Renungan Harian 288 (Kamis, 13 Juni 2019)

Kebangkitan Orang Mati

Devotion from Matius 22:23-33

Di dalam tradisi para ahli Taurat, ada golongan yang unik. Mereka tidak percaya bagian Kitab Suci yang lain di luar Taurat Musa. Mereka juga tidak percaya bahwa ada kebangkitan orang mati. Mereka percaya manusia setelah mati selesai, habis. Mereka juga tidak percaya ada malaikat. Mereka inilah golongan ahli Taurat yang disebut kaum Saduki. Mereka adalah orang-orang penting yang secara agama dan politik sangat terpandang. Mereka dihormati oleh para pemimpin politik, baik yang di dalam Israel maupun yang di luar Israel. Mereka terus berdebat dengan golongan yang lain, yaitu golongan Farisi tentang hal-hal ini. Orang Farisi berjumlah lebih banyak daripada orang Saduki. Pengikut mereka pun lebih banyak daripada Saduki. Meskipun secara politik orang-orang Farisi kurang terhormat seperti Saduki, tetapi secara jumlah pengikut dan pengaruh ke rakyat biasa, orang Farisi lebih banyak dan lebih berpengaruh. Golongan Saduki adalah kelompok high class di dalam bidang politik dan akrab dengan para petinggi, sedangkan golongan Farisi adalah kelompok yang menjangkau lebih banyak rakyat biasa, grass root, tetapi lebih kuat karena jumlah mayoritas Israel yang mereka pengaruhi.

Orang Saduki bertanya kepada Yesus untuk menunjukkan bahwa kepercayaan Farisi adalah salah. Mereka juga mau menunjukkan bahwa jika Yesus percaya akan kebangkitan orang mati, maka kepercayaan itu sebenarnya akan menunjukkan bahwa Yesus bodoh dan tidak mengerti Kitab Suci (yaitu Taurat Musa). Ini akan membuat nama Yesus menjadi tidak lagi diterima di kalangan orang-orang yang telah dipengaruhi oleh kelompok Saduki.

Maka orang Saduki itu bertanya tentang peraturan perkawinan yang diatur di dalam Ulangan 25. Jika seseorang mati dengan belum mempunyai anak, maka adiknya harus mengawini istri orang yang telah mati itu, dan anak pertama mereka akan dianggap sebagai anak dari orang yang telah mati itu. Ini dilakukan supaya garis keturunannya tidak musnah, dan warisan yang dia miliki tidak berpindah tangan ke keluarga lain. Maka orang Saduki itu memberikan contoh kasus yang aneh di mana ada seorang perempuan yang harus dinikahi oleh tujuh orang laki-laki bersaudara karena setiap orang yang menjadi suami perempuan ini meninggal. Pertanyaan orang Saduki itu adalah, di dalam kebangkitan nanti perempuan ini menjadi istri siapa? Siapakah di antara tujuh orang laki-laki itu yang menjadi suaminya nanti?

Tuhan Yesus memberikan penjelasan dengan mengatakan bahwa orang-orang Saduki itu sesat karena tidak mengerti firman Allah dan kuasa Allah. Penjelasan tentang peraturan pernikahan antara saudara untuk menjaga garis keturunan. Perintah ini sangat menekankan garis keturunan di bumi ini, padahal garis keturunan hanya penting sebelum Yesus datang. Setelah Yesus datang tidak pernah lagi ada silsilah yang tercatat. Tetapi perintah itu sangat bersifat penantian untuk kedatangan Kristus. Setelah Kristus datang, perintah ini tidak lagi signifikan. Tetapi Tuhan mengarahkan orang Saduki yang bertanya itu kepada hal yang lebih penting lagi, yaitu keadaan pada waktu kebangkitan terjadi, yaitu pada waktu Yesus Kristus menerima Kerajaan-Nya di bumi ini. Tuhan Yesus mengatakan bahwa di dalam kebangkitan itu, semua orang yang dianggap layak untuk mewarisi Kerajaan Allah yang dinyatakan di bumi ini akan hidup seperti malaikat, tidak kawin dan mengawinkan.

