Kematian Nabi Perjanjian Lama yang Terbesar

Devotion from Matius 14:1-12

Sebagaimana dikatakan Yesus, Yohanes Pembaptis adalah nabi terbesar. Dialah yang mempersiapkan jalan untuk Yesus. Dialah yang menjadi nabi yang terakhir sebelum kedatangan Sang Mesias. Tetapi nabi teragung ini harus mati di tangan raja palsu. Dia mempersiapkan jalan bagi Raja sejati, Anak Daud, tetapi dia harus mati di tangan raja Herodes. Yohanes mempersiapkan jalan bagi Yesus dengan khotbah-khotbah dan seruan pertobatannya. Dia berkhotbah kepada seluruh Israel. Dia berkhotbah juga menegur para pemimpin agama (Mat. 3:7) dan pemimpin politik (Mat. 14:4). Yohanes menegur ketika Herodes merebut istri saudaranya sendiri, Herodias. Herodias adalah istri Herodes II (di dalam Matius disebut sebagai “Herodes Filipus”), saudara dari Herodes Antipas (disebut dengan “Herodes” di dalam Matius). Teguran bagi Herodes Antipas adalah karena dia dan Herodias terlibat di dalam relasi cinta yang dibenci oleh Tuhan. Ketidaksetiaan dalam pernikahan adalah hal yang sangat Tuhan benci. Kebencian itulah yang mendorong Yohanes untuk melawan tindakan Herodes Antipas ini. Dia menegur dengan sangat keras. Dia menyebut bahwa tindakan Herodes dan Herodias adalah sesuatu yang haram. Imamat 18:16 dan 20:21 mengatakan bahwa pernikahan seperti ini adalah pernikahan yang dibenci Tuhan. Tetapi menegur Herodes tentu sangat bahaya. Khotbah yang keras untuk anggota biasa masih aman, tetapi khotbah keras untuk seorang pemimpin? Yohanes Pembaptis tetap menegur dengan keras. Teguran yang berakhir dengan kematiannya.

Yohanes Pembaptis mati, tetapi kematiannya membongkar kebobrokan manusia hingga ke akarnya. Herodes yang berkuasa tidak menjalankan kuasanya untuk keadilan. Dia menjalankan kuasanya untuk mempertahankan kuasa. Ini adalah kejahatan yang sangat dibenci oleh Tuhan. Tuhan menghancurkan Saul karena hal ini. Dia menggunakan kuasanya agar semua saingannya dimatikan. Kuasa yang korup, yang mengabaikan keadilan dan kebenaran, adalah kuasa yang akan segera dihakimi oleh Tuhan. Herodes menggunakan kuasanya untuk menekan suara kebenaran. Raja-raja dunia ini bangkit dan mengabaikan kebenaran. Raja-raja, pemimpin-pemimpin, ataupun presiden-presiden yang menggunakan kuasanya untuk membungkam kebenaran harus segera dihakimi oleh Allah, pemilik kuasa yang sejati. Allah mengizinkan kuasa-Nya dibagi-bagikan kepada para pemimpin dunia, dan ini berarti mereka harus bertanggung jawab kepada Allah sebagai pemilik kuasa yang sejati. Allah menempatkan mereka menjadi pemimpin karena Dia ingin kebenaran dan keadilan dinyatakan bagi seluruh manusia. Pemimpin mempunyai kuasa untuk menjalankan kepemimpinannya dengan kekerasan, bilamana perlu. Celakalah pemimpin yang memanfaatkan kuasanya untuk hal-hal di luar kebenaran dan keadilan. Setiap kali kepentingan pribadi diutamakan, maka para penguasa memanfaatkan semua kelebihan yang mereka miliki, yang diberikan Tuhan kepada mereka, bagi diri sendiri. Hal ini sangat dibenci Tuhan! Demikian juga ketika kita memanfaatkan kelebihan apa pun untuk keuntungan diri dan merugikan orang lain, ini pun Tuhan benci. Kita mungkin bukan raja wilayah seperti Herodes, tetapi mungkin kita punya otoritas di kantor, di tengah-tengah masyarakat, ataupun di gereja. Siapa memakai kedudukan, jabatan, dan kuasa demi kepentingan diri sendiri, dia sudah bersalah kepada Tuhan.

Kerusakan Herodes tidak berhenti di situ. Bukan saja dia memanfaatkan kuasa yang seharusnya dipakai untuk menyatakan kebenaran dan keadilan, dia juga lebih mementingkan pandangan masyarakatnya ketimbang penilaian Tuhan. Dia malu karena telah berjanji di depan tamu-tamunya. Nanti para tamu itu akan menganggap dia raja yang penakut karena tidak berani membunuh Yohanes. Penilaian mereka menjadi segala-galanya bagi Herodes. Inilah pameran akan betapa kasihannya para pemimpin politik yang gila kuasa. Mereka ingin kuasa dan cara mempertahankannya adalah dengan menjadi budak orang banyak. Suara mayoritas mengekang dia dan memaksa dia melakukan hal-hal yang dia tidak ingin lakukan. Kasihan sekali! Mempertahankan kuasa dengan menjadi budak. Inilah politik Herodes, dan inilah politik bangsa kita juga. Rakyat tidak pernah dididik untuk tunduk kepada kebenaran. Rakyat terus dibiasakan untuk makin hancur dan rusak karena keinginannya terus menerus menjadi tuan dari para raja.

Selain dosa Herodes, peristiwa kematian Yohanes juga membongkar kebobrokan Herodias dan Salome, anaknya. Herodias begitu marah karena cinta dan hubungannya dengan Herodes terancam karena teguran Yohanes. Herodiaslah yang sangat ingin membunuh Yohanes. Bahkan Herodes pun tidak berani bertindak apa-apa terhadap Yohanes. Tetapi Herodias tidak mempunyai kuasa untuk membunuh Yohanes. Maka dia memanfaatkan penguasa untuk mencapai keinginannya. Ini sangat jahat. Memakai orang berotoritas, memanfaatkan dia demi memperoleh keuntungan, ini semua adalah kelicikan yang sangat berbahaya dan dibenci Tuhan. Tuhan berkenan kepada orang yang murni hatinya (Mat. 5:8). Orang-orang licik sangat dibenci oleh Tuhan! Siapakah di antara orang-orang Kristen yang masih membiarkan hati seperti ular ada di dalam dirinya? Biarlah kita bertobat segera sebelum penghakiman Tuhan datang atas kita. Kita masih licik? Memanfaatkan trik dan tipu daya untuk tercapainya keinginan kita, ini semua sangat mirip dengan karakter Iblis. Tidak ada anak-anak Tuhan yang senang hidup dengan cara yang licik. Licik dan penuh tipu daya juga adalah karakter dari orang pengecut. Pengecut tidak pernah berani menyatakan posisinya. Dia akan mengubah-ubah pandangan dan posisinya sesuai dengan keuntungan yang bisa dia dapatkan. Herodias adalah perempuan yang sangat berbahaya. Meskipun secara hukum dia tidak mempunyai kuasa seperti Herodes, tetapi secara fakta dia lebih kejam dan sanggup memanfaatkan Herodes demi kepentingan pribadinya. Perempuan-perempuan licik, yang merancangkan hal-hal yang licik, adalah sama dengan Herodias. Biarlah kita belajar menjadi orang yang tulus. Tidak ada agenda tersembunyi untuk kepentingan pribadi kita, dan tidak ada niat mengeruk keuntungan.

Yang terakhir adalah kebobrokan Salome. Dia tidak terganggu sama sekali meminta kepala seorang nabi. Ibunya telah menjadi pengaruh yang begitu besar terhadap dia sekaligus menjadi sumber kerusakan yang sangat besar bagi dia. Betapa rusaknya Salome. Dia telah dirusak sedemikian rupa sehingga dia tidak tahu apa yang pantas dan tidak. Hati nuraninya tidak terganggu sama sekali dengan pembunuhan seorang yang tidak bersalah. Inilah kerusakan hati nurani di sekitar kita. Masyarakat menjadi begitu bobrok sehingga apa yang dibenci Tuhan tidak lagi disadari. Apa yang cemar menjadi biasa. Apa yang rusak menjadi bagian dari hidup. Betapa rusaknya masyarakat seperti ini. Kecemaran menjadi makin biasa karena semua orang melakukannya. Apakah kita masih memiliki kompas yang bekerja dengan tepat di dalam diri kita? Apakah hati nurani kita masih bersuara sebagaimana seharusnya? Kiranya Tuhan menolong kita mempertahankan hati nurani yang bersih, dan kiranya Tuhan membersihkan, memelihara, dan memakai kita untuk menjadi suara hati nurani bagi masyarakat kita.

Kerusakan dunia politik Israel pada waktu itu membuat orang yang benar harus mati. Bukan saja Yohanes adalah orang benar, dia juga adalah nabi yang paling besar. Israel mematikan dia sama seperti Israel mematikan nabi-nabi yang Tuhan utus kepada mereka. Kebenaran terus menjadi korban dan terus ditindas oleh dunia politik yang lupa panggilannya di hadapan Tuhan.

Doa:
Tuhan, kami mau memohon untuk pemimpin-pemimpin kami: Berikan kepada mereka hati yang takut akan Tuhan sehingga mereka tidak sewenang-wenang dengan kuasa yang Tuhan berikan kepada mereka! Tolong juga gereja-Mu: Biarlah gereja-Mu berani bersuara seperti Yohanes Pembaptis bersuara! Biarlah gereja Tuhan tidak menjadi bungkam dan diam. Tolong kami, ya Tuhan. Tolong juga bangsa kami. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *