Renungan Harian 203 (Rabu, 20 Maret 2019)

Berbahagialah Para Pembawa Berita Injil

Devotion from:

Matius 5:1-12

Kita tiba dalam bagian terakhir dari ucapan bahagia di dalam Matius 5 ini. Ayat 9 mengatakan berbahagialah orang yang membawa damai. Siapakah pembawa damai ini? Yang pertama adalah orang-orang yang secara aktif berinisiatif berdamai dengan musuh-musuhnya. Inilah tahap pertama yang harus ada pada diri orang-orang yang membawa damai. Bagaimana mungkin dia menjadi pembawa damai kalau dirinya sendiri belum berdamai dengan orang-orang yang menjadi musuhnya? Dia dengan aktif memperbaiki relasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Tetapi pembawa damai juga harus mampu memperdamaikan pihak lain yang sedang berkonflik. Dia bukan hanya berdamai dengan musuhnya saja, tetapi juga mempunyai sifat mau mendamaikan orang yang sedang berkonflik dengan menjadikan dirinya mediator. Apakah cukup sampai di sini? Ternyata tidak. Nuansa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus di sini berkait dengan apa yang tertulis di dalam Yesaya 52:7. Betapa bahagianya orang-orang yang membawa kabar baik bahwa Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan umat-Nya. Di seluruh alam semesta ini hanya Allah sajalah yang tidak perlu berinisiatif memperbaiki relasi yang rusak. Mengapa tidak? Karena Dialah sumber segala sesuatu. Dialah kebenaran, kekudusan, kebajikan, bijaksana, keadilan yang sempurna dan sejati. Jika Dia memiliki musuh, maka itu berarti musuh-musuhnya sedang bermusuhan dengan sifat-sifat ilahi-Nya dan atribut-atribut moral-Nya. Siapa bermusuhan dengan Allah berarti bermusuhan dengan kebenaran. Bermusuhan dengan kekudusan. Bermusuhan dengan kebajikan. Bermusuhan dengan bijaksana. Bermusuhan dengan keadilan yang sempurna dan sejati. Maka siapa pun yang menjadi musuh Allah, dia harus segera dibinasakan karena telah bermusuhan dengan Allah Sang Pencipta dan tidak lagi mempunyai harapan karena dia telah bermusuhan dengan segala sifat dan karakter yang benar, bajik, adil, dan sempurna yang tidak mungkin terpisah dari diri Allah.

Setelah kita memahami ini semua, barulah kita sadar betapa besar dan agungnya kasih dan pengampunan Allah. Dia rela mendamaikan diri-Nya dengan umat-Nya yang telah memberontak terhadap Dia. Ini berarti ketika Allah menawarkan perdamaian-Nya dengan manusia, Dia telah melakukan sesuatu yang diluar pengertian dan rasio kita. Kita tidak mengerti mengapa Allah rela berinisiatif memperbaiki relasi yang telah dirusak oleh kita, manusia ciptaan-Nya. Allah telah menjadi pendamai antara diri-Nya dengan umat-Nya, dan untuk membuat umat-Nya mengetahui hal ini, Dia mengirimkan utusan-Nya, yaitu para pembawa damai. Inilah yang dimaksudkan di dalam Yesaya 57:2 dan ini jugalah yang dimaksud dengan orang yang membawa damai di dalam Matius 5:9! Tuhan mengirim utusan ini untuk menyerukan kepada umat-Nya, “Hai, umat Tuhan! Masa pembuangan telah berakhir! Tuhan telah datang menjemputmu! Dia akan kembali mengasihi engkau dan mau berdiam bersama-sama dengan engkau!” Ini merupakan berita yang sangat agung sehingga menjadikan para utusan juga orang-orang yang agung. Mereka menjadi orang-orang yang agung bukan karena karakter dan kepribadian yang mereka miliki, tetapi karena agungnya berita yang mereka bawa.

Pembawa damai ini disebut berbahagia. Mengapa bahagia? Karena boleh melayani Tuhan dengan memperkenalkan kasih dan pengampunan Allah kepada umat-Nya. Seperti seorang utusan dari tentara, yang diutus untuk memberitakan kabar kemenangan perang, demikian seorang utusan Injil bersukacita ketika membawa berita ini kepada orang lain. Tetapi ayat 9 memberikan alasan yang jauh lebih agung lagi untuk berbahagia. Mengapa mereka berbahagia? Mereka berbahagia, karena Allah menganggap mereka sebagai anak-anak-Nya sendiri. Utusan yang memiliki hak ahli waris, bukan hamba yang hanyalah pelayan tuannya. Inilah para pembawa damai itu. Mereka bukan hamba yang diutus raja mereka untuk membawa berita damai, tetapi mereka adalah anak-anak Allah yang diutus Allah kepada dunia untuk membawa berita pendamaian itu. Betapa hormat dan mulia posisi yang dimiliki. Sebab, sebagaimana Allah mendamaikan diri-Nya dengan dunia dengan mengutus Anak Tunggal-Nya, demikian sekarang Allah memercayakan berita pendamaian itu kepada anak-anak-Nya yang diadopsi-Nya melalui penebusan Sang Anak Tunggal.

