Renungan Harian 285 (Senin, 10 Juni 2019)

Pemilik Kebun Anggur yang Murka

Devotion from Matius 21:33-46

Perumpamaan ini adalah perumpamaan yang menyindir para pemimpin agama Israel dan juga para farisi. Orang-orang Farisi, ahli Taurat, dan para imam adalah orang-orang yang Tuhan percayakan untuk mengurus umat Tuhan. Apakah umat Tuhan akan berbuah lebat di dalam ketaatannya, ataukah menjadi kering dan mati karena pemberontakannya kepada Tuhan? Ternyata bukan saja mereka membuat umat Tuhan kering dan mati, tetapi mereka juga membinasakan setiap orang yang Tuhan utus untuk memperingatkan mereka.

Kegagalan Israel bukan saja karena mereka gagal berbuah. Mereka juga dengan kejam membunuh orang-orang yang Tuhan utus. Mereka begitu keras di dalam melawan Tuhan sehingga kemarahan mereka kepada Tuhan mereka lampiaskan kepada orang-orang yang membawa nama Tuhan. Inilah yang Tuhan Yesus ingin nyatakan melalui perumpamaan ini. Para pemimpin agama orang-orang Israel itu seperti penggarap kebun anggur yang jahat. Mengapa mereka membenci tuan yang memiliki kebun anggur itu? Di dalam ayat 38 dikatakan bahwa mereka ingin menguasai kebun anggur itu. Mereka menolak otoritas tuan yang memiliki kebun anggur itu, mereka ingin memiliki kebun itu sendiri. Mereka tidak mau memberikan kebun anggur itu kepada yang berhak, yaitu sang tuan yang empunya, maupun anak dari sang tuan, yang akan mewarisi kebun itu. Mereka menginginkan kebun itu tanpa adanya intervensi dan otoritas dari sang pemilik!

Umat Tuhan seharusnya menyatakan siapa Tuhan kepada seluruh bangsa di bumi, tetapi mereka malah menghujat Tuhan dengan menyembah berhala dan membunuh utusan-utusan Tuhan. Umat Tuhan juga harusnya menyatakan penyembahan yang sejati kepada Allah, tetapi mereka justru memuji dan menyembah Tuhan sebagai suatu kegiatan tubuh yang tidak diikuti dengan iman yang sejati dan hati yang takut akan Tuhan. Secara lahiriah menyembah Tuhan, tetapi hati mereka membenci Dia. Umat Tuhan juga seharusnya menyatakan kebenaran firman yang Tuhan berikan kepada mereka. Umat Tuhan harusnya mengetahui kebenaran firman dan menjadikan kebenaran itu prinsip hidup bagi dirinya sendiri dan juga untuk disebarkan bagi bagi bangsa-bangsa lain. Tetapi mereka justru mengajarkan ajaran-ajaran manusia, bukan kebenaran firman. Umat Tuhan juga seharusnya menjadi contoh mengenai bagaimana sebenarnya manusia harus hidup. Tetapi umat Tuhan justru menjadi rusak dan cemar. Mereka hidup dengan cara yang begitu bobrok sehingga mempermalukan nama Tuhan.

Kegagalan itulah yang membuat Tuhan mengutus para nabi. Tetapi nabi-nabi ini diabaikan, dihina, disiksa, bahkan dibunuh. Tetapi Tuhan penuh dengan belas kasihan. Dia masih memberikan kesempatan, bahkan kesempatan paling agung dan besar, yaitu Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk memanggil mereka kembali. Tetapi mereka tidak gentar karena belas kasihan Tuhan ini. Mereka juga tidak menjadi lunak hati dan menerima Tuhan. Mereka malah membunuh Yesus, Sang Anak Allah. Ketika anugerah terbesar ini mereka abaikan dan hina, maka murka Tuhan Allah menjadi genap dan mereka akan habis dibuang oleh-Nya.

Tetapi jika umat Tuhan dibuang oleh Tuhan, siapakah yang akan menyatakan siapa Allah bagi bangsa-bangsa di dunia ini? Siapa yang akan menyatakan kebenaran firman bagi dunia? Siapa yang akan mengajarkan cara beribadah yang benar dan berkenan kepada Allah di dalam dunia ini? Siapa yang akan mengajarkan cara hidup yang benar bagi dunia ini? Tuhan membuang Israel yang tidak taat, tetapi Tuhan akan tetap memakai mereka yang setia dan taat kepada Dia, dan memanggil orang-orang asing, orang-orang kafir, orang-orang yang tidak pernah mengenal Allah sebelumnya. Mereka ini akan dipanggil dan akan menjadi satu dengan orang-orang yang mau dipakai menjadi saksi Tuhan dari bangsa-bangsa lain. Tuhan memanggil mereka keluar dari belenggu dosa di dunia ini dan menjadi anak-anak Allah. Merekalah yang disebut dengan gereja, yang adalah tubuh Kristus.

Tetapi bagaimanakah gereja Tuhan dipanggil? Gereja Tuhan dipanggil dengan berita Injil Kristus. Salib Kristus menjadi dasar gereja Tuhan dapat mulai dibangun. Salib Kristus menjadi fondasi di mana gereja-Nya terus dibangun menjadi bangunan megah demi kemuliaan Tuhan. Ini berarti batu yang ditolak oleh umat Tuhan yang lama (Israel) ternyata telah menjadi batu penjuru bagi dibangunnya umat Tuhan yang sejati, Israel yang terdiri dari seluruh bangsa dari segala penjuru dunia. Kristus ditolak, bahkan dibunuh oleh pemimpin-pemimpin Israel. Tetapi kematian Kristus ternyata justru menjadi dasar terbentuknya umat Tuhan yang sejati. Inilah perbuatan ajaib yang dimaksudkan di dalam ayat 42. Bagaimanapun kerasnya manusia berusaha melawan Tuhan, Tuhan hanya akan memakai perlawanannya itu untuk menggenapi rencana-Nya. Tidak ada yang sanggup menggagalkan rencara Tuhan. Batu buangan menjadi batu penjuru. Batu yang disingkirkan akan menghancurkan mereka yang menyingkirkan Dia (ay. 44), tetapi akan membangun mereka yang dipanggil menjadi umat-Nya yang sejati.

Jadi, karena gereja dipanggil oleh Tuhan untuk menyatakan kepada dunia siapa Allah yang sejati, maka biarlah kita belajar untuk mengenal Dia dengan sesungguh mungkin. Mari kita belajar mengenal Dia melalui firman-Nya. Mari belajar mengenal Dia melalui apa yang Kristus nyatakan ketika Dia hidup di dunia ini. Lalu, karena gereja juga harus menyatakan cara beribadah yang diperkenan Tuhan, mari kita menyembah Dia dengan hati yang takut akan Dia tetapi juga mengasihi Dia dengan segenap jiwa kita. Marilah kita menyembah Dia dengan perasaan hormat dan gentar. Biarlah setiap ibadah kita boleh kita lakukan dengan hormat, tulus, dan hangat. Biarlah kita sadar bahwa Allah kita adalah Allah yang besar, agung, dan mulia. Dia adalah Allah yang menghanguskan (Ibr. 12:28-29). Tetapi biarlah kita juga mengingat bahwa Dia adalah Allah yang rela berdiam bersama-sama dengan kita. Allah yang penuh belas kasihan dan penuh kasih sayang untuk umat-Nya. Dengan keseimbangan di dalam mengenal Allah, maka kita menjadi orang-orang yang sujud kepada Dia dengan gentar dan sekaligus penuh kasih dan kehangatan.

Gereja juga dipanggil untuk memahami hikmat Allah melalui firman-Nya. Hanya dengan cara inilah dunia dapat belajar mengenai hikmat yang sejati, yaitu bila umat Tuhan terus mengejar untuk memahami kebenaran Kitab Suci, firman Allah, sehingga dunia memahaminya melalui umat Tuhan yang terus berbagi kebenaran firman Allah bagi dunia ini. Lalu, sama seperti dahulu Israel, demikian juga gereja sekarang dipanggil untuk memberikan teladan hidup yang baik dan benar. Dunia ini hidup dengan cara yang begitu rusak. Mereka perlu teladan untuk menunjukkan bagaimana sebenarnya seorang manusia harus hidup di dunia ini. Marilah kita berjuang untuk hidup di dalam kekudusan agar dunia ini boleh tergerak untuk mengenal Allah lebih baik lagi melalui cara hidup kita yang penuh kasih dan kekudusan.

Mari kita tak henti-hentinya berdoa agar kita tidak mengulangi kesalahan orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan para imam di Israel pada waktu itu. Biarlah kita belajar untuk takut akan Allah, mengerti kasih-Nya, menghargai kekudusan-Nya, sehingga kita memadamkan kecemaran di dalam diri kita yang hanya mau menolak Allah dan memberontak melawan Dia. Ketika natur baru kita memimpin hidup kita, maka segala kecemaran dan pemberontakan itu perlahan-lahan berubah menjadi kebertundukan, ketaatan, dan kekudusan hidup. Doakan supaya kita semua sanggup terus mengikuti Dia dengan setia dan tidak kehilangan konsistensi di dalam melawan dosa dan di dalam usaha hidup kudus di hadapan Tuhan. (JP)