Selamat kepada bu Tika atas Juara 2 dalam Lomba Essay perayaan HUT GKK ke-90

Karya tulis Ibu Tika “Aku dan Seisi Rumahku”

Juara 2 Lomba penulisan Essay di HUT Gereja Kristus Ketapang (GKK) ke 90 tahun.

 24 November 2018


Tangan akan menggaruk punggung atau kepala yang gatal. Mata, tangan, mulut, hidung dan perut bekerja sama menjadikan kenikmatan saat makan. Tangan tidak akan mengatakan aku tidak butuh mulut. Kaki tidak akan mengatakan aku tidak butuh mata. Rambut tidak akan mengatakan aku tidak butuh kepala. Perbedaan menjadikan satu kesatuan yang harmoni. Itulah keluarga. Suatu keluarga diibaratkan dengan keberagaman anggota tubuh. Anggota tubuh yang berbeda namun saling membutuhkan. Suami tidak bisa berkata aku tidak butuh istri. Istri tidak bisa berkata aku tidak butuh suami. Keduanya tidak bisa berkata kami tidak butuh anak. Begitu sebaliknya anak tidak bisa berkata aku tidak butuh orang tua. Perbedaan akan terlihat indah jikalau ada kesatuan di dalamnya.

Di zaman yang sudah modern ini, Keluarga sering kali kehilangan fungsinya sebagai keluarga yang sesungguhnya. Waktu menjadi penghalang dalam komunikasi. Malam berganti malam. Pagi berganti pagi. Semua penghuni rumah hanya dipertemukan sebatas sarapan pagi. Orang tua disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Prioritas utama mereka adalah karir dengan mengatasnamakan keluarga. Namun secara tidak langsung ia sedang memenuhi keinginan pribadinya yaitu keinginan untuk mencapai titik kepuasan. Seseorang akan selalu mencari kepuasan dalam dirinya, kepuasan untuk dicintai dan mencintai, dihargai dan menghargai, dengan kata lain manusia memiliki kebutuhan yang memang harus dipenuhi di dalam diri sendiri.

Sering kali anak menjadi korban dalam keegoisan orang tua ketika kesibukan mereka diberi label kepentingan keluarga. Anak tidak memiliki kasih sayang penuh, anak tidak memiliki relasi yang baik dengan orang tua, orang tua tidak bisa mengenal siapa anaknya yang sebenarnya. Anak sebatas titipan Tuhan yang setelah dilahirkan kemudian dititipkan kembali kepada babysitter, guru, tetangga, dan lain sebagainya. Sehingga anak menjadi kehilangan esensinya di dalam keluarga.  Anak-anak membatasi diri dengan gudget. Game online mulai menggerogoti dirinya dengan segala iming-iming yang begitu menarik yang membuat anak memiliki perubahan yang begitu cepat.

Lalu dimanakah Tuhan dalam keluarga?  Mengapa keluarga yang dalam kategori Kristen sama sekali tidak menghadirkan Kristus dalam keluarga? Apakah kesibukan yang mengatasnamakan keluarga justru membuat keluarga melupakan Kristus?

Keluarga Kristen merupakan persekutuan yang hadir di tengah realitas dan berinteraksi dengan seluruh kenyataan di sekitarnya. Hal ini menempatkan keluarga Kristen selalu diperhadapkan dengan tantangan yang tidak terhindarkan. Pernikahan yang merupakan awal terbentuknya keluarga dengan pemberkatan di Gereja dengan pandangan pasti luput dari tantangan merupakan mitos yang merusak. Sesungguhnya, keluarga kristen yang mengusung kemauan kuat untuk selalu “Berarti”, harus berjumpa dengan perubahan (Changing) dan tantangan (Challenging).

Perubahan dalam keluarga terjadi karena adanya dua karakter menjadi satu. Perubahan sering terjadi ketika pernikahan memiliki arah dan tujuan yang berbeda. Dua pribadi yang dipersatukan kini tidak membentuk satu kesatuan hanya karena sering mempertahankan keegoisan masing-masing. Perubahan dalam pernikahan, pertama-tama terjadi dari “saya” menjadi “kita”. Artinya dalam keluarga tidak lagi dipercakapkan kepentingan saya tetapi kita. Pernikahan yang mendasar tidak lagi mementingkan diri sendiri. Yang kedua adalah relasi dengan pasangan menjadi relasi yang saling mempengaruhi.

Di sisi yang lain, tantangan bagi keluarga secara mendasar adalah “Anonimitas”. Artinya tidak ada nama sehingga tidak dikenal. Keluarga anonym adalah keluarga yang tidak saling mengenal sekalipun tinggal ditempat yang sama. Yang kedua adalah “Mobilitas”. Artinya dalam arus pergerakan yang berlangsung cepat maka jejak yang ditinggalkan adalah hilangnya “dialog pribadi”. Tantangan dijadikan sebagai sarana untuk keluarga mengalami pertumbuhan. Karena keluarga yang mengabaikan perubahan dan tantangan akan menjadi keluarga yang kehilangan tujuan utama terbentuknya keluarga yang tumpul dalam mengekspresikan panggilan dan pengutusan.

Menjadi umat pilihan Allah berdasarkan inisiatif dan prakarsa Allah perlu ditampilkan dalam kehidupan setiap hari, juga melalui keluarga. Dengan demikian maka eksistensi keluarga selalu dipengaruhi dengan mandat utama untuk memberitakan perbuatan Allah yang besar. Keluarga yang dibentuk oleh ALlah adalah keluarga yang terdiri dari pribadi-pribadi yang dikasihi Allah dan mengasihi Allah sebab pada dasarnya hakekat Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Maka relasi dalam keluarga yang dibingkai oleh kasih Allah adalah relasi yang mengalami pembaharuan Roh Kudus dan berujung pada tugas utama manusia mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dari sudut pandang inilah sebuah perubahan dan tantangan dihadapi. Iman kepada Yesus Kristus merupakan landasan kokoh yang memberi pengaruh kepada keluarga.

Suami-istri yang mengimani persekutuan mereka dalam perspektif rencana dan karya Allah merupakan pasangan saling melengkapi seperti yang dikehendaki Allah. Keluarga harus mampu menjadi berkat. Tuhan memberkati pernikahan dengan tujuan keluarga tersebut dapat menunaikan tugas panggilannya. Orang tua, anak-anak, atau siapapun penghuni rumah harus mampu menjadi berkat bagi diri sendiri maupun bagi sesama. Mengintrospeksi diri lebih baik daripada tidak sama sekali. Masa lalu menjadi sebuah pelajaran penting untuk dapat memperbaiki keluarga yang kini belum menunaikan tugas dan panggilannya. Relasi menjadi penting untuk keluarga mengalami pertumbuhan. Prioritas utama keluarga adalah memuliakan Allah. Tidak ada kata salah untuk menjalankan pekerjaan yang lain, namun fokus utama keluarga tetap menjalankan mandat Allah untuk menjadi berkat. Perbaiki keluarga kita dengan kembali kepada mandat Allah agar tercipta keluarga yang harmoni.

Kiranya damai sejahtera dari Allah Bapa melingkupi keluarga kita sekalian. Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Tika
Alumni STT Cipanas