juga di dalam pasal 7:32, 45, dan 49. Dia tahu bahwa tidak tepat untuk memohon belas kasihan Tuhan tanpa mengingat bahwa Tuhan itu adil. Tuhan yang adil juga adalah Tuhan yang mengasihani umat-Nya. Melupakan satu dari kedua aspek ini akan membuat kita salah memahami siapakah Tuhan kita. Ketika Tuhan memberikan belas kasihan dan keadilan-Nya boleh dinyatakan dalam kehidupan bangsa Israel, maka bangsa-bangsa lain akan tertarik untuk melihat apakah yang dimiliki oleh Israel? Siapakah yang orang Israel sembah? Dengan anugerah Tuhan yang memelihara hati, keadilan, kesetiaan, dan keberpautan hati umat Tuhan kepada Tuhan, maka Israel akan menjadi bangsa yang terus menyebarkan pengenalan tentang Allah supaya semua bangsa-bangsa di dunia mengenal bahwa Tuhan adalah Allah.

    Untuk direnungkan:

    Israel memasuki periode puncak dari penyertaan Tuhan. Setelah Bait Suci berdiri, nama Salomo makin masyhur di antara bangsa-bangsa lain. Tetapi doa-doa dan permohonan berkat dari Salomo mengandung pengajaran yang sangat baik untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Salomo memohon dengan gentar supaya Tuhan tidak membuang dia dan bangsa Israel. Salomo tidak merasa dia adalah seorang raksasa spiritual yang tidak mungkin jatuh. Dia tahu baik dirinya sendiri maupun bangsanya sangat jauh dari hati yang condong kepada Tuhan. Itu sebabnya dia memohon belas kasihan Tuhan untuk memelihara dia dan Israel. Mari kita mengingat hal ini juga. Tidak satu pun di antara kita yang kuat. Jika hidup kita penuh kesulitan, mungkin kita akan berdosa terus menerus berkeluh kesah kepada Tuhan. Jika hidup kita penuh kelancaran, mungkin kita akan jatuh dalam dosa menghina pemeliharaan Tuhan dan mengandalkan diri serta memupuk kesombongan yang sangat memuakkan. Jika hidup kita penuh bahaya, mungkin kita akan melupakan Tuhan, mengambil perlindungan pada manusia, mengandalkan orang, dan hidup di dalam ketakutan akan manusia. Jika hidup kita aman, mungkin kita akan melupakan Dia dan menjalani semua situasi aman seolah-olah kita memang layak mendapatkan hidup seperti ini. Semua situasi, apa pun itu, baik atau buruk, dapat membuat kita jatuh ke dalam dosa dan akhirnya dibuang oleh Tuhan. Itulah sebabnya mari kita, bersama-sama dengan Salomo, berdoa dengan kesadaran bahwa kita lemah. Berdoa dan memohon supaya di saat penuh kesulitan, iman kita diperkuat oleh Tuhan sehingga kita dapat terus mengharapkan kekuatan dan pertolongan dari Tuhan. Berdoa dan memohon supaya di saat penuh dengan kelancaran, kita mempunyai hati yang bersyukur kepada Tuhan dan sadar bahwa Tuhanlah sumber segala berkat. Biarlah di saat lancar Tuhan tetap memberikan kita hati yang bergantung kepada Tuhan karena kelancaran yang Tuhan berikan harus dipergunakan sebaik mungkin untuk kerajaan Allah. Berdoa juga supaya di saat penuh bahaya, kita berharap hanya kepada perlindungan dari Tuhan, mengandalkan Dia, percaya kepada Dia, dan tidak takut kepada manusia. Biarlah kita juga terus berserah dan percaya kepada Dia di dalam situasi yang aman sekalipun. Salomo tahu bahwa kerajaannya yang besar dan damai akan sangat mungkin menyeret dia ke dalam dosa.

  2. Berkat dan perayaan. Berkat-berkat yang diberikan oleh Salomo dilanjutkan dengan persembahan korban yang sangat banyak jumlahnya. 150 ribu hewan dikorbankan pada waktu itu. Memohon belas kasihan Tuhan harus dilakukan dengan adanya penebusan. Demikian juga bagi gereja Tuhan sekarang. Belas kasihan yang Tuhan berikan kepada gereja-Nya tidak akan mengompromikan keadilan-Nya. Itulah sebabnya perlu ada korban yang agung untuk dapat menebus gereja-Nya. Korban itu adalah Kristus, Anak Daud. Mengaku diri lemah harus berkait dengan mengaku diri perlu penebusan. Jika kita mengakui bahwa kita lemah, tetapi kita tidak memerlukan penebus, maka pengakuan kita adalah pengakuan yang bohong. Inilah iman agama-agama di seluruh dunia. Semua menganggap diri perlu bertobat dan perlu berubah. Semua kecuali iman yang diajarkan oleh Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa pertobatan dan perubahan kita tidak akan mengubah keadaan kita yang harus dihukum oleh Allah. Kita tidak bisa menghapus dosa kita yang telah kita perbuat. Pertobatan kita tidak akan berarti untuk dosa-dosa yang telah lalu. Pertobatan mungkin mengubah kita di waktu yang akan datang, tetapi pertobatan tidak akan mengubah status kita sebagai orang berdosa. Lalu apakah yang kita perlukan? Kita memerlukan adanya penebusan. Penebusan Kristus menjamin pertobatan kita akan membawa kepada keselamatan. Orang Israel telah dilatih oleh Allah mengenai hal ini. Mereka terbiasa memberikan korban. Pengakuan Salomo tentang lemahnya dia dan betapa dia memerlukan belas kasihan Tuhan akan menjadi percuma bila tidak ada korban yang menebus dosa dia dan dosa seluruh umat-Nya. Itulah sebabnya dia mempersembahkan hampir 150 ribu ekor hewan. Kristus adalah korban penebus dosa bagi manusia. Binatang-binatang yang dikorbankan adalah simbol bagi penebusan Kristus.

    Untuk direnungkan:

    Kiranya kita juga boleh belajar memiliki pertobatan yang sejati. Bukan hanya mengakui dosa dan meninggalkan dosa, tetapi beriman kepada Kristus sebagai penebus yang mati menggantikan kita di kayu salib. Kristus yang telah mati bagi kita tetapi yang telah bangkit, Dialah yang membuat pertobatan kita mempunyai faedah hidup yang kekal. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bertobat dari dosa-dosa kita? Sudahkah kita bertobat di dalam Kristus? (JP)