Renungan Harian 99 (Rabu, 5 Desember 2018)

Kehidupan Rehabeam

Devotion from :

1 Raja-raja 14:21-31

Walaupun Tuhan memecahkan kerajaan Israel, namun Dia tetap memberikan beberapa anugerah bagi Rehabeam. 2 Tawarikh 11:5-12 mengatakan bahwa Rehabeam memperkuat beberapa kota dan bahkan menguasai daerah Benyamin juga. Walaupun Tuhan mengatakan hanya akan memberikan Yehuda untuk dikuasai oleh Rehabeam, tetapi Tuhan menambahkan Benyamin dan juga suku Lewi (2Taw. 11:13-15). Dengan demikian, walaupun tidak lagi menguasai seluruh Israel, Rehabeam tetap mendapatkan kelonggaran dari hukuman yang seharusnya diterima oleh keturunan Daud. Mengapa Tuhan memberikan kelonggaran sedemikian? Mungkin karena Rehabeam mendengar suara Tuhan melalui nabi-Nya untuk tidak pergi menyerang Yerobeam dengan 180 ribu orangnya. Tetapi Kitab 1 Raja-raja 14 memberikan informasi tentang pengaruh yang diterima Rehabeam. Ayat 22 dan diulangi lagi di ayat 31 yang menyatakan kepada kita bahwa ibu dari Rehabeam adalah orang Amon. Adakah pengaruhnya terhadap apa yang Rehabeam percaya? Tentu saja. Itulah sebabnya kitab ini mengatakan hingga dua kali bahwa ibu Rehabeam adalah seorang Amon. Kesalahan bapa (yaitu Salomo) yang menikahi seorang kafir akhirnya juga ditanggung sang anak karena ibunya yang kafir ini mengajarkan penyembahan berhala kepada Rehabeam. Itulah sebabnya di dalam 2 Tawarikh 12:1 dikatakan bahwa baik Rehabeam maupun seluruh Israel meninggalkan Tuhan. 1 Raja-raja 14:22-24 mengatakan bahwa Yehuda bertingkah laku rusak sama dengan orang-orang Kanaan yang telah Tuhan singkirkan dari Kanaan. Mereka menyembah berhala dan melakukan kebejatan moral yang sangat menjijikkan. Mereka menyembah berhala sambil berhubungan intim dengan para pelacur di kuil berhala.

Hal-hal yang telah disebut di atas adalah hal-hal yang sangat berat. Semua itu adalah dosa yang tidak terpikirkan akan dilakukan oleh orang Israel ataupun Yehuda. Yerobeam membawa Israel berdosa dengan membuat anak lembu emas dan mengubah cara ibadah Israel dengan cara yang dia tentukan sendiri. Tetapi Rehabeam membawa seluruh Yehuda berdosa dengan cara yang sama dengan orang-orang Kanaan. Dari sisi apa pun dosa yang telah dilakukan oleh Yehuda sulit untuk ditolerir. Mereka melanggar firman Tuhan yang terutama, yang melarang mereka mempunyai ilah lain selain Tuhan. Maka Tuhan pun menghukum mereka dengan mengirimkan raja Sisak dari Mesir. Raja Sisak ini bukanlah raja asli dari Mesir. Dia adalah orang yang berasal dari Libia yang berhasil meraih kekuasaan di Mesir. Nenek moyangnya adalah orang Libia dan dia memiliki ikatan yang sangat erat dengan orang-orang Etiopia (2Taw. 12:3). Bayangkan betapa ironisnya hal ini mengingat usaha Salomo menikahi anak perempuan Firaun (1Raj. 3:1). Salomo menjadi menantu Firaun, tetapi kemudian Firaun sendiri digulingkan oleh Sisak. Setelah menggulingkan Firaun, segera Sisak menjadi pelindung Yerobeam, musuh Rehabeam anak Salomo (1Raj. 11:40). Tidak cukup sampai di situ, Sisak juga sekarang bersiap maju untuk memerangi banyak daerah, termasuk Yehuda. Jadi, di manakah kekuatan kerja sama Salomo-Firaun? Siapa yang mengandalkan manusia, terkutuklah dia (Yer. 17:5). Koneksi kita banyak? Kita kenal banyak orang kuat? Kita mengandalkan mereka yang ada di posisi tinggi? Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan yang hatinya menjauh dari Tuhan! Orang-orang kuat dalam dunia politik dan ekonomi sebenarnya hanyalah tali yang lapuk. Kita tidak boleh dan tidak bisa mengandalkan mereka.

Tetapi di dalam keadaan yang terjepit, Rehabeam ternyata bertobat dan memohon belas kasihan Tuhan setelah dia mendapat peringatan dari Tuhan melalui nabi Semaya (2Taw. 12:5-6). Bukan hanya Rehabeam, seluruh petinggi Yehuda juga ikut memohon belas kasihan Tuhan. Maka Tuhan membuat Sisak undur dari Yerusalem. Sisak tidak jadi menghancurkan kota itu dan membawa penduduknya tertawan, tetapi dia menerima upeti yang dibayarkan Rehabeam, yaitu barang-barang mahal yang Salomo siapkan untuk Bait Suci Allah (ay. 26). Alangkah malangnya nasib anak Salomo ini. Keberdosaan Salomo dan keberdosaan dirinya sendiri telah membuat kerajaannya mengalami begitu banyak hal yang menyedihkan. Kerajaannya yang tidak lagi utuh, kekuatan perangnya yang dihina karena ketidakberdayaan mereka menghadapi kedatangan Sisak, dan kemegahan Bait Suci yang dirampok habis-habisan dan hanya ada barang-barang tembaga sebagai ganti segala emas yang ada, semuanya mencerminkan kehancuran Dinasti Daud. Ayat 28 melanjutkan kisah sedih ini dengan mengatakan betapa berharganya tembaga itu sehingga mereka disimpan secara khusus. Bandingkan dengan keadaan ketika perak pun dianggap hanya seperti batu saja karena banyaknya emas dan perak di Israel (2Taw. 1:15). Tetapi pertobatan Rehabeam dan para petinggi Israel membuat Dinasti Daud tetap terpelihara dan Yehuda, bersama dengan Benyamin dan Lewi di tengah-tengah mereka, terus ada di hadapan Tuhan menjadi bangsa tempat keturunan Daud bertakhta hingga datangnya Kristus (Kej. 49:10).

Untuk direnungkan:

  1. Apakah kita sudah mengenal siapa Allah kita? Pengenalan yang tepat harus mencakup pemahaman bahwa Allah membenci orang-orang yang tidak setia kepada Dia. Yehuda mendapatkan keturunan Daud sebagai raja, dan bahkan mereka diberikan anugerah oleh Tuhan karena Tuhan menarik orang-orang Lewi dan orang-orang Israel lain yang mencintai Tuhan dari Israel Utara untuk datang ke Yehuda (2Taw. 11:11-16). Tetapi penyembahan berhala tetap dilakukan oleh banyak orang Yehuda. Mengapa ini terjadi? Karena banyak orang Israel tidak mengenal Allah sebagai satu-satunya Allah yang sejati. Mengapa mereka menyembah berhala seperti orang-orang Kanaan? Karena mereka hanya mau menyembah ilah yang sesuai dengan hati mereka yang cemar. Orang berdosa menyukai ilah dengan sifat dosa. Tetapi Allah bukanlah seperti ilah-ilah palsu. Allah adalah yang berdaulat mutlak atas segala sesuatu! Allah kita berbeda dengan ilah palsu dari agama-agama lain ataupun dari kepercayaan-kepercayaan yang fana karena Allah bukanlah yang diatur, melainkan yang mengatur. Dialah yang menyatakan kuasa-Nya. Dialah satu-satunya yang layak disembah. Karena itu biarlah kita merenungkan ini baik-baik. Apakah kita sudah mengenal Allah dengan tepat? Yang saya maksudkan bukanlah pengenalan yang mampu dirumuskan dengan kata-kata. Tidak. Saya tidak mau itu. Semua orang yang bisa membeo pun dapat mengatakan pengakuan itu. Tetapi yang saya mau adalah jawaban dari kita kepada diri kita sendiri dengan menyelidiki komitmen hati kita. Apakah komitmen hati kita adalah untuk mengutamakan Tuhan lebih dari yang lain? Apakah komitmen kita untuk benar-benar mengasihi dan takut akan Allah telah ada di dalam hati kita? Jika tidak, maka penyembahan berhala akan terus membayangi hidup kita. Hati yang cinta dunia lebih dari cinta Tuhan. Itulah penyembahan berhala yang akan terus mengancam.

  2. Apakah lingkungan kita adalah lingkungan yang menjaga komitmen hati kita kepada Tuhan? Rehabeam mempunyai lingkungan yang baik. Orang Lewi dan orang-orang yang mengasihi Tuhan yang Tuhan utus untuk berkumpul di Yehuda. Tetapi di sana juga banyak orang-orang durhaka yang menolak menyembah Tuhan. Hati Rehabeam ternyata memiliki kecenderungan untuk mengikuti orang-orang durhaka itu, dan karena itu dia beserta rakyat Yehuda akhirnya jatuh ke dalam dosa yang sangat menjijikkan itu. Bagaimana dengan kita? Di sekitar kita pasti banyak orang-orang berdosa yang senang dengan keadaan berdosa mereka. Tetapi bukankah ada juga orang-orang yang mau belajar mengasihi Tuhan dan meninggalkan dosa? Bukankah ada juga orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk mengingatkan kita agar tetap berpaut kepada Allah? Yang menjadi pertanyaan adalah kita lebih nyaman berada di tengah-tengah yang mana? Kita lebih cocok bergaul dengan yang mana? Dengan orang-orang dunia yang bejat dan senang berdosa? Atau orang-orang yang mengasihi Tuhan yang walaupun adalah orang berdosa, tetapi telah belajar untuk membenci dosa dan meninggalkan dosa demi menyenangkan hati Tuhan? (JP)