Ancaman Serangan di Tengah-tengah Pembangunan

Devotion fromĀ Nehemia 4:1-23

Sanbalat, gubernur Samaria, dan Tobia menghina pembangunan tembok orang Israel. Tetapi meskipun mereka menghina dan meremehkan, pada akhirnya mereka ketakutan juga karena tembok itu makin lama makin kokoh. Ketakutan itu mengubah hinaan menjadi ancaman serangan. Ayat 8 mengatakan mereka merencanakan membuat kekacauan dan memerangi orang-orang Israel yang membangun tembok. Mereka sangat gigih melawan pembangunan tembok itu karena daerah merekalah yang paling terancam jika Israel kembali kuat secara politik. Mereka sadar bahwa walaupun yang kembali dari pembuangan hanyalah sekelompok kecil orang, tetapi Israel adalah bangsa yang tersebar dengan jumlah yang banyak di tempat pembuangan. Mereka juga menyadari sejarah Israel yang agung dan disertai Tuhan. Mereka tahu bahwa kalau Israel kembali memiliki otoritas secara politik, maka daerah merekalah yang akan lebih dulu terancam oleh Israel. Maka pembangunan tembok yang sepertinya mustahil dapat dikerjakan ternyata makin terlihat keberhasilannya. Ini membuat mereka memakai strategi apa pun yang perlu untuk menghentikan rencana pembangunan itu.

Ayat 9 mengatakan bahwa orang-orang Yahudi berdoa kepada Tuhan. Mereka tahu bahwa semua rencana pembangunan adalah dari Tuhan dan hanya Tuhan sajalah yang akan membuat pekerjaan itu berhasil. Mereka belajar untuk menggantungkan iman dan segala pekerjaan mereka kepada kuasa dari Tuhan. Tetapi, selain mereka berdoa kepada Allah, mereka juga mempersiapkan senjata untuk membela diri. Mengapa keduanya menjadi begitu penting? Karena doa kepada Allah menunjukkan kebergantungan kepada Tuhan dalam mengerjakan segala sesuatu, dan mempersiapkan senjata menunjukkan ketaatan kepada Tuhan dalam mempersiapkan segala sesuatu. Doa menunjukkan kebergantungan, tetapi semua persiapan dan pekerjaan menunjukkan ketaatan kepada Dia. Bukan hanya mempersiapkan, Nehemia juga mengatur strategi yang sangat baik untuk melindungi pekerjaan membangun tembok itu. Dia menempatkan orang-orangnya dengan ketepatan yang baik untuk berperang.

Strategi itu kemudian berubah ketika serangan dari pihak musuh batal datang. Nehemia membagi rakyat itu menjadi dua. Sebagian yang pertama berjaga-jaga dengan senjata di tangan mereka, sedangkan sebagian yang lain melanjutkan pekerjaan membangun tembok. Nehemia juga sadar kalau rakyat tersebar di berbagai daerah tempat reruntuhan tembok Yerusalem ada, dan karena itu akan sangat lemah jika diserang di salah satu bagian. Maka Nehemia membagikan strategi yang dia rencanakan, yaitu kalau salah satu tempat diserang, sangkakala akan dibunyikan dan seluruh Israel yang tinggal di Yerusalem dan sekitarnya diperintahkannya untuk membantu tempat mana pun yang diserang oleh musuh.

Keadaan yang genting dan cukup menakutkan ini adalah bagian dari perjuangan orang Israel demi pulihnya tanah mereka. Mereka mengalami ancaman berkali-kali tetapi Tuhan masih memimpin dan memberikan penyertaan-Nya dengan cara yang sangat melimpah walaupun sulit untuk dilihat secara langsung. Tantangan dari luar telah dihadapi dan mereka melaluinya dengan baik. Tetapi, sebagaimana kegagalan bangsa Israel di padang gurun terjadi dari dalam diri sendiri, demikian juga bangsa Israel yang baru pulang dari pembuangan ini. Tantangan dari luar seperti Firaun, Aram, Asyur, Babel, semuanya dilewati dengan baik, bahkan dengan kemenangan pada akhirnya. Tetapi untuk kehancuran yang lebih efektif adalah kehancuran dari hal yang lain. Kerajaan Romawi bukan hancur karena serangan dari kerajaan luar, melainkan kerajaan itu hancur dari dalam diri sendiri. Demikian juga Israel akhirnya hancur karena diri sendiri. Diri yang melupakan Allah, diri yang hidup dengan penuh pelanggaran, kebodohan, dan kekejaman.

Untuk direnungkan:
Sama seperti orang Israel mendapatkan tentangan dalam mengikuti Tuhan, demikian juga kita mendapatkan halangan dalam pertumbuhan iman kita. Tetapi kalimat nasihat yang diberikan di dalam ayat 14 juga sangat tepat untuk kita. Jangan takut! Mengapa jangan? Karena apa yang kita lakukan, jika itu sesuai dengan kebenaran Tuhan, akan mendapatkan penyertaan Tuhan dan pembelaan dari Tuhan yang Mahabesar dan dahsyat! Tuhan sendiri akan mengonfirmasikan setiap perbuatan kita yang kita kerjakan dengan motivasi yang sungguh-sungguh murni bagi Tuhan dan demi menjadi saluran berkat bagi orang lain. Tetapi mari kita juga belajar untuk mengetahui apa sajakah yang kita perbuat dari hidup? Berapa persen dari seluruh kegiatan itu kita kerjakan karena sungguh-sungguh sadar Tuhan yang memimpin kita melakukan itu? Bukankah kebanyakan kita kerjakan karena hal yang lain? Kita mengerjakannya karena menguntungkan dari sisi keuangan, atau menyenangkan dan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi bagaimana dengan yang Allah inginkan? Masih adakah orang yang sungguh-sungguh bergumul dalam mencari tahu kehendak Tuhan dengan motivasi yang sungguh-sungguh murni? Masih adakah orang yang bertanya karena sungguh-sungguh ingin tahu mana yang menjadi kesenangan Tuhan supaya kita jalani dengan rela dan tekun? Jika ya, maka doa sungguh-sungguh karena Iblis akan membuat kita takut untuk melanjutkannya. Minta kekuatan dari Tuhan karena tentangan dan halangan akan segera muncul untuk mencegah kita melakukan apa yang menyenangkan hati Tuhan.

Tetapi biarlah kita semua ingat, bahwa selama masih ada kesulitan, penderitaan, tentangan, bahkan penganiayaan, kita berada dalam jalur yang benar. Biarlah kita terus minta Tuhan sendiri yang menguatkan karena kekuatan dari Tuhan akan membuat iman kita bertumbuh berkali-kali lipat bila kita berhasil melewatinya dengan berani dan penuh kemenangan. Jika Tuhan sendiri yang akan memimpin, maka kita tidak takut akan apa pun! Namun ada hal lain yang juga dapat kita pelajari dari bacaan hari ini. Nehemia, walaupun tekun memohon penyertaan dari Tuhan, adalah seorang pemimpin yang mempersiapkan sebaik mungkin strategi untuk mengatasi segala kesulitan yang terjadi. Pendoa sejati bukanlah orang yang pasrah dan begitu pasif di dalam hidup. Pendoa yang sejati justru adalah orang yang mempersiapkan sebaik mungkin untuk apa yang sedang dia doakan. Kita ingin mengatasi rasa takut kita? Kita ingin melewati semua halangan di depan dan ingin mendapatkan kemenangan? Jika kita benar-benar ingin melewati semua halangan dengan keberanian dan kemenangan, maka kita harus sujud kepada Tuhan sambil terus mengerjakan apa yang diperlukan dengan hikmat yang berasal dari Tuhan. Setiap usaha perkabaran Injil atau melayani untuk menyatakan kebenaran pasti akan mendapatkan banyak tantangan. Tetapi pengabar Injil yang sejati akan berlutut dan berdoa sambil juga memperjuangkan apa yang dihadapi di depan dengan ketekunan dan hikmat. Dia akan terus berusaha dengan giat sambil menantikan pertolongan Tuhan.

Hal yang terakhir adalah orang yang sungguh-sungguh berdoa, dia juga akan berjuang dengan hikmat dari Tuhan, sebagaimana sudah dibahas, dan dia juga akan berjuang dengan ketekunan yang besar, sebagaimana dilakukan Nehemia dan pengikutnya (ay. 23). Ketekunan yang menyebabkan Nehemia dan orang-orangnya tidak sempat beristirahat dan berganti pakaian.

Doa:
Tuhan, berikan kami pertolongan-Mu sehingga kami boleh terus dikuatkan oleh penyertaan-Mu dan tangan kuasa-Mu. Tetapi bagaimana mungkin kami berhak memohon untuk dikuatkan oleh Tuhan kalau bukan Engkau sendiri yang memberikan anugerah kami boleh memohon kepada-Mu? Itulah sebabnya kami memohon supaya Engkau sendiri yang menyertai kami dan memberikan kami sekalian kerelaan untuk berjuang bagi nama Tuhan dan berani menghadapi konsekuensi apa pun yang muncul karenanya. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *