Renungan Harian 289 (Jumat, 14 Juni 2019)

Hukum yang Teragung

Devotion from Matius 22:34-40

Orang-orang Farisi berkumpul dan seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus. Ini ditulis Matius di tengah-tengah tanya jawab Yesus dengan orang-orang yang ingin menjebak Dia. Tetapi kemungkinan orang ini bukan ingin menjebak Yesus. Mengapa tidak? Karena jawaban apa pun atas pertanyaannya tidak akan membuat Yesus ditinggalkan pengikut-Nya atau ditangkap otoritas agama Yahudi atau pemerintahan Romawi. Pertanyaannya adalah pertanyaan yang baik karena memang sedang diperdebatkan oleh para ahli Taurat pada saat itu. Para ahli Taurat itu membagi perintah-perintah Tuhan menjadi perintah-perintah yang berat dan perintah-perintah yang ringan. Yang manakah dari antara semua perintah berat itu yang teragung? Ada yang mengatakan kasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. Ada yang mengatakan hormati orang tua. Ada orang seperti Rabi Akiba yang mengatakan bahwa mengasihi sesama adalah perintah yang paling agung. Philo, pemikir Yahudi yang hidup sekitar 15 tahun sebelum kelahiran Yesus, telah menggabungkan mengasihi Allah dengan mengasihi manusia sebagai hukum teragung. Berarti Yesus tidak mengatakan hal yang baru. Dia mengutip perkataan yang memang telah ada di antara para ahli Taurat pada zaman itu. Tetapi mengapa perkataan Yesus yang hingga kini diingat? Karena Yesus bukan hanya mengajar, tetapi menjadi teladan di dalam kasih. Yesus bukanlah guru tentang ilmu “kasih”, tetapi teladan di dalam menjalankan kasih kepada Allah dan kepada manusia.

Mengapa perintah itu dianggap sebagai yang teragung oleh Yesus? Karena perintah ini menjadi satu-satunya motivasi melakukan seluruh perintah yang lain. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Taurat dan Kitab Para Nabi (ay. 40). Tidak ada perintah apa pun dari seluruh hukum Allah yang dapat dijalankan tanpa motivasi kasih. Jika kita melakukan kewajiban kita kepada Allah tanpa kasih, maka tindakan kita hanyalah tindakan kosong yang tidak bermakna apa-apa. Jika kita melakukan apa yang pantas kepada orang lain tanpa motivasi mengasihi orang lain, maka tindakan ini hanyalah tindakan palsu yang tidak tulus. Inilah cara yang diinginkan Tuhan untuk umat-Nya menaati firman-Nya. Firman Tuhan ditaati dengan pengertian yang benar dan motivasi yang tulus. Apakah motivasi yang diperkenan Tuhan? Hanya satu, yaitu kasih.

Taurat diberikan kepada umat Tuhan agar umat Tuhan mengenal siapa Tuhan. Taurat menyatakan seperti apakah sifat-sifat Tuhan. Taurat juga menyatakan menjadi seperti apakah umat Tuhan seharusnya. Dengan demikian, Taurat membuat umat Tuhan mengenal siapa Tuhan, sekaligus mengubah mereka menjadi orang-orang yang dikuduskan, yaitu orang-orang yang makin lama makin mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Semakin seseorang mengasihi Tuhan dan melakukan segala perintah-Nya karena didorong oleh kasih kepada Dia, maka orang itu akan makin memancarkan sifat-sifat Allah di dalam hidupnya. Hal ini tidak mungkin terjadi jika kita hanya menjalankan perintah-Nya tanpa kasih kepada Dia.

Banyak orang yang menaati Tuhan karena hal-hal yang salah. Ada yang menaati Tuhan karena berpikir bahwa Tuhan akan menambahkan berkat-Nya kepada orang-orang yang taat kepada Dia. Dia menaati Tuhan dengan motivasi ingin diberikan kelancaran di dalam hidup, lancar dalam usaha, lancar dalam rejeki, dan lancar dalam apa yang dia inginkan. Ini adalah ketaatan yang palsu dan tidak mungkin akan diperhatikan oleh Tuhan. Ada lagi yang menaati Tuhan karena takut ancaman hukuman-Nya. Jika ini yang menjadi motivasi seseorang menaati Tuhan, maka dia akan segera memberontak dan melawan Tuhan begitu hukuman Tuhan dihapus dan dibatalkan.

