Penghakiman dan Doa

Devotion from:

Matius 7:1-11

Pengajaran Yesus selanjutnya adalah mengenai relasi kita dengan sesama dan dengan Tuhan. Relasi kita dengan sesama harus menyeimbangkan dua hal, yaitu tidak menghakimi, tetapi harus memberikan penilaian. Kedua hal ini sepertinya bertentangan. Tidak menghakimi, tetapi menilai orang lain? Apakah bedanya menghakimi dengan menilai? Kita akan membahas yang pertama dulu, yaitu jangan menghakimi.

Di dalam ayat 1 dikatakan bahwa kita tidak boleh menghakimi jika kita tidak ingin dihakimi. Ini berarti bahwa ukuran yang kita terapkan ke orang lain juga akan diterapkan kepada kita. Inilah maksudnya jangan menghakimi. Tuhan Yesus tidak melarang kita menghakimi, tetapi Dia mengingatkan bahwa standar menghakimi adalah kebenaran Tuhan, bukan kebenaran menurut diri sendiri. Kebenaran inilah yang menjadi standar menghakimi orang lain maupun menghakimi diri sendiri. Maka di dalam Yohanes 7:24 dikatakan bahwa kita harus menghakimi dengan adil. Itulah sebabnya sebelum kita menghakimi dengan suatu ukuran, ingat bahwa ukuran yang sama akan diterapkan juga kepada kita. Penghakiman yang Tuhan Yesus larang adalah penghakiman yang meletakkan standar kepada orang lain tetapi yang menghakimi tidak menerapkan standar itu kepada dirinya sendiri. Dia melihat selumbar di mata orang lain, tetapi dia tidak sadar ada balok di matanya sendiri. Sudahkah kita siap jika standar yang kita pakai diterapkan kepada diri kita sendiri? Sebelum kita mengajar orang lain, sudahkah kita mengajar diri kita sendiri (Rm. 2:21)? Jika orang lain gagal berdasarkan standar yang kita terapkan kepada dia, yakinkah kita kalau diri kita sendiri tetap berdiri teguh jika standar yang sama diterapkan kepada kita? Maka jangan memberikan penghakiman kalau kita tidak siap untuk berlaku adil dan menerapkan penghakiman yang sama kepada diri sendiri.

Hal kedua yang dibahas adalah kita harus menilai orang lain. Ayat 6 mengatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang sama cemarnya dengan anjing atau babi. Orang-orang seperti ini akan menolak barang yang kudus, yaitu firman Tuhan dan hikmat-Nya. Ada orang-orang pencemooh yang tidak berhak mendapatkan firman Tuhan yang begitu agung dan kudus. Mereka ini harus disadari keberadaannya. Orang-orang di dalam gereja pun tidak semuanya sudah sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Masih ada orang-orang yang tidak layak mendapatkan firman yang kudus karena mereka terus mengeraskan hati dan melawan. Orang-orang yang terus menerus menunjukkan diri sebagai lawan dari pekerjaan Tuhan mungkin adalah orang-orang seperti ini. Hal yang kudus seperti firman Tuhan, Injil Kristus, teguran yang murni dan suci, persekutuan di dalam Tuhan, adalah hal-hal yang tidak layak diberikan kepada mereka yang terus menerus menolak. Makin diberitakan makin ditolak. Makin dikabarkan makin dihina. Untuk orang-orang seperti ini ada waktunya kita harus mengebaskan debu dan beralih kepada orang lain (band. Kis. 13:46). Jangan merendahkan firman Tuhan dan keagungan berita Injil untuk orang-orang yang terus menerus menghina kesempatan yang tiba pada mereka. Mereka tidak mau mendengar? Tegur kembali. Masih juga mengeraskan hati? Tegur kembali. Sampai mereka menghina teguran dan firman Tuhan, serahkan mereka kepada belas kasihan Tuhan dan beralihlah kepada orang lain. Kiranya kita boleh peka melihat siapa yang layak mendapatkan terus hal kudus yang berasal dari Tuhan dan siapa yang perlu diabaikan karena kekerasan hatinya yang tidak juga mau berubah.

Hal ketiga di dalam pembahasan hari ini adalah relasi kita dengan Bapa di surga. Inilah salah satu harta berharga yang tidak akan dimiliki oleh mereka yang gigih menentang, harta memiliki Bapa di surga yang mulia dan berkuasa atas segala sesuatu. Kita, yang telah dijadikan anak-anak Allah oleh karena Kristus, kini dapat meminta kepada Bapa dengan keyakinan bahwa Dia pasti mendengar dan mengabulkan sesuai dengan apa yang kita perlukan untuk bertumbuh di dalam Dia. Ayat 7 mengatakan bahwa kita harus meminta, mencari, dan mengetok. Tiga contoh ini adalah kegiatan untuk mendapatkan sesuatu: meminta, mencari, mengetok. Meminta menunjukkan adanya kebutuhan yang dipenuhi dengan memohon kepada orang lain. Mencari menunjukkan adanya kegigihan untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan. Mengetok menunjukkan suatu keadaan darurat yang mendorong seseorang untuk memohon pada waktu yang tidak biasanya (Luk. 18:3-5). Tiga hal ini digunakan sebagai contoh oleh Tuhan Yesus. Dia sedang memberikan pengertian bahwa orang lain akan memberikan apa yang kita minta kalau ada kegigihan dalam meminta. Jika seseorang meminta, bekerja keras untuk mencari, dan dengan gigih mengetok pintu rumah orang lain untuk memohon sesuatu yang dia butuhkan, akankah orang lain itu menolak? Jika permintaannya tidak masuk akal, maka pasti orang lain itu akan menolak. Tetapi jika permintaannya adalah benar dan pantas, apakah mungkin dia akan ditolak jika dia meminta dengan gigih?

Contoh meminta dengan ngotot ini dipakai Tuhan Yesus untuk menjadi perbandingan jika kita meminta kepada Bapa di surga. Akankah Dia mengabaikan kita jika kita meminta sesuatu yang baik? Akankah Dia mengusir kita jika Dia tahu kita memerlukan apa yang kita minta itu? Tidak mungkin. Dia pasti akan memberikan kepada kita apa yang kita perlukan itu dengan murah hati dan limpah. Apakah yang kita perlu minta dari Tuhan? Hikmat untuk menjalani hidup sesuai dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah tema yang terus menerus berulang di dalam khotbah di bukit ini, maka hal baik yang menjadi pembahasan di dalam ayat 11 tidak mungkin terpisah dari Kerajaan Allah. Begitu juga di dalam Matius 6:33 ada perintah untuk mencari Kerajaan Allah. Carilah Kerajaan Allah! Mintalah untuk mengerti Kerajaan Allah! Ketoklah untuk boleh masuk dan berbagian dalam berjuang bagi Kerajaan Allah! Inilah inti dari permintaan kita kepada Allah. Allah tidak akan memberikan yang salah. Jika permintaan kita salah pun Dia tetap akan memberikan yang benar. Dia tidak akan mengabulkan permintaan kita yang menjerumuskan kita sendiri. Tetapi jika kita meminta untuk memahami Dia dan rencana-Nya, pastilah Dia akan mengabulkannya sebab itulah hal baik yang sangat kita perlukan untuk menikmati Dia dan memuliakan Dia.

Untuk direnungkan:
Mari kita memikirkan baik-baik tentang hal-hal yang menjadi prinsip hidup di dalam Kerajaan Allah. Kita harus memahami bahwa ada standar yang berlaku bagi kita sendiri dan bagi orang lain. Standar ini mencegah kita untuk menghakimi orang lain tanpa mengawasi diri sendiri. Tidak seorang pun berhak menghakimi orang lain sebagai hakim. Hanya satu Hakim, yaitu Kristus. Tetapi setiap orang berhak menghakimi orang lain dan diri sendiri berdasarkan standar dari Sang Hakim, yaitu Kristus. Sebelum kita menilai rendah orang lain, harap ingat sesuatu, sudahkah kita menyadari keadaan kita di bawah penghakiman yang sama? Jika kita ternyata memang lebih baik dari orang lain berdasarkan standar yang sama, sudahkah kita memiliki kasih dan kesabaran untuk menuntun dia bertumbuh?

Hal berikut yang menjadi pergumulan kita hari ini adalah tentang waktu Tuhan dan kesabaran-Nya. Tuhan akan menutup jalan bagi orang-orang yang terus menerus menghina kesempatan yang diberikan kepada mereka. Mereka bagaikan anjing dan babi yang tidak mengerti mutiara. Orang-orang yang hidup di dalam kelimpahan anugerah, tetapi menghina Tuhan dan menghina anugerah-Nya, adalah seperti anjing dan babi yang menghina mutiara dan menyerang si pemberi mutiara. Adakah kita membawa berita baik dari Allah? Hati-hati dengan mereka, mereka bukan saja menolak teguran, Injil, dan firman yang dibawa kepada mereka, mereka juga akan mengoyak-ngoyak si pembawa berita.

Hal terakhir adalah mengenai mencari posisi kita di dalam Kerajaan Allah. Apakah kita telah mengetahui panggilan kita di dalam Kerajaan-Nya? Sudahkah kita tahu harus berjuang di dalam hal apa bagi Tuhan? Jika belum, mintalah kepada-Nya! Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya! Ketoklah, maka Tuhan akan membukakannya kepada kita pada waktu-Nya.

Doa:
Ya Allah Bapa kami, kami memohon supaya kami hidup berdasarkan standar Tuhan dan memiliki hati penuh kasih dan kesabaran bagi mereka yang gagal hidup berdasarkan standar Tuhan. Berikan kami juga hati yang peka untuk melayani mereka yang Tuhan ingin untuk dilayani. Jangan biarkan kami menghabiskan waktu untuk orang-orang yang terus keraskan hati dan menghina Tuhan, tetapi jangan biarkan kami kehilangan kesabaran untuk orang-orang yang keras hati tetapi masih Tuhan berikan kesempatan. Hal terakhir kami memohon supaya Tuhan memberikan kami panggilan yang jelas agar kami tahu apa yang harus kami lakukan di dalam Kerajaan Allah. Berikan kami pengertian dan kekuatan untuk berperang bagi Kerajaan-Mu dengan cara dan di tempat yang Engkau mau, ya Tuhan kami. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *