Renungan Harian 93 (Kamis, 29 November 2018)

Kejatuhan Salomo

Devotion from :

1 Raja-raja 11:1-13

Inilah kejatuhan Salomo. Manusia paling bijak pada waktu itu, bahkan mungkin hingga kini, ternyata jatuh ke dalam kebodohan. Ayat 1-22 menggambarkan empat hal di mana Salomo jatuh. Apakah standar untuk menyebut bahwa Salomo telah jatuh? Standar satu-satunya adalah firman Tuhan sendiri. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang Israel tidak boleh memiliki Allah lain (Kel. 20:3, Ul. 6:4-5, Ul. 12:29-32, Ul. 13:4-5), tetapi inilah justru kejatuhan Salomo. Penyembahan berhala! Bagaimana mungkin Allah tidak menghancurkan dia yang telah berkhianat dengan begitu berani! Tetapi keberdosaan Salomo tidak langsung mulai dengan dosa penyembahan berhala. Dosanya dimulai dari hal yang sepertinya tidak terlalu berbahaya. Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.

  1. Salomo mencintai banyak perempuan asing.

    Dalam 1 Raja-raja 3:14 Tuhan telah menyatakan syarat agar Salomo dan kerajaan Israel terus menikmati berkat Tuhan, yaitu dengan hidup menurut jalan yang telah Tuhan tunjukkan. Salomo gagal melakukan itu dengan mencintai perempuan-perempuan asing, walaupun Tuhan telah melarangnya di dalam Ulangan 7:1-4. Mengapa Tuhan tidak mau orang Israel kawin campur dengan penduduk Kanaan? Karena perkawinan itu akan menyeret umat Tuhan menjadi penyembah berhala. Larangan Tuhan diberikan oleh-Nya agar kita tidak menjalani hidup yang rusak. Allah mau manusia menikmati diri-Nya dan hidup yang Dia anugerahkan. Itulah sebabnya Dia memberikan peraturan-peraturan-Nya. Pikiran kita yang dikuasai oleh kedagingan tidak akan sanggup melawan pikatan dosa yang ditebarkan di depan kita. Salomo mengabaikan firman Tuhan ini. Dia menikahi siapa saja yang menarik hatinya sehingga dia mempunyai 700 orang istri berdarah bangsawan dan 300 orang gundik. Alkitab mengatakan bahwa pengaruh perempuan-perempuan asing ini perlahan-lahan mengubahkan Salomo. Dia tidak langsung dipikat dan dijauhkan dari Tuhan, tetapi ketika dia telah menjadi tua. Pengaruh yang begitu besar ini membuat orang sebijak Salomo tidak lagi memegang kebenaran.

  2. Salomo menyembah berhala.

    Setelah Salomo menjadi tua dia melakukan penyembahan berhala. Dia menyembah dewa-dewa yang menjijikkan. Dia menyembah Asytoret, ilah pemberi kesuburan dan dipuja dengan seks yang liar. Dia juga menyembah dewa-dewa menjijikkan lainnya yang terus menjadi jerat dari kehidupan orang-orang Israel di Kanaan. Salomo tidak sadar bahwa bangsa-bangsa yang menyembah dewa-dewa itu jauh lebih miskin dan lemah dari Israel. Penyembahan berhala sungguh merupakan sesuatu yang bodoh. Bodoh tetapi tidak disadari oleh orang paling bijak sedunia ini! Tidak cukup sampai di sini, Salomo bahkan ikut membakar ukupan, memberikan korban, dan sujud menyembah kepada seluruh dewa-dewa para istrinya ini dan mendirikan tempat-tempat khusus untuk menyembahnya (ay. 7). Hati Salomo tidak lagi menyembah hanya Tuhan, sekarang dia menjadi penyembah berhala yang menjijikkan hati Tuhan.

    Salomo telah merusakkan segala yang telah Tuhan percayakan kepada dia. Salomo melupakan Tuhan dan tidak lagi mempunyai gairah hati yang diberikan hanya kepada Tuhan. Dia tidak lagi mampu memiliki hati yang didedikasikan kepada Tuhan. Ayat 11-13 mengatakan bahwa Tuhan sangat marah kepada Salomo. Dia berniat menghancurkan kerajaan Salomo dengan membaginya menjadi dua. Tetapi, dikatakan di dalam ayat 13, Allah tidak ingin melakukannya pada waktu Salomo masih hidup. Dia akan memecahkan kerajaan itu ketika Salomo telah mati. Tuhan masih menjaga kerajaan itu selama Salomo hidup karena Tuhan mengingat janji-Nya kepada Daud, ayahnya. Daudlah yang menyebabkan kerajaan itu tetap utuh pada Zaman Salomo.

