Kaum Keluarga Orang Yahudi

Devotion from:

Nehemia 7:1-73

Pasal tujuh memberikan catatan mengenai pengawas pintu gerbang Yerusalem. Pengawasan atas seluruh kegiatan di sekitar tembok kota diserahkan kepada Hanani, saudara Nehemia, dan Hananya yang takut akan Tuhan. Sifat takut akan Tuhan membuat Nehemia memercayai mereka dengan tugas ini. Hal berikutnya di dalam ayat 4 hingga ayat 65 didaftarkan kaum-kaum Israel yang pulang ke tanah Yudea pada waktu itu. Baik golongan imam maupun rakyat lainnya semuanya berjumlah tidak sampai 50 ribu orang. Jumlah yang amat kecil jika dibandingkan dengan ketika Israel keluar dari Mesir, di mana pada waktu itu ada 600 ribu orang laki-laki yang siap berperang (Kel. 12:37), belum termasuk perempuan dan anak-anak. Pendaftaran ini adalah fokus selanjutnya dari pemerintahan Nehemia sebagai gubernur Yehuda. Setelah prioritas pertamanya, yaitu pembangunan tembok kota, selesai, maka sekarang Nehemia memberikan fokus kepada rakyat yang tinggal di Yerusalem dan sekitarnya. Penduduk yang begitu sedikit ini tidak membuat iman mereka, yang mengerti firman para nabi, menjadi ciut. Sebab Yesaya sendiri telah menubuatkan bahwa tunas Daud yang Tuhan janjikan bagi Israel akan muncul justru di dalam keadaan jumlah Israel yang sangat sedikit (Yes. 6:13). Tuhan tidak menjanjikan rakyat yang seperti pasir di laut dan bintang di langit ketika Israel pertama kali dipulihkan dari pembuangan. Tuhan menjanjikan bahwa dari kaum sisa inilah justru janji Tuhan akan digenapi. Maka Nehemia tetap melakukan pencatatan dengan tujuan menemukan jalur garis keturunan dan kaum keluarga yang jelas dari setiap orang Israel. Apakah tujuan pencatatan ini selain mengetahui jumlah orang Israel dan jumlah masing-masing kaum keluarganya? Salah satunya adalah untuk menelusuri kembali garis imam dan garis raja Daud. Dua hal yang mutlak harus ada untuk pemulihan Israel. Garis imam harus ada untuk menantikan datangnya garis keturunan raja Daud yang akan mengambil alih baik kerajaan maupun imamat (Mzm. 110:1-4). Maka garis keturunan imam dan raja ini menjadi pengharapan Israel untuk pemulihan yang sempurna.

Tuhan memberikan janji-Nya, dan janji inilah yang menjadi harapan satu-satunya yang menguatkan Israel. Bagaimana caranya mereka bisa bertahan di dalam pembuangan dan di dalam penjajahan bangsa-bangsa asing yang begitu lama dan panjang di Israel? Satu-satunya jawaban adalah janji Allah. Menantikan janji membuat orang memiliki kekuatan menanti yang jauh lebih besar. Penantian inilah yang mendorong Nehemia untuk terus menyelidiki tentang keturunan Sang Mesias itu. Lalu bagian terakhir dari bacaan hari ini adalah catatan mengenai kerelaan para pemimpin kaum Israel untuk mendukung pembangunan tembok dan kota Yerusalem. Mereka memberikan apa yang menjadi beban mereka masing-masing. Tuhan sudah memberkati hidup mereka dan sekarang mereka memberikan apa yang mereka terima dari Tuhan kembali kepada Tuhan untuk pembangunan kota bagi umat Tuhan yang kudus. Mereka juga memberikan persembahan bagi Bait Suci. Barang-barang perak dan emas diberikan untuk Tuhan karena kebaikan Tuhan menuntun kembali umat-Nya pulang. Baik perkakas emas dan perak maupun pakaian untuk para imam, semua diberikan oleh orang-orang yang telah tergerak karena mereka telah memahami visi atas rencana Tuhan bagi Israel.

Untuk direnungkan:
Pekerjaan Tuhan di dalam memulihkan umat-Nya dimulai dari pekerjaan yang kecil dan tidak berarti. Apakah pentingnya atau agungnya sekelompok orang Yahudi yang tinggal di sekitar Yerusalem dengan tembok yang penuh kerusakan dan bait yang sudah hancur? Tetapi Tuhan pelan-pelan memulihkan keadaan mereka. Jika Tuhan sendiri yang telah berjanji memulihkan Israel, maka janji ini akan sanggup Dia kerjakan meskipun dimulai dari sekelompok kecil orang. Betapa agungnya Tuhan kita! Dia memberikan kesempatan untuk orang-orang yang sungguh bertobat dari dosanya dan setelah itu mulai bekerja untuk memulihkan keadaan mereka.

Tuhan akan mendirikan kembali bait-Nya, mendudukkan imam untuk ibadah di Bait Suci, dan pada puncak-Nya, Dia akan mendudukkan Sang Anak Daud di takhta-Nya yang memang adalah hak-Nya. Tetapi proses ini adalah proses yang sangat panjang. Israel terlebih dahulu dipulihkan, tetapi tidak ada imam, tidak ada raja, tidak ada Bait Suci, dan tidak ada kota berbenteng. Maka hal pertama yang Tuhan gerakkan untuk dilakukan adalah pembangunan Bait Suci. Bait Suci harus lebih utama dari rumah pribadi. Bait Suci harus megah karena Tuhan layak ditinggikan dengan keagungan yang sempurna dan megah. Tetapi Bait Suci tetap hanyalah simbol penyertaan Tuhan. Simbol penantian. Harus ada Bait Suci karena Israel masih menanti datangnya Sang Mesias. Itulah sebabnya setelah Sang Mesias datang Dia pun menubuatkan kehancuran Bait Suci. Karena jika yang utama telah datang, maka simbol atau bayangan sementara harus menyingkir. Bait Suci hancur pada tahun 70, tetapi tidak ada masalah dan tidak perlu dibangun lagi, karena Kristus, Sang Bait Allah yang sejati (Yoh. 2:19) telah datang ke dalam dunia. Tetapi sebelum Dia datang, simbol penantian itu harus berdiri di kota pilihan Tuhan, Yerusalem. Setelah itu harus ada imam dan harus ada kota Yerusalem. Mengapa? Karena imamat Lewi juga adalah penantian bagi Sang Imam menurut Melkisedek (Mzm. 110:4). Bagaimana dengan kota Yerusalem? Kota itu adalah lambang penantian untuk kota baru yang Tuhan akan nyatakan. Yerusalem baru, yang turun dari sorga, yang berhias seperti pengantin perempuan menantikan pengantin laki-lakinya (Why. 21:2), inilah yang dinanti oleh umat Tuhan. Simbol penantian itu, baik Bait Suci, imam, maupun kota Yerusalem harus dibangun dan harus dipelihara hingga penggenapannya, yaitu Kristus, datang dan mengklaim takhta-Nya.

Mari kita renungkan sungguh-sungguh. Jika simbol penantian diperlakukan begitu serius oleh umat Tuhan, bagaimanakah kita memperlakukan Kristus yang telah datang menggenapi seluruh janji Allah? Kita jauh lebih longgar dan jauh lebih tidak menghargai Tuhan dibandingkan dengan orang Yahudi yang mempunyai ketekunan dan kegigihan untuk mengenal Tuhan. Orang Yahudi menghargai setinggi mungkin Bait Suci tempat ibadah mereka. Sedangkan gereja Tuhan memiliki Bait Suci yang sejati, yaitu Kristus, tetapi kita lupa memberikan penghormatan yang seharusnya kepada Tuhan dan Raja kita! Kita perlu belajar menantikan Sang Mesias setekun mereka menantikan Sang Mesias. Biarlah kita juga boleh memiliki kehangatan kasih dan juga kepedulian terhadap sesama, tetapi yang lebih penting dari semua, adalah kerohanian yang sungguh-sungguh hidup dalam penantian akan kedatangan Sang Mesias itu, yaitu Kristus yang akan datang kedua kalinya nanti. Jika orang Yahudi menanti Mesias yang belum datang dengan pengharapan, kerinduan, dan keagamaan yang sungguh-sungguh, betapa lebihnya lagi kita yang telah ditebus oleh darah-Nya, ingin menantikan dengan penuh pengharapan, kerinduan, dan kesalehan yang sungguh-sungguh. Hal ini sangat kurang di dalam diri orang-orang Kristen. Pernahkah kita meluangkan waktu hanya untuk merenungkan tentang Kristus? Berdoa menyatakan kerinduan kita untuk bertemu dengan Kristus? Memohon supaya waktunya diperpendek sehingga Dia segera datang dan memperbaiki segala sesuatu? Kita sangat kurang dalam hal-hal seperti ini. Kerohanian kita begitu dangkal, jauh lebih dangkal dari pemahaman kita tentang siapakah Kristus. Mari belajar mengarahkan seluruh aspek hidup untuk berpusat pada Kristus yang telah datang dan yang akan datang kembali. Jika seorang pengantin perempuan sudah dekat dengan hari pernikahannya, tetapi dia sibuk mengurus hal-hal lain, dan bukan pernikahannya, maka kita tahu bahwa dia sebenarnya tidak terlalu mengharapkan pernikahan itu. Jika kita orang Kristen sibuk mengerjakan segala sesuatu tetapi tidak pernah mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus yang kedua kali, hanya ada satu kesimpulan, jangan-jangan kita tidak terlalu mengharapkan Dia datang kembaliā€¦

Doa:
Ya Tuhan, berikan kami hati yang memahami bahwa seluruh karya-Mu memulihkan kembali Israel adalah untuk mengumpulkan suatu umat yang menantikan kedatangan Sang Mesias. Tuhan, berikan kami hati yang merindukan Kristus dan menanti-nantikan saat kedatangan-Nya kedua kalinya nanti. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *