Renungan Harian 268 (Jumat, 24 Mei 2019)

Teguran dan Penghukuman

Devotion from Matius 18:15-20

Matius 18:10 mengatakan bahwa kita tidak boleh menganggap rendah satu pun dari anak-anak yang Tuhan berikan belas kasihan. Kata menganggap rendah berarti “tidak menerima” atau “menolak”. Dengan demikian, Tuhan Yesus sedang memerintahkan murid-murid-Nya untuk menerima dengan sepenuh hati orang-orang yang Tuhan berikan belas kasihan. Tuhan ingin orang-orang ini diterima dengan sepenuhnya di dalam komunitas Kristen. Jangan lihat betapa rusaknya hidup seseorang, tetapi lihat bagaimana kuasa Allah memperbaiki kerusakan hidup itu. Tuhan menerima pendosa yang paling besar sekalipun. Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk para pendosa yang rusak hidupnya. Tuhan Yesus menjadi pelayan bagi orang-orang berdosa agar mereka dapat bertobat dan dipulihkan hidupnya.

Tetapi menerima setiap orang tidak berarti menerima semua kerusakan dan dosanya. Orang berdosa harus diterima dan dipertobatkan. Kesalahan orang harus dinyatakan dan ditegur. Tetapi siapakah yang boleh menegur kesalahan seseorang? Apakah motivasi di balik menegur seseorang? Imamat 19:17 mengatakan bahwa motivasi menegur seseorang tidak boleh karena benci. Siapa yang membenci orang yang berdosa, dia tidak akan menegur dengan motivasi yang benar. Kebenciannya akan mendorong dia untuk menegur orang itu. Lalu di dalam Imamat 19:16 juga dikatakan bahwa menegur kesalahan tidak boleh dilakukan bersamaan dengan menyebar berita tentang kesalahan seseorang. Siapa yang senang sekali gosip mulutnya harus ditutup paksa. Jangan senang cerita kejelekan orang lain. Jangan senang mendengar tentang cerita kejelekan orang lain. Orang yang senang bercerita kejelekan orang lain adalah orang yang pengecut. Dia terlalu penakut untuk terus terang mengatakan kesalahan orang di depan orang itu, sehingga dia pergi ke mana-mana dan bercerita dengan hati pengecutnya dan mulut kotornya itu. Tetapi apakah gosip sama dengan fitnah? Ya. Bagaimana mungkin bisa sama? Karena ketika seseorang menceritakan kejelekan orang lain yang tidak ada di tempat, orang lain itu tidak bisa membela diri dan menceritakan sudut pandangnya tentang cerita tersebut. Gosip sama dengan fitnah karena apa yang digosipkan diberitakan tanpa ada keadilan dan perimbangan dari sudut pandang orang yang sedang digosipkan. Jangan fitnah orang lain. Jangan sebarkan berita buruk tentang orang lain. Biarlah kita belajar peka menilai orang lain. Siapa senang bercerita kejelekan orang lain dapat kita nilai sebagai seorang pengecut yang tidak mungkin bisa dipercaya. Sekali bertemu dengan seorang penggosip, seterusnya jaga jarak dengan dia. Dia akan menikammu dari belakang suatu saat nanti. Kasihani para penggosip, tegur mereka, doakan mereka, tetapi jangan pernah percaya kepada mereka.

Jadi seorang yang hobi menyebarkan cerita kejelekan orang lain, dan seorang yang membenci orang yang harus ditegur, kedua orang ini tidak mungkin dapat memberikan teguran dengan cara yang bijaksana. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa teguran yang baik harus dilakukan secara pribadi. Tegur dia di bawah empat mata (ay. 15). Ini adalah teguran sekaligus peringatan pertama. Dengan menegur dia di bawah empat mata kita sedang menyatakan bahwa dia masih diberikan kesempatan untuk bertobat dan berubah tanpa adanya penghukuman yang diumumkan kepada jemaat. Teguran menjadi tanda kasih dan pengampunan Allah yang Dia berikan dengan penuh kesabaran. Teguran di bawah empat mata juga menjadi tanda bahwa dosa yang dilakukan seseorang itu tidak akan diperkarakan asalkan dia sungguh-sungguh bertobat dan berbalik dari dosa-dosanya. Tetapi jika teguran penuh belas kasihan ini tidak didengarkan, dan dia masih terus hidup di dalam dosa-dosanya, maka harus ada dua atau tiga orang saksi untuk membahas dengan lebih serius apa yang telah dilakukan orang berdosa tersebut. Dosanya sekarang dibahas dan diperkarakan tetapi tidak dibongkar ke jemaat secara keseluruhan. Tetapi jika orang tersebut tetap tidak mendengarkan nasihat para wakil jemaat, maka dia harus dihukum dengan diumumkan dosanya kepada seluruh jemaat dan dianggap orang yang berada di luar umat Tuhan (ay. 17). Siapakah yang berhak memutuskan bahwa perkara orang ini harus diumumkan ke jemaat dan orang tersebut dihukum dengan tidak diakui di dalam jemaat? Harus para pemimpin gereja disertai dengan dua atau tiga orang saksi. Jika tidak ada dua atau tiga orang saksi mengonfirmasi keberdosaan orang itu, maka orang itu tidak boleh dianggap bersalah dan dihukum berdasarkan ketentuan yang berlaku di tengah-tengah gereja Tuhan, yaitu diusir dari persekutuan dengan umat Tuhan selama beberapa waktu. Para saksi menjadi alasan untuk menjatuhkan keputusan untuk mengumumkan kesalahan seorang jemaat yang tidak mau bertobat dan mengekskomunikasikan dia, mengeluarkannya untuk beberapa waktu lamanya dari persekutuan dengan umat Tuhan.

Tahap selanjutnya, setelah diputuskan bahwa orang itu harus dikeluarkan untuk beberapa waktu lamanya, para saksi maupun pengurus dan tua-tua gereja harus berdoa untuk orang itu. Jika ada dua atau tiga orang mendoakan orang berdosa itu, Tuhan akan mendengar doa mereka. Bahkan dalam tahap ini pun, para saksi dan pengambil keputusan di gereja harus terus mendoakan orang itu. Jika mereka sepakat meminta pertobatan bagi orang itu, Yesus mengatakan bahwa Dia akan mengabulkannya. Maka cinta kasih, teguran, keadilan, pengampunan, dan kesempatan bertobat yang diberikan oleh Tuhan harus diberlakukan oleh gereja dengan sebaik mungkin. Setiap jemaat harus bisa belajar melihat keadilan, kasih, dan kebenaran Allah dinyatakan di dalam cara gereja mendisiplin jemaat Tuhan.

Dengan demikian, baik para murid Yesus, para tua-tua gereja, para pengajar dan gembala jemaat, dan juga para saksi harus memiliki sifat belas kasihan dan kerelaan untuk mengampuni. Jika jemaat Tuhan bisa belajar menjalankan ini dengan seimbang, maka dunia ini akan belajar tentang keseimbangan kasih, kebenaran, dan keadilan Allah dinyatakan melalui gereja-Nya. Maka marilah kita berhenti gosip. Mari berhenti memiliki hati yang picik dan membenci sesama orang percaya. Mari berhenti keras hati dan tidak mau mengampuni. Mari belajar mengasihi, belas kasihan, pengampunan, kekudusan, dan kebenaran. Mari belajar menerapkan cara hidup yang mencerminkan kasih, keadilan, dan kebenaran Allah untuk menuntun seluruh jemaat hidup di dalam kekudusan. Biarlah kita belajar untuk mengasihani saudara-saudara kita yang tengah jatuh ke dalam dosa. Marilah kita belajar untuk mendisiplin mereka jikalau teguran kita tidak juga mereka dengar. Marilah kita belajar untuk terus mendoakan mereka. Dua atau tiga orang paling sedikit. Terus doakan hingga Tuhan memberikan pengampunan dan teguran keras sehingga jemaat yang berdosa itu bertobat dan kembali kepada Tuhan melalui doa-doa kita.

Doa:
Tuhan, kami rindu melihat gereja-Mu menyatakan kekudusan-Mu. Biarlah kami memperoleh kekuatan untuk hidup di dalam kekudusan Tuhan, dan mampu menyatakan kebenaran Tuhan untuk memperbaiki setiap orang yang hidup cemar dan mempermalukan Tuhan. Ajarkan kami juga untuk mempunyai ketekunan berdoa. Berdoa bagi saudara-saudara kami yang sedang lemah imannya, ataupun sedang jatuh ke dalam dosa yang cemar. Tolong kami setia mendoakan mereka sambil mengingat bahwa jika dua atau tiga orang meminta dalam nama Yesus, Dia akan mengabulkan doa itu. (JP)