Renungan Harian 283 (Sabtu, 8 Juni 2019)

Kuasa dan Otoritas Yesus

Devotion from Matius 21:23-27

Di dalam ayat 23 terjadi pertentangan tentang otoritas Yesus. Para imam dan para pemimpin agama mempertanyakan tentang siapakah yang mengangkat Yesus menjadi otoritas di dalam agama Yahudi. Yesus tidak punya otoritas di dalam agama Yahudi. Dia tidak diangkat secara resmi. Tidak ada pemimpin agama Yahudi yang mengangkat Dia. Tidak ada golongan Yahudi yang menjadikan Dia pemimpin. Tidak ada jalur resmi yang mengorbitkan Yesus. Yesus tidak mempunyai jalur manusia yang memberikan Dia otoritas. Tetapi Yesus tidak punya otoritas dari manusia karena Dia tidak perlu harus diakui oleh manusia. Dia melampaui semua sistem agama Yahudi. Bukan agama Yahudi yang perlu mengonfirmasi otoritas-Nya, tetapi Dialah yang perlu mengevaluasi kembali otoritas agama Yahudi di dalam menyatakan kebenaran-Nya. Apakah agama Yahudi sudah memberitakan Dia dengan bertanggung jawab? Atau belum? Jika belum, maka Yesuslah yang akan menilai, dan Yesuslah yang akan memutuskan apakah agama Yahudi masih perlu dipertahankan, atau sudah waktunya diubah dan dirombak total. Tetapi orang-orang yang tidak mengerti hal ini hanya akan mempertanyakan tentang otoritas yang sebenarnya jauh di bawah otoritas surgawi Yesus Kristus. Inilah yang membuat para pemimpin agama dan imam-imam bertanya tentang otoritas Yesus. Mengapa Dia berhak untuk mengumpulkan orang banyak di Bait Suci? Mengapa Dia berhak berkhotbah demikian berani? Mengapa Dia berhak mengusir para pedagang dari Bait Suci?

Maka Yesus balik bertanya kepada mereka. Pertanyaan Tuhan Yesus sebenarnya merupakan teguran bagi para imam dan tua-tua agar mereka kembali tunduk kepada otoritas surgawi yang diberikan oleh Bapa di Surga kepada Dia. Maka Yesus bertanya tentang baptisan Yohanes Pembaptis. Dari manakah otoritas pelayanannya? Dari manakah haknya untuk membaptis orang? Dari manakah haknya untuk menjadi suara yang berotoritas bagi orang-orang Israel? Yohanes Pembaptis tidak diakui oleh imam-imam dan para pemimpin di Bait Suci. Tetapi ini tidak mencegah dia untuk mempunyai banyak pendengar dan ini tidak membatalkan kuasa berkhotbahnya yang sangat besar. Dia berkhotbah di padang gurun, dan seluruh bangsa datang kepada dia. Para imam dan tua-tua, dan juga pemimpin-pemimpin agama, semua berkhotbah di tempat yang resmi, dan mendapatkan pengakuan secara resmi, tetapi tidak memiliki kuasa sama sekali. Yohanes Pembaptis diakui oleh surga dan diberikan kuasa sedemikian besar dari Allah. Tidak ada yang dapat membatalkannya. Tidak ada yang dapat mencegah. Siapa yang Tuhan bangkitkan tidak akan mungkin bisa direndahkan dan dihabiskan pengaruhnya oleh manusia. Yohanes Pembaptis berkuasa karena Tuhan memberikan dia kuasa, bukan karena pengakuan pemimpin-pemimpin Yahudi.

Ayat 24 dan 25: Yesus bertanya balik mengenai baptisan Yohanes Pembaptis. Yesus ingin mengatakan bahwa otoritas-Nya diberikan dari sumber yang sama dengan baptisan Yohanes Pembaptis. Tidak ada yang dapat menyangkal kuasa Yohanes Pembaptis di dalam khotbahnya. Kuasanya pasti dari Allah sendiri. Maka Yesus sedang menyatakan bahwa otoritas dan kuasa yang dimiliki-Nya, sama dengan kuasa dan otoritas dari pelayanan Yohanes Pembaptis, diberikan dari Bapa di Surga. Dia tidak perlu tunduk kepada otoritas duniawi karena yang memberikan otoritas kepada Dia lebih besar dari dunia ini. Dunia tidak akui Yohanes Pembaptis maupun Yesus, tetap tidak akan memengaruhi apa-apa, karena yang mengakui mereka adalah Bapa di Surga.

Di dalam ayat 25 dan 26 sebenarnya Tuhan Yesus telah menyatakan sumber otoritas-Nya. Sama dengan otoritas Yohanes Pembaptis, demikian juga otoritas Yesus diberikan dari Bapa di Surga. Maka Yesus pun bertanya, dari manakah baptisan Yohanes. Mendengar pertanyaan ini, para imam, yang takut kepada orang banyak, menjawab bahwa mereka tidak tahu. Imam-imam dan tua-tua itu lebih takut otoritas orang banyak. Mereka takut kepada orang banyak, tetapi mereka tidak takut kepada Tuhan sang pemberi otoritas tersebut. Mereka menjawab tanpa ada perasaan takut akan Tuhan sama sekali. Mereka menjawab karena takut orang banyak. Inilah pemimpin-pemimpin munafik yang pengecut. Mereka tidak berani mempertanggungjawabkan posisi mereka. Jika baptisan Yohanes dan pelayanan Yesus berlawanan dengan Allah, bukankah mereka harus dengan berani mengatakan bahwa otoritas mereka adalah dari manusia dan tidak sah? Tetapi dengan rasa takut mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu. Rasa takut kepada manusia, bukan kepada Allah.

Karena jawaban yang sangat munafik dan tidak bertanggungjawab itu, maka di dalam ayat 27 Yesus menolak menjawab mereka. Yesus tidak perlu menjawab orang-orang seperti para imam dan tua-tua itu. Mereka tidak berhak mendapatkan jawaban Yesus. Mereka tidak layak untuk menjadi murid kebenaran karena mereka tidak pernah peduli kebenaran. Mereka hanya peduli kenyamanan diri. Dari manakah kuasa Yesus dan Yohanes Pembaptis? Dari Tuhan. Apakah yang dari Tuhan pasti akan selalu dihargai oleh manusia? Tidak! Manusia berdosa tidak pernah peduli kepada Tuhan. Manusia berdosa tidak takut akan Tuhan. Manusia berdosa menghargai manusia lain tetapi mengabaikan Tuhan.

Bagaimana dengan gereja Tuhan saat ini? Ada gereja yang lebih menghargai gelar akademik. Ada juga yang lebih menghargai suara orang banyak. Imam-imam dan tua-tua yang munafik ini lebih menghargai suara orang banyak dan gelar resmi. Tanpa gelar resmi Yesus tidak boleh berkhotbah di Bait Suci. Dengan suara orang banyak mereka menyembunyikan posisi dan pendapat mereka. Gereja terkadang menghakimi orang berdasarkan gelar akademik dan pengakuan dunia akademik yang diberikan kepada seseorang. Atau, jika bukan penghargaan kepada gelar akademik, gereja lebih memilih untuk menghargai orang banyak. Apa yang populer, apa yang disenangi orang banyak, apa yang tren, apa yang dunia senangi. Inilah yang dilakukan oleh gereja. Kasihan sekali gereja yang seperti ini. Gereja-gereja seperti ini tidak berhak mendapatkan kebenaran dari Tuhan Yesus. Tuhan akan sembunyikan kebenaran-Nya dari gereja-gereja yang sifat dan tindakannya hanya mengingatkan Tuhan akan para imam dan tua-tua munafik pada zaman Yesus melayani di bumi. Gereja-gereja yang beraliran sangat akademik menghargai pengetahuan scientific tentang ilmu theologi, dan menghina semua yang berkaitan dengan kuasa pelayanan dan penyertaan Tuhan. Gereja seperti ini hanya mementingkan pengakuan dunia ilmu pengetahuan dan akademik saja, dan akhirnya mereka benar-benar mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tanpa adanya gairah, semangat melayani, dan kuasa yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Sebaliknya, gereja yang hanya mencari apa yang disukai oleh dunia ini, mengikuti arus musik populer di dalam diskotik atau di TV untuk diadopsi ke dalam gereja, mengorbankan begitu banyak prinsip-prinsip penting demi menjangkau orang banyak, gereja-gereja seperti ini juga akan ditinggalkan oleh Tuhan. Ditinggalkan, walaupun diikuti oleh banyak orang. Gereja-gereja yang suka menyenangkan mayoritas akan mendapatkan massa mayoritas. Gereja-gereja yang suka gelar akademik akan mendapatkan beberapa orang yang senang berdebat dan mengetahui banyak sekali pengetahuan dari hasil studinya. Tetapi kedua tipe gereja ini sudah pasti ditinggalkan oleh Tuhan. Tuhan tidak akan memberikan firman-Nya, Tuhan tidak akan memberikan kuasa pelayanan-Nya kepada gereja seperti ini. Seperti apakah gereja kita? Menuju ke manakah gereja kita? Gereja yang hanya mengakui kedudukan-kedudukan akademiskah? Atau gereja yang hanya mencari popularitas dengan menjangkau banyak orang guna menyenangkan mereka? Keduanya akan kekeringan firman dan kuasa pelayanan. Tuhan akan berkata, “maka Aku juga tidak akan memberikan kebenaran-Ku kepadamu.”

Berdoalah kepada Tuhan untuk gereja kita! Berdoa supaya gereja kita mencari otoritas firman dan kebenaran surgawi, betapa pun tidak akademiknya hal itu. Berdoa supaya gereja kita hanya menyenangkan Tuhan, bukan orang banyak, bukan mengorbankan kebenaran demi mendapat banyak orang. (JP)