SIBLING RIVALRY : MENYIKAPI PERSAINGAN ANTAR SAUDARA KANDUNG

SIBLING RIVALRY : MENYIKAPI PERSAINGAN ANTAR SAUDARA KANDUNG

Sibling rivalry bisa diartikan sebagai kompetisi antar saudara kandung, baik antar saudara kandung yang berjenis kelamin sama ataupun berbeda. Kompetisi ini diwarnai oleh rasa iri, cemburu, dan persaingan. Bersaing untuk mendapatkan sesuatu, seperti perhatian ibu, mainan baru, dan lain-lain.

Seiring berkembangnya fisik, kognisi, dan mental anak, persaingan antar saudara kandung dapat menurun karena anak sudah lebih dapat berpikir tentang kondisi yang terjadi di sekitarnya. Akan tetapi, persaingan bisa pula berlanjut sampai dewasa. Bentuk persaingan antar saudara kandung saat masih anak-anak, remaja, dan dewasa dapat berbeda terkait kebutuhan yang juga berbeda dalam setiap tahap perkembangan. Ketika masih anak-anak, yang diperebutkan adalah mainan atau waktu bermain dengan orangtua. Mereka protektif sekali dengan mainan pribadi sehingga kesal jika mainan tersebut diambil saudara kandung lain.

Beranjak remaja, mereka mulai mencari jati diri dan independensi. Persaingan antar saudara kandung muncul dalam bentuk bentrokan peran dan tanggung jawab.

Menjelang dewasa, individu dihadapkan pada berbagai tantangan dan perubahan lainnya. Memilih jurusan di perguruan tinggi, merencanakan pekerjaan, mulai mandiri secara finansial, dan sebagainya. Persaingan bisa berbentuk usaha untuk ‘lebih’ dari saudara kandungnya, saling memperlihatkan apa yang telah dicapai masing-masing, menunjukkan keunikan diri, bahwa ia berbeda dari saudara kandungnya.

Sebenarnya wajar jika muncul persaingan antar saudara kandung. Perlu mendapat perhatian lebih lanjut jika terdapat ketegangan dan konflik terus-menerus diantara saudara kandung yang sulit diatasi. Muncul perilaku agresif terhadap saudara kandung yang semakin meningkat dalam hal kuantitas dan intensitas, seperti memukul, menendang, mencakar, dan merusak milik saudara kandung. Selain perilaku-perilaku tersebut, hal meningkat lainnya yang perlu diperhatikan adalah sikap tidak mau berbagi dengan saudara kandung, tidak mau membantu saudara kandung, dan sering mengadukan kesalahan saudara kandung ke orangtua.

Dampak negatif persaingan antar saudara kandung bisa diminimalisir.

Berikut tipsnya:

1. Pahami bahwa tiap anak itu berbeda

Orangtua harus sadar dan paham bahwa tiap anak tumbuh dan berkembang dengan keunikannya masing-masing. Walaupun anak lahir dari rahim yang sama namun anak memiliki karakter yang berbeda, dan tentunya cara orangtua memperlakukan masing-masing anak juga berbeda.

Perlakukan masing-masing anak sesuai dengan karakternya masing-masing. Jangan pernah membandingkan anak, apalagi perbandingan itu dilakukan dengan memuji kelebihan sang adik terhadap sang kakak. Karena hal ini dapat membuat masing-masing anak merasa tidak nyaman.

2. Jangan selalu meminta sang kakak untuk mengalah

Hal yang paling sering terjadi dalam pengasuhan adalah orangtua selalu meminta sang kakak atau anak yang lebih tua untuk mengalah kepada adiknya dalam hal apapun. Padahal hal ini jelas tidak selalu tepat.

Justru jika orangtua selalu meminta kakak untuk mengalah maka akan membuat sang adik menjadi besar kepala, dan semakin menimbulkan kecemburuan antara kakak dan adik.

Misalnya jika anak-anak bertengkar karena rebutan mainan, sebaiknya hal yang harus Moms lakukan adalah tanyakan dulu duduk permasalahannya, siapa yang lebih dahulu memainkan mainan tersebut.

Jika sang kakak yang lebih dulu memainkannya, maka berikan pengertian kepada sang adik untuk menunggu hingga kakak selesai memainkannya. Katakan juga kepada kakak untuk main secara bergantian. Hal ini menunjukkan kepada anak bahwa orangtua dapat berlaku adil kepada setiap anaknya.

3. Berikan perhatian dan waktu yang berkualitas pada masing-masing anak

Orangtua harus bisa membagi waktu antara kakak dan adik. Walaupun sang kakak lebih tua namun dukungan dan perhatian yang ia butuhkan dari kedua orangtuanya sama seperti adiknya. Sebisa mungkin ciptakan waktu yang berkualitas dengan masing-masing anak.

Misalnya ketika sang kakak sedang sekolah, orangtua bisa menemani sang adik bermain. Atau ketika sang adik sedang tidur, orangtua bisa menemani kakak belajar dan mengerjakan PR. Perhatian yang kurang dari orangtua kerap kali memunculkan rasa kesal dan marah bagi sang anak, sehingga untuk melampiaskannya tak jarang anak menjadi sering bertengkar.

Mengenai anggota keluarga lain seperti kakek/nenek dan keluarga lain, orangtua bisa memberikan penjelasan dan pengertian kepada mereka mengenai pola pengasuhan yang orangtua terapkan kepada anak untuk menghindari terjadinya sibling rivalry.

Minta dukungan dari keluarga atau orang yang terkait dengan pengasuhan anak agar cara pengasuhan yang dijalankan sama dan konsisten.

 

http://parent.binus.ac.id/2016/08/sibling-rivalry-menyikapi-persaingan-antar-saudara-kandung/
https://www.orami.co.id/magazine/3-cara-mengatasi-sibling-rivalry-menurut-psikolog-anak/

share: KB-TK SKK 3