Renungan Harian 286 (Selasa, 11 Juni 2019)

Perjamuan Kawin Anak Allah

Devotion from Matius 22:1-14

Kerajaan Surga adalah tempat penuh sukacita, seperti perayaan pernikahan yang megah, perayaan pernikahan dari anak sang raja. Kerajaan Allah menjadi suatu tempat perayaan kemenangan perang, dan juga perayaan pernikahan menuju hidup yang baru dan penuh damai yang sempurna. Pernikahan dari anak raja yang dikasihi sang raja. Siapakah yang boleh datang? Yang boleh datang adalah hanya mereka yang diberikan undangan. Israel menjadi umat Tuhan dan merekalah yang memperoleh undangan untuk mempersiapkan Kerajaan Surga ini. Tidak semua bangsa, hanya umat Tuhan, yaitu Israel sajalah yang mendapatkan anugerah menghadiri pesta ini. Tetapi mereka tidak mau karena banyak hal lain yang mereka rasa lebih penting. Maka, bukan saja mereka mengabaikan undangan, mereka juga menghina Sang Raja dengan menangkap para pembawa undangan. Mereka dihina, dipermalukan, dan dibunuh. Maka Sang Raja itu pun menghancurkan mereka dengan tentara-tentaranya.

Perhatikan bagaimana Yesus terus memakai contoh utusan Tuhan dibunuh oleh mereka yang menolak Tuhan. Tuhan Yesus berkali-kali mengatakan ini sebagai suatu perkataan yang akan segera digenapi. Israel membunuh utusan dari Allah, dan sekarang mereka akan membunuh utusan yang adalah Anak Allah sendiri. Dan, beberapa kali juga Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah akan dinyatakan kepada yang lain, bukan lagi Israel. Mereka akan disingkirkan oleh Tuhan karena mereka terus menerus menyingkirkan orang-orang yang diutus oleh Allah, bahkan mereka menyingkirkan Anak Allah sendiri. Israel menolak Tuhan yang sedang mengundang mereka untuk pesta! Maka Tuhan memanggil orang-orang lain. Ini menggambarkan tawaran bagi bangsa-bangsa lain setelah Israel menolak. Sekarang undangan diberikan kepada semua.

Tetapi orang-orang jahat, orang-orang baik, semua orang-orang yang ditemui di jalan, siapa saja yang diundang, ternyata tidak semua menghargai undangan itu. Ada yang tidak pakai baju pesta (ay. 12). Orang yang tidak pakai baju pesta ini adalah orang yang sedang menghina tuan yang menyelenggarakan pesta ini. Di dalam kebiasaan orang Israel pada waktu itu, pembesar yang menyelenggarakan pesta akan memberikan jubah untuk dikenakan para tamu di pintu gerbang masuk tempat pesta itu dilangsungkan. Jika ada orang yang tidak memakai pakaian pesta yang dibagikan itu, berarti dia sengaja menyelinap untuk menghina tuan yang menyelenggarakan pesta. Tetapi, selain menyatakan penghinaan, pakaian juga melambangkan pertobatan sejati (Why. 3:5). Dari sini dapat kita simpulkan dari sudut pandang budaya pada waktu itu, bahwa orang yang tidak memakai pakaian pesta ini adalah orang yang sengaja menyelinap ke dalam pesta untuk melecehkan tuan rumah. Tetapi dari sudut pandang theologi, dapat kita simpulkan bahwa orang itu menjadi perumpamaan bagi orang yang belum sungguh-sungguh percaya, atau orang yang belum bertobat. Itulah sebabnya hukuman yang diberikan kepada orang ini sangat berat. Dia diikat tangan dan kakinya dan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (ay. 13).

Maka perumpamaan ini memberikan peringatan kepada orang Israel, maupun orang-orang dari bangsa-bangsa lain yang dipanggil oleh Tuhan untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Orang Israel diperingatkan untuk tidak sembarangan di dalam menolak panggilan Tuhan untuk masuk ke dalam sukacita pesta pernikahan. Apakah yang lebih bahagia daripada tawaran yang Tuhan berikan bagi umat-Nya untuk berbagian di dalam sukacita abadi bersama dengan Dia? Orang Israel menolak karena mereka lebih mementingkan urusan mereka sehari-hari. Tetapi menolak tawaran ini adalah tindakan menghina yang besar. Undangan yang menolak datang karena alasan-alasan kegiatan rutin adalah undangan yang sedang menghina tuan rumah yang mengundang. Inilah orang Israel. Allah menyatakan Anak-Nya yang tunggal sebagai pewaris dari seluruh ciptaan-Nya dan atas umat-Nya yang dipilih-Nya, yaitu Israel sendiri. Allah memanggil umat-Nya ini untuk mengalami bersama-sama dengan Dia sukacita karena Sang Anak Allah akan ditinggikan atas seluruh ciptaan. Apakah yang lebih penting daripada hal ini? Apakah mengurus ladang begitu krusialnya sehingga menjadi lebih penting daripada undangan Tuhan? Apakah mengurus usaha lebih penting dari undangan ini?

Sebagian dari Israel menolak karena merasa ada hal lain yang lebih penting. Sebagian lagi memang membenci sang raja yang mengundang, maka mereka membunuh utusan sang raja. Tetapi ternyata dari bangsa-bangsa lain pun tidak semua menghargai tawaran itu. Ada yang datang tetapi tidak dengan cara hidup yang layak dan berkenan kepada Tuhan. Mereka datang hanya untuk dihukum oleh Tuhan. Jika Israel yang tidak setia Tuhan patahkan dari perjanjian-Nya sehingga ada tempat bagi bangsa-bangsa lain untuk berbagian, maka tentulah Tuhan akan sangat marah jika bangsa-bangsa lain itu ternyata juga menghina perjanjian yang Dia ikat dengan umat-Nya (Rm. 11:21-22). Biarlah kita memahami bahwa Tuhan sedang memanggil kita untuk mengikuti Dia ke dalam perayaan pernikahan Anak-Nya (Why. 19:7). Tuhan memanggil kita untuk bersama-sama dengan Dia berada dalam keadaan sukacita dan penuh dengan perayaan. Mengapa kita mengabaikan panggilan ini dengan terus sibuk dengan hal duniawi sehingga mengabaikan Tuhan? Saya tidak memaksudkan kita meninggalkan pekerjaan kita dan menjadi hamba Tuhan, kecuali jika memang Tuhan panggil kita menjadi hamba Tuhan. Yang saya maksudkan lebih pada kerinduan dan gairah. Kerinduan dan gairah kita ada pada apa? Pada peristiwa di dunia? Ataukah peristiwa perayaan terbesar di seluruh alam semesta, yaitu pernyataan Kerajaan Allah di dunia ini? Silakan kerjakan pekerjaan kita dengan penuh tanggung jawab untuk menyenangkan hati Tuhan. Tetapi jangan meletakkan pengharapan untuk hidup bahagia di dalam pekerjaan atau penghasilan kita sekalian. Pengharapan itu hanya di dalam Kerajaan-Nya yang akan dinyatakan. Biarlah kita melihat Kerajaan yang akan datang itu, yang disimbolkan sebagai pesta perkawinan ini, sebagai tujuan akhir dan sumber sukacita sejati di dalam menjalani hidup ini. Kita bekerja dengan sebaik mungkin dan sesetia mungkin, baik di dalam melayani Tuhan di gereja, maupun di dalam menjalankan panggilan di dalam dunia kerja kita. Kita jalani hidup dengan sesetia mungkin, dan pengharapan untuk adanya upah yang sejati, istirahat yang sejati, buah yang sejati, dan sukacita yang sejati hanyalah di dalam kedatangan Kerajaan Allah itu.

Tetapi, di dalam menantikan kedatangan Kerajaan Allah itu, biarlah kita menguasai diri kita sesempurna mungkin. Biarlah kita berjuang sekuat mungkin untuk hidup di dalam kekudusan. Biarlah kita tidak terus tenggelam di dalam kebobrokan hidup dan dosa-dosa kita. Biarlah kita bangkit dan sungguh-sungguh bertobat. Jangan menjadi orang yang masuk ke dalam pesta tanpa baju pesta. Jangan menjadi orang yang masuk ke dalam surga dengan tidak memakai pakaian penebusan Kristus. Jangan menjadi orang yang terus mengeraskan hati hidup di dalam dosa. Biarlah kita mengalami pakaian pesta itu, yaitu pertobatan sejati di dalam darah Kristus. Pertobatan yang memberikan buahnya dengan limpah bagi kemuliaan Tuhan. Pertobatan yang seharusnya ada pada setiap umat Tuhan yang mau melayani Dia dan mengikuti Dia.

Doakan supaya kita semua benar-benar menjadi orang-orang yang menanti-nantikan Kerajaan Surga, dan yang bersukacita ketika Kerajaan itu benar-benar datang. Biarlah penantian kedatangan Kerajaan Surga dengan sempurna menjadi sumber kekuatan, alasan pertobatan, dan sumber segala pengharapan bagi kita untuk makin mengenal Tuhan. (JP)