Renungan Harian 259 (Rabu, 15 Mei 2019)

Kemuliaan Yesus

Devotion from Matius 16:28; 17:1-9

Di dalam Matius 16:28 Tuhan Yesus mengatakan bahwa ada orang-orang yang tidak akan mati sebelum melihat Yesus datang sebagai raja di dalam kerajaan-Nya. Siapakah orang-orang yang dimaksud? Kemungkinan salah satu yang dimaksud adalah Yohanes karena dia mendapatkan pengelihatan ketika Yesus Kristus datang dan mendirikan kerajaan-Nya di dunia ini. Tetapi ada kemungkinan yang dimaksud adalah Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Mengapa mereka bertiga? Karena mereka bertiga akan menyaksikan Yesus yang berubah wujud, sebagaimana dicatat di dalam Matius 17:1-2. Yesus yang dinyatakan kemuliaan-Nya di depan mereka semua. Tetapi penafsiran yang paling umum diterima adalah Yesus sedang berbicara tentang kebangkitan-Nya. Kebangkitan-Nya dianggap sebagai pernyataan kedatangan-Nya untuk mendirikan kerajaan-Nya di dunia ini. Kebangkitan-Nya juga menghantarkan Yesus menuju kepada takhta-Nya di sebelah kanan Allah. Dengan demikian kebangkitan dapat diidentikkan dengan kedatangan-Nya sebagai raja. Maka, orang-orang yang menjadi saksi kebangkitan-Nyalah yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak akan mati sebelum melihat Yesus datang sebagai Raja di dalam kerajaan-Nya.

Tetapi untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya ini, Yesus Kristus harus terlebih dahulu masuk ke dalam sengsara-Nya. Maka Tuhan membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk pergi ke puncak gunung. Di gunung inilah Yesus berubah wujud dengan disaksikan oleh mereka bertiga. Yesus berubah wujud menjadi begitu terang, jauh lebih terang daripada cahaya matahari. Cahaya ilahi pasti lebih terang daripada cahaya matahari yang diciptakan oleh Allah. Pakaian-Nya yang putih dan wajah-Nya yang bercahaya dengan cahaya yang lebih terang daripada matahari menunjukkan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya. Alkitab juga menyatakan bahwa Musa dan Elia ada bersama-sama dengan Dia untuk membicarakan tentang tujuan kedatangan Yesus ke Yerusalem (Luk. 9:30-31). Mengapa Musa dan Elia? Kedua nabi ini adalah hamba-hamba Tuhan yang Tuhan pakai untuk menyatakan penghakiman. Musa menyatakan penghakiman di gunung Sinai (Kel. 32:1, 27), sedangkan Elia menyatakan penghakiman di gunung Karmel (1Raj. 18:37-40). Bagaimana dengan Yesus? Berbeda dengan Musa dan Elia yang menjadi alat murka Tuhan dalam menyatakan penghakiman-Nya, Yesus menjadi Juru Selamat yang menanggung murka Allah di dalam penghakiman yang seharusnya ditimpakan kepada kita semua. Maka mereka berbicara tentang tujuan-Nya datang ke gunung Sion, di Yerusalem. Tujuan kedatangan yang sama dengan Musa dan Elia, yaitu menyatakan penghakiman Tuhan, tetapi, berbeda dengan Musa dan Elia, Yesus jugalah yang akan menanggung penghakiman itu dengan menjadi yang terhukum. Dia mati di kayu salib untuk menggenapi tuntutan hukuman Allah bagi manusia.

Petrus begitu kagum melihat pemandangan yang sangat menakjubkan ini. Dia kagum sekaligus sangat takut. Maka dia tidak tahu harus berbicara apa sehingga dia menawarkan baik Yesus, Musa, dan Elia mendapatkan kemah untuk mereka beristirahat. Satu kemah untuk satu orang. Tetapi Allah tidak ingin Yesus Kristus disejajarkan dengan Musa dan Elia. Yesus lebih besar daripada Elia. Yesus lebih besar daripada Musa sama seperti seorang ahli bangunan lebih dihargai daripada rumah yang dibangunnya (Ibr. 3:3). Musa setia sebagai hamba yang dipercayakan rumah Tuhan. Yesus setia sebagai anak yang akan menjadi ahli waris rumah tersebut. Maka Allah Bapa langsung menyatakan suara-Nya dari surga. Yesuslah Anak Allah yang Dia kasihi. Kepada Yesuslah Allah berkenan. Inilah pernyataan dari Allah sendiri untuk memberikan posisi yang terbaik bagi Anak-Nya.

Ini merupakan pemandangan yang sangat menakutkan. Bagaikan awan gelap dan api yang sabung menyabung di puncak gunung Sinai, demikian sekarang seolah-olah penghakiman Tuhan dinyatakan di depan para murid. Pemandangan ini sangat menakutkan. Seperti penghakiman Allah sudah tiba dan setiap orang tidak satu pun yang luput dari murka Tuhan dan penghukuman-Nya yang mengerikan. Tetapi setelah pemandangan yang membuat ketiga murid itu tersungkur, Tuhan Yesus sendiri yang menjadi penghibur dan penguat bagi para murid-Nya. Kalimat Tuhan Yesus yang mengatakan, “jangan takut” menjadi penghibur dan penguat bagi para murid semua. Tuhan sendiri yang mengampuni dan memberikan kekuatan di tengah-tengah keadaan kita yang seharusnya dihakimi oleh Tuhan. Dialah sang hakim seluruh dunia. Dialah yang akan menimpakan murka Tuhan di dalam penghakiman akhir. Tetapi justru Dialah yang menanggung hukuman murka Tuhan dan menjadi penyelamat, pelindung, dan Dialah yang mengangkat kita yang sudah begitu kehilangan harapan, untuk kembali kuat di dalam Dia yang sudah mengampuni dosa-dosa kita.

Inilah kemuliaan Kristus. Dia merelakan diri-Nya menjadi korban demi mengangkat para murid untuk menjadi anak-anak Allah yang dipermuliakan. Mari renungkan ini dengan sungguh-sungguh. Peristiwa di mana penghakiman seharusnya ditimpakan justru menjadi peristiwa di mana Kristus memberi kekuatan dengan mengatakan, “jangan takut…”. Jangan takut, karena Tuhan tidak lagi murka kepada kita. Jangan takut karena Kristus sekarang menjadi pembela kita yang mengasihi kita. Jangan takut karena Yesus menjadi Juru Selamat yang mengasihani dan menjaga kita di dalam kuasa dan anugerah-Nya. Kiranya Tuhan terus membentuk kita menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan mengasihi Dia karena kita telah mengerti betapa besar kasih dan pengorbanan-Nya bagi kita semua.

Doa:
Ya Tuhan, terima kasih untuk kasih-Mu yang mengangkat kami dari lumpur dosa. Terima kasih untuk kasih-Mu yang meredakan murka Allah dengan pengorbanan-Mu di kayu salib. Terima kasih untuk belas kasihan-Mu kepada kami yang hina dan berdosa ini. Terima kasih untuk menjadikan kami orang-orang yang mengalami sentuhan tangan kasih-Mu dan perkataan-Mu yang lembut yang berkata kepada kami, “jangan takut…”. Tolong kami supaya kami terus hidup mengasihi-Mu dengan segenap hati dan kekuatan kami. (JP)