Renungan Harian 266 (Rabu, 22 Mei 2019)

Celaka Bagi Para Penyesat

Devotion from Matius 18:6-9

Anak-anak kecil menjadi simbol bagi ketulusan hati dan kepolosan. Anak kecil tidak mahir dalam menipu orang lain atau berpura-pura kepada orang lain. Anak kecil juga belum bisa membedakan mana baik mana jahat. Dia tidak tahu kalau dia sedang bertemu dengan seekor serigala. Tuhan mengasihi domba-domba-Nya dan menganggap mereka seperti anak kecil yang sangat mudah dibuat tersesat. Celakalah orang-orang yang membuat domba-domba kesayangan Tuhan menjadi sesat dan terhilang. Setiap orang yang Tuhan percayakan untuk menjadi guru atau gembala bagi domba-domba-Nya adalah orang-orang yang dituntut-Nya dengan standar yang sangat tinggi. Siapa yang membuat domba-domba-Nya tidak lagi mengenal Sang Gembala dan kebenaran-Nya, celakalah dia.

Banyak orang di dalam gereja Tuhan adalah orang-orang yang tulus dan yang sangat Tuhan kasihi. Mereka begitu mudah percaya kepada apa yang diajarkan kepada mereka. Mereka dengan senang hati menerima setiap ajaran yang diberikan kepada mereka. Mereka membuka pintu mereka untuk orang-orang yang memiliki bulu domba tetapi sesungguhnya adalah serigala-serigala buas. Mereka begitu bodoh dan tidak mampu membedakan manakah yang memuliakan nama Tuhan dan manakah ajaran palsu yang penuh kesesatan. Tetapi, meskipun mereka begitu polos dan bodoh, Tuhan tetap mengasihi mereka. Bahkan Tuhan sangat mengasihi mereka seperti seorang bapa mengasihi anaknya yang masih kecil. Tuhan sangat mengasihi mereka sehingga Dia membangkitkan pengajar-pengajar dan gembala-gembala untuk melayani mereka. Tuhan sangat mengasihi mereka sehingga Dia akan menjadi sangat murka bila ada yang menyesatkan mereka.

Penyesatan di dalam gereja merupakan suatu dosa yang sangat dibenci Tuhan. Tetapi tidak banyak yang menyadari hal ini. Ketika doktrin dianggap tidak penting, ketika diskusi mengenai ajaran theologi dihindari, dan ketika perdebatan antara doktrin yang benar dengan yang tidak benar dianggap sebagai kegiatan memecah-belah gereja, maka perbedaan antara ajaran yang benar dengan ajaran palsu menjadi tidak jelas. Ketika semua dianggap benar, maka akhirnya yang sesat dan merusak dianggap sama dengan kebenaran Tuhan yang memimpin ke dalam pengudusan. Jangan biarkan diri kita disesatkan orang lain. Carilah kebenaran dan doa supaya Tuhan menuntun kita ke dalam kebenaran. Minta belas kasihan Tuhan untuk gereja-Nya supaya tidak lagi dikuasai oleh penipu-penipu dan penyesat-penyesat yang sangat pandai menarik orang-orang ke dalam dusta dan penyesatan mereka. Tuhan pasti akan menghukum mereka yang menyesatkan anak-anak kesayangan-Nya.

Tuhan Yesus memberikan peringatan dengan kata “celakalah!” Ini merupakan peringatan yang sangat keras. Siapa yang berani melanggar akan mendapatkan kebinasaannya. Celakalah mereka yang mengadakan penyesatan! Celaka seperti apakah yang akan menimpa para penyesat ini? Mereka akan mendapatkan kebinasaan mereka dari Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang pantas dijatuhi hukuman yang sangat mengerikan, yaitu ditenggelamkan di dalam laut dengan batu kilangan diikatkan di leher. Ini adalah lambang dari penghukuman kekal Tuhan! Begitu mengerikannya ancaman Tuhan bagi para penyesat, sehingga para murid diberikan nasihat untuk mengawasi diri sebaik mungkin. Setiap potensi berdosa yang muncul harus disingkirkan. Bahkan cara penyingkiran yang diajarkan Yesus adalah dengan mengamputasi dan membuangnya supaya kita dapat masuk ke dalam hidup. Tangan menyesatkan? Buanglah tangan itu! Kaki menyesatkan? Buanglah kaki itu! Ini adalah perintah yang sangat keras.