Tuhan tidak pernah memberikan hukum-Nya untuk ditaati tanpa kasih. Itulah sebabnya dua perintah ini menjadi yang paling agung dari seluruh perintah lain. Tetapi ini tidak berarti kita sudah menjalankan seluruh perintah lain dengan mengasihi. Karena kasih yang sejati akan terlihat dari kerelaan untuk menaati Tuhan. Siapa pun yang mengaku mengasihi Tuhan tetapi tidak menjalankan perintah-Nya, dia berbohong. Siapa yang mengasihi Tuhah harus menjalankan perintah-Nya (Yoh. 14:22). Kasih mendorong kita untuk menaati perintah Tuhan. Kasih membuat kita rela melakukannya. Kasih memberikan ketekunan yang luar biasa kepada kita untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Seperti seorang ibu dengan tekun dan sabar merawat anaknya sejak bayi tanpa merasa lelah sedikit pun karena didorong oleh kasih, demikian juga seharusnya umat Tuhan dengan tekun dan setia menaati Tuhan tanpa merasa lelah sedikit pun karena didorong oleh kasih kepada Dia. Kasih membuat kita menaati seluruh perintah Tuhan yang lain.

Dengan memahami bahwa kasih adalah motivasi dalam mengerjakan seluruh perintah Tuhan, maka kita akan memahami hukum Tuhan sebagai perintah yang mendorong kita untuk secara aktif menaati Dia ketimbang sebagai perintah yang mengekang kita untuk secara aktif berbuat dosa. Meskipun hukum-hukum Tuhan berisi larangan, tetapi dengan dorongan kasih kita melihat larangan itu sebagai dorongan untuk secara aktif melakukan sesuatu. Tuhan mengatakan “jangan membunuh”. Tetapi ketika kita berusaha menaati perintah ini karena dorongan kasih, maka kita tahu di balik perintah ini ada suatu perintah lain yang mendorong kita untuk menghargai nyawa orang lain sebagai sesuatu yang sangat dihargai oleh Tuhan. Itu sebabnya perintah “jangan membunuh“ belum ditaati hanya dengan tidak membunuh (Mat. 5:22). Perintah jangan membunuh berarti menghilangkan kebencian kepada orang lain dan mengubahnya menjadi perasaan hormat, kagum, dan menghargai karena walau bagaimanapun orang lain itu memiliki hidup yang sangat dihargai oleh Tuhan.

Demikian juga perintah Tuhan untuk kita memerhatikan kesengsaraan orang lain terasa begitu menyengsarakan jika kita tidak memiliki kasih kepada orang lain. Tanpa kasih kepada orang lain kita tidak akan mungkin rela mengerjakan semua yang Tuhan perintahkan untuk kita perbuat bagi orang lain. Tanpa kasih yang sejati kita akan merasa kehadiran orang-orang lain sebagai pengganggu hidup kita saja. Tetapi dengan kasih kita akan merasakan kehadiran orang-orang lain sebagai saudara-saudara seiman yang sedang perlu pertolongan kita. Ada sukacita yang sangat besar dirasakan oleh orang-orang yang membuka pintu dengan seluas mungkin untuk orang lain. Jangan lihat orang lain sebagai gangguan. Kasih membuat adanya orang lain di dalam hidup kita sesuatu yang sangat memberi sukacita.

Kasih menuntut adanya kerelaan untuk berkorban demi kebaikan pihak yang dikasihi. Tetapi kasih juga menuntut komitmen dan paksaan untuk taat. Kasih tidak bisa mengandalkan perasaan kita sendiri yang bisa muncul dan bisa hilang. Kasih harus dilatih. Itulah sebabnya Tuhan mengikat perjanjian dengan umat-Nya dan memberikan hukum-hukum-Nya kepada mereka. Dengan berjuang menaati hukum-hukum itulah umat-Nya dapat mempraktikkan kasih dengan benar, dan dengan hukum-hukum itulah umat-Nya dapat dengan komitmen yang tinggi dan sungguh-sungguh menjalankan kasih tanpa mengandalkan perasaan di dalam dirinya sendiri yang sangat tidak bisa diandalkan. Menjalankan hukum tanpa kasih adalah kepalsuan, tetapi mengasihi tanpa menjalankan hukum adalah labil dan tidak bisa diandalkan.

Sudahkah kita mengasihi Allah? Sudahkah kita dengan rela menjalankan perintah-Nya? Sudahkah kita mengasihi sesama? Sudahkah kita rela menjalankan perintah yang Tuhan berikan bagi kita untuk dilakukan bagi sesama kita? Berdoalah supaya Tuhan menambahkan dengan berlimpah-limpah kasih yang ada di dalam diri kita, baik kasih kepada Allah, maupun kasih kepada sesama manusia. Berdoa juga supaya Tuhan memberikan kesetiaan dan komitmen untuk menaati hukum-hukum Tuhan supaya kasih itu bisa terpelihara di dalam diri kita. (JP)