Orang Buta Menuntun Orang Buta

Devotion from Matius 15:1-14

Bagaimanakah mengajar orang-orang untuk mengerti Taurat? Orang-orang Farisi dan ahli Taurat memahami Taurat dengan cara yang salah. Mereka mementingkan apa yang kelihatan tetapi mereka tidak tahu esensi dari Taurat ada pada hati yang bersih. Apakah yang mereka anggap penting? Mencuci tangan sebelum makan? Yesus menemukan kebobrokan dalam ajaran mereka. Mereka mengabaikan peraturan yang mewajibkan anak untuk membiayai penghidupan orang tua mereka asalkan uang pembiayaan itu diberikan untuk persembahan kepada Tuhan. Tetapi apakah ini benar? Tidak. Mereka mengizinkan karena merekalah yang akan menerima “persembahan kepada Tuhan” ini. Mereka mengatasnamakan Tuhan, tetapi Tuhan tidak akan pernah mengizinkan nama-Nya dipakai untuk orang-orang yang lebih mencintai uang ketimbang orang tua mereka sendiri. Mereka membiarkan orang-orang hidup di dalam kebiasaan tidak menghormati orang tua. Tuhan sangat membenci hal ini. Di manakah belas kasihan kepada orang tua yang sudah tidak sanggup bekerja lagi? Orang-orang yang Tuhan pakai untuk melahirkan dan memelihara, sekarang diabaikan dan dibiarkan mati saja kalau perlu. Betapa jahat hal ini! Ketika perlu, dikasihi. Ketika sudah mapan, ditinggalkan. Tetapi heran, bagi orang-orang Farisi itu mencuci tangan sebelum makan lebih penting! Inilah pemimpin-pemimpin agama pada waktu itu.

Sebenarnya Taurat diberikan untuk melatih hati umat Tuhan. Hati yang dibentuk oleh Taurat akan menjadi hati yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Hati yang makin kudus karena Tuhan, Allah, adalah kudus. Hati yang makin peka terhadap keadilan dan belas kasihan. Bagaimana mungkin ada pemimpin agama yang sehari-harinya menyelidiki Taurat tetapi hatinya keras seperti batu? Ini terjadi karena mereka mementingkan tradisi mereka lebih daripada firman Tuhan. Ini peringatan yang sangat penting. Jika kita pun mementingkan tradisi lebih daripada firman Tuhan, maka kita pun sudah jatuh ke dosa yang sama. Semakin tradisi menguasai cara berpikir kita, hati kita pun akan makin terpaut kepada tradisi. Ini membuat kita hidup dengan cara yang makin arogan. Makin sombong dan makin berpusat pada diri karena diri adalah bagian dari tradisi. Siapa yang mementingkan tradisi di atas firman Tuhan sebenarnya sedang melatih hati untuk melihat kepada diri dan kebanggaan diri. Ini menjauhkan kita dari firman Tuhan. Dan tanpa firman Tuhan hati nurani kita akan semakin keras dan berpaut kepada tradisi dan diri. Inilah sebabnya orang-orang Farisi itu tidak bisa melihat mana yang lebih penting. Orang tua yang sudah tidak sanggup membiayai diri? Atau makan dengan tangan yang tidak dicuci?

Tidak ada satu pun dari orang-orang yang mengasihi Tuhan akan mempertanyakan hal mana yang lebih penting. Cuci tangan atau merawat orang tua. Tetapi mereka terus mempermasalahkan hal kecil seperti cuci tangan ini karena hati mereka memang jauh dari Tuhan. Hati jauh dari Tuhan tetapi begitu aktif di dalam perayaan-perayaan dan upacara agama. Maka Yesus mengutip dari Kitab Yesaya, bahwa Bangsa Israel memuji Tuhan dengan bibir, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan.

Tetapi hati yang jauh dari Tuhan perlahan-lahan akan tercermin melalui perkataan mulut. Perkataan mulut bisa dipalsukan, tetapi tidak mungkin selamanya dipalsukan. Orang-orang Farisi ini akhirnya terlihat kebusukannya melalui perkataan mulut mereka. Maka Tuhan Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan mengatakan bahwa bukan apa yang masuk ke mulut yang menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari mulut yang menajiskan orang. Ini sindiran yang sangat tepat untuk orang-orang Farisi itu. Hati mereka meluapkan perkataan-perkataan yang menunjukkan kenajisan mereka sendiri.

