Renungan Harian 267 (Kamis, 23 Mei 2019)

Kasih kepada Yang Terhilang

Devotion from Matius 18:10-14

Pengajaran Tuhan Yesus dilanjutkan dengan menekankan penghargaan kepada mereka yang kecil. Penghargaan yang Tuhan sendiri nyatakan dengan adanya malaikat mereka di surga yang memandang wajah Bapa. Apakah maksudnya malaikat mereka di surga? R. T. France mengatakan bahwa ini merupakan cara pembandingan yang sangat unik, sebab Yesus sedang mengatakan bahwa anak-anak kecil yang polos itu sama seperti malaikat-malaikat di surga yang memandang wajah Allah.1 Bagaimana mungkin malaikat disamakan dengan anak kecil? Bukankah malaikat itu selalu identik dengan tentara perkasa yang berperang bagi Allah? Di dalam budaya modern kita sering melihat gambaran malaikat yang lucu, manis, seperti bayi atau anak kecil. Ini adalah gambaran yang tidak dikenal di dalam dunia Perjanjian Baru. Malaikat adalah tentara Allah yang perkasa. Mereka bersinar terang menyatakan kemuliaan surgawi. Mereka bisa mematikan tentara-tentara manusia yang paling kuat sekalipun. Mereka membela kemuliaan Allah dan menjaga kekudusan Allah dengan pedang yang menyala-nyala. Malaikat identik dengan kuasa dan kekuatan yang besar. Malaikat tidak pernah identik dengan anak kecil. Tetapi Tuhan Yesus mengingatkan bahwa di hadapan Allah Bapa di surga, para malaikat itu memandang wajah Bapa-Nya dan bersikap seperti seorang anak kecil yang rendah dan taat mutlak. Para malaikat hidup di hadapan Bapa di surga seperti seorang anak kecil yang polos.

Ketaatan dan kerendahan hati inilah yang membuat para malaikat menyembah dan sujud kepada Bapa di surga. Itulah yang membuat anak-anak mirip dengan malaikat. Maka, setelah memberikan gambaran umat-Nya yang dikasihi-Nya seperti anak-anak, Yesus melanjutkan dengan memberikan gambaran umat-Nya yang diperhatikan-Nya seperti domba-domba yang dikasihi oleh gembala mereka. Umat-Nya yang paling rendah sekalipun memiliki gambaran kekuatan para malaikat yang tunduk kepada Allah. Umat-Nya yang paling tidak berharga dalam pandangan dunia ini pun akan dicari oleh Allah dengan kesungguhan seorang gembala yang mencari satu dari kumpulan domba-dombanya. Kalau seorang gembala akan meninggalkan 99 domba-dombanya yang tidak sesat untuk mencari satu domba yang terhilang, demikian juga Bapa di surga tidak ingin satu pun dari anak-anak-Nya terhilang. Terhilang karena tidak percaya Tuhan, terhilang karena ajaran yang sesat, terhilang karena terus berada di dalam dosa, maupun terhilang di dalam jerat yang ditebarkan oleh si jahat, semua ini tidak diinginkan oleh Bapa di surga. Jika yang terhilang itu adalah anak-Nya yang telah dipilih-Nya, maka pasti Dia akan cari hingga dimenangkan kembali.

Tuhan begitu mengasihi kita sehingga ketika kita tersesat, Dia akan meninggalkan yang lain untuk mencari kita. Yang tidak sesat tidak perlu perhatian lebih. Yang tersesat yang justru perlu perlakuan khusus dan penjangkauan yang khusus. Tuhan tidak mencari karena prestasi rohani kita. Tuhan tidak mencari karena kita sudah melakukan banyak hal untuk Dia. Cara dunia memberikan penghargaan karena prestasi dan kehebatan, ini semua adalah pengertian yang sangat berbeda dari pengertian pengampunan Tuhan. Tidak satu pun manusia yang diampuni-Nya karena prestasi rohani. Bahkan tidak satu pun yang diampuni-Nya karena potensi yang dimiliki untuk mengembangkan gereja. Tuhan tidak melihat itu. Tuhan hanya melihat salah satu domba yang dikasihi-Nya sedang tersesat. Domba itulah yang dicari dan dibawa-Nya pulang.

Bagaimana domba-Nya bisa tersesat? Yang pertama adalah karena pekerjaan para gembala palsu. Mereka orang-orang upahan yang hanya mau cari keuntungan pribadi. Mereka orang-orang yang sangat jahat, setan yang menyamar menjadi pelayan Kristus. Mereka menyesatkan jemaat Kristus dengan khotbah-khotbah mimpi mereka, dengan kalimat-kalimat janji yang hanya memuaskan hawa nafsu dan keserakahan manusia. Mereka adalah utusan Iblis di dalam gereja Tuhan yang membuat para domba tersesat dan menjauh dari kebenaran Tuhan. Yang kedua adalah domba Tuhan tersesat karena dia lebih memilih untuk mendengarkan dirinya sendiri dan menolak firman Tuhan. Merasa diri lebih pintar dari Tuhan dan merasa tidak memerlukan Tuhan. Domba Tuhan juga disesatkan karena hawa nafsunya dan keberdosaan yang membelenggu dan memperbudak dia. Yang mana pun penyebab domba-Nya tersesat, Tuhan tetap mencari domba-Nya itu dan memanggil dia pulang.

Mari kita belajar melihat kasih Tuhan kepada kita. Apakah alasan Dia mengasihi kita? Diri-Nya sendiri. Itulah alasannya. Karena Dia berbelaskasihan kepada kita, maka Dia mengasihi dan memanggil kita menjadi anak-Nya. Apakah alasan Dia mencari kita ketika kita terhilang? Mengapa Dia tidak membiarkan kita terhilang, membuang kita, atau menghukum kita? Bukankah kita lebih pantas menerima hukuman-Nya? Pemberontakan kita jauh lebih jahat daripada pemberontakan seekor domba yang tersesat. Pemberontakan kita lebih mirip pemberontakan seekor anjing yang menggigit tangan tuannya ketika tuannya sedang memberi dia makan. Pemberontakan kita lebih mirip pemberontakan seorang budak yang dibebaskan dan dipelihara hidupnya oleh seorang tuan, tetapi merampok dan memukul tuan itu, bahkan menghina dia dengan cara yang sangat kejam. Kita telah melemparkan hinaan dan hujatan kepada Tuhan ketika kita berdosa kepada Dia. Tetapi Dia tetap melihat kita seperti seekor domba kecil yang tengah tersesat. Alangkah besarnya kesabaran dan kasih Allah. Kita bukan domba. Kita serigala buas yang lapar, siap merampok, mengoyak, dan membunuh siapa pun demi kepentingan kita sendiri. Tetapi Tuhan mencari kita seperti seorang mencari domba, bukan serigala buas. Dia tidak datang dengan senjata dan jaring. Dia datang dengan seruan-Nya memanggil kita pulang.

Tetapi Tuhan akan mencari domba-Nya yang hilang. Dia akan memanggil kembali melalui teguran firman-Nya. Dia akan memberikan ketidaktenteraman di dalam hati orang-orang yang sedang memberontak dan menolak Dia. Dia akan memberikan teguran-Nya yang keras dan peringatan-Nya yang menggentarkan hati. Dia akan memanggil kembali domba-Nya itu dengan cara yang perlu. Entah dengan hajaran, teguran keras, seruan peringatan, panggilan lemah lembut, pukulan tongkat, apa pun yang diperlukan supaya domba itu pulang kembali. Apakah kita sedang terhilang? Setiap orang yang menjauhi Tuhan, menjauhi persekutuan, menjauhi kebenaran firman, menjauhi kehidupan doa yang intim dengan Tuhan, dia sedang terhilang. Celakalah orang yang terhilang tetapi dia tidak sadar kalau dia sedang terhilang. Diberkatilah orang yang sadar dia sedang hilang, dan kegelisahan hatinya akhirnya membuat dia kembali kepada panggilan Sang Gembala yang sedang mencari dia.

Sampai kapankah kita mau menjadi domba yang hilang? Tidak tahukah kita bahwa Tuhan tidak menginginkan kita terus berada dalam keadaan terhilang ini? Kapankah terakhir kali kita merasakan kehangatan persekutuan dengan Dia? Kapan terakhir kali kita menyadari keagungan firman-Nya dan kebesaran kasih-Nya yang mau mendengar doa-doa anak-anak-Nya? Tetapi jika kita terus keraskan hati, terus menolak Dia, terus merasa kita berhak kecewa kepada Dia, maka kita akan terus di dalam ketersesatan kita. Jangan bodoh. Jangan tolak suara-Nya yang memanggil kita kembali kepada-Nya. Kembalilah hari ini juga karena Dia mau mendapatkan kita, menggendong kita, dan bersukacita bersama-sama dengan seluruh pasukan bala tentara malaikat di surga karena domba yang terhilang kini telah kembali ke dalam kawanan yang dipimpin oleh Sang Gembala yang agung, yaitu Kristus.

Doa:
Tuhan, ampuni kami, domba-Mu yang sesat. Kami lebih menuruti keinginan hati kami, dan kami mengabaikan Tuhan kami. Kami menolak Tuhan dan memutuskan untuk melarikan diri dari Tuhan. Tetapi Tuhan memanggil kami kembali. Tuhan mencari kami, menemukan kami, dan mengangkat kami dari keadaan kami yang sangat rusak dan kotor. Ya Tuhan Yesus, Juru Selamat kami, hidup kami milik-Mu karena Engkaulah yang sudah memberikan hidup kepada kami. (JP)