Belajar Menjadi Indonesia Melalui Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila

Saat kita berpikir tentang Pancasila langsung keluar berbagai pengalaman indah bagaimana bersatunya bangsa ini. Berbagai agama serta kepercayaan, ratusan suku juga bahasa dan belasan ribu pulau terangkai dari Sabang sampai Merauke. Pendiri negeri ini sudah melaksanakan tugas mulia mempersatukan sejak Kongres Pemuda ke-2. Ketika bangsa lain masih tersentak dengan berakhirnya Perang Dunia ke-2 di Asia Pasifik dalam hitungan hari kita merebut momentum untuk menyatakan Proklamasi Kemerdekaan. Kemampuan daya juang ini perlu kita contoh dan disesuaikan dengan konteks kekinian tanpa harus melupakan nilai-nilai gotong-royong, kemanusiaan dan nasionalisme.

Penghujung tahun 2019 guru pendidik Pancasila berkumpul di kota Pahlawan Surabaya dalam Persamuhan Nasional, merupakan kerjasama antara Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Guru SMA K Ketapang 1 Jakarta menjadi salah satu perwakilan DKI Jakarta, kesempatan langkah ini tentu menjadi pengalaman berharga sebagai tempat saling belajar dengan rekan pendidik, tokoh, seniman dari penjuru negeri. Pembukaan acara dilakukan oleh Plt. Ketua BPIP Prof. Har di Pasuruan tidak jauh dari situs peninggalan kerajaan Hindhu-Buddha di Jawa Timur. Kami melihat secara langsung bagaimana tari Remo yang bercerita tentang perjuangan untuk penyambutan tamu dan iringan alat musik tradisional dengan lagu kekinian.

Nara sumber program ini memberikan materi dari berbagai latar keilmuan dan professional di bidangnya. Penulis sangat terkesan saat Walikota Surabaya Ibu Tri Risma memaparkan bagaimana beliau berjuang bersama pemerintah kota untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Istilahnya apa yang dilakukan oleh ibu walikota adalah bagaimana memanusiakan manusia terlebih dahulu dan menunjukan hasil kerja nyata. Resiko dari pekerjaan tentu besar terlebih, perbedaan pendapat dan menghadapi mereka yang tidak ingin kenyamanannya terganggu. Tentu setelah beberapa tahun terbukti kota Surabaya menjadi lebih baik, menjadi contoh dan diakui dunia. Kerjasama antar kota terjalin salah satunya dengan Liverpool tempat dimana dua klub sepakbola legendaris Inggris bermarkas dan pemuda Surabaya bisa belajar sepak bola di sana. Sampai dengan saat ini terus menerima pengakuan dan penghargaan dari luar negeri, termasuk gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Tongmyong di Busan, Korea Selatan.

Pembekalan kali ini luar biasa karena pengetahuan, ketrampilan, apresiasi seni dan olahraga dipadukan menjadi satu, tentu sejalan dengan substansi Pancasila sebagai dasar negara. Interaksi antar peserta menjadikan kami lebih mengenal saudara-sebangsa dengan latar belakang berbeda dalam suatu tempat. Kami dapat belajar terus menjadi Indonesia tidak hanya dari nara sumber dan fasilitator namun juga dari sesama pendidik Pancasila dari Talaud sampai Pulau Rote. Seakan kami kembali pada lebih dari 90 tahun lalu dimana para pemuda dari Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon dan lainnya mencetuskan Sumpah Pemuda. Rasa itu tidak akan pernah pudar semoga ada dalam setiap kita juga, kecintaan pada negeri kebanggaan kami. Kita direkatkan oleh tujuan sama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Dasar Negara Pancasila, Merdeka!

Salam Pancasila,

 

Nico Tasiam, Guru SMAK Ketapang 1 Jakarta.

Peserta Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila.