Renungan Harian 263 (Minggu, 19 Mei 2019)

Pajak untuk Bait Allah

Devotion from Matius 17:24-27

Ketika bangsa Israel diperintah oleh dinasti Makabe pada abad 164-63 SM, semua laki-laki Yahudi dewasa diwajibkan membayar dua dirham. Ini setara dengan rata-rata penghasilan pekerja harian selama dua hari pada waktu itu. Pada zaman Tuhan Yesus, kebiasaan ini masih terus diberlakukan, tetapi dengan banyak pertentangan. Orang Eseni tidak menganggap Bait Suci ini sah karena dipugar secara besar-besaran oleh Herodes. Orang Saduki menentang pembayaran pajak ini. Sebagian besar orang menganggap tokoh agama tidak perlu diwajibkan membayar. Di tengah-tengah perdebatan inilah seorang pemungut pajak Bait Suci datang ke Petrus di Kapernaum. Pertanyaannya di dalam ayat 24 menunjukkan dua hal. Pertama, pemungut pajak ini ingin tahu di manakah posisi Yesus. Menentang membayar pajak Bait Suci, atau setuju? Lalu hal yang kedua adalah dia ingin menekankan posisinya bahwa seharusnya Yesus juga membayar pajak Bait Suci, dan karena itu seharusnya Yesus segera melunasinya kepada dia.

Petrus menjawab bahwa Yesus membayar pajak tersebut. Setelah bertemu Yesus kembali, Petrus segera mendapatkan pertanyaan dari Yesus mengenai apa yang telah terjadi. Inilah pernyataan kemahakuasaan Yesus. Tanpa bertanya Dia tahu apa yang dialami Petrus. Maka Yesus mengajukan pertanyaan mengenai pajak yang dibebankan oleh pemerintahan dunia ini. Yesus sedang membicarakan tentang wewenang kerajaan-kerajaan besar untuk membebaskan pajak. Orang-orang atau sekutu-sekutu yang dianggap penting bagi Romawi dibebaskan dari pajak. Mereka diberikan penghargaan sebagai sekutu yang berharga bagi kerajaan. Inilah yang mendorong beberapa golongan di dalam zaman Yesus menolak membayar pajak, termasuk pajak Bait Suci ini. Mereka menganggap bahwa golongan mereka seharusnya dihargai dengan dibebaskan dari pajak, terutama pajak Bait Suci ini. Mereka juga menganggap bahwa orang-orang yang melayani di dalam keagamaan atau mempunyai posisi sebagai pengajar Taurat seharusnya dibebaskan dari pajak Bait Suci. Inilah arti pertanyaan Yesus. Dia sedang meminta Petrus berpikir tentang perdebatan yang sedang terjadi di tengah-tengah Israel pada waktu itu. Petrus menjawab dengan mengambil posisi yang sama dengan orang-orang yang menolak membayar pajak Bait Suci tersebut. Jika Petrus menolak, apakah Yesus juga menolak? Ayat 27 menunjukkan kepada kita bahwa Yesus tidak menganggap perdebatan itu penting. Meskipun Dia mengetahui bahwa Dia seharusnya tidak perlu membayar pajak itu, Dia tidak memikirkan bagaimana caranya untuk memperjuangkan hak-Nya tidak membayar pajak. Dia lebih memikirkan apakah orang yang menagih pajak itu akan menjadi jauh dari Kerajaan Allah karena penolakan Yesus membayar pajak atau tidak. Itulah sebabnya di dalam ayat 27 Yesus mengatakan bahwa Dia akan membayar, yaitu supaya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Batu sandungan bisa berarti dua hal. Yang pertama adalah mendorong orang-orang yang menolak membayar pajak untuk menjadikan Yesus pemimpin mereka untuk melawan sistem yang merugikan mereka. Yang kedua adalah menjauhkan orang-orang yang menganggap bahwa seharusnya Yesus membayar pajak Bait Suci tersebut dari berita Injil.

Lalu kejadian yang terjadi berikutnya adalah Yesus menyuruh Petrus pergi memancing. Ini sangat aneh. Apakah kaitan memancing dengan membayar pajak? Ternyata dari ikan yang akan ditangkap itulah Tuhan telah menyediakan uang untuk membayar pajak Bait Suci tersebut. Tuhan ingin mengajarkan kepada Petrus bahwa ketika dia tidak membela diri dan memperjuangkan hak sendiri, maka Tuhanlah yang akan menyediakan apa yang dia perlukan. Dia tidak perlu khawatir akan dirugikan terus menerus ketika dia tidak berteriak untuk membela diri. Tuhanlah yang menyediakan segala yang diperlukan Petrus, dan Tuhan jugalah yang menyediakan segala yang kita semua perlukan.

Craig Keener menafsirkan bahwa Matius mencatat peristiwa ini untuk menguatkan orang-orang Kristen Yahudi yang juga dipaksa membayar pajak Bait Suci.1 Meskipun mereka tidak beribadah di Bait Suci, tetapi mereka diminta untuk membayar karena dianggap bagian dari aliran agama Yahudi. Kisah ini menguatkan mereka untuk tidak perlu menghabiskan tenaga berjuang menentang pemerintahan agama Yahudi ataupun kebijakan pajak Romawi. Lebih baik mereka konsentrasi untuk hidup kudus di dalam Kristus dan memberitakan Injil. Tetapi bukankah pajak yang cenderung tidak adil ini akan terus merugikan keuangan orang-orang Kristen Yahudi? Ya, jika Tuhan tidak memelihara mereka. Tidak, jika Tuhanlah pemelihara mereka. Tuhan bisa menyediakan uang dari mulut ikan kalau perlu. Tuhanlah yang nanti akan mencukupkan. Karena itu orang-orang Kristen tidak perlu takut dan terus khawatir. Tuhan akan sediakan. Tugas dan bagian kita adalah memperjuangkan dengan segenap kekuatan semua pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita, dan Tuhan akan memperjuangkan bagian lain dalam hidup kita.

Kiranya bagian ini menguatkan kita kembali bahwa Tuhan sanggup memelihara hak kita meskipun kita tidak memperjuangkannya. Ini tidak berarti kita tidak perlu memperjuangkan keadilan. Tuhan sangat benci orang yang berlaku tidak adil. Tuhan juga benci orang yang tidak memperjuangkan keadilan. Tetapi Tuhan mengasihani orang-orang yang diperlakukan tidak adil. Tuhan juga membela orang yang tidak membela diri. Jadi panggilan orang Kristen adalah untuk memperjuangkan keadilan dan orang-orang lain yang diperlakukan tidak adil. Tetapi orang Kristen tidak dituntut untuk sanggup membela diri. Bahkan Tuhan akan menjadi pembela bagi orang-orang yang terus memperjuangkan kepentingan orang lain. Kita tidak perlu takut  bahwa kita tidak sanggup mendapatkan keadilan bagi diri sendiri. Tuhan yang akan mengurus itu semua. Maka kita dapat belajar dari kisah Petrus ini. Tuhan meminta Petrus tetap membayar pajak Bait Suci, dan Tuhanlah yang akan mencukupkan apa yang Petrus perlukan. Orang Kristen perlu menjalankan kewajibannya dalam membayar pajak. Tetapi bagaimana bila pajak itu diberlakukan di tengah-tengah keadaan yang tidak adil? Bagaimana bila pajak itu membuat kita berada dalam posisi dirugikan? Tuhanlah yang memberikan kepada kita semua yang ada di dalam genggaman kita. Tuhan juga yang akan memberi segala yang kita perlukan. Tuhan pemilik segala sesuatu, Dialah yang akan memerhatikan kebutuhan kita. Tuhan sumber segala keadilan, Dialah yang akan memerhatikan dan memperjuangkan hak kita.

Doa:
Tuhan, kami bersyukur sebab di tengah-tengah menjalankan kewajiban kami, kami boleh mendapatkan kekuatan dari penyertaan Tuhan. Tuhan yang menyertai hidup kami, Tuhan yang memberikan apa yang kami perlukan, Tuhan yang berjuang demi orang-orang tertindas, Tuhan yang memerhatikan hak orang-orang miskin, kami bersyukur dapat mengenal Engkau, Tuhan yang sejati. Tolong kami untuk dikuatkan terus oleh kebenaran firman-Mu sehingga kami menjalankan kewajiban kami tanpa rasa takut. (JP)