Reformasi Yosia

Devotion from:

2 Raja-raja 23:1-15

Penjelasan
Yosia tetap melakukan pembaruan walaupun bangsanya tidak akan luput dari hukuman Tuhan. Dia tetap berharap bahwa Tuhan akan mengampuni Yehuda. Tetapi sekalipun tidak, apa yang dia kerjakan memang sudah sepantasnya dikerjakan oleh siapa pun yang taat kepada Tuhan. Menaati Tuhan dan menjalankan apa yang Dia firmankan bukanlah sesuatu yang memerlukan perhitungan untung rugi. Menaati Dia dan menjalankan firman-Nya adalah kewajiban mutlak setiap orang. Maka Yosia pun menjalankan terus reformasinya. Hal pertama yang dia lakukan adalah menekankan perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Israel dan Yehuda berdosa karena mereka telah melanggar perjanjian dengan Allah. Pertobatan sejati hanya mungkin terjadi kalau seluruh umat Tuhan menyadari dua hal, yaitu bahwa Allah telah setia kepada perjanjian-Nya, dan seluruh manusia telah gagal dalam menaati perjanjian itu. Menekankan sisi bahwa Allah setia tidak akan membuat pertobatan sejati. Jika Allah memang setia, lalu? Apakah kaitannya dengan saya? Penekanan kepada kesetiaan Allah membuat berita pertobatan menjadi berita yang terus diremehkan orang. Seolah-olah kesetiaan Allah adalah sesuatu yang wajar kita peroleh dari Tuhan. Tetapi kita lupa fakta bahwa kita telah memberontak terhadap perjanjian itu. Pemberontakan yang akan mengarahkan kita kepada penghukuman yang kekal. Jika kita melupakan bagian ini maka kita tidak mungkin merasa perlu bertobat.

Setelah mengingatkan kembali kegagalan Yehuda dan Israel untuk menaati perjanjian dengan Allah yang setia, maka Yosia mengadakan pembersihan di tengah-tengah Yehuda. Imam-imam dewa-dewa asing diberhentikan dan segala hal yang berkait dengan Baal dan dewa-dewa palsu lainnya dihancurkan oleh Yosia. Dia benar-benar mengadakan pembersihan untuk menghilangkan sama sekali efek dosa dan pengaruhnya yang mungkin akan bangkit di waktu yang akan datang. Ini dilakukan Yosia agar belas kasihan Tuhan tiba pada Yehuda. Jika Tuhan mau mengampuni, maka pastilah pengampunan Tuhan itu akan terjadi jika daerah Yehuda telah bebas dari berhala dan dari imam-imam berhala tersebut. Tetapi seandainya Tuhan tetap tidak mau mengampuni, setidaknya penundaan penghukuman-Nya terjadi sehingga Yehuda masih memiliki waktu sedikit lebih lama untuk bertahan. Yosia tidak menjadi putus asa walaupun Tuhan telah mengatakan akan tetap menghancurkan Yehuda (2Raj. 22:20).

Yosia juga menghancurkan segala patung berhala dan mezbah-mezbah korban. Ini bukan hanya untuk mencegah tindakan penyembahan berhala itu muncul lagi di waktu yang akan datang, tetapi juga merupakan tindakan yang didorong oleh kebencian yang sangat terhadap berhala-berhala itu. Penghancuran ini merupakan pernyataan kejijikan Yosia terhadap segala berhala. Bukan sekadar menghindarkan diri dari dosa, tetapi juga membenci dosa dengan sepenuh hati. Sisi lain dari mengasihi Allah adalah membenci dosa. Sebagaimana besarnya kasih kita kepada Allah, sedemikian juga besarnya kebencian kita kepada dosa. Mengapa banyak orang terus mencintai dosa-dosanya? Karena mereka tidak mengasihi Allah. Mengapa ada orang yang begitu benci dosa dan terus menjauhinya dengan segenap hati? Karena mereka mengasihi Allah dengan segenap hati.

Untuk direnungkan:
Hal yang dapat kita renungkan dari bagian ini adalah kegigihan Yosia membersihkan segala hal yang berkaitan dengan berhala di daerah Yehuda, bahkan seluruh Israel. Ini jugalah yang harus terjadi di dalam hidup kita. Menghancurkan dosa di dalam diri kita, kebiasaan kita, perbuatan kita, dan bahkan di dalam pikiran kita. Jangan sisakan sedikit pun dari kehidupan lama di dalam dosa. Matikan dosa tanpa memberikan toleransi apa pun di dalam diri kita. Yosia telah melihat apa yang terjadi pada bangsanya. Seluruh kerusakan dan hukuman yang terjadi adalah karena mereka sujud menyembah berhala. Betapa berbahayanya pengaruh agama-agama kuno yang ada pada bangsa-bangsa di sekitar Israel. Itulah sebabnya dia tidak mau memberikan toleransi apa pun. Semua dihancurkannya supaya tidak ada sisa penyembahan berhala yang dapat kembali memengaruhi Yehuda untuk memberontak kepada Allah pencipta langit dan bumi.