Penjelasan tentang apa yang terjadi setelah orang mati ini sangat unik. Yesus mengatakan bahwa kita akan hidup seperti malaikat. Apakah maksud Yesus bahwa kita semua akan menjadi malaikat? Tidak. Malaikat dan manusia adalah dua makhluk ciptaan yang berbeda. Tetapi Yesus mengatakan bahwa di dalam kebangkitan itu kita akan hidup seperti malaikat. “Seperti” berarti mirip, tetapi tidak menjadi. “Seperti malaikat” berarti mirip malaikat, bukan menjadi malaikat. Seperti malaikat dalam hal apa? Seperti malaikat dalam hal tidak kawin dan mengawinkan.

Jikalau demikian, kebangkitan seperti apakah yang diharapkan? Seperti apakah kehidupan di dalam Kerajaan di langit dan bumi baru ini? Dikatakan bahwa setelah bangkit orang-orang akan hidup seperti malaikat di surga, tidak kawin mengawin. Ini tidak berarti kita tidak memiliki tubuh kebangkitan. Kita akan punya tubuh kebangkitan, tetapi tubuh itu tidak lagi berfungsi untuk beranak cucu dan memenuhi bumi. Sebab bumi akan dipenuhi dengan orang-orang kudus milik Tuhan, yaitu orang-orang yang telah ditebus di dalam darah Tuhan Yesus. Maka kesesatan orang Saduki itu adalah karena mereka tidak tahu bahwa inilah pengharapan sejati di dalam Kerajaan Damai yang dijanjikan oleh Allah Bapa melalui Anak-Nya, Yesus Kristus.

Tetapi Tuhan Yesus tidak hanya memberikan penjelasan tentang keadaan di dalam kebangkitan orang mati. Tuhan Yesus juga memberikan bukti dari Kitab Taurat (hanya Taurat yang dianggap sebagai firman Tuhan oleh orang-orang Saduki). Di dalam Keluaran 3:6 Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebagai Allah dari Abraham, Ishak, dan Yakub. Perkenalan ini memakai bahasa present, bukan past. Dia bukan “pernah menjadi” Allah Abraham, Ishak, dan Yakub; tetapi Dia “saat ini adalah” Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Jika saat ketika Allah berbicara kepada Musa, Dia masih merupakan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, bukankah itu berarti bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub masih hidup? Tetapi ini tidak mungkin, karena pada zaman Musa, mereka bertiga telah lama mati. Tetapi benarkah mereka mati? Secara tubuh mereka mati, tetapi roh mereka bersama-sama dengan Allah dan mereka tetap sujud menyembah kepada Allah dan Allah tetap menjadi Allah mereka. Allah adalah Allah bagi orang-orang hidup, bukan bagi orang-orang yang sudah mati.

Kembali Tuhan Yesus mengingatkan kita semua tentang pengharapan di dalam Kerajaan-Nya. Kita semua telah menjadi umat yang menggenapi perintah “penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” (Kej. 1:28). Ini semua terjadi dan menjadi genap karena Tuhan Yesus. Dialah yang akan memimpin kita masuk ke dalam Kerajaan-Nya yang telah dijanjikan oleh Allah Bapa kepada Abraham dan kepada keturunannya, termasuk kepada kita semua. Damai sejahtera terjadi ketika perintah Allah digenapi, dan perintah menaklukkan seluruh bumi hanya terjadi secara sempurna di dalam kedatangan kedua Kristus. Itulah sebabnya kedatangan-Nya yang kedua menjadi harapan yang sangat dinanti-nantikan oleh orang Kristen. Apakah kita mengharapkan kedatangan-Nya nanti? Tidakkah kita rindu bumi ini ditundukkan kepada kebenaran dan keadilan, serta kesucian Allah? Tidakkah kita rindu kejahatan dimusnahkan dari bumi ini? Tidakkah kita rindu nama Tuhan dipermuliakan dengan sempurna di bumi ini? Semua itu, bahkan lebih lagi daripada semua itu, akan menjadi genap oleh kedatangan kedua Tuhan Yesus. Kiranya Tuhan menjaga kita dan memberi kita kekuatan dan damai sejahtera untuk hidup mempermuliakan nama Tuhan sambil menantikan kedatangan-Nya kembali ke dalam dunia ini. (JP)