Koresh Memulangkan Israel

Devotion from:

Ezra 1:1-11

Bagian ini dibuka dengan keputusan Koresh di tahun pertamanya menjadi raja atas Babel. Dia memerintahkan semua orang Israel di dalam kerajaan Babel (bahkan dalam seluruh daerah lain yang dikuasai Persia) untuk kembali ke tanah mereka dan mendirikan Bait Allah di Yerusalem. Tuhan menggerakkan hati raja ini untuk menjadi pelindung dan pembebas umat-Nya. Kerajaan besar seperti Persia tetaplah hanya alat yang Tuhan pakai untuk rencana-Nya bagi umat-Nya. Sejak Israel dihukum oleh Tuhan, Tuhan membangkitkan kerajaan-kerajaan besar dan membiarkan umat-Nya menjadi begitu kecil dan sedikit jumlahnya. Di tengah-tengah kerajaan Persia yang begitu besar, apalah arti umat Tuhan yang tinggal beberapa puluh ribu orang saja? Tetapi mata Tuhan dan hati-Nya tetap tertuju kepada umat-Nya, bukan kepada kerajaan-kerajaan besar yang ada. Sebenarnya salah satu strategi Koresh adalah untuk memulangkan setiap orang buangan ke daerah mereka sendiri, lalu dia akan mendirikan pemerintahan pendudukan Persia (biasa disebut “Satrap”) sehingga daerah jajahan yang luas dan besar tetap bisa terkontrol dengan baik. Dia juga ingin mengambil hati setiap orang jajahannya supaya dia dipandang sebagai pembebas mereka yang baik hati. Tetapi ayat 1 mengatakan bahwa Tuhan memakai gerakan hati Koresh ini untuk menggenapi rencana-Nya walaupun tujuan Koresh adalah untuk stabilitas politiknya sendiri.

Sebenarnya apa yang terjadi ini telah dinubuatkan Tuhan sejak lalu. Kitab Yesaya menubuatkan kepulangan “kaum sisa” yang akan menghasilkan tunas yang kudus, yaitu Sang Mesias (Yes. 6:13). Inilah kaum sisa yang pulang atas perintah raja Koresh. Kitab Yeremia juga telah menubuatkan kembalinya Israel ke tanah mereka di dalam Yeremia 25:11 dan 29:10. Mereka akan berada di dalam pembuangan selama 70 tahun dan setelah itu Tuhan akan memperhatikan mereka kembali. Yang paling mengharukan adalah nubuat yang Tuhan nyatakan kepada Daniel, satu tahun sebelum Koresh memerintahkan orang Israel untuk pulang ke tanah mereka. Di dalam Daniel 9:18-19, Daniel memohon kepada Tuhan untuk menggenapi apa yang telah Dia janjikan di dalam Yeremia 29:10. Permohonan yang sangat mengharukan ini dipanjatkan Daniel dan jawaban atas permohonan itu datang melalui perintah Koresh untuk memulangkan orang Israel. Perintah Koresh ini adalah pernyataan dari kasih setia Tuhan bagi Israel. Di tengah-tengah kondisi umat-Nya yang sedang berada dalam pembuangan Tuhan tetap mengingat janji-Nya dan mengasihani mereka.

Di dalam ayat 4 dikatakan bahwa Koresh juga memerintahkan kepada penduduk lain untuk mendukung mereka dengan harta untuk pembangunan rumah Allah. Tuhan menggerakkan raja Koresh untuk mengizinkan orang Israel kembali ke tanah mereka dengan tujuan untuk membangun Bait Allah. Bait yang telah dihancurkan oleh Nebukadnezar itu sekarang akan dibangun kembali. Tuhan tidak ingin umat-Nya pulang dan menjadi bangsa yang tinggal di daerahnya sendiri tetapi melupakan Tuhan. Itulah sebabnya kepulangan mereka mempunyai tujuan untuk membangun kembali Bait Tuhan. Apakah gunanya mereka kembali ke tanah mereka sendiri kalau mereka hanya menjadi bangsa yang melupakan Tuhan? Mereka kembali ke tanah mereka sebagai umat Tuhan dan harta paling berharga yang mereka miliki adalah kehadiran Tuhan sendiri. Tuhan menyertai mereka dan memberikan kecukupan untuk mereka seperti orang Mesir memberikan kecukupan kepada Israel ketika mereka akan pergi keluar dari Mesir (Kel. 12:35-36). Maka orang Israel kembali ke tanah mereka dengan membawa benda-benda perlengkapan rumah Allah dan juga persembahan dari orang-orang yang tinggal di daerah Babel dan daerah-daerah lain, yaitu mereka yang tinggal bersama-sama dengan orang Israel di pembuangan itu.