Untuk direnungkan:
Marilah kita mengingat tiga hal di bawah ini:

  1. Tidak ada dosa yang langsung menunjukkan dampak buruknya. Semua dosa akan memulai godaannya dengan suatu perbuatan yang kecil dan tersembunyi kebobrokannya. Salomo digoda dengan kesenangannya akan perempuan-perempuan. Salomo dipikat oleh keinginan dagingnya dan karena itu perlahan-lahan dia makin menjauhi Tuhan. Kita semua akan memiliki kecenderungan untuk terus menjauhi Tuhan tanpa kita sadari. Mungkin kita akan makin malas berdoa dan mempelajari firman-Nya dan makin tenggelam dalam dosa dan kebobrokan kita sendiri. Kita akan menjadi makin parah, makin rusak, dan kita akan menuai segala taburan yang dengan tekun kita biarkan terjadi pada hidup kita. Apakah yang menjadi hal-hal “kecil” yang mengganggu relasi kita dengan Tuhan? Adakah kemalasan? Atau penuh dengan hawa nafsu percabulan? Atau penuh kemarahan dan semua jenis keberdosaan lainnya? Semua ini akan menjadi jerat yang makin lama makin membuat hidup kita terpuruk dan tenggelam di dalam kecemaran. Jangan lupa bagaimana Salomo jatuh. Jika dia pun tetap bisa jatuh, apalagi kita semua.

  2. Salomo mengkhianati Tuhan ketika dia telah diberkati dengan segalah hal yang indah dan mulia. Salomo diberikan hikmat, kekayaan, takhta yang kuat dan besar, apakah lagi yang kurang? Salomo seperti Adam di Taman Eden. Tidak kekurangan sesuatu apa pun. Tetapi ternyata, herannya, tidak satu pun dari hal-hal tadi yang mencegah dia untuk jatuh ke dalam dosa. Bayangkan betapa menjijikannya: Tuhan memberikan segala hal yang diperlukan Salomo, tetapi Salomo menyembah dewa-dewa yang bahkan tidak pernah ada! Dewa-dewa itu tidak pernah memberikan apa pun kepada Salomo tetapi dia rela menyembah para dewa itu. Keberdosaan kita seharusnya tidak lagi boleh ditoleransi. Kita berbuat dosa di tengah-tengah berkat Tuhan yang Dia berikan dengan limpah. Berkat-berkat bagi Salomo begitu limpahnya dan dia tetap menyembah ilah palsu. Berkat-berkat bagi kita begitu limpahnya, kiranya kita memelihara diri dari segala macam pengaruh-pengaruh dan kecemaran yang membuat kita berdosa. Ingatlah betapa banyak Tuhan telah memberkati kita! Jangan lupa! Siapakah yang memelihara hidup kita hingga saat ini? Siapakah yang mati bagi kita supaya kita dapat memperoleh relasi yang benar dengan Allah? Bukankah Kristus? Kalau begitu marilah kita ingat terus untuk berdoa kepada Tuhan, meminta Tuhan memberikan kepada kita kemampuan dan kekuatan untuk menang atas dosa, dan berjanji kepada Tuhan supaya ketika kita telah melewati hari-hari yang panjang dalam kehidupan kita, hati kita, dan kasih kita makin berpaut kepada Allah.

  3. Tuhan menghukum Israel. Tuhan menghancurkan apa yang Dia sendiri telah bangunkan bagi Salomo. Tuhanlah yang memberikan bangsa yang besar kepada Salomo. Sekarang Tuhan akan memecahkan kerajaan itu. Mari kita merenungkan setiap murka dan penghakiman Allah. Dia tidak pernah berlaku tidak adil. Salomo membuang kebenaran-Nya, sekarang Tuhan membuang keutuhan kerajaannya. Satu-satunya alasan Salomo tidak menyaksikan ini adalah karena janji Tuhan kepada Daud. Keberdosaan Salomo membuat segala hal yang dibangun perlahan-lahan dan penuh dengan kesulitan menjadi hancur. Jangan biarkan apa yang Tuhan telah bangkitkan melalui kita sekarang menjadi hancur kembali. Terlalu banyak hamba Tuhan yang rusak pelayanan-Nya karena kejatuhan yang seolah menghapus bersih segala yang telah dibangun dari pelayanan hamba Tuhan itu. Sungguh, betapa besar sorak dari si Iblis ketika dia melihat anak-anak Tuhan, yang dipakai oleh Tuhan untuk pekerjaan-pekerjaan yang mempermuliakan nama Tuhan, akhirnya jatuh ke dalam dosa. Biarlah ini menjadi pengingat kita semua di dalam hidup mengikuti Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan kepada kita keteguhan hati untuk melawan dosa. Kiranya Tuhan mengingatkan kita akan hal-hal baik di dalam hidup yang akan menjadi rusak karena dosa kita. Sebelum mata kita melirik orang lain, ingat apa yang Tuhan sudah bangun di dalam keluarga kita. Ingat pertumbuhan spiritual dari anak-anak dan pasangan hidup kita yang hancur lebur di dalam dosa perzinahan. Ingat karya Tuhan dalam hidup kita! Jangan hancurkan itu dengan mempersembahkan diri kepada Iblis untuk dipakai olehnya dalam merusak pekerjaan Tuhan! (JP)