Renungan Harian 258 (Selasa, 14 Mei 2019)

Berita Salib (1)

Devotion from Matius 16:21-28

Setelah memuji Petrus karena pengakuannya yang berasal dari Allah, Yesus segera berpesan kepada para murid untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun bahwa Dia adalah Mesias. Mengapa Dia melarang? Karena pemahaman orang-orang Yahudi tentang Sang Mesias yang begitu mulia dan bersifat politis. Yesus Kristus adalah Sang Mesias. Tetapi kedatangan-Nya yang pertama ini adalah untuk menebus dosa manusia. Dia datang untuk menjadi Juru Selamat yang siap menderita, disiksa, bahkan mati di kayu salib. Inilah hal yang belum dipahami oleh banyak orang Israel, bahkan para murid sendiri. Maka Yesus mengatakan agar mereka tidak memberitakan kepada siapa pun bahwa Dia adalah Mesias.

Setelah peristiwa itu, Matius mencatat peristiwa ketika Yesus Kristus menyatakan kepada para murid mengenai sengsara-Nya. Dia mengatakan tujuan kedatangan-Nya untuk ditangkap para pemimpin agama, difitnah mereka, dan akhirnya dibunuh oleh mereka. Tetapi Yesus juga menubuatkan bahwa Dia akan bangkit pada hari yang ke-3. Tetapi heran, Petrus, yang baru saja menyatakan pengakuan iman teragung mengenai Kristus, ternyata lebih berfokus kepada berita sengsara, penderitaan, serta kematian Kristus. Petrus mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias, tetapi dia tidak tahu kalau Mesias ini penuh dengan belas kasihan dan kerelaan untuk berkorban bagi Israel. Konsep Petrus tentang kemuliaan dunia masih sama dengan konsep orang-orang Israel. Raja mulia, Anak Daud, yang akan datang pasti akan mendirikan kerajaan Daud kembali. Kejayaan Israel akan kembali terjadi dan kuasa Anak Daud menjadi pendorong untuk bangkitnya kemenangan Israel atas segala penjajah mereka. Tetapi pengertian mengenai Mesias yang menderita ini tidak dipahami oleh Israel maupun oleh Petrus.

Salib adalah sesuatu yang memalukan bagi orang Israel. Salib menjadi lambang kutuk dari Allah. Salib juga menjadi tanda seseorang telah ditolak oleh Allah. Tetapi Kristus datang mengubah makna salib sehingga orang-orang Kristen meninggikan salib sebagai tanda kasih Allah yang rela berkorban bagi manusia. Tuhan Yesus menyatakan kasih-Nya dengan dipaku di kayu salib, menanggung segala hina dan derita dari manusia. Itulah sebabnya salib menjadi tanda kasih Allah yang mulia. Penebusan kita dan keadaan kita yang dijadikan anak-anak Allah terjadi karena darah Kristus yang tercurah di kayu salib. Inilah cara Allah meninggikan Kristus. Salib dulu, baru kemuliaan. Penderitaan dulu, setelah itu barulah datang kelegaan dan damai. Jalan salib adalah jalan yang Kristus harus lewati untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Tetapi barang siapa yang hanya ingin kenyamanan hidup bagi diri sendiri, tidak peduli apa yang Tuhan sedang kerjakan, tidak menginginkan berbagian di dalam cara Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya, pasti sulit menerima ajaran Yesus mengenai salib. Begitu juga dengan orang-orang yang ingin sekali bangsanya atau kelompoknya menunjukkan superioritas melampaui bangsa-bangsa lain. Inilah impian dari bangsa yang pernah mempunyai sejarah agung sebagai umat Tuhan, tetapi berakhir menjadi jajahan bangsa lain selama berabad-abad. Tentu keinginan seperti ini bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi Petrus menunjukkan perasaan yang mewakili perasaan seluruh orang Israel yang mengharap-harapkan Sang Mesias. Sang Mesias tidak boleh kalah! Dia harus menang! Dia harus jaya! Tetapi Sang Mesias ini mengatakan bahwa Dia akan ditangkap, disiksa, dan mati?

Maka Petrus segera menegur Tuhan Yesus dan mengatakan bahwa Allah sendiri akan mencegah sehingga ini tidak terjadi. Tuhan Yesus segera menegur Petrus dengan keras. Tuhan mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Petrus itu adalah perkataan Iblis. Jika pada bagian sebelumnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa perkataan Petrus adalah perkataan dari Allah, maka sekarang Petrus dengan gegabah mengatakan perkataan setan. Setan ingin menjauhkan Yesus dari rencana Allah. Maka Tuhan Yesus yang memahami tipu daya setan mengatakan bahwa setan memberikan batu sandungan agar manusia hanya memikirkan dirinya saja, bukan memikirkan kehendak Tuhan. Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk mengubah cara hidup umat Tuhan. Dia datang ke dalam dunia untuk menunjukkan bagaimana seharusnya manusia hidup. Manusia harus hidup bagi Tuhan. Itulah hidup yang sejati. Semakin manusia mengabaikan Tuhan dan hidup bagi diri sendiri, semakin dia menjadi jauh dari kehidupan yang sesungguhnya, semakin menjauh dari sumber hidup, dan semakin menuju kepada kebinasaan.

Tetapi Tuhan Yesus tidak hidup bagi diri-Nya sendiri. Bagi-Nya Allah Bapa adalah segalanya di dalam hidup-Nya. Dia mengatakan bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa-Nya yang di surga (Yoh. 4:34). Seluruh hidup-Nya adalah untuk menggenapi kehendak Bapa-Nya di surga. Tidak ada lagi alasan lain bagi-Nya di dalam hidup-Nya di dunia ini. Dia adalah Tuhan yang mengatasi segala sesuatu, tetapi Dia menjadi contoh di dalam ketaatan mutlak. Dia adalah Anak Allah, tetapi Dia menjadi contoh di dalam kerelaan menjadi hamba. Maka Tuhan Yesus pun menegaskan sekali lagi. Dia hidup bagi Bapa di surga. Setan membujuk manusia untuk hidup bagi diri sendiri. Yesus hidup untuk menggenapi kehendak Bapa. Setan membujuk manusia untuk hidup mengutamakan kehendak diri sendiri. Tetapi tipu daya setan malah menjerumuskan manusia ke dalam perhambaan yang tidak habis-habisnya di dalam dosa. Kerelaan Yesus memperhamba diri-Nya kepada Bapa di surga justru menjadikan-Nya Tuan atas segala tuan. Dia menjadi yang paling mulia karena Dia rela menjadi yang paling hina. Dia menjadi yang paling agung karena Dia rela menerima kedudukan paling rendah. Dia menjadi yang paling berkuasa karena Dia rela tunduk mutlak kepada Bapa di surga. Siapakah yang mau ikut cara setan? Setan akan membuat kita mencari nama bagi diri yang akhirnya hanya untuk mendapati diri makin diperbudak oleh dosa. Siapakah yang mau ikut cara Yesus? Yesus rela hidup dengan merendahkan diri, taat, dan rela dimatikan di atas kayu salib demi kehendak Allah Bapa dinyatakan. Tetapi jangan lupa bahwa Bapa di surga mampu membangkitkan orang mati dan memberikan kuasa kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Bapa sangat meninggikan Kristus karena Kristus merelakan diri-Nya mati demi Bapa. Bapa juga akan sangat menghormati mereka yang mau melayani Kristus. Tetapi tidak seorang pun dapat melayani Yesus Kristus tanpa meneladani cara hidup-Nya. Dengan demikian berarti tidak seorang pun akan dihormati Bapa kecuali dia rela menaati Bapa dan mempersembahkan hidupnya bagi Bapa.

Siapa yang mau mencari dunia dengan mengorbankan nyawanya? Tentu tidak ada. Ini bodoh sekali. Mengapa mengejar sesuatu dengan mengorbankan nyawanya? Nyawa lebih penting daripada seluruh dunia ini. Tetapi Allah lebih penting daripada nyawa kita sendiri. Inilah perkataan yang sangat keras tetapi sangat berkuasa dari seorang yang telah bersedia dimatikan demi Bapa-Nya. Siapa kehilangan nyawa-Nya demi Kristus akan memperoleh nyawa-Nya. Matius membeberkan perkataan ini dengan sangat tajam. Yesus Kristus begitu berkuasa sehingga Dia sanggup menjanjikan hidup kepada siapa pun yang mau melayani Dia. Ikut Yesus! Teladani Dia! Layani Dia! Pasrahkan hidup kepada Dia! Taati Dia dengan sepenuh hati! Yesus sendiri berjanji, semakin banyak seseorang rela kehilangan demi dunia ini, dia akan kehilangan semuanya, tetapi semakin banyak seseorang rela kehilangan demi Tuhan Yesus, Tuhan Yesus sendiri yang akan memberikan kembali dengan limpahnya apa yang telah dia korbankan.

Doa:
Tuhan, tolonglah kami melihat Kristus sebagai Teladan Agung kami. Tolonglah kami melihat janji-Mu sebagai sesuatu yang sungguh benar adanya. Ampuni mata kami dan iman kami yang terlalu kecil sehingga kami sering mengabaikan Engkau. Tolong kami menyerahkan semua bagi-Mu, karena kami tahu Engkaulah pemilik seluruh keberadaan kami. (JP)