Renungan Harian 290 (Sabtu, 15 Juni 2019)

TUHAN Berfirman kepada Tuhanku

Devotion from Matius 22:41-46

Siapakah Sang Mesias itu? Di dalam Mazmur 2:7 dikatakan bahwa Allah menyatakan Sang Mesias itu adalah Anak-Nya. Di dalam Mazmur 2:10-11 bahkan dikatakan bahwa seluruh pemimpin, raja, dan hakim di seluruh dunia harus sujud kepada Sang Anak dengan mencium kaki-Nya dengan gemetar. Juga di dalam Mazmur 110:1 yang dikutip oleh Tuhan Yesus di dalam ayat 44, Sang Mesias dipanggil dengan sebutan “Adonai” oleh Daud. Daud menyebut Sang Mesias itu dengan sebutan hormat, Adonai yang merupakan panggilan dari rakyat kepada raja, atau orang-orang rendah kepada orang yang tinggi kedudukannya, dan juga panggilan dari manusia kepada Tuhannya. Jika Daud adalah raja, siapakah yang harus dipanggil “Adonai” oleh dia? Inilah yang Tuhan Yesus tanyakan kepada orang-orang Farisi. Siapakah Sang Mesias? Mengapa Sang Mesias diberi kedudukan begitu tinggi sehingga Daud sendiri pun harus menyebut Dia dengan sebutan “Adonai”?

Ayat 46 mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban kepada Dia. Dikatakan juga sejak hari itu tidak seorang pun berani menanyakan sesuatu kepada-Nya lagi. Pertanyaan Yesus ini merupakan pertanyaan yang tidak banyak dibahas di dalam perdebatan para ahli Taurat Yahudi. Yesus membukakan kepada mereka bagian yang belum pernah sungguh-sungguh mereka pikirkan. Jika Mesias adalah keturunan Daud, mengapa Daud harus memanggil Dia Tuhan? Bagian ini hanya bisa dipahami jika kita mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Dia menjadi manusia dan dilahirkan dalam keturunan Daud, maka Dialah Anak Daud yang Tuhan janjikan itu (2Sam. 7:12-13). Tetapi Dia juga adalah Tuhan yang mengatasi seluruh ciptaan, karena Dialah Anak Tunggal Allah (Yoh. 1:14).

Yesus Kristus datang ke dalam dunia menjadi manusia untuk menggenapi kehendak Bapa menyelamatkan umat-Nya. Karena kedatangan-Nya inilah Yesus Kristus menjadi manusia sejati, tetapi tetap Allah sejati. Dia adalah keturunan Daud sebagai manusia, tetapi adalah Allah Pencipta Daud. Inilah yang membuat orang Yahudi sulit memahami siapa Yesus. Yesus yang memiliki tubuh sama seperti orang lain, hidup di tengah-tengah orang lain, dan memerlukan makan, minum, istirahat, sama seperti orang lain. Sulit memahami bahwa Dia adalah Sang Anak Tunggal Allah. Tetapi seluruh ciptaan akan sujud kepada Dia, dan seluruh wilayah di bumi akan menjadi tempat kekuasaan-Nya. Inilah sifat paradoks dari Kristus. Banyak orang sulit menerima fakta ini. Dia manusia? Ya. Dia Allah? Ya! Bagaimana bisa? Bisa, karena Dialah faktanya. Kita tidak mengerti karena kita begitu terbatas. Itulah sebabnya pemahaman kita tentang Allah merupakan pemahaman tentang hal yang begitu agung dan besar, kita tidak sanggup memahaminya hingga tuntas. Kita harus berusaha memahami, tetapi akan ada saat di mana kita menyadari keterbatasan kita. Dia adalah keturunan Daud? Ya. Tetapi Dia juga adalah Tuan dari Daud.

Sebagai Anak Tunggal Allah, Dialah yang akan ditinggikan oleh Allah Bapa. Allah Bapa sejak di dalam Perjanjian Lama terus mempersiapkan umat-Nya untuk menyambut kedatangan Anak-Nya. Dialah yang ditentukan Bapa menjadi Raja untuk bertakhta atas umat-Nya. Allah Bapa terus menyatakan melalui nabi-nabi-Nya agar Anak-Nya disembah sujud oleh seluruh bangsa-bangsa. Bahkan Daud, raja yang sangat kuat, pemimpin atas umat Tuhan sendiri, menyebut Dia dengan sebutan “Adonai”, Tuhanku! Tetapi hal yang sangat penting ini ternyata tidak dipahami oleh orang-orang Farisi. Mereka tidak tahu tentang Sang Anak yang akan diutus oleh Bapa. Mereka tidak tahu kalau Yesus adalah Anak Allah yang akan menjadi ahli waris dari Kerajaan-Nya. Yang mereka tahu adalah bahwa Yesus merupakan salah satu pengajar Israel yang disegani dan dikagumi karena kepandaian-Nya. Tetapi mereka tidak mengetahui bahwa Yesus bukan sekadar pengajar yang berbakat. Dia adalah Sang Anak yang datang untuk menggenapi rencana Bapa-Nya di dalam menyelamatkan umat-Nya. Dia jugalah yang akan menjadi Raja atas umat-Nya. Dia disebut Anak Daud, tetapi juga Tuan dari Daud. Dia disebut keturunan Daud, tetapi juga yang disembah oleh Daud.

Mengapa orang Farisi itu tidak sanggup memahami bahwa Yesus adalah keturunan Daud sekaligus Tuhan dari Daud? Karena mereka telah terperangkap dengan segala bentuk pemberontakan yang pernah mereka lakukan. Lalu mengapa mereka tidak bisa menjawab Yesus? Karena mereka tidak mau menerima Yesus sebagai Tuhan. Tetapi meskipun mereka tidak bisa membantah bahwa pernyataan Alkitab sendiri yang mendukung pengertian bahwa Yesus adalah Raja, mereka tetap menolak Dia. Bukti-bukti dari Kitab Suci telah jelas. Bukti dari perkataan Yesus sendiri telah dinyatakan. Bukti dari tanda-tanda mujizat telah dikerjakan oleh Yesus. Mereka tidak bisa mendebat Dia. Mereka juga tidak bisa menyanggah Dia. Tetapi mereka tetap menolak Dia.

Inilah Yesus, Juru Selamat kita. Anak Allah, tetapi rela menjadi manusia. Dia menjadi “salah satu” keturunan Daud meskipun sebenarnya Dia adalah satu-satunya Raja atas umat Tuhan. Biarlah pengertian tentang siapa Yesus membuat kita makin hormat dan kagum kepada Dia sebagaimana seharusnya. Dan jika kita menghormati dan mengagumi Dia di dalam hidup kita, maka kita akan memiliki kekuatan yang sangat besar di dalam menjalani hidup kita. Mengapa demikian? Karena di dalam perasaan hormat dan kagum kepada seseorang, selalu ada kerinduan untuk menjadi seperti orang tersebut. Jika kita mengagumi kerelaan Kristus merendahkan diri, maka kita juga akan merelakan hidup dengan kehilangan hak jika itu yang diperlukan untuk memuliakan Allah. Jika kita mengagumi kebesaran Kristus sebagai Tuhan dari Daud, tetapi rela datang dengan menjadi keturunan Daud, maka kita juga akan belajar untuk hidup tanpa keinginan untuk ditinggikan dan diagungkan, melainkan dengan rela hidup dengan rendah hati dan menantikan pujian dari Allah, bukan manusia. Apakah hidup sulit? Mengingat bahwa Yesus rela menjalani hidup sebagai manusia di dalam segala kesulitannya akan menguatkan kita. Jika Dia yang adalah Tuhan rela hidup menjadi hamba, apalagi kita yang memang hamba, ketika menjalani hidup di dalam perhambaan kepada Dia yang menciptakan dan menebus kita.