Renungan Harian 287 (Rabu, 12 Juni 2019)

Membayar Pajak

Devotion from Matius 22:15-22

Orang-orang Farisi mencoba menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka membawa orang-orang Herodian yang sangat pro pemerintahan Romawi. Mereka ingin menempatkan Yesus pada posisi yang terjepit. Perlukah membayar pajak kepada kaisar? Pertanyaan yang sederhana ini memiliki dampak begitu besar. Jika Yesus menjawab “perlu” maka Dia akan dihina dan dicemooh orang banyak karena dianggap memihak penjajahan Romawi. Tetapi jika Yesus menjawab “tidak perlu” maka Dia akan ditangkap karena memberontak terhadap kebijakan pemerintahan Romawi. Pertanyaan ini seolah-olah telah mengurung Yesus Kristus ke dalam situasi di mana Dia harus memilih salah satu dari kehilangan popularitas-Nya atau kehilangan kebebasan-Nya karena ditangkap dan dipenjarakan.

Tetapi, tanpa disadari sebenarnya pertanyaan ini menunjukkan kemunafikan orang Farisi. Mereka bersuara keras menentang pemerintahan Romawi, tetapi kali ini memakai orang-orang pro Romawi untuk menangkap Yesus. Kemunafikan lainnya adalah kemunafikan yang dibongkar oleh Yesus. Mereka berpura-pura tidak mau mengakui kedaulatan pemerintah Romawi tetapi mau mengambil semua keuntungan dari pemerintah Romawi. Yesus meminta contoh mata uang untuk pajak. Ternyata mata uang itu adalah mata uang bertanda Romawi. Ini berarti mereka sebenarnya tidak keberatan untuk mengadopsi sistem ekonomi Romawi selama itu menguntungkan mereka. Tetapi mereka anti membayar pajak karena itu merugikan mereka. Jadi, selama pemerintahan Romawi memberikan pertumbuhan di dalam ekonomi, mereka pakai uang Romawi. Tetapi jika kebijakan itu merugikan mereka, mereka menentangnya.

Tuhan Yesus tidak datang untuk memimpin pemberontakan. Tuhan lebih peduli memperbaiki umat Tuhan daripada memimpin perubahan politik yang radikal. Dia tidak pernah menunjukkan perlawanan terhadap pemerintahan kafir. Dia tidak pernah menegur Kaisar. Dia mengucapkan kalimat-kalimat celaka bagi pemimpin agama Israel. Dia mengatakan serigala bagi Herodes. Tetapi Dia tidak pernah menegur pemerintahan Roma. Mengapa demikian? Karena Yesus memiliki tujuan untuk mempersiapkan umat Tuhan ke dalam kedatangan Kerajaan Surga, dan tujuan puncak dari kedatangan-Nya, untuk mati menebus dosa umat-Nya. Pemerintahan sekuler akan tunduk kepada kekristenan setelah Kristus meletakkan batu fondasi untuk gereja-Nya. Kerajaan Romawi akan menjadi salah satu kerajaan yang ditaklukkan oleh gereja-Nya. Tetapi yang harus Dia lakukan bukan perang, melainkan mati menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi dasar gereja-Nya bertumbuh dan memenuhi seluruh bumi.

Maka Tuhan Yesus menjawab bahwa semua orang harus memberi kepada setiap pihak apa yang berhak diterima oleh pihak-pihak tersebut. Tetapi jangan lupa bahwa ada Allah yang berhak mendapatkan keseluruhan hidup kita. Berikan kepada kaisar apa yang menjadi milik kaisar, tetapi berikan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah. Jawaban yang sangat lugas dan jelas. Jawaban yang tidak berusaha menghindarkan diri, tetapi benar-benar menyatakan hikmat yang sejati. Menjadi umat Tuhan tidak berarti melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai warga negara yang baik. Tetapi menjadi warga negara yang baik tidak membatalkan kepemilikan Allah atas seluruh keberadaan kita. Inilah keseimbangan di dalam memandang segala sesuatu.

Menjadi orang Kristen tidak melepaskan kita dari tanggung jawab yang dimiliki setiap orang sebagai manusia. Orang Kristen tidak dibebaskan dari segala hal yang dituntut dari orang lain. Orang Kristen harus membayar pajak. Tetapi bukankah pemerintahan yang ada adalah pemerintahan yang korup? Mengapa memberikan uang untuk dikorup oleh orang-orang yang seharusnya mengelolanya? Jika pemerintah korup, biarlah Tuhan yang menghakimi. Tetapi jika kita tidak melakukan kewajiban kita, nanti Tuhan akan menghakimi kita!

Orang Kristen juga tidak bebas dari kewajiban untuk memberikan penghormatan kepada negara dan kepada pemerintah. Tuhan tidak pernah mengizinkan manusia menyembah apa pun kecuali diri-Nya. Tetapi Tuhan memerintahkan semua orang menghormati otoritas yang Tuhan tempatkan di atas diri mereka (Rm. 13:7). Tuhan bahkan menyatakan kedaulatan-Nya di dalam mengangkat pemerintahan yang ada (Rm. 13:1). Pemerintah adalah hamba Tuhan untuk menyatakan keadilan dan kebenaran Tuhan (Rm. 13:4). Tuhan tidak lagi bekerja memakai Israel sebagai bangsa menjadi umat-Nya. Maka Tuhan membangkitkan pemerintahan yang ada untuk menjalankan fungsi sebagai penjaga kebenaran dan keadilan yang memegang senjata. Jika dulu pemerintahan Israellah yang Tuhan pakai sebagai alat murka-Nya, maka sekarang Tuhan memakai negara dan aparat keamanan yang ada, baik itu tentara maupun kepolisian, untuk menyatakan kebenaran dan keadilan-Nya dengan tegas dan dengan kekuatan senjata. Setiap pemerintahan akan diminta pertanggungan jawab oleh Tuhan. Tetapi setiap pemerintahan harus dihormati oleh seluruh warganya, termasuk warganya yang Kristen.

Maka menaati pemerintah dilakukan di dalam rangka menaati Tuhan. Hidup dengan tunduk kepada pemerintah juga dilakukan dalam rangka tunduk kepada Allah. Sebab Allah adalah yang paling berhak memperoleh seluruh hidup kita. Maka, Tuhan Yesus tidak lupa memerintahkan, meskipun kita memberikan kepada kaisar apa yang menjadi milik kaisar, kita harus memberikan diri kita secara total kepada Allah sebab kita ini adalah milik Allah. Di dalam contoh dinar yang dipakai untuk membayar pajak ada gambar dan tanda kaisar. Di dalam diri kita ada gambar dan tanda Allah. (JP)