Renungan Harian 284 (Minggu, 9 Juni 2019)

Anak Bungsu yang Bertobat

Devotion from Matius 21:28-32

Untuk menyindir para pemimpin agama Yahudi, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan ini. Sang anak sulung mempunyai hati yang jahat dan tidak mau tunduk kepada apa yang diperintahkan oleh bapanya. Tetapi pemberontakannya dan hatinya yang keras tidak ditunjukkannya di luar. Dari luar dia terlihat begitu taat dan tidak ada perlawanan sama sekali. Dia mengatakan “ya” untuk setiap perintah yang diberikan oleh bapanya. Tetapi dia hanya mengatakan “ya” di mulut, karena ternyata semua perintah bapanya diabaikan olehnya. Anak sulung ini melambangkan para pemimpin agama pada waktu itu. Ada para imam, yang terlihat begitu saleh dan tekun dengan pekerjaan mereka di Bait Suci. Ada golongan Farisi yang begitu ketat di dalam menjalankan perintah Tuhan. Mereka begitu fasih dalam berbicara tentang Taurat dan tafsiran-tafsiran yang ada. Mereka begitu giat di dalam menjalankan apa yang diperintahkan oleh Taurat dan tradisi Yahudi. Ada juga golongan tua-tua yang terlihat begitu berotoritas. Mereka terlihat penuh dengan wibawa dan semua perintah dan keputusan mereka akan dijalankan oleh seluruh orang Yahudi sebagai ajaran dari orang-orang yang memiliki otoritas dari Tuhan.

Anak-anak sulung ini pun menjadi sindiran bagi orang-orang “saleh” di gereja. Begitu banyak orang-orang yang palsu. Hatinya begitu cemar dan kotor, tetapi tindakan di luar begitu baik dan tak bercacat. Mungkin orang seperti ini adalah para pelayan firman. Mereka begitu fasih berbicara di atas mimbar. Mereka pandai mengutip sumber-sumber yang telah diakui selama berabad-abad. Mereka juga begitu membenci dosa dan mengutuk segala kecemaran hidup. Tetapi ternyata jauh di dalam hati mereka ada dosa yang terus mengakar, bahkan semakin mengakar karena tidak pernah dikorek dan dibersihkan. Ini ironis sekali. Sebab orang-orang ini sering kali mengorek dan membersihkan dosa-dosa orang lain, tetapi ternyata tidak pernah mengoreksi diri dan membersihkan diri sendiri. Orang-orang ini merasa dirinya berotoritas dan berada di atas firman yang dia beritakan. Tetapi tidak seorangpun di atas firman! Pengkhotbah hanyalah suara yang menyatakan firman, tetapi dirinya sendiri termasuk di antara orang-orang yang berada di bawah otoritas firman. Tidak seorang pun bebas dari teguran firman Tuhan. Siapa yang merasa firman Tuhan tidak berbicara kepada dirinya akan membuat dosa yang mengakar di dalam hatinya makin lama makin kokoh dan makin mengakar.

Anak-anak sulung ini juga menjadi sindiran bagi orang-orang yang secara aktif menghindarkan diri dari berbuat dosa. Orang-orang ini dengan ketat menjalankan hal-hal yang perlu untuk kesalehan mereka. Mereka berdoa, berpuasa, meditasi, rajin ke gereja, tekun mengikuti persekutuan ini itu, tetapi tidak ada hati sama sekali untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan. Semua pekerjaan pelayanan dilakukan sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya dilakukan, tetapi tidak dilakukan dengan dorongan yang sangat keras dari Roh Kudus. Orang-orang ini adalah seperti anak sulung yang mengatakan “ya” tetapi tidak bertindak apa-apa. Semua hanya sekadar rutinitas bagi orang-orang ini. Maka, karena merasa telah secara rutin melakukan kegiatan-kegiatan rohani, orang-orang ini merasa diri mereka saleh dan baik. Mereka merasa diri mereka adalah orang-orang yang menduduki kursi penting di dalam Kerajaan Allah. Tetapi mereka lupa berjuang demi Tuhan, berkorban demi Tuhan, bergiat karena didorong oleh perasaan kasih akan Tuhan dan kasih kepada sesama yang begitu besar. Dorongan kegiatan untuk melayani Tuhan bukanlah untuk aktualisasi diri atau suatu rutinitas yang harus dilakukan oleh orang-orang kudus. Dorongan itu adalah dorongan yang sangat urgent, yang tidak bisa tidak dilakukan. Dorongan inilah yang oleh Yeremia disebut sebagai api yang membakar dari dalam (Yer. 20:9). Ada dorongan meskipun kita enggan. Ada dorongan yang membuat kita mengerjakannya meskipun itu berarti kita perlahan-lahan dibakar sampai habis. Tetapi orang yang terus melakukan segala rutinitas dan pelayanan dengan merasa dirinya sudah cukup rohani untuk disebut Kristen, maka orang-orang ini akan kaget kalau ternyata Tuhan lebih memilih para pendosa yang bertobat ketimbang mereka.

Tetapi Yesus mengatakan ada anak bungsu yang dengan jujur memaparkan hatinya yang suka berontak. Anak bungsu ini dengan jujur mengatakan “tidak” kepada bapanya. Dia tidak mau mengerjakan perintah bapanya. Dia tidak suka, dia benci, dia tidak peduli bapanya mau apa, dan dia hanya mau melakukan tindakannya sendiri. Maka anak bungsu ini menjadi seperti orang-orang jahat yang memberontak kepada Tuhan. Orang-orang yang pemberontakannya begitu menonjol dan terlihat dengan jelas: para pelacur, para perempuan sundal, dan para pemungut cukai. Inilah sampah masyarakat, sampah orang-orang Yahudi, dan juga sampah gereja. Mana mungkin mereka boleh disejajarkan dengan para majelis, hamba Tuhan, pelayan, ahli Taurat, orang Farisi, imam, dan tua-tua? Bukankah mereka terlalu hina dan harus diletakkan di tempat yang sangat rendah? Tetapi Tuhan Yesus mengatakan bahwa anak bungsu itu akhirnya sadar betapa jahatnya dia. Dia pun bertobat dan mengerjakan apa yang dikehendaki oleh bapanya. Dia bertindak dengan taat setelah sadar akan dosa-dosanya. Sedangkan si sulung tidak pernah mengerjakan kehendak bapanya. Dia tidak melakukan karena dia merasa telah melakukan apa yang perlu untuk kerohaniannya. Dia melakukan apa yang dia pikir harus dia lakukan. Tetapi dia tidak melakukan apa yang Tuhan mau dia lakukan. Karena dia merasa sudah melakukan apa yang baik, maka dia akan merasa jauh lebih tinggi daripada para pelacur. Dia akan merasa jauh lebih dikasihi Tuhan dibandingkan dengan para pemungut cukai. Dia lupa bahwa Yesus mengasihi orang berdosa dan rela berkorban untuk mereka. Tuhan Yesus tidak mengasihi orang suci yang tidak perlu bertobat. Jika kita tidak merasa berdosa, jika di dalam hidup kita belum merasa layak mendapatkan hukuman neraka, maka sangat sulit bagi kita untuk menerima fakta bahwa Yesus Kristus lebih mengasihi para pelacur dan Yesus Kristus memanggil mereka bertobat dan memberikan kepada mereka penebusan melalui darah-Nya yang menguduskan. Dosa yang paling Tuhan benci adalah pembenaran diri. Siapa pun yang terjangkit dosa ini sulit untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang hancur. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus melakukan dosa-dosa yang besar dulu untuk menyadari cinta kasih Tuhan. Saya menegaskan bahwa jika kita merasa lebih baik dari orang lain, itu adalah peringatan tanda celaka bagi kita. Tetapi meskipun kita belum pernah melakukan dosa-dosa yang secara penilaian masyarakat begitu berat, namun kita sadar bahwa kita tidak lebih baik daripada mereka yang melakukan dosa-dosa berat itu, maka kita bukan termasuk orang-orang yang akan ditolak dan disingkirkan oleh Tuhan. Walaupun kita tidak pernah mengambil uang orang lain dengan tidak benar, kita belum pernah melacurkan diri, kita belum pernah membunuh, kita belum pernah berzinah, tetapi kita tahu bahwa kita masih kurang cinta Tuhan, kita masih kurang rela berkorban bagi Dia, dan kita juga tahu bahwa kita memerlukan belas kasihan Tuhan Yesus sama dengan para pemungut cukai, para koruptor, para pelacur, para pembunuh, memerlukan belas kasihan Yesus, maka kita pun termasuk di dalam golongan yang sama dengan anak bungsu ini. Anak bungsu ini berdosa karena mengabaikan Tuhan. Oh, betapa seringnya kita berdosa dalam hal ini! Betapa sering kita hidup hanya bagi diri sendiri. Betapa sering kita hanya mau menyenangkan diri. Betapa egois kita telah hidup. Kita abaikan Tuhan demi kesenangan kita sendiri. Kita abaikan Tuhan demi cita-cita kita sendiri. Kita sadar sekarang! Betapa berdosanya mengabaikan Tuhan. Mengabaikan Dia sama cemarnya dengan menjadi pelacur! Kita semua adalah pelacur-pelacur yang melacurkan diri pada kesenangan dan cita-cita kita sendiri. Kita tidak mau kembali kepada Pencipta kita yang memanggil kita kembali. Maka kita sadar, segera berbalik kepada Dia dan mengatakan, “Tuhan, ini saya, kasihani saya… kasihani saya dengan belas kasihan-Mu yang besar… Jika Engkau rela bersabar dengan Israel yang begitu cemar dan berdosa, mohon supaya Engkau juga rela berbelaskasihan kepada saya yang jahat ini.” (JP)