Renungan Harian 264 (Senin, 20 Mei 2019)

Kemuliaan bagi yang Kecil

Devotion from Matius 18:1-6

Di dalam tradisi para rabi, dikenal kebiasaan untuk ancaman hukuman yang sangat besar bagi mereka yang menghina pemimpin agama atau pengajar agama. Sering kali ancaman hukuman itu adalah diikat dengan batu lalu ditenggelamkan. Siapa yang berani menghina orang penting akan dihukum dengan sangat kejam. Bahkan hukuman ditenggelamkan dengan diikat batu ini sering kali dianggap sebagai hukuman yang hanya dikalahkan oleh hukuman salib sebagai hukuman paling hina dan ditakuti. Mengapa hukuman bagi penista pemimpin agama begitu berat? Karena mereka adalah orang-orang terhormat dan berjasa sangat besar di dalam masyarakat. Mereka juga adalah orang-orang bijak yang memiliki banyak pengetahuan tentang Kitab Suci dan tradisi agama Yahudi sehingga mereka menjadi petunjuk hidup benar bagi umat Tuhan. Siapa yang tidak menghormati mereka, dia menghina Tuhan. Siapa yang mengucapkan kata-kata melawan mereka akan ditenggelamkan.

Tetapi Tuhan Yesus merombak pengertian ini dengan memberikan kepada anak kecil penghargaan yang begitu besar. Siapakah yang akan diikat batu kilangan dan ditenggelamkan di laut? Orang yang menyesatkan anak kecil. Anak kecil bukanlah orang yang dianggap penting dalam masyarakat, apalagi masyarakat Yahudi. Perempuan dan anak-anak sering kali dianggap sebagai kaum yang lebih lemah dan tidak masuk hitungan. Anak kecil pastilah bukan orang yang bisa menjadi pemimpin masyarakat. Anak kecil juga tidak mungkin menjadi penasihat bagi umat Tuhan untuk menjalani hidup yang benar. Anak kecil tidak punya pengetahuan apa pun tentang Kitab Suci maupun hikmat yang bisa dibagikan kepada orang lain. Tetapi mengapa di dalam ayat 6 Yesus memberikan hukuman yang sangat berat kepada orang-orang yang bertindak salah kepada anak kecil? Siapakah anak kecil yang dimaksud? Tuhan Yesus menunjuk kepada orang-orang yang dianggap rendah di dalam masyarakat ataupun di dalam gereja. Mereka bukan saja harus dianggap penting, tetapi Tuhan Yesus bahkan mengatakan bahwa mereka harus disambut seperti Dia sendiri disambut. Tuhan Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang terendah di dalam masyarakat dan di dalam gereja.

Ajaran Tuhan ini membalikkan cara berpikir masyarakat pada waktu itu dan juga pada saat sekarang: Orang yang dihargai adalah orang yang berjasa atau berguna bagi hidup kita. Kitalah yang penting, sehingga kita akan menghargai orang-orang yang melayani kepentingan kita. Jika ada yang sanggup memberikan hal yang berguna dalam hidup kita, dia adalah orang penting. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan kepada setiap murid-Nya untuk menjadi orang yang hidup demi memberkati orang lain, tetapi memberikan penghormatan kepada orang yang rendah dan tidak sanggup menjadi berkat bagi siapa pun karena keadaannya yang rendah itu. Orang miskin yang tidak mampu bantu orang lain, atau orang-orang tua yang sudah pikun dan tidak sanggup mengerjakan apa pun sendiri, mereka justru harus disambut seperti orang menyambut Kristus. Mengapa Kristus mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang rendah? Karena Dia memberikan kasih-Nya kepada orang-orang rendah seperti ini. Dia mengasihi dan rela berkorban bagi mereka. Dia yang begitu agung dan mulia rela datang ke dalam dunia yang hina demi manusia berdosa.Tetapi pada bagian ini Yesus mengajarkan sesuatu yang lebih dalam lagi, yaitu memberikan penghormatan. Kita tidak hanya diperintahkan untuk memiliki belas kasihan, tetapi juga penghormatan kepada mereka yang rendah. Siapakah yang memberikan penghormatan kepada anak kecil? Yesus memberikan penghormatan kepada anak kecil. Dengan cara apa? Dengan cara menjadikan anak kecil standar untuk warga Kerajaan Surga. Siapa yang mau menjadi anggota kerajaan, dia harus menjadi seperti anak kecil. Anak kecil penuh dengan kepolosan, tidak pura-pura, tidak merasa diri besar. Anak kecil punya kerendahan hati yang alami di hadapan orang dewasa karena dia tahu dia belum bisa disejajarkan dengan orang-orang dewasa. Orang yang merendahkan diri, tidak merasa layak, tidak merasa penting, inilah ciri dari orang-orang di dalam Kerajaan Allah.