Tetapi apakah ini berarti kita harus mengamputasi tubuh kita supaya dosa kehilangan kuasanya? Bukankah dosa juga berada di dalam pikiran? Bagaimana mengamputasi pikiran? Contoh yang Yesus berikan, yaitu memotong tangan dan kaki merupakan bagian dari pengertian orang-orang Yahudi bahwa siapa yang mempertahankan iman meskipun disiksa, bahkan dipotong anggota tubuhnya, akan diberikan penghargaan di dalam hidup yang baru. Mereka akan dibangkitkan dengan keadaan tubuh terpotong dan masuk ke dalam hidup yang baru bersama Tuhan dengan keadaan tersebut. Keadaan itu akan diperbaiki oleh Tuhan, dan mereka akan diberikan tubuh yang lengkap dan utuh. Tetapi sebelum tubuh itu diperbaiki, semua orang harus melihat dulu keadaan tubuh mereka yang telah terpotong dan disiksa. Maka, siapa yang mempertahankan iman dengan rela kehilangan anggota tubuhnya sendiri, dia akan diberikan penghargaan sangat tinggi oleh Tuhan. Pengertian inilah yang dijadikan contoh oleh Tuhan Yesus. Jika kita berjuang untuk menghindarkan diri dari semua hal yang mampu membuat kita jatuh ke dalam dosa, Tuhan akan mengingatnya dan memberikan penghargaan pada waktunya nanti. Berarti setiap kita dituntut untuk meninggalkan segala hal yang berpotensi menjadikan kita penyesat-penyesat dengan ajaran yang salah. Kita dituntut untuk menjaga diri sekuat tenaga sehingga kita tidak menyesatkan domba-domba kecil yang Tuhan sangat kasihi.

Penyesatan adalah dosa yang sangat dibenci Tuhan. Karena itu setiap potensi untuk menjadikan kita penyesat harus dipotong dan dibuang. Tetapi apa sajakah yang membuat kita berpotensi menjadi penyesat? Yang pertama adalah meninggikan tradisi lebih daripada firman Tuhan. Ini membuat orang menjadi penyesat karena menganggap kebiasaan keluarga, suku, bangsa, tradisi nenek moyang, dan semua kebiasaan-kebiasaan yang dibakukan lebih mengikat daripada firman Tuhan. Yang kedua adalah meninggikan kebebasan berpikir. Jika meninggikan tradisi adalah dosa, maka membuang tradisi yang baik juga adalah dosa besar. Tuhan bekerja melalui tradisi yang baik. Gereja mewariskan kebiasaan-kebiasaan baik di dalam berdoa, memuji Tuhan, mendengar firman. Jika ini semua kebiasaan baik ini dihina dan dibuang, maka gereja sedang jatuh ke dalam dosa besar, yaitu menolak pekerjaan Tuhan di dalam sejarah gereja. Yang ketiga adalah meninggikan diri sebagai pengaruh dan penguasa atas orang-orang yang dipercayakan. Pengajar dan pemimpin yang mau berkuasa atas yang dipimpin pasti akan menjadi penyesat. Mengapa? Karena mereka tidak mungkin bisa mengajarkan kerendahan hati dan kerelaan menjadi hamba kepada orang-orang yang mereka bimbing. Lalu hal keempat yang membuat kita menjadi makin jauh dari kebenaran dan makin dekat dengan penyesatan, adalah perasaan merendahkan orang-orang yang di bawah kita. Jika kita menganggap orang-orang yang kita ajar adalah orang-orang bodoh atau orang-orang yang tidak penting, maka kita akan menjadi penyesat yang tidak peduli apa yang akan menjadi nasib akhir orang-orang yang mendengar kita. Hal kelima, yang paling penting untuk diingat, adalah tidak adanya rasa takut akan Tuhan melalui pengenalan yang sejati akan Tuhan. Semakin kenal Tuhan, semakin takut akan Dia. Semakin kenal Tuhan, semakin mengasihi Dia. Inilah yang benar! Tetapi jika kita tidak kenal Tuhan, kita tidak akan takut akan Dia. Jika kita tidak takut akan Dia, kita akan berani mengatasnamakan Dia untuk ajaran penuh dosa yang kita sedang ajarkan. Jika kita tidak takut akan Dia, kita berani menempatkan diri kita sejajar dengan para penulis Kitab Suci. Kita akan sangat berani mengatakan, “Tuhan berbicara kepadaku…” Tetapi jangan lupa bahwa perkataan ini juga adalah perkataan nabi palsu yang sudah pasti akan binasa di dalam murka Tuhan (Yer. 23:32). Mereka yang tidak takut Tuhan berani memanipulasi nama Tuhan. Mereka pasti akan binasa.

Inilah lima hal yang sangat berbahaya. Biarlah kita hindari hal-hal ini dengan sekuat tenaga agar kita tidak menjerumuskan orang lain di dalam kesesatan berpikir.

Doa:
Tuhan, tolonglah kami menghargai orang-orang yang begitu polos. Tolong kami untuk tidak memanfaatkan ketidaktahuan mereka demi menonjolkan diri kami dan menundukkan mereka untuk menjadi pengikut kami. Tolong kami untuk menghargai mereka sebagai domba-domba Tuhan yang sangat Tuhan kasihi. (JP)