Renungan Harian 260 (Kamis, 16 Mei 2019)

Yohanes dan Elia

Devotion from Matius 17:9-13

Yesus berpesan kepada para murid untuk tidak menceritakan apa yang mereka saksikan, yaitu Yesus yang dipermuliakan melampaui Elia dan Musa. Mengapa mereka harus merahasiakan apa yang mereka saksikan? Kemungkinan karena mereka sendiri belum mengerti bahwa Yesus harus menderita lebih dahulu (band. Kis. 1:1-6). Mereka melihat Dia sebagai Mesias yang mengatasi Musa dan Elia. Mereka pasti akan langsung menyebarkan berita tentang kemuliaan Kristus sehingga memperbanyak pengikut yang tidak mengerti jalan salib yang harus Yesus jalani. Itu sebabnya Yesus mengatakan bahwa apa yang mereka saksikan itu harus dirahasiakan dulu sampai Dia disalib. Setelah Dia disalib tentu tidak ada lagi orang yang tidak tahu bahwa Dia harus menderita sengsara dan mati terlebih dahulu. Maka setelah Yesus bangkit barulah orang boleh tahu tentang kemuliaan-Nya yang mengatasi Musa dan Elia. Tanpa pengertian tentang salib Kristus kita hanya mau kemuliaan, kenikmatan, kesenangan, kekayaan, kejayaan, dan segala kuasa mulia dari Yesus. Tetapi jika kita mengerti salib Kristus, maka kita akan meletakkan kemuliaan, kenikmatan, kesenangan, kekayaan, kejayaan, dan segala kuasa mulia dari Yesus sebagai pengharapan yang akan datang setelah di dalam hidup ini kita rela memikul salib dan menderita bagi Yesus. Salib dulu, baru kemuliaan menyusul.

Tetapi para murid begitu terpukau dengan apa yang telah mereka saksikan. Mereka tidak mengerti mengapa Yesus meminta mereka merahasiakan dulu apa yang telah mereka saksikan. Bukankah selama ini pengajaran dari para rabi1 mengatakan bahwa Elia akan bangkit lebih dulu? Bukankah apa yang mereka saksikan menggenapi ajaran para rabi mereka? Mengapa momen ketika nubuat itu terjadi, yaitu Elia bangkit, tidak boleh menjadi momen mereka menyebarkan berita tentang Yesus Sang Mesias? Jika benar sebelum Mesias datang Elia harus bangkit lebih dahulu, bukti apa lagi yang mereka perlukan? Yesus benar-benar Sang Mesias yang kedatangan-Nya disertai dengan Elia yang telah bangkit.

Jika para ahli Taurat dan orang Farisi menolak Yesus sebagai Mesias karena belum ada tanda-tanda kedatangan Elia, maka sekarang mereka tidak lagi punya alasan untuk menolak. Para murid pasti memiliki semangat dan kekuatan untuk memberitakan Yesus sebagai Mesias dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Tetapi Tuhan Yesus mengoreksi pemahaman mereka. Kedatangan Elia bukanlah Elia yang mereka lihat di atas bukit bersama dengan Yesus dan Musa. Elia yang dimaksud ternyata adalah Yohanes Pembaptis (ay. 13). Mengapa? Karena di dalam Maleakhi 4:5 dan 6 mengatakan bahwa Elia ini akan memberikan pertobatan yang sejati di tengah-tengah keluarga-keluarga di Israel. Kedatangan Elia bukanlah Elia yang muncul di atas gunung seperti yang mereka saksikan. Kedatangan Elia adalah Yohanes Pembaptis yang berkhotbah mengenai pertobatan. Dia berkhotbah untuk mempertobatkan orang-orang di Israel. Dia berkhotbah untuk membentuk suatu komunitas orang-orang yang bertobat dan menantikan kedatangan Sang Mesias. Inilah Elia yang dimaksud. Tetapi orang Israel, karena ajaran para rabi mengharapkan kebangkitan Elia yang datang kembali setelah sebelumnya dibawa naik ke surga dengan kereta berapi. Mereka mengharapkan pemandangan spektakuler dari Elia. Mereka mau kereta berapi turun lagi untuk membawa Elia, dan setelah itu barulah Sang Mesias datang dengan spektakuler. Mereka ingin tanda (1Kor. 1:22). Mereka ingin show yang spektakuler. Mereka sangat mirip dengan banyak orang Kristen populer saat ini. Ingin tanda-tanda dahsyat! Ingin sesuatu yang spektakuler! Ingin gemerlap kelap kelip kemuliaan surgawi! Mengapa mereka ingin tanda-tanda spektakuler dan dahsyat? Karena rupanya firman Tuhan yang menyatakan bijaksana Allah dan kehendak Allah di dalam Alkitab sudah sangat tidak spektakuler lagi. Juga karena kekudusan hidup dan kehidupan sederhana yang takut akan Tuhan tidak lagi mendapat tempat di dalam hati para penggemar tanda-tanda mujizat ini. Mereka mau suara Allah yang menggelegar di langit dengan segenap kemuliaan kilat yang menyambar-nyambar dan asap yang memenuhi seluruh gunung. Mereka lupa bahwa suara Allah seperti ini adalah suara penghakiman yang menakutkan, sehingga orang Israel akan mati jika mereka mendengar lebih lama lagi (Kel. 20:19). Manakah yang lebih penting? Tanda-tanda ajaib atau kebenaran firman? Manakah yang lebih berguna? Menjadi penonton dari pertunjukan spektakuler atau menjadi saksi dengan kehidupan yang kudus dan mempermuliakan nama Tuhan? Banyak orang Kristen datang beribadah pun ingin menjadi penonton yang dihibur. Penonton yang merasa berhak jadi raja karena sudah membeli tiket pertunjukan dengan datang ke gereja dan membayar persembahan. Alangkah rusaknya kehidupan Kristen yang seperti ini! Tanda-tanda tidak penting sama sekali jikalau tanda-tanda itu tidak mengarahkan kita kepada kehidupan saleh yang diperkenan Tuhan. Elia yang datang secara spektakuler bukanlah Elia yang dimaksud di dalam nubuat Maleakhi 4:5-6. Kehidupan saleh dan benar memerlukan teguran firman dan seruan pertobatan, bukan tanda-tanda! Tanda-tanda hanyalah untuk menunjukkan bahwa Yesus benar-benar Sang Mesias. Jika kita telah menerima bahwa Dialah Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan, maka kita seharusnya tidak mempunyai mental kerdil yang hanya mencari tanda dan dipuaskan dengan pertunjukan spektakuler. Siapa yang mengikut Kristus harus hidup dengan benar dan saleh, serta rela menderita demi menggenapi kehendak Bapa di surga. Hidup benar, saleh, rela menyangkal diri dan pikul salib tidak mungkin dimiliki tanpa firman Tuhan yang dalam dan teguran yang keras. Siapa yang tidak memperbaiki diri berdasarkan kebenaran firman dan teguran yang keras, dia tidak mungkin menjadi umat yang dipersiapkan untuk Kristus.

Maka Kristus pun mengoreksi pemahaman dari para rabi tersebut. Yesus mengatakan bahwa Yohanes Pembaptislah Elia yang dimaksudkan di dalam Perjanjian Lama. Yohanes Pembaptis membawa seruan pertobatan agar relasi antarmanusia kembali menjadi benar. Setiap pemberontakan manusia pada akhirnya akan tercermin lewat rusaknya relasi antarmanusia. Tetapi Yohanes Pembaptis akan mempersiapkan suatu umat yang kembali kepada Tuhan dengan pertobatan yang sejati. Pertobatan yang tercermin melalui pulihnya relasi antarmanusia. Umat yang mengasihi Tuhan dan yang mencerminkan kasih kepada Tuhan itu melalui kasih kepada sesama manusia. Umat yang mengharapkan Kristus dan menemukannya di dalam diri Yesus, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29).

Tetapi ternyata Yohanes Pembaptis bukan hanya mendahului Sang Mesias di dalam mengkhotbahkan seruan pertobatan dan kedatangan Kerajaan Allah. Yohanes Pembaptis juga mendahului Sang Mesias dengan mati di tangan orang berdosa. Yohanes mati dipenggal oleh Herodes. Demikian juga Sang Mesias akan mati di tangan orang berdosa. Yesus akan dipaku di kayu salib oleh karena orang-orang Yahudi yang membenci Dia. Bukan kemuliaan yang harus dinyatakan Yesus. Dia harus menyatakan pengorbanan-Nya terlebih dahulu. Yohanes Pembaptis mati. Yesus mati. Para murid pun akan mengalami aniaya dan kematian. Tetapi inilah tanda yang Yesus telah nyatakan: Dia akan mengalami sengsara, penderitaan, mati, tetapi bangkit untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Doa:
Ampuni kami, Tuhan, jika kami gagal untuk setia kepada-Mu karena kami mencari kemuliaan. Kami ingin hal-hal spektakuler terjadi dalam hidup kami. Kami lupa bahwa Engkau lebih berkenan kepada kesalehan hidup dan kekudusan hidup. Engkau berkenan akan kekudusan lebih daripada yang lain. Kami rindu menyenangkan hati-Mu, ya Tuhan kami. Oleh karena itu kami mau melatih diri kami untuk peka mendengar seruan-Mu, rela memikul salib yang Engkau bebankan, dan terus diperbarui di dalam kehidupan yang makin kudus. Tolonglah kami, ya Tuhan. (JP)