Renungan Harian 180 (Minggu, 24 Februari 2019)

Ancaman bagi Nehemia

Devotion from:

Nehemia 6:1-19

Ayat 1 mengatakan bahwa tembok Yerusalem akhirnya berdiri. Pembangunan sudah hampir selesai dan hanya tinggal pintu-pintu gerbang saja yang belum dipasang. Sanbalat dan Tobia, yang semula menghina-hina tembok ini (Neh. 4:2-3) sekarang menjadi begitu gentar karena ternyata tembok itu dapat berdiri kembali. Sanbalat, yang adalah gubernur Samaria, sangat membenci keberhasilan Nehemia. Ada dua kemungkinan mengapa dia membenci pembangunan ini. Yang pertama adalah dia merasa terancam karena kekuasaan Nehemia mungkin akan menyebar ke daerah utara, tempat di mana dia sedang memerintah. Jika benar kekuatan perang Israel kembali tumbuh, maka daerah yang akan lebih dahulu diklaim oleh orang Israel sebagai miliknya adalah daerah di mana Sanbalat tengah menjadi gubernur, yaitu Samaria. Atau alasan kedua adalah dia memang membenci orang-orang Yahudi dan ingin mereka disingkirkan dari tanah Kanaan. Atau mungkin gabungan dari kedua alasan ini. Intinya Kitab Suci mengatakan bahwa Sanbalat sangat membenci keberhasilan orang-orang Yahudi. Maka dia mengatur cara untuk membunuh Nehemia karena Nehemialah kunci kesuksesan orang-orang Yahudi sejak kedatangan Nehemia menjadi gubernur Yehuda. Mereka mau menjebak dia untuk menghadiri pertemuan dengan mereka dan dalam pertemuan itu Nehemia akan dibunuh. Empat kali mereka mengajak Nehemia bertemu tetapi Nehemia selalu menolak karena dia sedang berkonsentrasi dalam pembangunan tembok. Kali kelima mereka mulai memberikan ancaman. Mereka menyatakan bahwa pembangunan tembok Yerusalem sebenarnya akan dipandang sebagai usaha pemberontakan oleh bangsa Persia. Mereka mengajak Nehemia bertemu untuk membicarakan bagaimana caranya agar Persia tidak melihat pembangunan tembok itu sebagai ancaman atas otoritas mereka. Itu sebabnya mereka berusaha menggiring Nehemia untuk setuju datang ke pertemuan yang mereka atur agar dapat membunuh Nehemia, tetapi Nehemia terus menerus menolak bertemu dengan mereka.

Kegagalan untuk mengundang Nehemia tidak membuat mereka berhenti. Strategi berikut yang mereka pakai adalah memakai nabi palsu, yaitu Semaya (ay. 10) untuk bernubuat palsu. Dalam nubuat itu dikatakan bahwa sebaiknya Nehemia berlindung di Bait Suci supaya dia tidak dibunuh. Ayat 10 mengatakan bahwa Nehemia sebaiknya sembunyi di Bait Suci dan mengunci setiap pintu Bait Suci supaya tidak ada seorang pun yang akan masuk dan membunuh Nehemia. Ini adalah strategi untuk mempermalukan Nehemia. Dia akan dianggap sebagai seorang penakut dan berlindung di tempat yang suci demi keselamatan nyawanya. Nehemia menolak rencana ini dan mengatakan bahwa masuk ke Bait Suci karena didorong oleh sifat penakut justru akan mendatangkan kematian. Nehemia tetap mempertahankan diri dari segala godaan untuk tunduk dan takut kepada pengancam-pengancamnya.

Bagian terakhir dalam bacaan hari ini, mulai ayat 14-19, dimulai dengan catatan tentang doa Nehemia kepada Tuhan. Dia terus memohon keadilan Tuhan bagi orang-orang yang berusaha membunuh dia dan menggagalkan pekerjaan Tuhan. Ayat 15 menulis bahwa tembok Yerusalem akhirnya selesai. Musuh-musuh orang Yahudi yang semula menghina usaha ini sekarang menjadi gentar. Sejarah Yerusalem yang sempat mengalami masa jaya di bawah pimpinan Daud sekarang seolah bangkit kembali. Ayat 17-19 menunjukkan kesulitan lain yang harus ditangani Nehemia, yaitu banyak orang besar di Yehuda ternyata adalah orang-orang yang dekat dengan Tobia, musuh Nehemia. Orang-orang ini menjadi kesulitan tersendiri karena, berbeda dengan Nehemia, mereka bertindak berdasarkan dorongan untung rugi pribadi mereka sendiri. Mereka memilih bersahabat dengan Tobia yang sejak awal telah menunjukkan sikap menentang pembangunan tembok di Yerusalem.

Untuk direnungkan:
Ancaman demi ancaman yang diterima Nehemia merupakan suatu ujian bagi Nehemia sekaligus pelajaran bagi kita semua. Siapa yang berpengaruh dan jujur serta menyatakan siapa Allah di dalam lingkungan kerjanya, dia pasti akan mendapatkan tentangan dari orang-orang yang korup. Sangat sulit untuk mempertahankan integritas di tengah-tengah dunia ini. Lingkungan kita akan membuat kita merasa gentar dan takut untuk bertindak sesuai dengan pemahaman iman kita. Lingkungan dapat memberikan ancaman atau pengucilan jika kita tidak mengikuti keinginan mereka. Kitab Suci sangat memahami pergumulan kita karena pergumulan yang kita alami di dalam dunia pada zaman ini adalah pergumulan yang juga ada di dalam dunia Kitab Suci. Zaman modern cenderung membuat pengotak-ngotakan zaman sehingga seolah-olah apa yang relevan pada zaman ini belum tentu menjadi pergumulan zaman yang lampau. Setiap zaman sangat sulit memahami zaman lainnya karena perbedaan yang terlalu dalam ini. Tetapi seorang pemikir Perancis bernama Michel Foucault menulis di dalam studinya mengenai sejarah kegilaan dan sejarah seksualitas bahwa apa yang menjadi permasalahan yang kita hadapi sebenarnya adalah permasalahan yang telah muncul pada zaman yang lampau, hanya kemasannya saja yang berbeda. Orang yang kurang tajam akan melihat kemasan dari permasalahan dan menganggapnya berbeda. Tetapi orang yang tajam akan melihat bahwa di balik kemasan yang sepertinya berbeda, ternyata ada permasalahan yang sama. Zaman sekarang manusia melakukan kejahatan menipu orang lain secara online, melalui email atau sms. Zaman dahulu di mana internet dan HP belum ada, tentu tidak mungkin ada kejahatan online. Tetapi inti di balik kemasan “online” itu adalah penipuan, dan itu sudah ada jauh sebelum internet dan HP ditemukan. Zaman sekarang orang benar yang berani berbicara, akan diancam atau dikucilkan oleh lingkungan yang korup. Bagaimana dengan zaman dahulu? Sama. Nehemia tidak dikucilkan, tetapi diancam akan dibunuh. Ancaman yang menakutkan ini mungkin saja terjadi pada kita. Jika kita mengusik orang-orang dengan kekuatan dan kuasa yang besar, maka mungkin kita akan diancam dengan cara yang sama. Tetapi akankah orang benar bisa dibungkam? Tidak! Nehemia tidak takut ancaman kematian. Dia tidak takut membela kehormatannya untuk menyatakan posisi yang benar dan tidak beranjak walaupun harus mati.

Banyak orang begitu ingin cari aman. Termasuk orang-orang Kristen yang katanya mau melayani Tuhan. Mau melayani Tuhan tetapi tidak mau keluar dari zona nyaman. Orang-orang seperti ini kalau mendapatkan pengucilan dari lingkungan pasti segera mengubah pendiriannya. Yang penting diterima lingkungan. Tidak ada tulang punggung yang kuat menyangga pendiriannya. Apalagi kalau mendapatkan ancaman kematian. Apakah akan terus mempertahankan posisi? Ada juga orang yang digoda dengan tawaran uang dan kenikmatan untuk membungkam suara kebenaran yang harus disuarakan. Tawaran kenikmatan dan uang, ancaman pengucilan dari pergaulan, bahkan ancaman mati akan diberikan kepada orang-orang benar untuk mengubah posisi dan suara kebenaran yang mereka miliki. Ini juga yang akan terus kita alami di dalam hidup kita jikalau kita memutuskan untuk hidup dengan benar dan menyuarakan hal yang benar. Akankah kita kompromikan iman kita? Akankah kita mengubah posisi kita? Akankah kita berhenti dan menyerah menjalankan panggilan kita? Kiranya Tuhan yang menguatkan kita untuk tidak mempermalukan diri dan mempermalukan Tuhan dengan berkompromi dengan dunia ini. Kiranya Tuhan sendiri yang terus menopang kita tetap setia berjuang demi kebenaran-Nya.

Doa:
Tuhan kuatkan kami. Ketika tawaran menggiurkan dari uang dan kenikmatan duniawi datang kami akan menganggapnya sampah. Ketika pengucilan dari lingkungan kami dapatkan kami akan berbahagia di dalam Engkau saja. Ketika ancaman kematian datang kami tahu bahwa nyawa kami ada di tangan-Mu ya Tuhan. Kuatkan kami untuk hidup benar dan menyatakan kebenaran tanpa kompromi. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published.