Di dalam ayat 10-12 dikatakan bahwa orang-orang yang membawa berita damai ini terkadang harus menderita. Mereka membawa pesan agung bahwa Allah mau mendamaikan diri-Nya dengan dunia, tetapi berita damai selalu identik dengan seruan agar hidup benar. Tidak mungkin berita damai ini memberikan pendamaian yang sejati kecuali di tengah-tengah berita damai ini ada seruan yang menyatakan dosa dan teguran untuk segala bentuk kecemaran. Tanpa seruan “Bertobatlah kamu!” tidak akan ada perdamaian sejati. Inilah yang membuat pembawa berita kebenaran ini dianiaya oleh orang-orang yang tersinggung karena berita mereka. Semua orang fasik yang membenci pembawa berita benar ini akan menghina, menganiaya, dan mengabarkan fitnah terhadap pemberita kebenaran itu karena seruan yang menegur mereka. Tetapi Tuhan menjanjikan upah yang besar di surga. Sama seperti para nabi yang mengabarkan berita damai dan seruan pertobatan dianiaya oleh orang Israel, demikian juga orang-orang yang membawa berita pendamaian itu dianiaya oleh orang-orang pada zaman Tuhan Yesus. Ini juga merupakan nubuat Tuhan Yesus. Hingga sekarang orang-orang yang membawa berita Injil juga harus mengalami ancaman dan aniaya. Betapa besar kehormatan boleh dianggap layak menderita sama seperti para nabi telah menderita.

Untuk direnungkan:
Betapa pentingnya para pemberita damai itu! Maukah kita berbagian di dalamnya? Menjadi pengabar Injil, menyatakan berita pendamaian di dalam pengorbanan salib Yesus Kristus, dan menantang orang-orang untuk kembali kepada Tuhan melalui iman kepada Yesus Kristus? Bahagia yang sangat besar menjadi bagian dari para pengabar Injil. Para pengabar Injil memiliki bahagia yang tidak tergantikan karena mereka sangat memahami kasih Allah yang besar. Orang yang menyadari betapa agungnya cinta kasih Allah yang telah mendamaikan diri-Nya dengan dia, pasti akan menemukan bahagia yang tidak tergantikan di dalamnya. Betapa besar sukacita orang-orang yang hutang dosanya yang begitu membebani sekarang telah dibersihkan oleh Tuhan? Sukacita ini menggerakkan para pengabar Injil untuk memberitakan Injil-Nya. Kita telah mengenal kasih dan pengampunan Allah melalui Tuhan Yesus. Mengapa tidak memberitakan kasih dan pengampunan itu kepada orang lain? Apa yang menghalangi kita berbicara? Berdoa kepada Tuhan supaya kasih Allah yang telah kita alami merobohkan apa pun penghalang itu.

Bahagia yang kedua, seperti dikatakan oleh Yesus di dalam ucapan bahagia ini: para pemberita Injil itu berbahagia karena mereka disebut anak-anak Allah. Ini merupakan suatu posisi yang hormat dan agung karena melambangkan otoritas yang sangat besar. Di dalam Perjanjian Lama, kata “anak-anak Allah” dipakai untuk menggambarkan otoritas politik tertinggi, yaitu otoritas politik dari raja (Mzm. 82:1-6). Tetapi lebih dari sekadar otoritas, anak-anak Allah juga menggambarkan keintiman yang erat dengan Allah. Hanya anak-anak Allah yang dapat menyebut Allah sebagai “Bapa”. Hanya mereka yang boleh menikmati relasi dengan Allah seperti seorang anak dengan bapanya. Ini adalah suatu keistimewaan yang sangat besar. Tetapi selain penuh dengan bahagia, terkadang para pengabar Injil ini mengalami kesulitan. Ada yang dihina, diejek, difitnah, diusir, dipukul, disiksa, dianggap sebagai penjahat, bahkan dibunuh! Berita yang sangat agung dari Allah yang mau mendamaikan diri-Nya dengan manusia, ditanggapi dengan cara yang sangat berdosa oleh manusia yang fasik. Mereka membunuh Anak Allah, dan setelah itu mereka juga membunuh para utusan pembawa damai itu. Ketika Allah mengulurkan tangan-Nya untuk berdamai dengan mereka yang telah bersalah kepada Allah, mereka malah meludahi tangan-Nya dan menghina Dia dengan sangat. Betapa besar kesabaran Allah kita karena Dia tetap rela menawarkan berita pendamaian itu kepada manusia yang sudah begitu cemar dan rusak.

Doa:
Tuhan, pakai kami menjadi pemberita Injil-Mu. Kami rindu orang lain mengalami pendamaian yang telah kami alami. Kami rindu agar uluran tangan kasih-Mu boleh dilanjutkan kepada orang lain melalui kami. Biarlah kami boleh merasakan sukacita yang besar sebagai anak-anak-Mu yang membawa berita teragung dari Allah kepada manusia. Sertai kami juga sehingga ketika kami diperlakukan dengan jahat oleh dunia ini, penghiburan serta kekuatan Tuhan tetap kami rasakan. Dengarlah doa ini, ya Tuhan. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published.