Untuk direnungkan:

  1. Tuhan memulihkan umat-Nya karena Dia mengasihi mereka. Tetapi jika kita hanya melihat sisi kasih Allah dan belas kasihan-Nya, maka kita melihat dari sisi yang tidak seimbang. Sebab, selain karena dorongan kasih-Nya, Allah bertindak demi nama-Nya yang mulia (Yeh. 20:9). Jika bagian ini kita lupakan, maka kita akan menjadi orang Kristen yang sangat berpusat kepada diri dan terlatih untuk memiliki kerohanian yang rusak karena sifat egois yang terus dipupuk. Tuhan bertindak demi nama-Nya yang kudus! Itulah sebabnya selain mengizinkan orang Israel bebas dari tanah tempat mereka dibuang, Dia juga memerintahkan mereka untuk membangun kembali Bait Suci-Nya agar nama-Nya kembali dinyatakan di tengah-tengah umat-Nya.
  2. Kecukupan dan pemeliharaan Tuhan bagi umat-Nya diberikan oleh Tuhan agar umat-Nya dapat menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan bagi mereka. Mari kita pahami ini dengan benar. Bukan umat-Nya yang menjadi tujuan akhir rancangan Tuhan dalam sejarah, tetapi kehendak-Nyalah yang harus menjadi tujuan akhir. Bukan kita, tetapi Tuhanlah yang harus menjadi yang terutama di dalam kehidupan kita. Tuhan memberikan kelimpahan kepada umat-Nya supaya mereka dapat membangun rumah Tuhan. Tuhan memberkati kehidupan kita dengan limpahnya supaya kita dapat melaksanakan apa yang Dia inginkan kita lakukan. Jika kehidupan kita terus difokuskan kepada diri kita sendiri, maka kita akan kehilangan hal yang utama dalam hidup. Tuhan tidak menciptakan kita supaya kita hidup bagi diri kita sendiri, tetapi Dia menciptakan kita supaya kita hidup bagi Dia. Inilah bahagia sejati dari manusia, yaitu ketika dia berfungsi tepat sebagaimana tujuan penciptaannya. Sudah begitu banyak manusia gagal memahami hal ini. Mereka melihat bahwa Tuhan sangat kejam karena menjadikan diri-Nya sendiri sebagai yang paling utama di dalam hidup manusia. Tetapi jika Dia adalah sumber dari segala yang hidup dan oleh karena Dia segala yang hidup itu ada, bukankah memang hal yang wajar jika segala yang hidup mengutamakan Dia, Sang Pencipta dan Pemelihara mereka? Dan jika Dia, yang adalah sumber segala kasih, kebaikan, keindahan, bijaksana, dan berkat sejati, menjadi tujuan hidup kita, bukankah itu berarti segala kasih, kebaikan, bijaksana, dan berkat-Nya menjadi bagian kita juga? Sebaliknya, jika dengan egois kita menjadikan diri kita sebagai tujuan hidup kita, bukankah itu berarti kesempitan hati kita, sifat egois kita, kecemaran kita, dan keberdosaan kita akan menjadi tujuan akhir kita?
  3. Hal ketiga yang menjadi renungan kita dalam bagian ini adalah bahwa rencana Tuhan melalui Israel tidak menjadi batal karena kecemaran Israel. Itulah sebabnya Tuhan tetap memelihara mereka walaupun kecemaran dan dosa mereka membuat mereka harus dibuang ke Babel. Rencana Tuhan tidak akan gagal walaupun umat Tuhan telah memberontak dan membuat sakit hati-Nya. Dia tetap memelihara mereka dan membawa mereka pulang ke tanah mereka sendiri. Tuhan menghajar dosa umat-Nya, tetapi Dia tidak membiarkan keberdosaan itu membatalkan janji-Nya bagi umat-Nya. Kita semua adalah penerima janji Tuhan di dalam Kristus. Adakah yang dapat membatalkan Allah dari janji-Nya untuk mengasihi kita di dalam Kristus? Tidak ada. Baik maut maupun hidup, baik manusia maupun malaikat, baik kuasa di atas maupun di bawah, tidak akan dapat membatalkan kasih Allah di dalam Kristus bagi kita (Rm. 8:38-39).

Doa:

  1. Tuhan, berikan kami kekuatan untuk hidup bagi-Mu. Berikan kami kepekaan untuk tahu kehendak-Mu dan berikan kami kemampuan sehingga semua berkat-Mu, baik waktu, tenaga, bakat, dan harta yang telah Engkau berikan pada kami dapat kami gunakan untuk menjalankan kehendak-Mu atas kami.
  2. Tuhan, kami bersyukur kepada-Mu karena kasih-Mu kepada kami tidak menjadi batal karena kecemaran dan dosa kami. Ampuni segala kecemaran kami, Tuhan. Kami bersyukur karena Tuhan mau menebus kami walaupun kami lebih layak dibuang. Kami bersyukur karena tidak ada apa pun yang akan membatalkan janji-Mu dan kasih-Mu bagi kami di dalam Kristus. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *