Renungan Harian 185 (Jumat, 1 Maret 2019)

Penduduk Yerusalem yang Pertama

Devotion from:

Nehemia 11:1-36

Ketika Israel dan Yehuda ada di dalam pembuangan, perlahan-lahan Yerusalem menjadi seperti kota mati (Yes. 5:13-14). Kota itu ditinggalkan penduduknya dan menjadi sunyi dan bangunan-bangunan yang ada hanyalah reruntuhan saja (Yer. 43:5-7, Neh. 2:17). Keadaan makin parah karena sejak kembalinya orang Yahudi menempati daerah Yehuda, sikap bermusuhan dari penduduk yang telah mengambil alih tanah Yehuda dan tinggal di dalamnya menjadi makin terlihat, terutama ketika rencana membangun tembok makin terdengar (Neh. 2:10). Tetapi jika Yerusalem ingin dipulihkan, maka harus ada penduduk Israel yang tinggal di sana dan membangunnya kembali hingga menjadi kota yang hidup sekali lagi (Yer. 33:10-11).

Nehemia 11:2 mengatakan bahwa untuk menentukan siapa yang akan tinggal di Yerusalem harus dikenakan undian. Sepersepuluh penduduk Israel yang telah kembali dari pembuangan akan pindah ke Yerusalem, dan mereka adalah para pemimpin (11:3) dan rakyat yang terpilih berdasarkan undian. Betapa menyedihkan keadaan Yerusalem sehingga orang harus dipaksa untuk tinggal di situ melalui undian. Tetapi keadaan menyedihkan ini adalah keadaan sementara yang penuh dengan pengharapan akan terjadinya pemulihan. Dalam ayat 2 ini orang-orang yang tinggal di Yerusalem diberkati oleh penduduk yang lain (diterjemahkan “memuji” oleh LAI, tetapi lebih tepat “memberkati”) karena mereka tahu betapa berat kehidupan di Yerusalem di awal-awal pemulihannya. Mereka akan menjadi target konflik dan juga mereka harus mulai membangun dari reruntuhan di Yerusalem untuk memulihkan kota suci itu. Itulah sebabnya seluruh orang Israel yang tinggal di luar Yerusalem memohonkan berkat bagi mereka yang akan tinggal di Yerusalem. Mereka memerlukan kekuatan lebih, hikmat, dan juga iman kepada Tuhan yang akan memulihkan keadaan kota mereka. Perjuangan dan pengorbanan mereka untuk membangun kembali tempat tinggal mereka serta kerelaan untuk meninggalkan rumah mereka sendiri dan segala kenyamanannya bagi yang mulai mapan, semua ini bukanlah hal yang mudah. Hanya karena Tuhan menopang dengan kekuatannya maka kota ini akan pulih kembali, sesuai dengan janji Tuhan.

Nehemia 11:3 mengatakan bahwa selain orang-orang yang diundi, para pemimpin juga tinggal di Yerusalem. Teladan dari para pemimpin untuk berkorban sehingga dapat menjadi pemimpin yang dihormati sangat perlu untuk membangun kembali Israel dan kota Yerusalem. Bagaimana mungkin mereka dapat bertahan kalau tidak ada pemimpin yang layak menjadi pimpinan di Yerusalem. Mereka merindukan Anak Daud akan segera bertakhta kembali, tetapi anak-anak Daud generasi demi generasi ternyata banyak sekali yang hidup rusak, bahkan menyebabkan Yehuda dibuang ke Babel dan Yerusalem beserta Bait Suci di dalamnya dihancurkan bangsa lain. Mereka tidak memerlukan keturunan Daud secara fisik saja, tetapi mereka memerlukan seorang pemimpin yang cinta Tuhan dan rela berkorban demi Tuhan dan pekerjaan-Nya. Tanpa orang seperti ini mereka tidak memiliki harapan apa pun untuk bertahan, apalagi memulihkan Israel dan Yerusalem. Pemimpin-pemimpin ini ternyata tetap Tuhan berikan bagi Israel. Mereka memberi teladan dengan rela tinggal di Yerusalem untuk membangun kota itu. Tetapi, selain ada pemimpin-pemimpin politik dan para pemimpin agama (imam) rela tinggal di Yerusalem, Tuhan juga membangkitkan orang-orang yang lain untuk menyatakan pekerjaan-Nya bagi seluruh zaman.

Nehemia 11:6 menyatakan bahwa, walaupun jumlahnya sangat kecil, tetapi Tuhan tetap bangkitkan orang-orang gagah perkasa pada zaman ini. Orang-orang yang siap berperang dan menjadi kekuatan militer bagi Israel yang baru. Tetapi jumlah mereka begitu sedikit, hanya beberapa ratus saja. Bandingkan dengan pasukan Asyur yang menyerang Yerusalem di bawah pemerintahan Hizkia (180 ribu orang tentara), atau pasukan raja Zerah dari Etiopia (2Taw. 14:9). Namun demikian, seperti yang dikatakan Yonatan, tidak sulit bagi Tuhan untuk menolong walaupun dengan sedikit orang saja (1Sam. 14:6). Tuhan memberikan penduduk awal bagi Yerusalem pasca pembuangan ke Babel. Dari mereka inilah kota itu akan didandan dan dipercantik hingga sekali lagi menjadi keagungan bagi seluruh dunia sebagai simbol penantian kesempurnaan janji Tuhan.

Untuk direnungkan:
Dalam bagian ini kita dapat merenungkan dua hal. Yang pertama adalah rancangan Tuhan yang agung untuk memulihkan kota Yerusalem demi rencana keselamatan-Nya. Tuhan membangun kembali kota suci-Nya dengan perlahan tetapi pimpinan-Nya akan menjamin pekerjaan-Nya terjadi dengan sempurna. Tuhan membangun dari reruntuhan karena janji-Nya memulihkan Israel dan Yerusalem. Tuhan memegang janji-Nya. Tidak ada yang akan membatalkan apa yang telah Dia rancang. Ini membuat kita dengan yakin berpegang kepada janji-Nya. Beriman kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa bukti. Tuhan telah menyatakan bukti-Nya berkali-kali di dalam sejarah. Tetapi beriman kepada Tuhan juga tidak bisa dilakukan dengan liar. Tuhan hanya akan menjalankan apa yang Dia rencanakan di dalam kedaulatan-Nya. Dia tidak akan mungkin diatur oleh manusia. Jika kita menuntut Dia mengerjakan sesuatu, dan kita memakai kata “iman” untuk membuat Dia terikat melakukan yang kita mau, maka kita sebenarnya belum mengenal siapa Dia. Tuhan tidak bodoh. Dia tidak akan terikat oleh perintah kita. Dialah yang berdaulat. Tetapi, meskipun Dia berdaulat, Dia juga adalah Allah yang rela mendengar doa. Dia akan menyatakan rencana-Nya, tetapi Dia akan menyatakan-Nya dengan mempertimbangkan doa dari orang-orang suci, yang mengasihi Tuhan, dan yang memohon dengan tulus dan murni, dengan segala kerendahan hati. Allah kita melibatkan doa kita dalam menyatakan rencana-Nya di dalam sejarah. Itulah sebabnya Tuhan memakai doa Nehemia di dalam Nehemia 1:11 untuk menjalankan rencana-Nya membangun tembok Yerusalem. Berdoalah kepada Tuhan dengan jujur, sungguh-sungguh, dengan rendah hati dan sikap tunduk kepada Dia sebagai Raja di atas segala raja, dan Dia akan mendengarkan doamu.

Hal kedua yang dapat kita renungkan adalah rancangan Tuhan selalu terlaksana karena Tuhan menggerakkan orang-orang untuk berbagian di dalam rancangan itu dengan kerelaan untuk berkorban. Apakah yang dilakukan Nehemia setelah dia mendoakan untuk pemulihan Yerusalem? Dia meninggalkan kenyamanan di istana dan pergi ke kota reruntuhan, Yerusalem. Dia berkorban untuk tinggal di kota ini walaupun keadaannya jauh lebih buruk dan bahaya dibandingkan jika dia terus tinggal di istana raja Persia. Tetapi dia tetap rela berkorban dan menjalankan apa yang Tuhan bebankan kepada dia. Apakah beban kita sungguh-sungguh dari Tuhan? Apakah pokok-pokok doa kita sungguh-sungguh dari Tuhan? Jika ya, maka beban doa akan ada bersama-sama dengan kerelaan berkorban. Kita mendoakan penginjilan? Itu baik. Tetapi apakah kerinduan berdoa juga muncul bersama-sama dengan kerinduan untuk terjun dan mengorbankan sesuatu demi berita Injil? Para pemimpin dan para imam rindu Yerusalem dipulihkan. Apakah cukup hanya dengan mendoakan? Tidak. Mereka menjadi kelompok pertama yang tinggal di Yerusalem. Tuhan memunculkan dan memakai orang-orang yang berani dan rela berkorban, dan dengan cara inilah Dia menyatakan di dalam dunia ini apa yang Dia telah rencanakan di dalam kekekalan. Kita terbeban gereja Tuhan dibangunkan dan bertumbuh? Sudahkah kita mendoakannya? Sudahkah kita digerakkan untuk terjun dan terlibat? Sudahkah kita memiliki kerelaan untuk berkorban demi hal itu?

Doa:
Tuhan, berikanlah kami beban yang sejati untuk gereja Tuhan dipulihkan, dibangunkan, dan dipertumbuhkan. Kami rindu menyaksikan Tuhan bekerja. Dan kerinduan kami ini juga kami nyatakan dengan kerelaan untuk dipakai oleh Tuhan. Bukan hanya itu saja, kami pun rela jika harus berkorban demi gereja-Mu. Pakailah kami, doa kami, beban kami, kerelaan kami, dan pengorbanan kami, ya Tuhan. (JP)