Tradisi Yahudi membiasakan orang Yahudi untuk membasuh tangan sebelum makan. Mereka memiliki begitu banyak ritual-ritual untuk melakukan sesuatu. Siapa yang melanggar ritual ini akan dianggap najis, yaitu orang yang harus dijauhi karena kecemaran mereka. Tetapi Yesus memberikan tradisi yang baru, yang jauh lebih agung dan sesuai dengan Taurat dibandingkan dengan tradisi Yahudi. Tetapi setiap kali tradisi yang baru muncul, pengikut tradisi lama pasti akan menentang. Tidak peduli betapa benarnya tradisi baru, dan betapa korupnya tradisi lama, mereka tetap akan mengikuti apa yang sudah biasa mereka ikuti. Itulah sebabnya mengubah tradisi, apalagi mengubah Tradisi bangsa yang tegar tengkuk seperti Israel, adalah sesuatu yang sulit. Yesus menjadi penentang tradisi yang lama, dan karena itu Yesus menjadi musuh bersama golongan-golongan yang mengikuti tradisi lama tersebut. Inilah yang berujung pada penyaliban Tuhan Yesus oleh mereka. Kebencian karena tradisi lama diancam oleh pembaru, inilah yang membuat mereka makin memusuhi Yesus.

Mari kita belajar mendengar firman Tuhan sehingga hati nurani kita bisa peka melihat apa yang Tuhan lihat. Begitu banyak orang bodoh yang menjadi pemimpin, dan mereka mencampur aduk segala sesuatu yang tidak penting ke dalam hal yang sangat penting. Betapa kasihan umat Tuhan jika memiliki pemimpin-pemimpin seperti ini. Betapa kasihan kalau gereja hanya bicara tentang hal-hal kecil tetapi tidak pernah mengerti apa yang Tuhan mau kerjakan. Tetapi kita harus belajar untuk memiliki hati yang peka. Tuhan menyukai belas kasihan. Itulah sebabnya kalau kita mengabaikan hati yang berbelaskasihan, Tuhan tidak akan lagi berkenan kepada kita. Hukum Taurat melatih kita melihat kepada orang lain dengan belas kasihan Tuhan. Taurat melatih kita untuk memiliki sudut pandang Tuhan mengenai segala sesuatu. Kebenaran, kasih, dan keadilan, semua ini menjalin menjadi satu di dalam hati orang-orang yang dibentuk dengan firman Tuhan.

Bagaimanakah hati kita? Terikat tradisi? Keagungan diri? Tanpa sadar kita makin lama makin terseret seperti pemimpin-pemimpin Yahudi ini kalau kita terus mementingkan lembaga dan kesetiaan kepada lembaga di atas kesetiaan kepada firman. Orang yang mementingkan gereja sendiri sangat sulit melihat Tuhan bekerja. Orang yang melihat formalitas dan segala bentuk birokrasi sangat sulit melihat Tuhan bekerja. Dan orang yang tidak pernah bersentuhan dengan orang-orang lain akhirnya menjadi kaku dan tidak punya hati yang mudah berbelaskasihan. Itulah sebabnya kita harus belajar melihat dari cara Tuhan melihat. Apakah kita sadar bahwa Tuhan lebih mementingkan orang-orang daripada lembaga? Tuhan lebih mementingkan orang-orang daripada event-event atau kegiatan. Tuhan lebih mementingkan orang-orang daripada upacara-upacara agama. Sadarkah kita akan hal ini? Para pemimpin agama Yahudi tidak sadar. Mereka benci ketika Yesus menyembuhkan orang sakit. Mereka marah ketika Yesus mengampuni pemungut cukai. Mereka berteriak-teriak mau membunuh seorang perempuan pezinah, tetapi Yesus berbelaskasihan kepada dia dan menyuruh dia pergi tanpa dihukum. Betapa berbeda jika kita memiliki pemimpin yang berbelaskasihan. Doakan agar gereja dan bangsa kita benar-benar diberikan anugerah memiliki pemimpin yang mudah berbelaskasihan. Biarlah gereja Tuhan bisa bangkit dengan adanya hamba-hamba Tuhan dan pemimpin-pemimpin gereja yang memiliki hati seperti Yesus.

Doa:
Tuhan, tolong kami supaya kami sanggup hidup dengan hati yang penuh belas kasihan. Kadang kami terlalu mementingkan organisasi, lembaga, tata cara, kegiatan-kegiatan seremonial, tetapi kami tidak punya hati yang berbelaskasihan. Tolong juga gereja kami dan bangsa kami. Berikanlah, ya Tuhan, pemimpin-pemimpin yang memiliki hati yang tulus dan berbelaskasihan seperti Tuhan berbelaskasihan. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *