Renungan Harian 269 (Sabtu, 25 Mei 2019)

Berapa Kali Mengampuni?

Devotion from Matius 18:21-35

Matius melanjutkan pembahasan Yesus tentang teguran bagi yang bersalah dan belas kasihan. Bagaimanakah memiliki teguran yang bijak dan benar? Hanya jika seseorang mampu mengampuni. Kemampuan mengampuni menunjukkan kebesaran hati seseorang. Semakin besar dia dirugikan tetapi tetap mampu mengampuni, semakin agung karakter yang dia miliki. Tetapi jika dia bahkan tidak mau mengampuni pelanggaran-pelanggaran kecil dari orang lain, itu akan menunjukkan bahwa dia hanyalah seseorang dengan hati yang sangat sempit dan kerdil. Di dalam tradisi Yahudi, pengampunan harus diberikan hingga 7 kali sebelum seseorang berhak kehabisan kesabaran dan tidak lagi memberikan pengampunannya. Tetapi pada bagian ini Tuhan Yesus menyatakan mengenai siapakah yang sebenarnya dilanggar ketika seorang manusia bersalah kepada yang lain. Allah sebenarnya yang dilanggar ketika manusia berdosa kepada sesamanya. Manusia diciptakan di dalam gambar dan rupa Allah, dan Allah menginginkan manusia menyatakan kemuliaan-Nya di dalam dunia ini dengan hidup bersama menjalankan tugas dari Allah. Ketika manusia tidak saling mengasihi di dalam hidupnya di dunia ini, maka Allah telah diabaikan, dihina, dan dilanggar. Itulah sebabnya, jika Allah yang kekudusan-Nya telah dilanggar rela mengampuni manusia, siapakah manusia sehingga dia tidak mau mengampuni sesamanya? Jika Allah yang suci dan mulia dilanggar oleh manusia, dan Dia tetap rela mengampuni manusia yang melanggar kesucian dan kemuliaan-Nya, maka siapakah manusia yang, meskipun hidup di dalam kecemaran dan dosa, tidak mau mengampuni orang lain?

Maka di dalam ayat 23 dan seterusnya Yesus memberikan perumpamaan mengenai seorang raja yang meminjamkan 10 ribu talenta kepada seorang hamba-Nya, dan ternyata hamba-Nya itu tidak sanggup membayar jumlah yang sangat besar itu. Seberapa besarkah 10 ribu talenta? Satu talenta sama dengan 6.000 dinar. Satu dinar adalah upah satu hari kerja. Berarti satu talenta adalah upah 6.000 hari kerja, atau 20 tahun bekerja jika dihitung hari Sabat dan hari libur lainnya. Jika 20 tahun bekerja sama dengan satu talenta, berapa lamakah orang ini harus bekerja untuk melunasi 10 ribu talenta? 200 ribu tahun! Bagaimana mungkin utang sebesar ini dapat dilunasi? Maka, dengan adil raja itu memutuskan untuk hambanya ini beserta dengan seluruh keluarga dan seluruh hartanya untuk dijual guna menutup utangnya. Seluruh harta bersama dengan seluruh keluarga dijual pun belum bisa menutup utang orang ini. Tetapi karena merasa kasihan setelah hambanya itu memohon kepada dia, maka raja ini membebaskan sama sekali utang orang itu. Bukan mengurangi, bukan menghapus sebagian, bukan membebankan masa kerja seumur hidup kepada orang itu karena utangnya, tetapi raja itu menghapuskan sama sekali! Tidak tersisa satu sen pun! Lunas! Utang yang akan membebani keluarganya turun temurun ini sekarang hilang total.

Inilah anugerah yang menggambarkan Bapa di surga yang menghapus dosa dan utang kita kepada Dia. Dihapus total! Jika kita dituntut untuk melunasinya, siapakah yang sanggup? Sanggupkah kita memperbaiki segala kerusakan yang telah disebabkan oleh pemberontakan kita? Adakah harga yang layak untuk membayar penghinaan dan pemberontakan yang dilakukan di hadapan Allah semesta alam? Allah mengasihani kita, maka kita beroleh pembebasan sempurna: Pembebasan dari dosa, pembebasan dari murka Allah, pembebasan dari maut dan hukuman Allah.

Tetapi kisah selanjutnya sangat memalukan. Orang yang telah mengalami belas kasihan begitu besar ternyata gagal memiliki belas kasihan kepada orang lain. Dia bertemu dengan temannya yang berutang 100 dinar kepada dia. Temannya itu segera ditangkap, dicekik, ditahan, dan dipenjarakan oleh orang ini. Dia lupa bahwa dia sudah menerima belas kasihan. Dia tidak menghargai belas kasihan yang telah dia dapat. Utang temannya itu cukup besar, tetapi dibandingkan dengan utangnya sendiri, jumlah 100 dinar sangat kecil. Dia sudah dibebaskan dari hukuman yang paling berat, tetapi dia gagal untuk membebaskan orang lain dari jeratnya sendiri. Dia gagal untuk mempraktikkan pengampunan yang telah diterimanya.

Ini merupakan gambaran dari Yesus kepada orang-orang yang mengabaikan pentingnya mengampuni orang lain yang bersalah kepada mereka. Tubuh Kristus adalah satu, dan kita semua adalah anggota tubuhnya. Kita semua harus bertanggung jawab kepada Dia. Kita semua berutang kepada Dia. Kita tidak berjasa bagi siapa pun jikalau Tuhan menjadikan kita saluran berkat-Nya kepada orang lain. Begitu juga jika Tuhan memberikan pengampunan dan kesabaran yang begitu besar kepada kita semua, mengapa kita menghambat kasih dan pengampunan itu kepada orang lain? Kisah Yesus berlanjut dengan murka sang raja karena hambanya yang jahat dan kejam. Raja itu pun menghukum dia dan memaksa dia berada di dalam hukuman sampai utangnya lunas.

Mari belajar mengingat anugerah pengampunan Tuhan, bukan kesalahan orang lain. Berikan perhatian kepada berapa banyak engkau sudah menerima, bukan kepada berapa banyak engkau sudah dirugikan. Jika kita terus melihat anugerah Tuhan, ada perasaan syukur yang sangat besar, di mana perasaan syukur inilah sumber kekuatan bagi kita untuk mengampuni orang lain. Jangan lihat kerugian yang kita derita dari orang lain. Orang yang terus merasa dirugikan, lalu tidak pernah bisa mengatasi perasaan dirugikan ini, orang itu membebani dirinya dengan hal-hal yang tidak perlu. Apakah bahagianya memendam rasa marah? Apa enaknya terus menerus dendam? Tidak mengampuni akan membuat orang dibebani secara psikis dengan beban yang sangat berat. Jika kita tidak sanggup melupakan kerugian yang kita derita, maka kita hanya menambah-nambah kerugian lain untuk membebani hidup kita. Lupakanlah kerugian diri. Jangan terus hitung kita dirugikan berapa. Sebaliknya, apakah yang Tuhan sudah berikan itu layak kita terima? Tidak. Mengingat terus hal ini akan memberikan kita ketenangan dan perasaan stabil yang luar biasa. Kita mempunyai kekuatan untuk mengampuni karena kita senantiasa ditakjubkan dengan anugerah yang Tuhan sudah berikan dengan limpahnya. Hamba yang dihapus 10 ribu talenta seharusnya terus mengingat kelegaan yang diberikan sang raja. Dia terbebas dari beban utang yang tidak mungkin dia bisa lepaskan seandainya raja tidak berbelaskasihan. Juga ketika temannya yang berutang 100 dinar ternyata tidak sanggup melunasinya, hamba yang telah dihapus utangnya itu seharusnya melakukan hal yang sama kepada hamba lain yang berutang padanya.

Mari belajar pengampunan yang sejati. Hari ini kita pikirkan orang yang paling kita benci. Orang yang paling mendatangkan kerugian di dalam hidup kita. Lalu pikirkan lagi tentang diri kita yang mengabaikan Tuhan dan menghina Dia. Apakah pemberontakan seperti ini tidak akan dihukum? Pemberontakan seperti ini akan dihukum dengan sangat keras. Tetapi Yesus Kristus telah menanggung hukuman atas dosa-dosa kita dengan menyerahkan diri-Nya mati di atas kayu salib bagi kita semua. Setelah merenungkan bahwa kita adalah penjahat yang lebih besar dosanya daripada siapa pun, selanjutnya kita harus bisa memberikan fokus dan kemampuan untuk menghargai setiap anugerah yang Tuhan berikan. Dari sinilah akan ada perasaan bahwa orang-orang yang bersalah kepada kita tidak lebih buruk daripada kita. Kita yang pernah bersalah kepada Tuhan, juga tidak lebih baik daripada orang-orang yang bersalah kepada kita. Jika teguran mengingatkan kembali orang-orang yang bersalah kepada kita, dan mereka ingin bertobat dan kembali kepada Tuhan, maka kita harus menerima mereka seperti menerima seorang anak kecil.

Doa:
Tuhan ajar kami menghargai anugerah pertobatan dan penebusan yang Engkau telah berikan. Tolong kami untuk sanggup mengampuni orang lain juga. Tuhan, berikan kami kekuatan untuk melupakan sakit hati kami, dendam kami, dan segala kerugian kami. Berikan kami pimpinan Roh-Mu untuk melihat kepada anugerah besar yang Tuhan telah nyatakan kepada kami. (JP)