Renungan Harian 281 (Kamis, 6 Juni 2019)

Bait Allah disucikan

Devotion from Matius 21:12-17

Bait Suci telah menjadi begitu cemar karena telah dipenuhi oleh orang-orang yang mau mencari untung. Mereka tidak lagi menghormati Bait Suci sebagaimana seharusnya. Mereka tidak lagi mengikuti tradisi yang benar tentang penghormatan tempat di mana Allah menyatakan kehadiran-Nya. Inilah yang membuat Yesus marah. Tempat yang seharusnya dijadikan sakral ternyata diabaikan begitu saja oleh orang-orang yang berjualan itu. Tempat di mana Allah menyatakan kasih karunia dan pengampunan-Nya ternyata dihina oleh mereka dengan dijadikan tempat berjualan. Mereka menjual hewan-hewan korban sehingga orang-orang yang mau mempersembahkan korban tidak perlu lagi membawa sendiri atau repot-repot mencari. Mereka telah menyediakannya. Demikian juga tempat-tempat penukaran mata uang. Mengapa ada tempat penukaran mata uang? Karena orang Yahudi menolak mata uang Romawi untuk dipersembahkan di Bait Suci. Jadi barang siapa membawa mata uang Romawi, dia bisa menukarkannya dengan mata uang Yahudi di tempat penukaran tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa kemungkinan besar mereka sengaja menjual dengan harga yang tinggi, tetapi bacaan kita hari ini tidak memberitahukan hal tersebut. Jadi kita bisa simpulkan bahwa kemarahan Yesus adalah karena sikap kurang hormat dari para pedagang tersebut, bukan karena mereka menjual dengan harga yang lebih mahal.

Maka Yesus mengatakan bahwa orang-orang Yahudi telah mengubah rumah Allah menjadi tempat penyamun. Sarang penyamun! Sarang penyamun berarti tempat di mana para penyamun bersembunyi dan tinggal. Dia akan merasa nyaman di sarangnya sendiri. Yesus sedang mengatakan bahwa orang-orang ini menjadikan Bait Suci tempatnya berdiam dengan nyaman, tanpa merasa bersalah atas apa pun. Sikap menghargai kehadiran Tuhan adalah sikap yang harus ada pada semua orang Kristen. Siapa mengenal Allah yang sejati, Dia harus takut akan Dia. Siapa yang mengenal Allah yang sejati, dia akan sadar bahwa Allah yang agung dan mulia itu harus dihormati dengan penyembahan yang dilakukan dengan segenap hati.

Jika orang berdosa merasa nyaman di gereja, maka gereja sudah dijadikan sarang penyamun. Jika dosa tidak ditegur dan orang yang tidak bertobat terus tenteram di dalam gereja, gereja itu tidak setia kepada Tuhan. Orang berdosa harus ditegur untuk diberi kesempatan bertobat dari dosa-dosanya. Tuhan Yesus mengusir pedagang-pedagang itu dan memutarbalikkan meja-meja mereka. Tetapi Tuhan Yesus tidak merusak dagangan mereka dengan melepas hewan-hewan dagangan mereka. Yesus tidak pernah merugikan orang lain dengan tindakan-Nya. Dia menyuruh orang-orang itu pergi tanpa merusak dagangan mereka agar mereka tetap bisa berjualan di tempat lain. Kejadian ini terjadi di tengah-tengah keadaan yang sangat padat di kota Yerusalem. Dukungan dari orang banyak membuat Yesus tidak diserang balik oleh orang-orang yang diusir tersebut. Karisma dan wibawa-Nya, dan juga dukungan dari rakyat banyak membuat apa pun yang Yesus lakukan dapat dilakukan tanpa halangan apa-apa. Orang-orang Farisi yang ingin menghalangi Dia dan menyerang Dia tidak sanggup melakukan apa pun karena dukungan orang banyak terhadap Yesus (Mrk. 11:18).

Setelah Yesus mengusir para pedagang, Dia mengubah Bait Suci jadi tempat di mana belas kasihan Allah dinyatakan. Bait itu tidak lagi dipenuhi pedagang, tetapi dipenuhi orang-orang sakit yang ingin disembuhkan oleh Yesus. Begitu banyaknya orang sakit yang disembuhkan, dan begitu besarnya mujizat yang terjadi membuat semua orang takjub. Bahkan anak-anak melanjutkan puji-pujian kepada Yesus dengan berkata: „Hosana! Hosana bagi Anak Daud!” Puji-pujian yang sangat membangkitkan iri hati dan marah ahli Taurat dan para imam. Ketika ahli Taurat dan para imam menegur Yesus supaya menyuruh anak-anak itu diam, Yesus balik menegur mereka dengan mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang menggerakkan mereka untuk memuji Dia. Dialah yang meletakkan puji-pujian di mulut mereka (Mzm. 8:3).

Untuk Direnungkan:
Biarlah kita ingat untuk menerapkan segala pengajaran Alkitab di dalam kehidupan bergereja. Biarlah gereja kembali diingatkan untuk tidak menjadi sarang penyamun. Memberikan belas kasihan kepada sesama manusia tidak berarti mengabaikan penghormatan kepada Allah. Sebaliknya penghormatan kepada Allah tidak mungkin dapat dilakukan tanpa memberikan belas kasihan kepada sesama manusia. Jika dosa tidak ditegur dan dibiarkan tumbuh subur, maka gereja sedang melakukan dosa yang sama dengan Imam Eli. Eli membiarkan anak-anaknya melakukan dosa dan menghina nama Tuhan dengan tindakan cemar mereka. Maka Tuhan menghukum Eli karena dia lebih menghormati anak-anaknya daripada menghormati Tuhan (1Sam. 2:29-30). Jika nama Tuhan dibiarkan cemar, dan orang-orang dibiarkan tidak memberi hormat kepada Tuhan, maka gereja telah menjadi sarang penyamun. Gereja juga menjadi sarang penyamun jika ibadah yang dilaksanakan lebih mirip konser musik pop atau acara TV daripada sebuah ibadah. Jika orang-orang tidak lagi suka dengan cara ibadah yang menghormati Tuhan dan mengatakan bahwa dia merasa mengantuk dengan ibadah seperti itu, orang-orang seperti itu perlu ditegur dengan keras. Lebih baik bertobat dari rasa mengantuk daripada terus bangun di dalam murka Allah! Jangan menjadi gereja yang hanya mau menyenangkan manusia. Manusia tidak boleh disenangkan. Manusia harus didorong, dikuatkan, dan diberikan contoh untuk menjalani hidup yang menyenangkan hati Tuhan. Hanya dari menyenangkan hati Tuhanlah sukacita sejati dapat menjadi milik manusia. Tuhan Yesus melakukan segala sesuatu dengan seimbang. Setelah menyatakan penghormatan bagi Bapa di surga dengan mengusir orang-orang yang tidak menghormati Tuhan, Dia membagikan diri-Nya karena belas kasihan-Nya kepada mereka yang sakit. Dia melayani mereka dan menyembuhkan mereka karena belas kasihan yang Dia miliki. Mari belajar memiliki keseimbangan seperti ini. Keseimbangan yang mempertahankan kekudusan Allah dengan memberi hormat kepada Dia, sekaligus memberikan belas kasihan kepada orang-orang yang memerlukannya. Keseimbangan ini sangat sulit. Kadang karena berbelaskasihan kita membiarkan orang sembarangan bersikap kepada Allah. Kadang karena menekankan penghormatan kepada Allah, kita menjadi dingin dan tidak punya belas kasihan sama sekali. Keseimbangan di dalam membagi belas kasihan dan menekankan penghormatan kepada Allah, inilah keseimbangan yang harus ada di dalam gereja Tuhan.

Doa:
Tuhan, tolong kami untuk berjuang demi nama Tuhan dengan sepenuh hati. Menghormati nama Tuhan dan melatih orang-orang untuk tunduk kepada Tuhan dengan sepenuh hati, dengan takut dan gentar, dengan penghormatan yang seharusnya diberikan kepada Dia. Tetapi jangan biarkan kami menjadi dingin dan kehilangan belas kasihan. Tolong kami untuk menyeimbangkan keduanya dengan tepat, sehingga dengan digerakkan oleh hormat kepada Allah, dan juga oleh belas kasihan kepada manusia, kami melayani di dalam gereja-Mu. Tolong gereja-Mu, ya Tuhan, supaya tidak menjadi sarang penyamun, tetapi menjadi tempat yang meninggikan nama-Mu dan mengasihani orang-orang di sekitarnya. (JP)