Bagian ini juga mengingatkan kita bahwa kasih kepada Allah tidak mungkin ada bersama-sama dengan cinta kepada dunia ini. Tidak ada yang dapat mempunyai dua tuan, dia akan setia kepada yang satu dan mengabaikan yang lain (Mat. 6:24). Siapa pun yang bersahabat dengan dunia ini menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:4). Jika seseorang mengasihi Allah, maka dengan tingkat yang sama besar dia akan membenci dosa. Sudahkah kita memiliki kasih kepada Allah dan kebencian terhadap dosa? Mungkin banyak orang akan melihat ada yang salah jika kita begitu dingin dan tidak peduli kepada Allah. Tetapi sadarlah bahwa kasih kepada Allah yang tidak disertai dengan kebencian terhadap dosa adalah palsu. Jika kita mengasihi Allah, maka kita akan membenci dosa. Makin besar kasih kita kepada Allah, makin besar juga kebencian kita terhadap dosa. Tetapi jika kita terus memikirkan tentang dosa, menyenanginya di dalam hati kita, dapat merasa nyaman waktu terus membicarakan hal-hal yang dibenci Tuhan, dan hidup dengan sangat dekat dan akrab dengan dosa, maka kasih kepada Allah tidak mungkin mendapat tempat sedikit pun.

Hal terakhir untuk renungan kita pada hari ini adalah kegigihan Yosia untuk memperjuangkan adanya pertobatan sejati di tengah-tengah bangsa Yehuda. Sepertinya ini merupakan usaha yang mustahil karena bukankah Tuhan sendiri telah menutup jalan pertobatan bagi bangsa Yehuda? Tetapi Yosia memperjuangkannya bukan agar mendapatkan sesuatu, tetapi karena memang itulah yang sepantasnya dilakukan. Jika kita masih terus tawar-menawar dengan Tuhan untuk hidup suci, maka sebenarnya kita tidak memahami bahwa hidup suci adalah sesuatu yang harus dilakukan karena kita diciptakan oleh Allah untuk hidup bagi dia. Kita tidak melakukan suatu hal yang membuat Tuhan berhutang kepada kita kalau kita hidup suci. Kehidupan yang setia kepada Allah, yang mengasihi Dia, dan yang terfokus hanya kepada Dia merupakan kehidupan yang sepantasnya kita lakukan. Bahkan sebenarnya kita berhutang untuk hidup suci kepada Allah karena Allah telah menciptakan kita. Berbuat benar, meninggalkan dosa, hidup suci, dan ketaatan mutlak kepada Allah adalah hal yang harus dilakukan setiap orang di dalam umat Tuhan. Tidak bisa tidak! Berbuat benar dan meninggalkan dosa tidak dilakukan supaya mendapat sesuatu dari Tuhan. Yosia telah mengetahui bahwa Tuhan tetap akan membuang Yehuda. Lalu? Apakah ini berarti berbuat benar, menyingkirkan berhala-berhala palsu, dan kembali setia kepada Tuhan menjadi sia-sia? Tentu saja tidak. Hidup untuk Allah dan meninggalkan dosa adalah sesuatu yang memang harus ada pada diri kita. Bukan untuk mendapatkan sesuatu, melainkan itulah natur orang-orang yang mau menjadi umat-Nya. Sama seperti ikan hidup di air bukan untuk mendapatkan pujian atau upah, tetapi memang naturnya adalah di air. Demikian juga orang percaya hidup suci dan meninggalkan dosa karena inilah yang sesuai dengan natur kita yang telah diperbarui. Mari belajar hidup benar bukan supaya diberkati, tetapi karena memang itulah yang harus dilakukan oleh setiap orang yang telah menjadi umat-Nya.

Pertanyaan renungan:
Apakah kita memiliki kegigihan untuk menghancurkan dosa di dalam kehidupan kita? Kristus telah menebus kita, memberikan hidup yang baru untuk dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Biarlah hidup ini dipersembahkan kepada Tuhan dengan bersih dan tidak bercacat. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *