Mujizat bagi yang Hina

Devotion from:

Matius 8:1-13

Bacaan hari ini menceritakan tentang dua peristiwa mujizat yang Yesus lakukan. Yang pertama adalah mujizat bagi orang kusta yang memohon agar Yesus menyembuhkan mereka. Kalimat yang dikeluarkan benar-benar kalimat permohonan. Ayat 2 mengatakan, “Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Inilah permohonan yang sejati. Dia tidak berkata, “Tuhan, saya percaya Engkau sanggup! Engkau berkuasa atas segala sesuatu! Saya percaya saya bisa sembuh!” Yang menjadi pembahasan bukan apakah Allah sanggup atau tidak. Yang menjadi pembahasan adalah apakah Allah mau atau tidak. Orang-orang Kristen yang mau mencobai Allah memakai kalimat yang menjebak Allah untuk mematuhi doanya. Kalau Tuhan sanggup, sembuhkan saya! Tuhan pasti sanggup! Tetapi apakah Dia bersedia atau tidak? Orang kusta ini tahu bahwa Dia tidak boleh menuntut Allah. Dia hanya mau memohon kepada Allah dengan kerendahan hati yang sangat. Dia bertanya, apakah Tuhan bersedia atau tidak.

Keadaan orang kusta itu sebenarnya sangat parah. Penyakit kusta yang diderita olehnya kemungkinan adalah penyakit yang tidak mungkin sembuh sehingga siapa pun penderitanya akan terisolasi dari masyarakat “normal” sampai seumur hidupnya. Dia tidak bisa lagi kembali ke masyarakat sehingga dia berada dalam keadaan yang sangat menderita. Dia terpenjara dan hanya bisa berkumpul dengan sesama penderita kusta. Bisakah penyakit ini disembuhkan? Penelitian dari Craig Keener di dalam tafsiran Injil Matiusnya mengatakan bahwa orang-orang pada waktu itu percaya bahwa penyakit ini hanya bisa sembuh kalau Tuhan memberikan kesembuhan secara mujizat. Penyakit ini juga dianggap penyakit kutukan dari Tuhan oleh karena dosa yang diperbuat oleh si penderitanya. Bisakah kita membayangkan penderitaan orang ini? Berpenyakit kulit yang sangat parah dan menjijikkan, dijauhi oleh semua orang, dan dianggap sebagai orang yang dikutuk oleh Tuhan.

Tuhan Yesus berbelas kasihan kepada orang ini dan Dia menyembuhkan orang ini. Yesus bahkan menyentuh orang itu. Dia tidak merasa orang ini harus dihindari dan dikucilkan. Dia memperlakukan orang kusta itu sebagai sesama manusia. Maka Dia menyentuh orang itu dan menyembuhkannya dari kustanya. Kustanya hilang begitu saja. Dia sembuh secara ajaib. Tuhan telah menyatakan tanda kuasa-Nya yang akan mendatangkan Kerajaan Allah di bumi. Tetapi setelah itu di ayat 4 Dia memerintahkan orang yang baru sembuh itu untuk melapor kepada imam, sebagaimana dicatat di dalam Imamat 14:1-32. Ini merupakan tanda bahwa dia telah benar-benar pulih dari penyakitnya dan boleh dikembalikan lagi ke dalam masyarakat. Tuhan Yesus tidak menghancurkan otoritas yang dibangun oleh hukum Taurat. Tuhan Yesus tidak mengabaikan jabatan imam pada waktu itu. Dia datang dan memberikan contoh di dalam menghargai apa yang telah Allah tetapkan.

Lalu pada bagian selanjutnya Tuhan Yesus melakukan mujizat menyembuhkan seorang hamba dari perwira Romawi. Permintaan dari perwira Romawi ini juga menunjukkan kerendahan hati yang sangat besar. Dia seorang perwira dari kerajaan terbesar dan terkuat di dunia saat itu, dan dia ditempatkan untuk menjaga keamanan di Palestina. Tentu wajar untuk orang seperti dia meremehkan penduduk lokal di Palestina. Bukankah mereka hanya warga jajahan saja? Tetapi dia menghormati orang-orang Yahudi. Dia menghargai orang-orang kecil seperti hambanya sendiri. Hambanya sakit dan dia minta tolong kepada Yesus demi kepentingan hambanya ini. Bukan hanya itu, dia bahkan menempatkan diri sebagai bawahan Tuhan Yesus. Lebih lagi dari itu, dia bahkan menganggap Tuhan Yesus adalah tuan yang berkuasa atas segala sesuatu, termasuk atas seluruh penyakit dan kemalangan manusia! Dia memohon supaya Tuhan Yesus memerintahkan saja penyakit hambanya itu dari jauh agar supaya hambanya sembuh. Dia percaya kuasa Yesus sangat besar sehingga dapat memerintah penyakit untuk pergi dari tempat yang jauh.

Ayat 8 memberi tahu kita alasan mengapa perwira itu tidak mau menerima Yesus di dalam rumahnya. Dia tahu bahwa ada larangan keras bagi orang Yahudi untuk masuk ke rumah orang kafir seperti dia. Secara politik dia lebih tinggi dan orang Yahudi lebih rendah. Tetapi secara iman kepercayaan Israel, dia adalah orang kafir yang rendah, dan orang Yahudi lebih tinggi. Sungguh heran karena ternyata perwira ini merendahkan diri dan menerima pandangan orang Yahudi bahwa dia hanyalah orang kafir. Dia percaya Tuhan dan dia percaya bahwa umat Tuhan adalah Israel dan dia hanyalah orang kafir. Tetapi Tuhan Yesus mengeluarkan pujian yang tidak pernah dia katakan kepada orang Israel sekalipun. Dia mengatakan bahwa iman perwira ini sangat besar, bahkan lebih besar dari iman yang dimiliki oleh umat Tuhan.

Bagian ini dilanjutkan dengan perkataan Tuhan Yesus bahwa banyak orang dari bangsa-bangsa lain akan berbagian di dalam umat Tuhan, di dalam Israel yang baru. Sedangkan orang Israel sendiri tidak akan masuk. Mereka akan disingkirkan oleh Allah dan tempat mereka akan diisi oleh orang-orang kafir. Orang-orang kafir itu masuk karena iman mereka kepada Kristus. Sedangkan orang Israel sendiri diusir karena mereka menolak Kristus.

Untuk direnungkan:
Dua peristiwa penyembuhan ini memberikan pengertian kepada kita bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk membuang hukum Taurat dan Kerajaan Israel di dalam Perjanjian Lama. Dia datang untuk memanggil orang-orang lain, baik orang yang dianggap terkutuk maupun orang yang dianggap kafir dan penyembah berhala, untuk berbagian di dalam Kerajaan Israel yang baru ini. Dia juga datang untuk memperingatkan orang-orang Israel yang merasa bahwa mereka secara otomatis menjadi bagian dari Kerajaan Israel. Dia memperingatkan mereka bahwa mereka akan dibuang. Mengapa orang kafir dan orang kusta masuk sedangkan orang Israel dibuang? Karena iman kepada Kristus. Orang kafir dan orang terkutuk yang beriman kepada Kristus akan segera dipulihkan keadaannya. Dia tidak lagi kafir, tetapi telah disebut umat. Begitu juga yang tadinya dibenci Tuhan sekarang telah kembali dikasihi (Rm. 9:25-26, Hos. 1:10; 2:22). Iman kepada Kristus mengubah semua hal itu. Tetapi sebaliknya, umat Israel yang menolak Kristus akan ditolak sama seperti dulu Tuhan menolak orang kafir. Israel akan dianggap sama seperti bangsa kafir yang memberontak dengan menyembah berhala karena mereka menolak Kristus. Kristus menjadi Jalan yang mendamaikan orang-orang dari bangsa-bangsa lain, sekaligus juga menjadi batu sandungan yang membuat Israel tersandung dan bangsa-bangsa lain selamat (Rm. 9:30-33). Kerajaan Israel di dalam Perjanjian Lama justru disempurnakan oleh Kristus dengan memanggil orang-orang beriman yang masih di luar Israel dan menyingkirkan orang-orang yang tidak beriman di dalam Israel.

Siapakah orang beriman? Orang beriman adalah orang yang sadar akan kerendahan diri dan sadar bahwa hanya karena belas kasihan Kristus kita dapat diterima oleh Allah. Orang kusta itu sadar dirinya telah dianggap najis dan diusir dari masyarakat. Dia hanya bisa memohon belas kasihan Tuhan di dalam keadaannya itu, demikian juga perwira Romawi itu. Dia tidak memandang dirinya dari cara orang dunia memandangnya. Dia melihat betapa hina dan tidak layaknya dia. Tetapi, baik orang kusta maupun perwira Romawi, keduanya memohon kepada Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus mendengar mereka. Pernahkah kita datang kepada Yesus dengan perasaan yang sangat tidak layak? Bahkan untuk mencoba memohon kepada Dia pun terasa begitu tidak pantas dan begitu kotor? Sadari betapa cemarnya kita, sadari betapa mulianya Kristus, sadari Dia adalah Raja segala raja yang diangkat dan dimahkotai oleh Allah sendiri! Dialah yang mulia di atas segala sesuatu. Perasaan yang sangat tidak layak seharusnya kita miliki. Oleh sebab itu, ketika dengan iman kita sadar bahwa Tuhan Yesus telah menerima kita dan mengangkat kita dari posisi sebagai orang berdosa, bahkan kita menjadi bagian dari Israel baru di bawah pemerintahan Kristus, Anak Daud, maka kita pun akan berjuang demi kemuliaan Sang Raja, lebih daripada mereka yang tidak sadar bahwa diri mereka tidak layak.

Doa:
Tuhan, sadarkan kami betapa kami tidak layak untuk datang menghadap Tuhan. Seandainya Tuhan mau membuang kami, maka memang sepantasnyalah kami diperlakukan demikian. Tetapi Tuhan mau menyembuhkan jiwa kami. Tuhan menyembuhkan kenajisan jiwa kami seperti Tuhan menyembuhkan orang kusta itu. Tuhan mendengar permohonan kami seperti mendengar permohonan orang kafir yang diberikan belas kasihan itu. Kami bersyukur kepada-Mu, Tuhan. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *