Renungan Harian 262 (Sabtu, 18 Mei 2019)

Sengsara Kristus

Devotion from Matius 17:22-23

Dua ayat ini melanjutkan pemberitaan Yesus mengenai sengsara-Nya kepada para murid. Ini adalah berita yang sangat mendukakan para murid. Murid-murid berduka karena mereka lagi-lagi berfokus kepada berita sengsara dan kematian. Mereka tidak melihat hingga kemenangan Kristus di dalam kebangkitan-Nya. Tetapi Matius membahas kehidupan Kristus dengan cara yang sangat indah untuk memadukan kuasa-Nya dengan pengorbanan-Nya. Di dalam Yesus Kristus kuasa menjadi identik dengan pengorbanan. Di dalam Yesus Kristus kemuliaan menjadi identik dengan kehinaan. Di dalam Yesus Kristus kekuatan menjadi identik dengan kerelaan dihina, direndahkan, disiksa, bahkan dibunuh. Siapakah yang lebih berkuasa daripada Dia? Bahkan kuasa pemerintahan dunia ini pun tidak cukup untuk menggambarkan kuasa-Nya (Yoh. 18:36). Siapakah yang lebih mulia daripada Dia? Bahkan matahari pun tidak sanggup memancarkan terang lebih daripada Dia (Kis. 26:12-15). Siapakah yang lebih kuat daripada Dia? Bahkan kuasa ribuan setan pun sujud di kaki-Nya (Mrk. 5:5-13). Tetapi kemuliaan, kuasa, dan kekuatan yang Dia miliki dipakai-Nya untuk menggenapi kehendak Allah yang ingin agar Dia direndahkan, diperlakukan tidak adil, disiksa, dihukum mati, dan dipaku di kayu salib demi membebaskan orang berdosa dari murka Allah. Adakah berita lebih agung dari ini? Siapakah pemimpin yang lebih tinggi dari Dia? Di antara pemimpin-pemimpin yang jauh lebih rendah dari Dia, siapakah yang rela diperlakukan serendah Dia? Maka Matius terus mengingatkan akan betapa berkuasa, kuat, dan mulianya Yesus Kristus. Dia ditinggikan oleh Allah melampaui kemuliaan Elia dan Musa. Dia mengusir setan dan setan-setan tunduk pada-Nya. Tetapi setelah itu Dia mengumumkan apa yang harus Dia alami, yaitu menderita sengsara dan mati. Inilah Injil. Yang tidak seharusnya mati rela mati demi yang seharusnya mengalami kematian. Yang seharusnya dipermuliakan rela dihina supaya yang hina dapat kedudukan mulia di dalam Dia. Yang berkuasa rela ditundukkan dan dimatikan oleh yang lemah supaya yang lemah dapat menjadi kuat di dalam Dia. Inilah paradoks berita Injil itu. Tidak ada orang yang belum diperbarui oleh Roh Kudus dapat memahami hal ini. Bagi dunia ini Kristus adalah batu sandungan. Bagaimana mungkin mau percaya kepada orang yang mati. Mengaku berkuasa atas segala sesuatu tetapi berakhir di atas kayu salib sebagai seorang hukuman. Ini adalah penguasa palsu bagi dunia ini. Tetapi bagi orang-orang yang telah diperbarui oleh Roh Kudus, Kristus adalah segalanya bagi mereka. Dialah Juru Selamat mereka. Dialah hikmat mereka. Dialah sumber kekuatan mereka. Justru karena Dia telah mati di kayu salib maka kita beroleh kesempatan untuk hidup di hadapan Allah.

Mengapakah Yesus Kristus rela mati di kayu salib? Hal pertama yang terus ditekankan oleh Matius adalah karena belas kasihan-Nya kepada orang berdosa. Dia tahu bahwa satu-satunya cara umat Tuhan dapat memperoleh keselamatan adalah dengan pengorbanan yang dilakukan-Nya di atas kayu salib. Dia berbelaskasihan kepada kita. Dia mengasihani orang yang dipermainkan setan, maka Dia mengusir setan. Dia mengasihani orang yang dibuang masyarakat karena penyakit kusta, maka Dia menahirkan dan menyembuhkan mereka. Dia mengasihani orang-orang yang berduka karena kehilangan orang yang dikasihi, maka Dia membangkitkan orang mati. Dialah satu-satunya harapan kita dapat memperoleh belas kasihan. Mengapa hanya Dia? Karena hanya Dialah yang memiliki kuasa tertinggi yang mutlak, tetapi rela mengasihani kita yang sangat hina dan rendah ini. Bagaimanakah manusia dapat diselamatkan? Hanya melalui Yesus Kristus! Hanya melalui Pribadi paling agung dan berkuasa tetapi rela merendahkan diri bagi kita yang berdosa. Tuhan Yesus mengasihani manusia. Tuhan Yesus mengasihani engkau dan saya. Tuhan Yesus mengasihani pemberontak-pemberontak. Tuhan Yesus mengasihani dunia berdosa ini. Belas kasihan-Nya inilah yang menggerakkan Dia untuk berkorban demi kita sehingga kita boleh diperdamaikan dengan Allah. Murka Allah karena dosa dipikul-Nya di kayu salib sehingga murka itu telah tercurah dengan sempurna di dalam kematian-Nya. Karena itulah kita boleh diselamatkan. Lihatlah kepada Dia. Siapakah sumber belas kasihan selain Dia? Jika kita menolak Dia, kepada siapakah kita akan berpaling? Siddharta Shakyamuni? Dia tidak pernah menyerahkan nyawanya bagi manusia. Confucius? Dia tidak pernah menyerahkan nyawanya bagi manusia. Socrates? Dia tidak pernah menyerahkan nyawanya bagi manusia. Muhammad? Dia tidak pernah menyerahkan nyawanya bagi manusia. Yesus adalah sumber hidup. Dia hidup dari kekal sampai kekal. Dialah pemimpin kepada hidup (Kis. 3:15), tetapi Dia rela menyerahkan hidup-Nya bagi manusia. Tidak pernah orang-orang agung di dalam sejarah mengucapkan kalimat yang dikatakan Yesus. Yesus menubuatkan kematian-Nya berkali-kali sebelum Dia akhirnya ditangkap. Hanya Dialah yang mati demi menghidupkan orang lain. Tidak ada yang lain berani mengatakan hal ini. Belas kasihan-Nya kepada kita mengakibatkan kematian-Nya. Karena kasih-Nya Dia harus membayar dengan nyawa-Nya. Masihkah mengeraskan hati untuk menolak Dia?

Hal kedua mengapa Dia rela mati di kayu salib adalah karena inilah rancangan Allah bagi keselamatan manusia. Dia tidak mati karena terjepit keadaan di mana Dia tidak lagi punya pilihan. Keadaan menjadi sebagaimana adanya karena Allah telah berencana demikian. Setiap nubuat yang menjadi nyata di dalam tahap-tahap sejarah membuktikan bahwa Allah telah merancangkan keselamatan ini di dalam kekekalan. Efesus 1:4 mengatakan bahwa pilihan bagi orang-orang yang akan diselamatkan telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan. Kristus sebagai pokok keselamatan bagi orang-orang pilihan juga merupakan rencana kekal Allah. Rencana ini bukanlah respons terhadap keadaan di dunia. Keadaan di dunia justru terjadi sebagai akibat dari rancangan kekal Allah. Inilah yang harus kita ketahui untuk mengagumi Allah dengan kekaguman yang sepantasnya Dia terima. Kita tidak mengagumi Dia sebagai perencana yang sanggup merencanakan sesuatu di tengah-tengah keadaan yang buruk. Kita mengagumi Dia sebagai arsitek seluruh sejarah yang merancang di dalam kekekalan segala hal yang terjadi di dalam sejarah. Kedatangan Kristus adalah bagian sangat penting di dalam rancangan itu. Maka kedatangan Kristus dan kerelaan-Nya menderita adalah karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa dengan menggenapi apa yang menjadi rencana-Nya dengan sempurna. Kristus datang karena taat kepada Bapa di surga. Dia menderita karena bagi Dia kehendak Bapa-Nya di surga lebih penting daripada kenyamanan pribadi-Nya.

Sudahkah kita meneladani Kristus? Dia rela menderita karena belas kasihan-Nya kepada orang lain. Sudahkah kita meneladani Kristus? Dia rela menderita karena ketaatan-Nya kepada Bapa di surga.

Doa:
Tuhan, kami berjanji untuk meneladani Kristus. Kami mau melangkah di dalam jejak-jejak kaki-Mu yang telah lebih dulu melangkah di depan kami. Kami mau belajar berkorban karena didorong oleh belas kasihan kami kepada orang lain. Kami mau belajar berkorban demi menaati Tuhan kami. Kuatkan kami yang lemah ini, ya Tuhan. (JP)