Renungan Harian 292 (Senin, 17 Juni 2019)

Celakalah Kamu…

Devotion from Matius 23:13-33

Kini kita tiba ke dalam bagian yang sangat keras. Tuhan Yesus mengucapkan kalimat-kalimat yang sangat menakutkan bagi para pembesar agama pada waktu itu. Tuhan Yesus mengatakan kalimat-kalimat celaka bagi pemimpin-pemimpin yang paling dihormati pada saat itu! Bagian inilah yang tentunya memberikan sumbangan paling besar untuk kebencian para ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus sehingga mereka ingin membunuh Dia. Betapa mengerikannya kalimat-kalimat ini, apalagi karena ditujukan ke orang-orang yang dianggap sebagai otoritas rohani bagi orang-orang Yahudi.

Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat akan mengalami celaka karena menutup pintu Kerajaan Surga. Mereka memberikan rintangan yang membuat orang-orang tidak mungkin sanggup masuk ke dalam kerajaan itu. Mereka menghalangi orang-orang dari bangsa lain masuk. Mereka menghalangi pemungut cukai masuk. Mereka menghalangi orang-orang berdosa masuk. Mereka menghalangi orang-orang kusta masuk. Tetapi mereka sendiri tidak bisa masuk karena standar mereka, yang mencegah orang lain masuk telah terlebih dahulu mencegah mereka sendiri. Mereka menghalang-halangi orang yang mau kembali kepada Tuhan padahal mereka sendiri tidak mau kembali kepada Tuhan. Mereka melarang orang bertobat, tetapi mereka sendiri tidak punya niat untuk bertobat, bahkan mereka juga tidak memiliki perasaan perlu bertobat. Orang-orang yang menghakimi orang lain dan memutuskan bahwa orang lain tidak mungkin selamat adalah orang-orang picik yang tidak sadar bahwa dirinya sendiri masih jauh dari keselamatan jika masih terus mempunyai perasaan pembenaran diri seperti ini.

Kalimat berikutnya di dalam ayat 14 adalah perkataan Yesus bahwa orang Farisi dan ahli Taurat menelan rumah janda-janda. Apakah yang dimaksud dengan hal ini? Menelan rumah janda-janda adalah istilah untuk kejahatan yang dilakukan para ahli hukum. Perempuan yang sederhana dan tidak berpendidikan tidak tahu tentang peraturan kepemilikan rumah sehingga mereka menjadi target mudah bagi para ahli hukum yang jahat setelah suami mereka meninggal. Mereka ditipu sedemikian rupa sehingga rumah mereka berpindah kepemilikan ke tangan orang-orang jahat yang memakai jasa para ahli hukum, atau ke tangan para ahli hukum itu sendiri. Ini sindiran Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat karena mereka mengerti hukum Allah. Mereka bisa memutarbalikkan arti dari hukum Allah kepada orang-orang Israel dan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan itu diperdaya dengan mudah oleh mereka. Apalagi reputasi mereka sebagai ahli Taurat dan penafsir Kitab Suci paling akurat. Siapa yang bisa melampaui mereka? Siapa yang berani menyatakan tidak percaya kepada mereka? Apalagi setelah menginterpretasi Kitab Suci, mereka segera menutupnya dengan doa yang panjang-panjang dan begitu menggugah. Itulah sebabnya orang-orang sederhana dari umat Tuhan ini menjadi korban dari interpretasi ngawur mereka seperti janda-janda yang baru kehilangan suami mereka ditipu sehingga kepemilikan rumah mereka berpindah tangan begitu saja. Kiranya kita yang Tuhan berikan kesempatan untuk belajar lebih dalam dari jemaat yang lain menjadi takut. Kita tidak boleh memanfaatkan kepercayaan umat Tuhan kepada kita demi maksud yang lain. Jika banyak orang percaya kepada apa yang kita katakan atas nama Tuhan, celakalah kita jika kita memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri.

Bagian selanjutnya, di ayat 15, Yesus mengatakan celakalah orang Farisi dan ahli Taurat karena memanggil banyak pengikut untuk mengikuti gaya mereka. Pengikut-pengikut itu dinilai dari ketaatan dan kebertundukannya kepada mereka. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat senang memiliki banyak pengikut buta yang mengikuti guru mereka tanpa perasaan kritis sama sekali. Pengajar-pengajar bidat memperoleh pengikut dengan cara demikian. Memainkan teknik yang secara psikologis membuat para pengikut buta itu makin setia dan sehidup semati untuk pengajar yang sebenarnya sesat dan kosong itu. Apakah kita adalah orang yang berpengaruh? Mengapa kita berpengaruh? Karena pandai menguasai orang lain? Karena pandai mencuci otak orang lain? Jika kita menjadi pemimpin dari orang-orang yang telah dicuci otak, yang ikut apa pun yang kita ajarkan tanpa sikap kritis, maka kita adalah pemimpin yang berbahaya. Celakalah orang-orang yang senang punya banyak pengikut yang taat buta. Pemimpin sejati menginspirasikan kebenaran, moral, dan pengetahuan. Dia tidak mendominasi. Dia bersukacita kalau pengikutnya memperoleh kelimpahan dari sumber yang lain yang lebih baik. Dia tidak marah kalau pengikutnya berhenti mengikuti dia dan pergi mengikuti orang lain yang lebih baik. Yohanes Pembaptis adalah pemimpin sejati. Dia menginspirasi pengikutnya untuk mencari Sang Mesias. Begitu Sang Mesias telah menyatakan diri, dia mempersilakan pengikutnya untuk meninggalkan dia dan mengikut Yesus.

Yesus juga menegur ajaran-ajaran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka mengajarkan hal yang kulit tetapi mengabaikan esensi yang terdalam. Mereka mementingkan emas Bait Suci, dan bukan Bait Suci itu sendiri. Mereka mementingkan persembahan di atas mezbah, dan bukan makna mezbah itu sendiri. Mereka mementingkan Surga, tetapi mengabaikan Allah yang berada di atasnya. Mereka mementingkan Taurat dan Kitab Para Nabi, tetapi mengabaikan Yesus yang diajarkan oleh kitab-kitab itu. Alangkah malangnya kalau kita pun seperti ini. Kita mengabaikan apa yang penting demi apa yang menjadi wadah bagi hal penting itu. Jangan-jangan kita juga seperti itu, mementingkan bungkus makanan ketimbang makanan yang dibungkus olehnya. Kita mementingkan etika, tingkah laku, table manner, dan semua pencitraan lainnya di depan manusia. Tetapi kita lupa kasih kepada Allah, kasih kepada sesama, dan karakter suci yang sesuai dengan sifat-sifat Allah. Jika kita terus menerus mementingkan apa yang terlihat dan mengabaikan apa yang esensial di dalam diri kita, maka kita akan menjadi seperti kuburan yang baik dan indah dari luar, tetapi penuh bangkai dan tulang belulang di dalam. Terlihat suci tidak sama dengan disucikan. Terlihat rohani tidak sama dengan kesalehan sejati. Terlihat mengasihi Tuhan tidak sama dengan kasih yang sejati kepada Tuhan. Bahkan Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu memperindah tugu-tugu yang menjadi kuburan para nabi, tetapi hati mereka penuh dengan rencana membunuh Nabi terbesar yang pernah Tuhan kirim, yaitu Tuhan Yesus sendiri.

Bagian terakhir di dalam ayat 32 mengatakan bahwa Yesus menantang mereka untuk melakukan apa yang dikandung di dalam hati mereka. Mereka ingin membunuh Yesus, tetapi mereka berpura-pura menghormati para nabi dengan memperindah kuburan mereka. Yesus mengatakan bahwa mereka seharusnya berhenti berpura-pura dan mulailah bertindak sesuai dengan hati mereka sendiri, yaitu bertindak untuk menangkap dan membunuh Yesus. Karena semua sifat mereka inilah Yesus menjuluki mereka dengan sebutan ular beludak. Mereka adalah ular-ular yang licik. Mereka tidak mungkin diloloskan Tuhan dari neraka. Tuhan telah memperhitungkan dosa dan keadaan mereka, dan Tuhan menyatakan bahwa mereka tidak mungkin luput dari neraka.

Bagaimanakah agar terhindar dari perkataan celaka ini? Cara menghindarkan diri hanya satu, yaitu berhentilah hidup untuk diri sendiri dan mulailah hidup untuk Tuhan. Kita diciptakan oleh Tuhan, kita harus segera menyatakan kepada dunia bahwa kita bukan lagi milik dunia ini. Jika kita tidak menyatakan diri sebagai milik Tuhan, maka kita akan mulai memikirkan apa-apa berdasarkan untung rugi pribadi. Melihat segala sesuatu dari untung rugi pribadi adalah hal yang fatal bagi para pemimpin rohani dan orang-orang yang berpengaruh secara rohani. Mereka mulai jatuh ke dalam dosa merasa kebal hukuman hingga akhirnya melakukan apa saja demi pengaruh, jabatan tinggi, uang, dan popularitas. (JP)