Pembelaan Orang Israel

Devotion from:

Ezra 5:1-6:5

Orang Israel mendapatkan nubuat dari Hagai dan Zakharia yang menegur mereka karena mereka tidak melanjutkan pembangunan Bait Allah (Hag. 1:2-8). Ini merupakan teguran yang pantas untuk diberikan. Pembangunan rumah Tuhan terhenti karena tentangan dari penduduk sekitar yang membawa otoritas dari pembesar-pembesar Persia yang telah disogok mereka (4:5). Bukankah memang dapat dipahami kalau orang Israel berhenti membangun? Mereka tentu merasa takut. Ancaman yang diberikan kepada mereka memiliki kekuatan otoritas pemerintah Persia! Bukankah wajar untuk takut? Tidak wajar! Mengapa tidak wajar? Karena Tuhan – yang memerintah atas mereka – sanggup mengarahkan hati raja Koresh untuk melindungi mereka. Orang Israel tidak punya alasan untuk tunduk kepada manusia jika Tuhan yang telah memberikan perintah kepada mereka. Itulah sebabnya peringatan dari nabi Hagai begitu keras mendorong mereka kembali.

Maka orang Israel kembali melanjutkan pembangunan, dan Zerubabel dan Yesua, yang memimpin tahap awal pembangunan bait tersebut, diperintahkan untuk menyelesaikannya. Mereka sekarang dengan berani menjalankan titah Allah. Jika Tuhan yang sudah memberi perintah, tidak ada manusia yang dapat membatalkan dengan ancaman seperti apa pun. Tetapi ancaman bupati Tatnai dan orang-orang yang menolak mereka makin besar. Mereka mengancam akan mencatat dan melaporkan nama orang-orang yang bertanggung jawab melawan pemerintahan pendudukan Persia yang melarang kelanjutan pembangunan ini. Jawaban orang Israel begitu berani dan bijaksana. Mereka tahu bahwa yang melarang mereka adalah petinggi-petinggi Persia. Tetapi pembangunan Bait Suci adalah perintah dari Koresh, Raja Persia! Karena itu orang Israel membela perkara mereka hingga ke Raja Darius Agung, raja yang sedang bertakhta pada waktu itu, dengan mengatakan bahwa pembangunan rumah Tuhan ini adalah titah dari raja agung Koresh. Ketika Koresh memerintah selama setahun di Babel, dia sendiri yang mengeluarkan keputusan untuk mengizinkan orang Israel pulang ke daerah mereka dan membangun kembali Bait Allah di Yerusalem. Perintah raja Persia tidak mungkin bisa dibatalkan oleh apa pun dan perintah raja sebelumnya akan menjadi undang-undang yang mengikat raja sesudahnya (Est. 1:13-15). Maka, berdasarkan kebiasaan ini, raja Darius pun tidak berhak memerintahkan pembatalan perintah raja Koresh yang telah dikeluarkan sebelumnya. Jika Raja Darius saja tidak dapat, apalagi para bawahannya di Yudea. Itulah sebabnya pembelaan mereka ini ditanggapi dengan serius oleh Raja Darius. Raja itu memerintahkan untuk mencari di tempat penyimpanan dokumen-dokumen yang tersebar di Persia dan Media keputusan raja agung Koresh yang memerintahkan Israel pulang ke Yerusalem dan membangun Bait Allah. Ternyata dokumen itu ditemukan di dalam tempat penyimpanan di benteng Ahmeta, Media. Dokumen itu menyatakan dengan tepat apa yang dikatakan oleh orang Israel, bahwa Koresh sendirilah yang memerintahkan mereka untuk membangun Bait Allah di Yerusalem. Bukan hanya bait itu harus dibangun, tetapi Koresh juga memerintahkan agar segala benda-benda berharga dari emas dan perak dan semua yang diambil Nebukadnezar dari Bait Suci harus dikembalikan. Dia juga memerintahkan agar penduduk Persia memberikan persembahan kepada Israel untuk pembangunan Bait Suci ini. Bahkan Koresh juga memerintahkan agar bait itu dibangun dengan biaya dari kas kerajaan Persia. Tuhan telah menggerakkan hati raja Koresh sehingga keputusannya itulah yang menjadi kekuatan bagi orang Israel untuk terus membangun rumah Tuhan.

Untuk direnungkan:

  1. Kadang perintah Tuhan yang datang kepada kita disertai dengan tuntutan yang terlalu besar, melampaui apa yang sanggup kita kerjakan. Orang Israel yang begitu sedikit diancam oleh orang-orang di sekitar mereka dengan dukungan pemerintahan pendudukan dari Persia, bagaimana mungkin mereka berani melawan? Tetapi Tuhan menuntut mereka untuk taat dan setia kepada Tuhan. Tuhan yang akan membuka jalan bagi mereka asal mereka berani taat kepada Tuhan. Inilah yang menjadi renungan kita pada hari ini. Apakah kita siap menaati Tuhan? Jika menaati Dia mendapatkan tantangan dari orang-orang di sekitar kita, apakah kita siap terus taat? Jika menaati Dia mendapatkan hinaan dari rekan-rekan kita sendiri, apakah kita siap terus taat? Jika menaati Dia mendapatkan ancaman dari orang lain, apakah kita siap terus taat? Jika menaati Dia mendapatkan larangan dari pemerintah, apakah kita siap terus taat? Petrus mengatakan bahwa dia harus lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia (Kis. 5:29). Bagaimana dengan kita? Jika kita diperhadapkan dengan dilema seperti ini, apakah yang menjadi keputusan kita? Gereja Tuhan sering mengalami apa yang dialami oleh orang Israel ini: tidak boleh membangun, dilarang menyebarkan Injil, dilarang bersekutu, tidak boleh renovasi, dan lain-lain. Di tengah-tengah keadaan seperti ini, apakah kita sanggup untuk tetap menaati Tuhan? Jika Tuhan yang memerintahkan, tidak boleh ada manusia yang bisa membatalkan. Siapakah manusia? Siapakah teman-teman kita? Siapakah orang-orang di sekitar kita? Siapakah pemerintah? Siapakah raja Persia? Semua adalah manusia yang dicipta oleh Tuhan dan diatur langkah hidupnya serta ditentukan lama hidupnya oleh Tuhan. Nafas manusia boleh tetap ada atau berhenti, semua ada di tangan Tuhan. Tuhan memiliki kedaulatan mutlak atas manusia. Itulah sebabnya tidak boleh ada perintah manusia yang membatalkan ketaatan kita kepada perintah Allah.
  2. Tetapi Tuhan tidak pernah memberikan perintah tanpa memberikan penyertaan dan anugerah yang cukup. Tuhan tidak memerintahkan Abraham untuk pergi ke tanah Kanaan tanpa perkataan “Aku akan memberkati engkau…” (Kej. 12:2). Tuhan Yesus juga tidak memerintahkan kita untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Tuhan tanpa perkataan “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Begitu juga Tuhan tidak memerintahkan orang Israel untuk mengabaikan peringatan pemerintahan pendudukan Persia dan terus membangun Bait Allah tanpa ada dokumen perintah dari raja Koresh yang menjadi kekuatan mereka untuk membangun menurut hukum bangsa Persia. Tuhan bekerja dalam segala hal, sehingga kita bisa percaya bahwa perintah-Nya tidak mungkin mustahil. Perintah-Nya tidak mungkin sembarangan diberikan. Perintah-Nya diberikan selaras dengan diri-Nya yang terus bekerja di dalam segala peristiwa dalam sejarah. Mari belajar percaya kepada Dia. Memang benar bahwa Dia mengatur hidup kita sepenuhnya, tetapi jangan lupa bahwa Dia juga mengatur hidup semua orang lain sepenuhnya. Dia mengatur langkah orang-orang yang memusuhi kita. Dia juga yang mengatur segala peristiwa dalam hidup kita yang akan menunjang segala perintah yang Dia berikan kepada kita. Jika kita tahu bahwa Tuhan berkehendak agar kita menaati firman-Nya, lakukanlah itu dengan berani walaupun banyak orang menentang. Jika kita rindu memberitakan Injil, lakukanlah itu walaupun Iblis akan menggerakkan orang-orang di sekitar kita untuk membungkam kita. Lakukanlah dengan kesadaran bahwa Tuhan menyertai setiap orang yang sedang menjalankan perintah-Nya dan bahwa Tuhan berkuasa atas segala keadaan dan situasi apa pun di sekitar kita.

Doa:

  1. Tuhan, kadang kami terlalu takut, berikan kami keberanian. Kami lebih mementingkan penerimaan dari sesama kami daripada menaati Engkau. Sering kali rasa takut kami kepada manusia lebih besar daripada iman kami kepada-Mu. Tolong kami untuk mengetahui bahwa Engkaulah yang memiliki hidup kami sepenuhnya. Biarlah kami belajar menaati Engkau dan menang atas perasaan takut dan ingin diterima sesama kami.
  2. Tuhan, berikanlah pimpinan dan penyertaan-Mu sehingga dalam situasi apa pun kami terus percaya kepada-Mu dan mengikuti Engkau dengan setia. Kami ingin taat kepada-Mu. Kami ingin berjalan dipimpin oleh-Mu. Karena itu, nyatakanlah penyertaan-Mu, ya Tuhan, sebab itulah satu-satunya sumber kekuatan kami. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *