Penutup Khotbah di Bukit

Devotion from:

Matius 7:24-29

Di dalam ajaran para rabi, sering dikatakan bahwa siapa yang memegang ajaran Taurat dan melakukannya akan seperti bangunan yang kokoh dibangun di atas batu dan tidak mudah dihanyutkan air. Tetapi pada bagian ini Tuhan Yesus menyamakan kata-kata pengajaran-Nya dengan Taurat. Mengapa Dia berhak melakukan hal ini? Karena Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Dia adalah Pribadi kedua Allah Tritunggal. Dia adalah Anak Allah yang berkuasa. Dia berfirman dan firman-Nya harus diterima sebagai firman Allah yang Mahakuasa. Itu sebabnya ajaran-Nya harus disetarakan dengan Taurat. Tuhan Yesus bukan hanya menafsirkan Taurat saja. Dia bukan hanya membahas dan mengeksposisinya. Dia memberikan pengajaran yang memiliki otoritas yang sama dengan Taurat. Maka Tuhan Yesus mengambil kalimat ajaran para rabi ini dan mengganti “ajaran Taurat” dengan “ajaran-Ku”. Siapa yang menjalankan ajaran Kristus, dialah yang mendapatkan manfaat dari setiap hikmat ilahi yang Dia nyatakan.

Yesus Kristus memiliki keberadaan yang unik dan tidak mungkin mampu digantikan oleh siapa pun. Dia adalah Allah sejati. Karena Dia adalah Allah sejati, maka perkataan-Nya adalah firman Allah yang Mahakuasa. Dia bukan hanya mengajar Taurat, tetapi Dia memberikan pengertian tentang Taurat dengan otoritas yang sama dengan otoritas Taurat. Hanya Dia yang dapat memiliki otoritas seperti ini. Kita semua yang mempelajari Alkitab, kita tahu bahwa hanya Alkitab yang sempurna menyatakan kebenaran Allah dengan tepat dan sempurna. Tafsiran kita atas ajaran Alkitab tidak boleh disamakan dengan Yesus Kristus yang menjelaskan Taurat. Dia bukan hanya sedang menafsirkan Taurat, tetapi Dia sedang menyatakan pengertian tentang Taurat secara mutlak. Dia sedang memberikan firman mengenai menjalankan Taurat dengan otoritas ilahi yang Dia miliki. Dia memberikan pengertian menjalankan Taurat secara aktif dan dengan ketaatan yang didorong oleh kerelaan karena kasih. Dialah yang menyatakan Taurat, dan sekarang Dia menyatakan pengajaran untuk menjalankan Taurat itu.

Tetapi Yesus Kristus juga adalah manusia sejati. Dia sama seperti semua manusia yang lain dalam segala hal kecuali dalam berbuat dosa. Tidak seperti manusia lain, Yesus Kristus tidak berdosa. Karena itu Dia juga adalah manusia yang harus tunduk kepada Taurat. Dia harus menjalankan Taurat dan melaksanakan apa yang Dia sendiri ajarkan untuk menjadi teladan yang sempurna sepanjang jalan. Dia adalah pemberi Taurat sekaligus pemberi teladan untuk menaati Taurat dengan sempurna. Dialah satu-satunya manusia yang dapat menjalankan tuntutan Taurat dengan sempurna sebagai manusia. Maka otoritas dari pengajaran Kristus sungguh besar. Dialah yang berhak memerintahkan kepada kita semua dengan otoritas yang tertinggi karena Dialah Allah yang berfirman dan sekaligus adalah manusia yang menjadi teladan untuk menjalankan Taurat Tuhan. Tetapi apakah ini berarti Dia menjalankan-Nya dengan mudah karena Dia adalah Allah? Jika Dia dapat menjalankan perintah Taurat karena Dia adalah Allah, maka kita tidak punya teladan yang bisa diikuti. Mengapa tidak? Karena kita adalah manusia dan hanya ketika seorang manusia sejati sanggup melakukannya, barulah manusia itu dapat menjadi teladan kita. Berarti Yesus menaati Taurat dengan mengalahkan segala bentuk godaan yang sangat besar sehingga Dia dapat menang dan menjadi teladan kita semua. Yesus adalah Anak Allah yang berotoritas mutlak, tetapi juga adalah manusia sejati yang mengalami segala kelemahan kita tetapi berhasil menang di dalam menaati Taurat. Ini membuat Dia mengajar dengan otoritas yang sangat besar, jauh lebih besar daripada semua guru dan pengkhotbah yang pernah ada dan yang akan ada.