Cara kedua yang Yesus lakukan untuk memberikan penghormatan kepada anak kecil adalah dengan menjadikan mereka gambaran untuk menggambarkan diri-Nya sendiri. Siapa menghargai anak kecil sedang menghargai Kristus. Kristus tidak pernah menempatkan diri-Nya di tempat para raja dan orang-orang besar. Allah Bapa meninggikan Dia lebih daripada para raja dan para pembesar, tetapi Dia sendiri menempatkan diri-Nya bersama-sama dengan orang-orang tahanan, orang-orang lapar, orang-orang telanjang, orang-orang miskin, dan anak-anak kecil (Mat. 25:37-40; 18:5).

Lalu cara yang ketiga yang Yesus lakukan untuk memberikan penghormatan kepada anak kecil adalah dengan menjadikan mereka selevel dengan para rabi dan orang-orang penting di dalam agama Yahudi. Siapa menyesatkan anak kecil akan ditenggelamkan. Yesus mengidentikkan kepolosan anak kecil dengan umat Allah yang tulus dan dikasihi oleh Tuhan. Merekalah yang seharusnya dihormati.

Apakah kita sudah memberikan seluruh perhatian dan usaha untuk mengerjakan perintah Tuhan dalam ayat-ayat ini? Bagaimanakah cara kita hidup? Seperti anak kecil yang merasa tidak layak disejajarkan dengan orang lainkah? Seperti anak kecil yang tulus dan poloskah? Atau penuh kepalsuan dan kesombongan? Penuh peninggian diri dan sikap merendahkan orang lain? Sudahkah kita menghargai orang lain, termasuk menghormati orang-orang rendah? Siapa yang menghormati seorang pembantu? Siapa yang menghormati seorang pengemis? Siapa yang menghormati anak kecil? Ini semua perintah yang sepertinya tidak masuk akal. Kita mengasihani mereka, bukan menghormati. Tetapi Tuhan Yesus berkata hormati seperti menghormati Dia sendiri! Mengasihani orang rendah dan orang miskin saja tidak cukup. Hanya mengasihani membuat kita sama dengan negara-negara penakluk yang menjajah bangsa-bangsa lain. Mereka mengasihani tetapi tidak pernah memberikan penghormatan yang layak kepada bangsa-bangsa jajahan mereka. Hanya mengasihani orang rendah belum menjalankan apa yang Tuhan Yesus perintahkan! Sudahkah kita juga menghormati mereka? Bagaimana cara kita berbicara kepada pembantu kita? Bagaimana cara kita memberi perintah kepada orang-orang kecil yang rendah? Bagaimana cara kita berbicara kepada pelayan di restoran? Banyak orang Kristen begitu sombong dan angkuh. Bicara bagaikan seorang Raja Persia sedang memerintah bawahannya. Ini sifat yang sangat dibenci Tuhan. Hormati orang lain! Hormati orang rendah! Tuhan tidak menuntut kita untuk membungkukkan badan dan sujud kepada mereka. Tuhan ingin agar kita menghormati sesama kita manusia. Menghormati mereka sebagai gambar dan rupa Allah. Menghormati mereka tanpa melihat atribut-atribut kekayaan, kedudukan, pendidikan, dan lain-lain. Menghormati mereka karena Allah menjadikan mereka gambar dan rupa-Nya sendiri.

Doa:
Tuhan, tolonglah kami yang terlalu buta dan selalu sesat. Kami terus disesatkan oleh harta dan kedudukan orang lain di dalam masyarakat. Kami lupa bahwa orang miskin, bahkan pengemis sekalipun adalah manusia yang diciptakan berdasarkan gambar dan rupa Allah. Kami lupa bahwa Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan orang di dalam penjara, orang telanjang, dan anak-anak kecil. Tolong kami untuk menghormati sesama kami dengan tulus. (JP)