Untuk direnungkan:
Karena Kristus adalah Anak Allah, maka perkataan-Nya harus kita taati secara mutlak. Tetapi karena Dia adalah manusia sejati, maka Dia menjadi contoh di dalam semua usaha dan perjuangan kita untuk menaati Allah. Karena Dia telah menang di dalam ketaatan-Nya, maka kita pun dapat menang di dalam ketaatan kita. Karena dia dapat menang di dalam segala godaan dan kesulitan yang Dia alami, maka kita pun dapat menang di dalam segala godaan dan kesulitan yang kita alami. Itu sebabnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menaati perkataan Kristus. Dia memiliki kedaulatan mutlak sebagai Allah yang sejati, maka kita harus tunduk. Tetapi Dia juga menjadi teladan sebagai manusia yang sejati, maka kita memiliki dorongan untuk tunduk. Karena itulah kita semua dituntut untuk menjalani hidup di dalam ketaatan kepada firman Tuhan.

Apakah yang diperlukan agar iman kita dan kehidupan kudus kita dapat dipelihara? Ketaatan kepada firman. Itulah yang mutlak diperlukan. Tidak ada gunanya memahami seluruh kebenaran firman tetapi tidak hidup seperti yang diperintahkan oleh firman Tuhan. Apa yang kita ketahui dari firman Tuhan harus mengubah cara berpikir kita, dan setelah itu harus mengubah cara hidup kita. Jika kita bertindak, maka tindakan kita itu keluar dari segala cara pandang yang telah terbentuk di dalam diri kita. Jika kebenaran firman Tuhan tidak pernah membentuk cara pandang kita, maka tidak mungkin kita akan mengalami perubahan hidup. Berarti memahami firman Tuhan adalah hal yang pertama harus dimiliki. Kita harus mendengar apa yang Allah katakan, lalu setelah itu menaati apa yang telah Dia katakan.

Banyak orang-orang yang hidup pada zaman Tuhan Yesus melayani hanya menjadi pendengar saja. Mereka menyenangi ajaran-Nya. Mereka mencari Dia dan berada di mana pun Dia berada. Mereka menjadi pengikut yang begitu setia mendengarkan perkataan-Nya. Tetapi Tuhan Yesus telah mengajarkan bahwa orang yang akan dengan kokoh hidup di dalam iman adalah mereka yang menjalankan apa yang Dia firmankan. Kita terkadang menjadi pencari hikmat yang sangat giat. Kita mempelajari begitu banyak hal tentang Dia. Tahu begitu banyak pendapat tentang Dia. Mengerti begitu banyak aliran penafsiran firman di dalam sejarah. Tetapi kita hidup tanpa kekudusan, kuasa, iman, dan kemenangan yang sejati. Apakah gunanya semua yang telah kita ketahui? Firman Allah adalah firman yang menjadikan langit dan bumi. Firman Allah menyebabkan apa yang dapat kita lihat terjadi (Ibr. 11:3). Jika demikian firman Allah adalah perkataan dari Allah yang melampaui ciptaan, tetapi menjadikan ciptaan ini ada. Demikian juga firman yang kita dengar adalah firman dari Allah yang melampaui sejarah, tetapi yang harus dinyatakan di dalam sejarah melalui hidup kita. Di dalam ayat 28 dikatakan bahwa banyak orang menjadi takjub karena perkataan Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan Yesus tidak menginginkan orang hanya takjub. Mereka harus menjalankan firman Tuhan.

Mari kita ubah cara kita memahami Kitab Suci. Kita belajar untuk mengenal Allah dengan suatu keintiman dan kedalaman kasih yang besar. Keintiman dan kedalaman yang akan diuji dengan apa yang kita hadapi di dalam hidup kita sehari-hari. Apakah keintiman pengenalan akan Allah membuat kita menjalani hidup yang penuh kemenangan? Jika godaan dosa datang, apakah kita menjauhkan diri kita dan menguatkan kerinduan kita untuk hidup kudus bagi Allah sehingga kita tidak jatuh ke dalam dosa? Jika kesulitan datang apakah kita menghadapinya sebagai seorang yang menang karena bergantung di dalam Tuhan atau sebagai seorang yang terus menerus kalah dan hancur? Jika kemudahan datang apakah kita makin giat bagi Tuhan atau terlena di dalam segala kenikmatan hidup? Biarlah semua hal yang terjadi di dalam hidup kita mengonfirmasikan bahwa kita mendengar firman Allah dan melaksanakannya.

Doa:
Tuhan, tolong kami yang lemah untuk hidup di dalam firman-Mu. Biarlah ujian yang datang boleh kami hadapi di dalam kemenangan yang sejati di dalam Tuhan. Biarlah godaan dosa yang datang boleh kami hindari dengan mengingat bahwa Tuhan melihat kami. Tolong kami menjadi orang-orang yang mendengar dan melakukan firman Kristus. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *